Kediaman Aurum berubah dalam tiga hari. Halaman yang dulu dipenuhi tukang kebun kini dipenuhi kereta-kereta pengungsi dari desa-desa pesisir — keluarga nelayan dengan jaring masih tergulung di pundak, anak-anak yang memandang menara rumah besar dengan mulut menganga, sapi-sapi perah yang ditambatkan di sepanjang pagar luar. Dapur besar tidak pernah berhenti berasap, dan bau roti murah yang dipanggang massal menggantikan bau kukis manis.
Lenard berdiri di balkon lantai dua memandang semuanya dengan tangan di terali, seperti yang pernah ia lihat dilakukan ayahnya. “Paman Francis. Kenapa orang-orang ini datang ke rumah kita, bukan ke benteng?”
“Karena benteng penuh prajurit, dan rumah kita punya lumbung paling besar di utara.” Francis berdiri di sampingnya. “Duke yang baik tidak hanya memerintahkan orang menyelamatkan diri. Dia membuka pintunya.”
“Berarti aku harus turun dan menyapa mereka.”
Francis mengangkat alis. “Itu tidak perlu, Yang Mulia—”
“Ayahku pasti turun.” Dan sebelum Francis menjawab, Lenard sudah berjalan ke tangga dengan langkah kecil yang tidak bisa dibantah.
Ia menghabiskan satu jam di halaman itu — salah menamai seorang petani, membagikan roti dengan takaran yang tidak rata, dan mendengarkan seorang nelayan tua bercerita tentang perahu besi yang terlihat dari jauh tiga malam lalu. Ketika ia kembali ke dalam, jubahnya kotor di lutut dan matanya lebih tua dari pagi tadi.
“Aku akan mengingat wajah mereka semua,” katanya pada Emeteria, yang sudah menyerah mengelap jubah itu. “Supaya kalau ada yang tidak pulang ke rumahnya, aku tahu siapa yang hilang.”
Emeteria tidak menjawab. Ia hanya menunduk untuk menyembunyikan bahwa matanya panas.
oOo
Malam itu, meja makan keluarga diisi untuk pertama kalinya sejak kepulangan: Francis, Lenard, Emeteria, dan — atas undangan yang tidak bisa ditolak secara sopan — Lord Dario yang datang dari markas pesisirnya untuk “melaporkan kesiapan pertahanan secara langsung”.
Dario makan dengan tata krama yang sempurna, bercerita tentang garnisun-garnisun dengan antusiasme seorang jenderal sejati, dan memuji anggur tahun tujuh sampai sang kepala pelayan tersipu. Kiyo duduk di ujung meja — kehadirannya sendiri di meja keluarga adalah skandal kecil yang sudah berhenti diperjuangkan siapa pun — dan mendengarkan dengan wajah bosan andalannya.
“Jadi, Kiyo.” Dario mengalihkan perhatiannya dengan senyum hangat, di tengah hidangan ketiga. “Cerita tentangmu makin liar setiap hari. Yang terbaru: kau berjalan di air dari Meridien ke sini.”
“Berita berlebihan. Aku naik paus.”
Tawa kecil mengelilingi meja. Dario ikut tertawa, menuang anggurnya. “Naik paus, keluar dari batu, membunuh pembunuh dengan tangan terikat. Kau pahlawan dari dongeng-dongeng pengantar tidur.” Ia menyesap anggurnya. “Tapi bagian favoritku tetap yang pertama: ditemukan tertidur di dasar sumur kering, di dalam kerangkeng— ah, bukan, Lenard yang di dalam kerangkeng. Kau di dalam batu di dasar sumur itu. Benar begitu?”
Sendok Francis berhenti sepersekian detik di atas supnya.
Kiyo mengunyah, menelan, dan mengedikkan bahu. “Kurang lebih.”
“Dunia kita memang penuh keajaiban.” Dario tersenyum lebar, dan percakapan mengalir ke hal lain — ke cuaca, ke harga garam, ke gigi Lenard yang mulai tanggal satu.
Baru setelah makan malam selesai dan Dario pamit dengan pelukan-pelukan yang tepat, Francis menemukan Kiyo di koridor.
