"Kak Anna. Kak Anna," panggil seorang gadis dengan rambut tergerai panjang namun terlihat sangat cantik dan menawan. Ia adalah Valerie adik dari Jeffry. Valerie adalah anak dari Malvin dan Zara. Kedua kakak beradik yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang karena kecantikan dan ketampanan keduanya mampu membuat orang-orang tercengang. Tentu saja mereka tercengang. Keduanya bahkan mereka adalah cucu pemilik sekolah. Anna sangat kagum sekali dengan mereka. Walau menjadi anak orang kaya bahkan terkenal di sekolah tidak membuat keduanya menjadi orang yang sombong dan masih tau tempat jika melakukan hal apapun. Bahkan tidak pernah meremehkan orang lain seperti yang dilakukan oleh para orang kaya yang sebenarnya tidak terlalu kaya.
Banyak yang memang seperti itu. Karena menurut mereka kaya akan membuat diri mereka terlihat lebih baik bahkan dipandang dan dipuja dengan sopan dan diperlakukan juga seperti layaknya keluarga kerajaan. Padahal harta yang berlimpah sekalipun tidak memiliki nilai yang berharga jika orang yang memilikinya tidak tahu malu bahkan suka sombong dan terkesan merendahkan orang yang hartanya tidak sebanding dengan dirinya. Harta bisa dicari dengan cara apapun. Tapi ketika kamu di bawah dan kamu pernah sombong kepada orang lain. Apa mereka akan membantu kamu untuk menyelesaikan masalah kamu? Tentu sejarahnya orang yang berhati lapang yang bisa membantu kamu. Lebih dari itu jika kamu memiliki sifat sombong dan tidak ramah jangan berharap bahwa kamu akan ditolong oleh orang banyak kecuali orang yang berlapang d**a.
"Kenapa? Kok lari-lari?" tanya Anna setelah ia melihat Valerie yang menghembuskan nafasnya berkali-kali dan menormalkan detak jantungnya yang bertalu-talu.
"Haduhh, kakak tuh dipanggil dari tadi kenapa sih enggak nyaut Kak?" tanya Valerie dengan wajah yang kesal dan alis yang bertaut. Wajahnya kini sudah memerah dan berkeringat karena berlari-lari seperti tadi.
"Ya kamu manggilnya kurang kuat kali"
"Kak An! Suara aku udah kenceng banget gitu bisa bisanya kamu bilang suara aku kurang kuat? Wah kurang kurangi deh kak dengerin DJ. Dengerin lantunan yang lebih berfaedah biar tuh kuping enggak tertutup sama setan," celetuk Valerie hingga mendapatkan pukulan pelan di lengan gadis itu. Anna ketawa melihat Valerie yang memainkan bibirnya. Anak ini benar-benar cantik sama seperti Ichi wajahnya. Memang gen keluarga mereka sepertinya tidak main-main. Buktinya Jeffry dan Valerie yang cantik dan tampan. Nana dan Ichi juga Noel yang sangat wah. Juga banyak hal lainnya yang membuat Anna terkadang tercengang dengan keluarga mereka.
"Emangnya mau ngapain sih manggil-manggil? Aku nggak ada uang untuk ngasih kamu makanan," tukas Anna. Terkadang memang gadis ini akan meminta makanan padanya. Katanya ia suka sekali dengan kue lapis atau wajik bandung yang sering dibuat oleh Anna. Bahkan gadis itu bisa tiba-tiba datang ke rumahnya hanya untuk menanyakan apa ada lagi makanan yang ia inginkan itu?
Dan waktu itu Gama ada di rumah. Ia tertarik bahkan terkagum dengan wajah manis dan cantik Valerie sampai tak berhenti memandang gadis tersebut. Sontak saja Anna memukul punggung Gama karena pada saat itu Valerie datang dengan Nathan. Walau Nathan hanya menampilkan wajah yang dingin, namun ia juga tau kalau pria itu tengah menahan cemburu. Sedangkan pacarnya langsung berselancar dengan duduk di samping Gama dan mengobrol layaknya sudah teman lama. Anna tidak enak saat melihat wajah Nathan yang berubah perlahan menjadi seperti tidak suka pada pembicara mereka yang seakan hanya keduanya saja yang berbicara. Tidak ada yang lain.
