"TANAM TANAM UBI! TAK PERLU DI BAJE. ORANG BERBUDI KITA BALAS SAJE!" teriakan Ichi mampu membuat seluruh bumi bergetar karena suaranya yang jelek seperti tikus baru saja rebonding. Ichi memang manusia aneh yang kebetulan lahir dari rahim Key. Sepertinya dulu Key memang hanya menginginkan anak laki-laki. Bukan anak perempuan yang pecicilan sangat tidak karuan. Ichi itu suka sekali menyanyi di pagi hari, masak Indomie di dalam galon panas, bahkan ia mengajak bercerita robot tentang konspirasi bumi. Hal yang entah mengapa bisa-bisanya Key dan Joe mendapatkan anak yang diluar ekspektasi mereka yang mereka kira akan menjadi anak perempuan yang manis, sopan, lugu, imut dan bisa dijadikan babu. Ia, Ichi tidak pernah mau membereskan pakaiannya bahkan tidak pernah memasak. Hal itu dilakukan oleh kembarannya yaitu Nana yang notabene adalah kakak kembarnya.
Jevais Bumi Nayantaka adalah kakak dari Daisy Shavanamira Nareswara. Mereka berdua lahir kembar namun mereka kembar tak identik. Wajah Nana lebih ke Key yang Asia dan wajah Ichi lebih ke Joe yang Eropa. Hal yang sebenarnya membuat keduanya terlihat lucu karena wajah yang sangat jauh miripnya. Namun kalau kelakuan sih Ichi memang lebih ke Key namun kadang Joe juga. Kalau Nana dia rada kalem seperti kakak sulungnya. Tidak terkontaminasi oleh virus Ichi yang sangat hiperaktif seperti beban hidupnya sudah di buang ke sungai Nil.
"Jika kamu merasa sendiri. Ingat kamu adalah jomblo!" ucap gadis itu ketika Nana melewatinya sambil mengendus layaknya kerbau PMS. Ichi kini duduk rapi di tempatnya dengan seragam yang rapi juga. Namun ia langsung berdiri dan lari ke tempat sepatu.
"Subhanallah, ternyata sepatu saya sudah shining shimmering, splendid. Aww hewan apakah yang membantu saya membersihkan aroma tai kucing ini?" Ichi melangkahkan kakinya ke wastafel dan mencuci tangannya dengan sabun.
"Gue lah!" sahut Nana, "Makannya kalau punya otak di pake. Maksud lo apa pulang pakai sepatu yang penuh dengan tai itu? Lumpur dimana-mana-"
"Di atas dunia. Banyak orang bermain musik. Asekk," sambung Ichi hingga lemparan sepatu terhempas ke kepalanya, "Gue doain yang lempar ini gak ada jakun. Mampus lo"
"Doa orang kafir jarang ibadah gak bakalan di kabulin" sahut Noel dengan kemeja yang rapi dan wangi dollar yang wow fantastastic.
"Memang lah betol. Untuk apa lah aku lahir kalau besar jadi kayak gini? Dah capek loh aku lahir tapi kek gak di anggap manusia aku bah!"
Ichi yang mengomel hanya di beri tatapan aneh oleh kedua kakaknya. Biasalah, anak biadab seperti dirinya tidak usah banyak bicara dengannya. Nanti jadi setan kalau banyak bicara dengannya. Lebih baik menahan diri agar terhindar dari dosa. Ketik satu bila setuju.
Suara decitan bangku terdengar. Kedua orang tua mereka sudah duduk rapi di meja dengan makanan yang memang sudah disediakan oleh Key. Ibu tiga anak satu suami itu memang sangat rajin memasak. Setelah tadi pagi mereka salat subuh, Key dan Nana langsung ke dapur untuk membuatkan sarapan. Ichi? Tidur lagi setelah selepas salat subuh. Salah satu beban dunia dan beban keluarga.
"Bun, adek mau minta adek lagi. Capek lo di suruh isi air di kulkas sama angkat galon terus"
Byurr
Semprotan itu langsung keluar ketika Joe masih memasukkan air minum itu ke dalam mulutnya. Maksudnya Joe masih minum setelah membaca doa dan meniatkan di dalam hati agar tidak terganggu oleh manusia berkaki dua yang tidak ada akhlaknya itu bicara.
