Behemoth tidak menunggu dua minggu.
Di malam kesembilan setelah surat-surat siaga dikirim, lonceng menara pantai berbunyi — pertama dari menara muara barat, lalu disusul dua menara lain dalam irama yang membuat seluruh rumah tangga terbangun sebelum dini hari. Burung-burung pembawa berita jatuh ke pelataran dengan sayap basah karena dipaksa terbang menembus badai.
Lenard dibangunkan oleh Emeteria dan dibawa ke ruang dalam tanpa jendela, sesuai prosedur yang sudah dilatih tiga kali. Ia tidak meronta. Ia hanya bertanya satu hal: “Kiyo ke mana?”
Kiyo sedang berlari ke selatan.
Tidak ada kuda di utara yang sanggup mengimbanginya; ia meminjam dua tanpa pamit, memacu yang satu sampai napasnya putih, lalu berganti yang kedua di pos kuda tengah jalan, dan ketika fajar pucat menyentuh pesisir, ia sudah berdiri di atas tebing di atas muara sungai barat dengan jubah basah oleh kabut laut.
Di bawahnya, perang sudah dimulai.
Lima perahu besi berlambang gajah bergading menjorok ke pantai kerikil, moncongnya dibuka seperti mulut ikan raksasa, dan orang-orang bertelinga binatang turun berbaris membawa tangga pendarat. Garnisun muara — tiga ratus prajurit Aurum di balik pertahanan kayu dan batu — menyambut mereka dengan hujan panah api dan bola-bola sihir yang meledakkan pasir menjadi kaca. Asap, teriakan, dan bau mesiu sihir naik sampai ke tebing tempat Kiyo berdiri.
Mata kanannya menyapu pantai, menghitung. Enam ratus, mungkin tujuh ratus orang di lima perahu itu. Dan ini hanya muara barat — kabar dari burung-burung mengatakan muara timur dan muara tengah diserang bersamaan.
‘Kesebelas perahu dibagi tiga,’ catatnya. ‘Rapi. Mereka tahu persis di mana kami kuat dan di mana kami tipis.’
Dan di situlah sesuatu yang dingin merayap naik di tengkuknya. Muara barat adalah yang paling lemah dari tiga — dinding pertahanannya separuh kayu lapuk, menunggu perbaikan yang dianggarkan tahun ini. Informasi itu tertulis di laporan internal garnisun, disimpan di lemari besi kediaman Aurum, dan seharusnya tidak diketahui satu pun orang di luar rantai komando utara.
Behemoth menyerang dinding kayu itu langsung di titik terlemahnya, dengan tangga-tangga pendarat yang panjangnya sudah diukur tepat untuk celah itu.
Mereka tidak sedang menyerang buta. Mereka sedang mengeksekusi denah.
oOo
Pertahanan muara barat bertahan sampai siang, lalu mulai retak. Kiyo tidak turun ke pertempuran — pertempuran barisan bukan pekerjaannya, dan enam ratus lawan tiga ratus bukanlah selisih yang bisa ditambal satu orang, betapa pun kuatnya orang itu. Tetapi ia punya pekerjaan lain, dan malam berikutnya ia melakukannya.
Perkemahan Behemoth di pantai kerikil menjalar dari perahu-perahu besi yang ditambatkan, penuh dengan peti-peti yang dibongkar di bawah terpal, tungku-tungku kecil, dan derit orang-orang yang terlalu lelah untuk berjaga dengan benar. Kiyo masuk di antara dua pos jaga dengan tubuh menyatu ke bayangan terpal, bergerak setiap kali angin berhembus, berhenti setiap kali angin berhenti.
Ia menemukan peti-peti perbekalan dan mengisinya dengan kantong-kantong minyak yang ia bawa, diikat pada sumbu pendek. Ia menemukan tumpukan bola rune pengepungan — barang paling berbahaya di pantai itu — dan menimbunnya diam-diam di bawah pasir basah, di titik yang akan menelan siapa pun yang mencoba mengangkutnya tergesa.
Dan di tenda komando, di atas meja kayu yang dijaga seorang raksasa bertelinga badak yang tidur duduk, ia menemukan apa yang sebenarnya ia cari: bundelan perintah operasi.
Perintah itu ditulis rapi, diketik stempel, dibagi per muara serangan. Titik lemah setiap dinding, jadwal rotasi menara, kedalaman air untuk perahu besi di setiap pasang — semua benar, semua mutakhir, semua berasal dari dokumen-dokumen yang hanya beredar di satu tempat di dunia ini.
Dan di kaki setiap lembar, sebagai tanda pengesahan salinan, tercap sebuah segel lilin berwarna merah tua.
