"Anna kamu cantik sekali hari ini," ucapan Noel membuat semua orang yang berada di dalam kantor mendengar perkataan pemilik sekolah tersebut. Jeffry kebetulan sedang disana dengan membuka tablet absensi dan sudah dipastikan dia sedang berdiskusi tentang murid yang bolos dan tidak masuk yang seharusnya bukan tanggung jawabnya sebagai ketua kelas namun tanggung jawab para guru untuk menasehati para murid nakal itu. Anna yang mendengar perkataan Noel langsung merasakan aneh hingga ia tiba-tiba merasakan tangannya di genggam erat oleh Virzha.
Anna juga merasa aneh dengan pria yang ada menjabat sebagai pemilik sekolah sekaligus guru ini. Entah kenapa setiap perkataan juga tatapan pria itu seakan mengantarkan sebuah undangan atau panggilan agar menjelajah lebih jauh lagi. Anna juga merasakan betapa pria ini bisa menjadi dominan saat berdiri dan menatap tepat pada obisidan miliknya. Matanya yang biru memancarkan sesuatu yang berbahaya hingga terkadang nafas Anna tercekat karenanya.
Seperti tadi pagi, pria itu mengetahui isi mimpinya dan seakan mengatakan padanya bahwa dirinya adalah orang yang sama. Sama-sama di hantui oleh mimpi yang menjadi tanda tanya begitu besar. Anna ingin mencoba menjelajahi arti itu namun dia masih ragu akan hasil yang di dapatkannya nanti. Anna tidak suka hidupnya jungkir balik tidak teratur karena itu nanti.
"Maaf pak, saya hanya ingin memberikan tablet absensi dari kelas X-2. Tadi ada murid yang bernama Valerie Ashana memberikannya kepada saya," ucap Anna dengan masih menjaga kesopanan yang ia punya. Virzha yang di sampingnya hanya menatap dalam diam tak mau ikut campur urusan mereka.
"Kenapa lo yang antar? Ketua kelas mereka ke mana? sekretaris juga ke mana?" tanya Jeffry yang sedari tadi juga hanya diam saja.
"Ketua kelas tadi ada dipanggil oleh salah satu guru sedangkan Valerie yang sebagai sekretaris kelas tadi langsung kabur karena katanya takut di marahi oleh Pak Noel atas perkara yang bukan seharusnya ranah dia," kata Anna dengan suara datar untuk menyinggung Noel atas perkara yang semalam mereka bicarakan.
"Kamu masih mempermasalahkan hal kemarin? Kan saya sudah memberitahu bahwa tanggung jawab semua murid itu bisa saja diambil alih oleh murid lainnya juga," kata Noel dengan nada sewot sembari melihat ke Virzha dan Anna yang tangannya masih bertaut. Entah gejolak apa pria itu ingin sekali menangkis tangan salah satu siswanya.
"Saya rasa untuk pengambilan hukuman kepada para murid-murid yang bolos dan tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak diketahui, sudah sepantasnya para guru atau kepala sekolah untuk mendiskusikan hal tersebut karena ranah tersebut bukanlah menjadi hak milik para siswa ataupun siswi. Di sini kami hanya memberitahu pada para murid bahwa kegiatan membolos mereka akan terekam dan akan langsung terlihat oleh pihak sekolah tanpa kami memberitahunya. Karena jika kami mengatakan bahwa kami memberitahu para murid itu melakukan tindakan nakal, maka kami juga akan diperlakukan dengan jahat oleh mereka yang memang berpikiran selalu tidak seimbang dengan emosi yang mereka tampilkan. Saya juga sudah mengatakan pada para siswa-siswi di kelas saya untuk tetap terus berlaku dengan hadir dan tidak kabur saat jam pelajaran. Lebih dari itu jika mereka tidak mau diberitahu, sepertinya saya sebagai sekretaris ataupun teman saya sebagai ketua kelas tidak mempunyai wewenang besar atas hal itu. Karena jika kami yang temannya saja tidak bisa didengar bagaimana untuk kami memberitahunya lebih baik lagi? Lagipula kami sebagai murid seharusnya hanya fokus untuk belajar dan jika kami bisa memimpin kelas kami, kami akan melakukan tindakan terbaik untuk kelas kami agar tidak melakukan tindakan yang tidak disukai oleh pihak sekolah," jelas Anna dengan wajah yang datar tangan yang tidak berhenti melepaskan tautan dari kekasihnya. Entah keberanian dari mana ia bisa melakukan hal seperti itu. Namun yang jelas, tatapan yang diberikan Noel kepadanya dan kepada Virzha benar-benar tidak membuat dirinya nyaman.
"Lalu bagaimana cara kalian menyelesaikan para murid yang memang tidak bisa diatur?" Noel menanyakan hal yang sama padahal sudah mendapat jawaban. Anna melengos hingga ia merasakan hatinya sangat kesal dengan wajah cemooh yang ditampilkan oleh pemilik sekolahnya itu.