"Kamu tuh kalau bicara jangan asal sih. Papa sampai kaget nih loh," kata Joe dengan mengusap d**a nya karena kaget dengan ucapan putrinya itu. Memang kalau Ichi bicara suka sekali menyeletuk sehingga membuat orang-orang menjadi kaget atas apa yang dikatakan anak gadis itu. Karena perkataan gadis itu terkadang suka frontal seakan-akan dia adalah gadis berumur 5 tahun yang baru saja tahu tentang dunia. Padahal sebenarnya Ichi memang tidak mengetahui banyak tentang apapun karena kedua orang tuanya tidak terlalu membuat Ichi keluar lingkungan. Anak gadis mereka ini pernah jadi incaran para manusia aneh.
"Halah! Papa juga suka kalau di suruh buat anak lagi," celetuk manusia biadab itu, "Kan itu tiap pagi liat ada tanda di leher Bunda. Uhhh, sok sok kaget nanti matinya gak nafas," celetuk Ichi kembali. Key tidak bisa menahan wajah memerah nya ketika putrinya dengan frontal mengatakan hal tersebut. Key sebenarnya ingin sekali memiliki anak lagi. Namum, wanita itu dilarang oleh suaminya karena Joe sangat tidak tega ketika melihat Key melahirkan si kembar. Bahkan pria itu tidak berhenti menangis ketika Key belum bangun selama 2 hari pasca melahirkan anak mereka. Dan dari situ Joe selalu aja takut jika Key hamil lagi dan akan membuat dia kepikiran secara terus-terusan.
Joe hanya diam dan menghela nafas panjang. Kenapa dulu Tuhan kasih mahluk kecil ini padanya? Stres sekali. Tapi dia bukannya menyesal. Hanya saja dia stres. Anaknya itu walau rada gesrek plus gak ada adab tapi dia bisa mencairkan suasana rumah yang dulunya senyap saat dia terbaring koma di rumah sakit. Dulu Ichi mengalami kecelakaan hingga menyebabkan dirinya koma. Dia juga seorang dancer namun tidak bisa melakukannya lagi karena kakinya patah. Dokter tidak bisa menindak lanjuti pengobatan karena memang kaki Ichi tidak bisa untuk dance. Gadis itu bisa jalan. Hanya saja kalau melakukan hal berat pada kakinya akan menyebabkan kerusakan kembali.
"Pa, robot ciptaan papa yang berada di Seoul bagaimana? Sudah selesai dan kapan akan di publikasikan?" tanya Noel di sela-sela sarapan mereka.
"Kalau udah kayak gini gue merasa bego," bisik Ichi pada Nana.
"Lo aja kali. Gue nggak" Nana menanggapi dengan tawa remeh. Adiknya ini pintar. Hanya saja rada agak gimana gitu jadi ya gurunya suka meninggalkan jejak pena merah di rapot Ichi.
Pernah dulu Ichi sengaja membuat tulisan dengan huruf Korea saat pelajaran matematika. Arti tulisan itu adalah bagaimana mereka tidak tahu jawabannya jika guru saja pengambil tugas ujian dari Google. Dulu, ada seorang guru yang membuat soal dengan mengambil dari Google. Dan hal itu sontak membuat sekolah geger. Alasan itu dimaafkan namun ternyata dibuat lagi oleh guru tersebut. Maka dari itu Ichi tidak segan-segan untuk melakukan tindakan tersebut yang hanya dirinya saja yang mengetahui dan tentu saja saudara kembarnya juga. Ichi hanya mau memberi peringatan saja namun nilai di raportnya tiba-tiba menjadi merah.
Ichi yang memang mempunyai sifat tidak peduli dan bodo amatan, membiarkan saja gurunya tersebut melakukan hal yang mereka inginkan karena dia terlalu terpaku kepada nilai. Nilai hanyalah sebuah angka yang bisa dimanipulasi oleh orang yang lebih berkuasa atau yang suka cari muka terhadap orang lain. Sedangkan Ichi malas untuk berdebat karena nilai tersebut.
"Papa sudah melakukan observasi untuk robot tersebut. Papa hanya ingin kamu tau, apa kamu bisa bilang sama papa apa yang kamu lakukan di laboratorium papa kemarin?" Joe menatap tegas pada pria yang berada di hadapannya ini. Wajahnya tidak ada sama sekali sepertinya. Persis Noel hanya saja pria ini lebih hangat daripada si es batu itu.
"You are hiding something from me. And I know that," desis Noel. Keadaan tiba-tiba terasa mencekam. Kedua pria beda umur itu saling menatap tajam satu sama lain. Key yang melihat keduanya merasakan sesak saat tatapan itu mengingatkannya pada kenangan di masa lalu. Key mengusap tangan suaminya dan anak pertamanya. Dia tidak ingin pertengkaran mereka terjadi lagi.