"Dih! Biasa juga aku yang sering ngajak makan. Kenapa jadi bahas makanan gini sih?" Valerie menggerutu namun hanya di tertawai oleh Anna, "Iniiii kakak bisa kasih nggak sama Pak Noel? Aku nggak bisa kasih sama dia soalnya aku takut dimarahi. Tuh orang udah tahu kita itu hanya sekretaris. Tapi kenapa tanggung jawab murid yang bolos itu harus kita? Seharusnya itu udah jadi tugas guru supaya ada kerjaan. Lah ini bukannya malah dipuji eh malah dimarah-marahin. Dih males deh aku. Aku kalau dibentak bentak nanti nangis. Aku gak mau kalau dibentak bentak sama orang lain."
"Jadi maunya di bentak siapa? Katanya gak mau dibentak-bentak orang lain?"
"Ihh gak sama siapa-siapa. Pokoknya aku nggak mau kena omel sama pak Noel. Takut banget kalau dia ngomel. Bisa 4 bahasa di gabung cuman buat ngomel aja. Belum lagi nanti mau disuruh edit ini itu lagi. Aduhhh, kenapa hal ini menimpa diriku? Aku hanya ingin bahagia saja. Aku hanya ingin tidak merasakan kesedihan dan stres karena ini." Valerie menggerutu kemudian dia mencebikkan bibirnya.
"Kamu aja males apa kabar dengan aku? Aku juga kemarin itu barusan aja dimarahin sama dia. Ya aku heran aja kenapa harus sesama murid yang dimarahi? Eh dia bilang kalau memang begitu seharusnya siswa menjaga teman lainnya supaya tidak kabur-kaburan dan bolos sehingga membuat absen kotor. Padahal seharusnya itu bukan jadi tugas kita lagi. Itu udah jadi tugas guru yang bertanggung jawab atas murid-muridnya." Anna menghembuskan nafasnya kuat kala mengingat kejadian semalam yang membuat otaknya panas.
"Jangan jangan kamu dimarahi juga sama Pak Noel? Aduhh tuh orang kalau nggak marah ya orang lain kayaknya nggak bisa deh. Bikin sebel banget tau enggak sih. Kadang tuh ya, kalau dia lagi banyak kerjaan kadang suka nyari nyari adiknya supaya bisa dimarahin. Karena ingin melampiaskan kekesalannya sama orang lain karena katanya lebih tenang daripada dia melakukan sesuatu hal. Kadang nggak ngerti jalan pikiran dia. Tapi yaudahlah aku juga bingung mau marahin dia soalnya dia lebih tua dari aku dan kelihatan lebih wibawa dari Abang aku yang lainnya. Jadiii tolong ya kak. Aku tuh juga mau ke lab bahasa mau nemuin si Aya. Katanya dia mau ikutan lomba puisi dan cerpen. Jadi aku mesti bantuin dia untuk tidak merasa jantungan alias. nervous karena mau tampil," ucap Valerie.
Anna tersenyum lalu ia membalikkan badannya sembari pamit pada Valerie. Ia berjalan menyusuri koridor. Matanya berpendar melihat sisi lapangan dan terlihat ada Virzha di sana. Virzha yang kebetulan melihat Anna langsung menghampiri kekasihnya itu. Ia tersenyum lalu merogoh kecil kantung celana seragamnya.
"Tadi aku beli permen. Permennya tuh ada bacaannya semangat cintaku. Jadi aku langsung beli banyak buat kamu. Kamu suka gak kalau aku kasih ini?" tanya Virzha dengan matanya yang terlihat lembut dan meneduhkan.
"Makasih yaaa. Aku suka kok." Anna menerimanya hingga senyuman kembali tercetak lebih lebar di wajah Virzha.
"Kamu tuh diam aja cantik. Kenapa ya kok bisa aku dapetin kamu?" Virzha menatap wajah Anna dengan wajahnya yang memerah. Yang memuji Virzha tapi yang merah wajahnya juga dia.
Anna mengacak rambut Virzha, "Hahaha kamu tuh apaan sihh, hm. Ya aku cantiklah. Kan aku cewek"
"Nah makannya itu cantik kamu tuh beda. Soalnya kan level cantik tuh banyak. Gak ada mah orang jelek. Yang ada orang yang gak bisa menghargai. Bener kan sayang?" Virzha menggandeng Anna dengan meletakkan tangannya dibahu gadis itu.