Lambang singa utara di dalam lingkaran tujuh kursi. Segel Dewan Aurum.
Kiyo memandangnya lama di dalam tenda yang gelap itu. Bukan segel Dario pribadi — itu akan terlalu bodoh bagi orang seperti dia. Segel Dewan: dibagikan ke tujuh meja, dijaga tujuh orang, dan satu lembar salinan bertekstur khasnya hanya bisa keluar dari ruang rapat keluarga itu.
‘Jadi memang dari dalam ruang itu,’ pikirnya. ‘Bukan pelayan. Bukan Nils. Salah satu dari tujuh kursi.’
Ia melipat dua lembar yang paling memberatkan ke dalam bajunya, menyalakan sumbu-sumbu minyak pertama dengan korek kecil, lalu keluar dari perkemahan itu secepat ia datang.
Di belakangnya, api pertama menjalar ke peti-peti perbekalan, dan malam di pantai kerikil itu berubah menjadi neraka kecil yang menderu. Orang-orang Behemoth berlarian memadamkan api dengan pasir; perahu kedua ikut terbakar ketika angin laut berbalik arah; dan di tengah kekacauan itu, tumpukan pasir basah menelan sebuah kereta pengangkut bola rune sampai ke asnya.
Tidak ada satu pun yang melihat bayangan yang berjalan keluar dari tengah api, menuntun dua kuda pinjaman, dan menghilang ke dalam malam utara.
oOo
Kiyo tiba kembali di kediaman dua malam kemudian, kotor, lapar, dan membawa bau asap yang menempel sampai ke tulang. Ia menyerahkan dua lembar perintah curian itu ke tangan Francis di ruang kerja yang tertutup, disaksikan Emeteria dan lilin yang menyala rendah.
Francis membacanya tanpa suara. Tangannya tidak bergetar, tetapi ketika ia meletakkan lembar-lembar itu di meja, ia melakukannya dengan kehati-hatian orang yang memegang ular.
“Segel Dewan,” katanya. “Salinan resmi dari ruang rapat kami sendiri.”
“Tujuh kursi,” kata Emeteria pelan. “Lord Dario. Lady Maribel. Jenderal Barden. Dua bangsawan tua. Dan dua kursi kosong milik—” ia berhenti, tidak menyelesaikan kalimat bahwa dua kursi itu kosong karena pemiliknya terbaring di peti putih di kuil.
“Mulai besok, enam orang itu diawasi tanpa tahu mereka diawasi,” kata Francis. “Surat-surat mereka, tamu-tamu mereka, pengeluaran mereka. Dan kita susun perangkap: berikan tiap orang satu versi informasi palsu yang berbeda. Kalau satu versi bocor ke Behemoth, kita tahu kursi mana yang berbicara.”
“Perangkap klasik.” Kiyo mengangguk, mengunyah roti dingin rampasan dari dapur yang tidak sempat menyiapkannya makan malam. “Tapi lakukan pelan-pelan, Paman Francis. Orang yang duduk di kursi itu sudah selangkah lebih jauh darimu sejak bertahun-tahun. Dia berhasil membunuh Aryeh tanpa satu pun jari menunjuknya. Jangan beri dia alasan untuk bergerak sebelum perangkapmu siap.”
“Aryeh.” Francis mengulang nama itu, dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman, suaranya membawa sesuatu yang bukan duka — dingin, keras, seperti baja yang akhirnya selesai ditempa. “Aku hampir berharap bukti itu tidak pernah ditemukan, supaya aku tidak harus memikirkan bahwa seseorang duduk makan dengannya setiap minggu sambil menjual rute keretanya.”
“Pikirkan nanti.” Kiyo berdiri, merenggangkan bahu yang lelah. “Sekarang ada perang di tiga muara, dan aku harus tidur sepuluh jam sebelum bisa berpikir lurus. Oh — satu hal lagi.”
Ia berhenti di ambang pintu.
“Di tenda komando itu, aku melihat peta gerakan mereka. Muara barat dan timur cuma pengikat — supaya garnisun kita terpaku di pantai. Dorongan utamanya bukan di pantai.” Ia menatap Francis dari balik bahunya. “Ada kolom berjalan kaki yang bergerak ke pedalaman lewat jalur-jalur kecil, dipandu orang yang tahu tanah utara seperti telapak tangannya. Arahnya, kalau garisnya diteruskan di peta…”
“…ke sini,” selesai Emeteria dengan suara yang kehilangan warna. “Ke kediaman.”
“Ke Lenard,” kata Kiyo. “Perang di pantai itu hanya kulitnya. Dagingnya sedang berjalan ke rumah ini, dan kita punya — paling lama — empat hari untuk menyiapkan jamuan.”