"You don't need to know what you don't need to know." tatapan Joe tak kalah tajam saat menatap putranya. Noel tertawa sinis kemudian menyilang kan tangannya dan menatap pria yang ia panggil papa itu dengan tatapan cemooh.
"Pa, you talk and do it on my behalf. How could I not know about that?" ucapnya hingga kini terlihat bahwa dirinya seperti mengintimidasi.
"Noel, hentikan tatapan kamu sama papa kamu! Dia orangtua mu"
"Bunda membela papa saja? Bun, aku juga harus tau masa laluku"
"Apa yang ingin kamu tau? Apa? Apa terlalu terluka kamu sampai kamu menanyakan masa lalu kamu sama papa kamu dengan nada bicara yang tidak sopan?"
"Bunda juga tau seberapa dalam luka yang ada sama aku di masa lalu? Dan Bunda juga yang paling terluka atas itu"
"Tau apa kamu?"
"AKU TANYA SAMA KALIAN TAPI KALIAN GAK ADA YANG MAU JAWAB! APA MAKS-"
BUGH
Suara pukulan itu terdengar hingga memekakkan telinga. Kini semuanya menatap nanar pada Joe yang menarik nafasnya dengan tersengal-sengal karena habis memukul putranya. Key menahan tangisannya lalu menghampiri Noel.
"Joe! Kamu apa-apaan sih?"
"JANGAN ADA YANG MEMBENTAK ISTRIKU BAHKAN KAMU SENDIRI! SAYA SUDAH PERINGATKAN!" bentak Joe semakin marah. Key menahan tangisannya lalu membantu Noel duduk.
"Keterlaluan kamu! Apa dengan begitu cara kamu kasih tau dia?"
"Apa kamu mau memberitahu dia dengan cara lembut sedangkan dia marah sama kamu dengan nada gak sopan gitu?"
"Dia sedang marah! Dia lagi marah! Apa kamu gak bisa tau itu? Orang yang marah pasti susah buat kontrol emosi"
Noel pergi dari sana tanpa mendengarkan siapapun. Dia hendak menenangkan dirinya sendiri dari segala hal. Ia melajukan mobilnya dengan begitu kencang hingga tiba-tiba ia terhenti melihat salah satu muridnya tangan mendorong sepeda yang sepertinya rantainya sudah putus. Noel cepat-cepat keluar dan melihat wajah gadis tersebut. Kembali rasanya seperti di campur aduk. Pagi yang sepertinya ini dia benci tiba-tiba ingin ia nikmati bersama gadis yang ada dihadapannya ini.
"Bapak kenapa ada di sini? Bukannya ini masih jam sekolah ya?" tanya Anna pada gurunya tersebut. Ia merasakan sungkan karena tatapan pria itu seakan-akan bisa menembus dirinya. Anna menundukkan kepalanya kemudian tersenyum kepada pria itu namun tetap saja tatapannya di bawah, "Bapak kenapa menatap saya terus-menerus seperti itu? Pak, saya mau cepat-cepat pergi sekolah nanti kalau nggak cepet saya telat," kata Anna membuat Noel terkekeh kecil.
Amarahnya seperti mereda sekarang. Ia merasakan dirinya akan bisa menjalani hidup dengan baik di pagi hari ini. Anna kini menatap wajah guru yang ada dihadapannya itu. Gadis itu tersenyum kemudian ia menyalim tangan Noel. Noel tertegun seakan-akan ia baru saja tersengat listrik yang begitu besar hingga membuat tubuhnya seakan bergetar. Anna sebenarnya juga kaget kenapa tiba-tiba tubuh Noel menjadi gemetaran seperti orang yang kaku.
"Pak, bapak gak papa kan?" tanya Anna dengan perlahan karena suaranya memang tidak biasa dibesarkan jika berbicara dengan orang yang lebih tua.
"Anna, kamu pernah bermimpi tentang hal yang aneh? Seperti mimpi reinkarnasi dan sebagainya?" tanya pria itu. Anna mengernyitkan dahinya seakan bingung harus menjawab apa. Namun, dengan cepat ia mengalihkan kembali wajahnya ke normal.
"Saya gak pernah mimpi hal seperti itu pak," ungkap Anna dengan senyuman yang sopan.
"Kamu berbohong Anna. Kamu tidak bisa membohongi saya," kata Noel kemudian ia memajukan tubuhnya hingga Anna hampir terjatuh jika saja tangan Noel tak menangkap dirinya.
"Anna, I know you. And I will catch you in my life."