Mursid memeriksakan pinggangnya akhirnya dengan desakan Linda yang sudah lama membaca linu itu dari cara duduknya yang tidak pernah berubah sejak malam-malam pertama mereka di warung soto itu — dan memeriksakannya adalah pemeriksaan yang tidak pernah ia bayangkan sejak malam-malam pertama pinggang itu linu sebelum jam tujuh di kamar kontrakan yang bocor itu.
Pemeriksaan itu dijalaninya di puskesmas dengan nomor antrean yang diambil Linda untuknya — karena dibiarkan mengambil nomornya sendiri, Mursid akan menundanya dengan alasan-alasan yang berdiri dengan kaki yang salah sampai pinggangnya linu dengan cara yang lebih salah lagi. Dan Linda menunggunya di kursi tunggu dengan sabar yang sama dengan sabar yang dipakainya membaca daftar kelurahan dari luar bertahun-tahun, membaca orang-orang tua yang datang dengan linu-linu mereka masing-masing dengan mata yang sudah lama dilatihnya membaca orang dari cara mereka duduk dan berdiri dan menahan yang tidak bisa ditahan lagi.
"Sudah berapa lama linu itu kautahan sebelum jam tujuh?" tanya Linda pelan, dengan mata yang tidak turun dari buku catatan kecilnya yang berdiri dengan kaki yang benar.
"Dua puluh tahun, mungkin lebih. Sejak zaman menagih dengan buku utang dan perhitungan yang ditulis dengan cara yang salah." Mursid menjawabnya dengan suara yang tidak naik dari suara kursi tunggu yang biasa. "Pinggang ini sudah menagih lebih lama dari yang pernah kutagihkan kepada siapa pun — dan ia menagih dengan bunga yang tidak pernah bisa kubaca dari perhitungan mana pun."
"Dan kau baru memeriksakannya sekarang, setelah satu mesin dijatuhkan dan tiga puluh delapan nama dipulangkan." Linda menuliskannya di catatan kecilnya dengan tangan yang tidak berhenti. "Kalian para lelaki tua memang begitu — sanggup membaca mesin yang menghapus orang dari bawah tanah, tapi tidak sanggup membaca pinggang sendiri yang sudah menagih dengan bunga selama dua puluh tahun."
Dan Mursid tertawa pelan dengan cara yang sudah lama tidak dipakainya sejak menjadi hantu — dan tertawa itu berdiri di kursi tunggu puskesmas itu dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun, di antara orang-orang tua yang menunggu nomor mereka dengan linu-linu yang sudah lama mereka terima sebagai bagian dari diri mereka dengan cara yang sama dengan cara ia menerima pinggangnya yang linu.
Dan pemeriksaannya berjalan dengan cara yang benar: dengan dokter yang menekan pinggangnya dengan dua tangan yang membaca tulang-tulang tua dengan cara yang sudah lama dipelajarinya dari ribuan pinggang yang linu dengan cara yang sama, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kerja yang tidak pernah berhenti sejak dua puluh tahun, dengan satu motor bebek dengan bensin di garis E yang diceritakan Mursid dengan bangga yang tidak disembunyikannya — dan dengan satu jawaban yang sudah lama dibaca dokter itu dari wajah pasiennya sebelum pemeriksaan dimulai, karena orang-orang yang bekerja dengan tangan-tangan mereka selama dua puluh tahun selalu datang dengan pinggang yang sama dan dengan wajah yang sama: wajah orang yang takut jawabannya serius, dan wajah orang yang lega jawabannya tidak.
Dokter membacanya dengan tangan-tangan yang membacanya dengan cara yang benar dan dengan satu jawaban yang dibacanya dengan suara yang tidak berubah dari suara dokter yang biasa: bukan apa-apa yang serius. Hanya umur, dan kerja keras yang tidak pernah berhenti sejak dua puluh tahun menagih utang dengan buku utang dan perhitungan yang ditulis dengan cara yang salah, dan satu pinggang yang linu yang sudah lama dibacanya dari cara duduknya yang tidak pernah berubah sejak malam-malam pertama itu.
"Umur dan kerja keras, Pak Mursid. Dan satu pinggang yang linu yang sudah lama kau baca dari cara dudukmu yang tidak pernah berubah sejak malam-malam pertama itu." Dokter itu menuliskannya dengan tangan-tangan yang menuliskannya dengan cara yang benar dan dengan satu kalimat yang dibacanya dengan suara yang tidak berubah dari suara dokter yang biasa. "Istirahat yang cukup, dan kerja yang tidak berhenti sejak dua puluh tahun itu dihentikan dengan cara yang benar juga — dan pinggangmu yang linu itu akan berhenti linu dengan cara yang sama dengan cara ia mulai linu dengan cara yang tidak pernah kau baca dari cara dudukmu yang tidak pernah berubah sejak malam-malam pertama itu."
Dan Mursid pulang dengan obat dan satu kalimat yang membuatnya tertawa sendiri di motor bebeknya dengan bensin di garis E di jalan pulang ke gang Pintu Air dengan pinggang yang linu yang sudah lama dibacanya dari cara duduknya yang tidak pernah berubah sejak malam-malam pertama itu: istirahat yang cukup. Dan ia tertawa sendiri di motor bebeknya dengan bensin di garis E dengan pinggang yang linu yang sudah lama dibacanya dari cara duduknya yang tidak pernah berubah — dan satu kalimat itu berdiri di atas semua kalimat yang sudah dibacanya dari dokter-dokter yang membacanya dengan cara yang benar sejak malam-malam pertama pinggang itu linu sebelum jam tujuh di kamar kontrakan yang bocor itu.
Dan ia menuliskannya di buku tulis keduanya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu: pinggang yang linu itu diperiksakan dengan desakan Linda yang sudah lama membaca linu itu dari cara dudukku yang tidak pernah berubah, dan jawabannya adalah jawaban yang tidak pernah kubayangkan sejak malam-malam pertama pinggang itu linu sebelum jam tujuh: bukan apa-apa yang serius, hanya umur dan kerja keras yang tidak pernah berhenti sejak dua puluh tahun menagih utang dengan buku utang dan perhitungan yang ditulis dengan cara yang salah. Dan satu kalimat untuk itu: istirahat yang cukup. Dan aku tertawa sendiri di motor bebekku dengan bensin di garis E dengan pinggang yang linu yang sudah lama kubaca dari cara dudukku yang tidak pernah berubah — dan satu pinggang yang linu itu akan berhenti linu dengan cara yang sama dengan cara ia mulai linu dengan cara yang tidak pernah kubaca dari cara dudukku yang tidak pernah berubah sejak malam-malam pertama itu.