Sore di gang Pintu Air dengan warung Bu Tarmi yang berdiri lagi dengan lebih dari yang dibakar, dan Mursid menutup kantor kecilnya di atas warung itu dengan buku tulis keduanya yang berdiri di mejanya dengan daftar orang yang ditemukan yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman buku tulis pertamanya.
Sebelum menulis halaman terakhirnya, ia turun dulu ke gang dengan cara yang sudah lama menjadi caranya menutup hari-hari di kantor kecil itu — membeli rokok untuk narasumber esok di warung kelontong ujung gang dengan uang yang ditagihnya sendiri, memeriksa bensin motor bebeknya yang berdiri di garis E seperti selalu dan tidak apa-apa karena besok cukup untuk satu hari kerja seperti selalu, dan menyapa Bu Nah yang duduk di depan rumahnya dengan cucu-cucunya dengan sapaan yang sudah lama berdiri dengan kaki yang benar di antara mereka sejak kampung gang itu belajar membaca orang asing dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun. Dan pinggangnya linu sebelum jam tujuh seperti selalu — dan linu itu sudah menjadi bagian dari dirinya yang diterimanya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun, seperti semua bekas perang yang lain: bekas-bekas yang hilang oleh waktu dan kerja, pelan-pelan, dengan kaki yang benar. Dan kerikil di sepatunya diam sepanjang jalan — tidak ada yang janggal di gang yang sudah berdiri dengan kaki yang benar, tidak ada yang salah dari sore yang turun dengan warna yang sudah lama dibacanya dari sore-sore yang turun di gang yang sama.
Dan gang Pintu Air membacanya lewat dengan cara kampung membaca orangnya sendiri: dengan anak-anak yang bermain di sisa sore tanpa takut pada orang asing dengan cara yang salah, dengan warung Bu Tarmi yang berdiri lagi dengan lebih dari yang dibakar dan dengan lampunya yang menyala untuk tamu-tamu yang tidak pernah dicatat kedatangannya, dengan debu proyek tol yang sudah lama turun dari udara gang itu sejak proyeknya selesai dan jalannya berdiri dengan kaki yang benar — dan dengan satu kantor kecil di atas warung dengan lampu yang masih menyala, menunggu halaman terakhirnya ditulis dengan tangan yang lebih mantap.
Dan ia menulis halaman terakhirnya di sore di gang Pintu Air itu dengan tangan yang lebih mantap, dan menuliskannya dengan satu sore yang tidak pernah ia bayangkan sejak malam ia membuka jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor dengan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya:
"Nama saya pernah dihapus, dan saya berdiri lagi di atas kertas yang benar dengan jalur yang benar dengan bukti dari pembukuan mesin itu sendiri yang ditulis dengan hormat yang salah. Dan pekerjaan ini bukan mencari orang. Pekerjaan ini memulangkan alamat — satu nama, satu rumah, satu halaman pada satu waktu, dengan buku tulis anak sekolah dan motor bebek dengan bensin di garis E dan pinggang yang linu yang sudah menjadi bagian dari diriku yang kuterima dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun. Dan selama masih ada yang menghapus, akan ada yang mencari, dan selama ada yang mencari, tidak ada yang benar-benar hilang — dan itu yang kupelajari dari satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya, dan itu yang kubeli dengan dua bulan menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah, dan itu yang akan kukerjakan dengan buku tulis anak sekolah dan motor bebek dengan bensin di garis E sampai baris terakhir dari daftar orang yang ditemukan yang tidak akan pernah selesai ditulis dengan baris terakhirnya."
Dan ia menutup buku tulis keduanya dengan halaman terakhirnya yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap, dan memandang gang Pintu Air dari jendela kecil kantor kecilnya di atas warung Bu Tarmi dengan sore yang turun dengan warna yang sudah lama dibacanya dari sore-sore yang turun di gang yang sama sejak malam-malam pertama pinggangnya linu sebelum jam tujuh di kamar kontrakan yang bocor itu — dan dengan satu buku tulis pertama yang penuh dengan daftar orang yang dihapus yang berdiri sebagai pembukuan dari perang yang sudah berlalu dengan kaki yang benar, disimpan di tempat yang sudah dibacanya dari pembacaan-pembacaannya dari pembukuan-pembukuan yang disimpan di tiga tempat yang tidak bisa dibakar sekaligus.
Dan di bawahnya, di warung yang berdiri lagi dengan lebih dari yang dibakar, Bu Tarmi menyeduhkan kopi untuk tamu yang tidak pernah dicatat kedatangannya dengan harga yang sama seperti selalu — gratis untuk hantu yang lunas utangnya, dan utang lagi minggu depan seperti biasa untuk semua orang lainnya, dan itu yang tidak akan pernah berubah meski kantor kecil itu berdiri di atas warungnya seribu tahun. Dan di pangkalan depan pasar Cibitung, Tigor menarik dengan Bang Jul dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya dengan satu keluarga yang berdiri dengan kertas yang benar menunggunya pulang dengan makan yang dibelinya sendiri dengan uang yang ditagihnya sendiri setiap hari dari kerja yang berdiri dengan kaki yang benar. Dan di kantor dukcapil, Yopi mengetik pemulihan nama-nama dengan tangan yang tidak gemetar lagi dengan satu stiker jelek untuk setiap satu yang selesai diketiknya dengan tangan yang sama yang mengetik penghapusannya dulu. Dan di kantor kecil di atas warung Bu Tarmi, Ratna berdiri di meja kecil di sebelahnya dua hari seminggu dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya dengan satu pekerjaan yang dipilihnya sendiri dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun.
Dan Mursid membacanya dari jendela kecil kantor kecilnya di atas warung Bu Tarmi dengan sore yang turun dengan warna yang sudah lama dibacanya dari sore-sore yang turun di gang yang sama — dan dengan satu halaman terakhirnya yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap di buku tulis keduanya yang berdiri dengan daftar orang yang ditemukan yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap juga:
"Sore di gang Pintu Air dengan warung Bu Tarmi yang berdiri lagi dengan lebih dari yang dibakar, dan aku menutup kantor kecilku dengan buku tulis keduanya yang berdiri dengan daftar orang yang ditemukan yang kutulis dengan tangan yang lebih mantap. Dan satu alamat yang dihapus itu pulang dengan kaki yang benar — dan selama masih ada yang menghapus, akan ada yang mencari, dan selama ada yang mencari, tidak ada yang benar-benar hilang. Dan itu yang kukerjakan dengan buku tulis anak sekolah dan motor bebek dengan bensin di garis E dan pinggang yang linu yang sudah menjadi bagian dari diriku yang kuterima — sampai baris terakhir dari daftar orang yang ditemukan yang tidak akan pernah selesai kutulis dengan baris terakhirnya. Selesai."