“Sumur itu,” kata Francis tanpa basa-basi. “Tidak ada di laporan resmi. Laporan yang kubagikan ke Dewan hanya menulis: Tuan Muda ditemukan di wilayah Behemoth, diselamatkan oleh seorang pengelana. Tidak ada kata sumur. Tidak ada kata batu.”
“Aku tahu. Aku membacanya di kamarmu waktu kalian sibuk berdebat.” Kiyo bersandar ke dinding, dan tidak ada sedikit pun cengiran di wajahnya. “Orang-orang yang tahu tentang sumur itu: kau, aku, Lenard, dan siapa pun yang mendapat laporan langsung dari para penyidik awal. Atau—” ia membiarkan jeda itu bekerja “—dari orang-orang yang melemparkan Lenard ke dalamnya.”
“Behemoth.”
“Behemoth tidak bercerita kepada bangsawan, Paman Francis. Behemoth bercerita kepada orang yang membayarnya.” Kiyo berdiri tegak dari sandarannya. “Dia sengaja melepas kata itu. Orang sehati-hati Dario tidak pernah kelepasan bicara — dia melepasnya untuk melihat apakah aku bereaksi. Dia sedang memancing, sama seperti kita.”
“Kenapa dia memancingmu, bukan aku?”
Itu dia pertanyaan yang sudah tiga malam berputar di kepala Kiyo. Ia memandang koridor yang gelap ke arah kamar tamu tempat Dario menginap, dan mengingat kedipan pengenalan di gerbang itu — seperti orang membuka laci dan mendapati barangnya tidak di tempat.
“Karena dia tidak takut padamu,” jawab Kiyo pelan. “Dia takut padaku. Dan aku ingin tahu kenapa.”
oOo
Di kamar kecilnya yang hangat, Lenard duduk di lantai dengan mata tertutup kain, sementara Kiyo berjalan mengelilinginya dengan langkah yang sengaja dibuat berbeda-beda.
“Tiga langkah,” kata Lenard. “Berat, ringan, lalu… seret. Kau menyeret kaki kirimu. Itu langkah kepala pelayan kalau sedang lelah.”
“Bagus. Sekarang yang ini.” Kiyo berjalan lagi, kali ini tanpa pola.
“…Itu langkahmu sendiri, tapi pura-pura jadi orang lain. Tidak adil, Kiyo.”
“Orang jahat tidak main adil.” Kiyo melepas kain dari mata Lenard dan duduk di depannya. “Tapi kau benar dua dari tiga. Lain kali tiga dari tiga.”
“Kiyo.” Lenard menggosok matanya. “Kalau perang benar-benar datang ke sini… ke rumah… apa yang harus kulakukan?”
Pertanyaan itu menggantung di udara kamar kecil itu. Kiyo memandang bocah singa di depannya — dua puluh kilogram, gigi tanggal satu, ikan kayu oranye di samping bantal — dan untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri di usia yang lain, di dunia yang sudah mati, dilatih untuk perang sebelum ia bisa menulis namanya sendiri.
“Yang kaulakukan,” kata Kiyo akhirnya, “adalah tetap hidup dan tetap jadi dirimu. Perang boleh datang dan pergi. Rumah boleh terbakar dan dibangun lagi. Tetapi kalau perang membuatmu jadi orang lain — orang yang kejam, orang yang tidak bisa tidur karena amarah — maka perang itu menang bahkan kalau kau yang hidup.” Ia menepuk kepala Lenard dengan tangannya yang besar. “Keluargaku dulu tidak mengerti itu. Mereka mengajariku semua cara untuk menang, dan tidak satu pun cara untuk tetap jadi manusia. Jadi dengarkan gurumu yang satu ini, karena dia belajar dari kesalahan seratus tahun: menanglah, tapi pulanglah sebagai dirimu sendiri.”
Lenard menatapnya lama, mengangguk pelan, lalu tiba-tiba memeluk pinggang Kiyo tanpa peringatan.
“Kau akan tetap jadi Kiyo, ‘kan?” bisiknya. “Kalau perang datang, kau tidak akan berubah jadi orang lain?”
Kiyo terdiam. Di luar jendela, angin utara berhembus dari arah laut yang tidak terlihat, membawa dingin yang aneh untuk musim itu.
“Aku usahakan,” katanya akhirnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang, ia berharap ada yang bisa menjamin janji semacam itu.