"Iyaa, makasih ya udah berpikir sebaik itu. Kamu baik banget dengan nggak mengatakan di dunia ini gak ada orang jelek. Dulu tuh aku ketemu sama orang yang bilang. Cari cewek cantik mah susah. Kalaupun cantik gak baik. Seakan-akan mereka menuntut kesempurnaan pada cewek. Padahal kamu tau sendiri gimana cewek? Cewek tuh kalau udah di bilangin gitu langsung gak enak aja bagi dia. Sama, aku juga merasakan hal yang sama ketika dia bilang begitu. Dia pikir kesempurnaan terletak semua ke laki-laki. Kesempurnaan seakan menjadi satu-satunya hal yang paling di perhitungkan untuk menjadikan wanita itu adalah wanita yang layak di jadikan istri. Aku suka kesal dengan orang yang begitu. Seriusan deh," kata Anna dengan wajah yang memerah. Virzha yang melihatnya hanya melirik sekilas kemudian menatap ke depan lagi
"Padahal mah laki-laki banyakkan yang b******k. Kalaupun baik, belum tentu dia setia. Kalaupun setia palingan suka aneh-aneh banget sama pacarnya. Yaa kita aneh-aneh kemaren. Tapi ini tuh kayak level adult romance. Istilahnya udah another level kali ya. Lebih ke eksplisit. Paham nggak?" celetuk Virzha sembari mereka berjalan beriringan ke kantor Noel.
Anna yang mendengarkan Virzha mengatakan itu entah kenapa membuat pipinya bersemu merah. Gadis itu berdehem menormalkan dirinya kembali. "Makannya itu. Kesempurnaan gak melulu tentang fisik. Tapi di mana kamu bisa memberikan manfaat bagi orang lain saat kamu masih hidup.Masih bernafas. Masih dapat melihat banyak orang dengan berbagai hal yang menimpanya. Dan pada akhirnya kamu sendiri bisa melakukan hal yang baik pada orang itu. Bukan hanya kamu di puji oleh dirimu sendiri. Tapi kamu bisa di puji oleh banyak orang. Apresiasi yang gak seharusnya di banggakan namun bisa kita ingat bahwa dengan kegiatan baik hati yang kita lakukan, ekspektasi orang terhadap fisik adalah segala hal yang di butuhkan akan patah berganti menjadi baik adalah hal yang gak di miliki sama semua orang. Contohnya lagi sabar. Kamu gak tau kan sebanyak apa bersabar? Sebanyak apa kita bisa menghadapi orang lain dengan sifat kita. Kamu harus paham bahwa wajah itu gak melulu menjadi prioritas karena wajah bukan bingkai yang bisa kita agungkan sampai kapanpun untuk menentukan orang itu layak atau nggak buat kita" ucap Anna dengan panjang lebar.
"Tapi first impression bakalan ke fisik, yang. Gimana tuh?"
"Kalau yang di pikiran itu adalah fisik ya gak masalah. Namanya juga manusia. Kudu realistis. Tapi seiring jalannya waktu apa dia bakalan berpangku pada wajah? Aku gak bilang kalau cantik itu jahat atau jelek itu baik. Tapi aku menekankan sifat dan perbedaan diantara keduanya yang mengatakan cantik itu sempurna. Putih itu cantik. Patahinlah hal kayak gitu. Mau sampai kapan? Sampai kamu menyesal bahwa dia tidak bisa memenuhi ekspektasi kamu sebagai seorang pasangan?"
Virzha yang melihat kekasihnya langsung gemas dan mencubit pipi Anna, "Tuhan kasih apa aja sama kamu sampai kamu udah dewasa banget kayak gini bicaranya?"
"Di kasih masalah," ucap Anna, "Di kasih biar di olah. Biar pandai cari solusi. Bukan hanya diam dan merasa manusia gak berguna. Begitulah" jawab Anna acuh tak acuh.
Mereka sudah sampai di kantor. Virzha kini membuka pintu kantor untuk kekasihnya. Ia menunduk pada Noel yang memperhatikan keduanya. Entah kenapa Virzha tidak suka tatapan itu. Tatapan seakan memuja kekasihnya. Virzha tau perasaannya tidak boleh seperti ini. Namun di satu sisi, terkadang dia merasa bahwa Noel seperti menyukai Anna. Tatapan mata itu tidak bisa dibohongi betapa pria itu sangat mencintai Anna. Namun, masih juga ada kebimbangan di mata itu.
"Anna, kamu cantik sekali hari ini."