"Jika tindakan yang dibuat murid sudah mencoreng nama baik sekolah ataupun tidak bisa dibilang sama sekali oleh temannya, saya sudah mengatakannya berkali-kali kepada bapak untuk tetap memperlakukan mereka dengan baik namun jika tidak bisa tolong keluarkan mereka jika memang itu kemauan Anda membuat sekolah ini lebih bagus lagi," ucap Anna. Jeffry yang melihat keduanya berdebat hanya bisa diam dan Virzha juga melakukan hal yang sama.
Mereka memang seperti sedang bertengkar bukan laga argumen. Tapi yang sebenarnya terlihat lucu dan aneh untuk dinikmati. Noel kemudian dengan cepat mengambil tablet yang dipegang oleh Anna. Pria itu memasang wajah lesu karena kalah argumen oleh muridnya sendiri. Jeffry yang melihat hal itu hanya bisa tertawa pelan supaya tidak dihukum oleh Noel. Namun ketika sudah sampai di rumah nanti, ia akan datang ke kamar Noel dan langsung menertawai pria itu. Dan pastinya akan seru nantinya kan?
“Lalu bagaimana kalian bisa datang dengan tangan bertaut begitu? Kalian tidak menghargai saya sebagai guru kalian?” Tanya Noel masih dengan nada yang sangat sewot terkesan menyebalkan bagi Anna. Anna mau tidak mau menuruti perkataan gurunya tesebut walau Virzha seperti enggan melepaskan tautannya. “Banyak yang hadir. Mereka kelas paling rajin?” tanya Noel selesai dengan acara sewotnya yang tidak di dengarkan oleh kedua pasangan itu.
“Iya, mereka paling rajin. Anak kelasnya juga rata-rata asik jadi ya mereka pada nyaman di sekolah daripada di rumah. Anaknya juga rata-rata hiperaktif. Pecicilan sebelas dua belas dengan adik bapak,” Jeffry terkekeh hingga lesung pipinya tercetak sangat jelas. Hal yang selalu menjadi daya tarik tersendiri untuknya dan membuat dirinya terkenal di sekolah dan masuk jajaran murid terganteng.
“Bagaimana dengan kegiatan kalian yang akan di laksanakan nanti di gunung? Apakah kalian sudah siap melakukan rapat dan menentukan akhir dari rapat itu?” Tanya Noel. Tangan pria itu masih terus bekerja, bahkan matanya hanya sekedar melihat mereka. Keahliannya sangat di akui sekali memang.
“Belum pak. Namun kami sudah menentukan tema apa yang cocok untuk mereka yang mengikuti berbagai lomba. Jadi setelah kita melakukan peninjauan dan sebagainya kita bisa menghubungi para peserta dengan menyebarkan banner yang isinya berbagai syarat dan ketentuan untuk mengikuti event yang akan di selenggarakan oleh pihak sekolah. Saya dan Jeffry sudah menentukan tema dan juga tanggal untuk memulainya. Nanti setelah kami berunding kembali, kami akan memberi tahu bapak hasil dari rapat yang kami lakukan" Anna menuturkan semuanya dengan rapi dan tegas. Hal yang selalu dibanggakan oleh teman-temannya karena Anna memiliki kemampuan public speaking yang bagus juga penuturan yang rinci tanpa bertele-tele. Pembawaan Anna ketika berbicara saja sudah terlihat bahwa gadis ini tipe perfectionist. Dimana semua hal menurut dia harus rapi, rinci dan tidak berantakan.
Noel memeriksa hasil absensi dari kelas X-2. Murid yang berada di dalam kantor masih diam menunggu perkataan selanjutnya oleh guru mereka tersebut.
"Gurunya kayak artis. Ganteng, necis gitu," bisik Virzha saat semuanya masih hening. Jeffry sendiri sedang merapikan hasil absensinya dengan merekap semua data perbulan.
"Artis kan emang? Artis kamar mandi," celetuk Anna hingga membuat Virzha melotot lalu mencubit bahu kekasihnya itu.
"Artis kamar mandi mah kamu! Suka nyanyi di kamar mandi sambil bawa handphone lagi,"
"Biarin! Kan gak ngerepotin siapapun. Lagian kenapa emangnya kalau mandi sambil nyanyi-nyanyi. Toh, rumah aku juga nggak sampai kedengeran tetangga sebelah kali kalau aku nyanyi."
"Bisa aja mereka kedengaran dan terusik. Cuma ya males aja mungkin negur kamu karena muka kamu kan jutek," goda Virzha.
Anna memandang datar Virzha, "Lo sadar diri enggak kalau wajah lo itu juga nggak seberapa sama wajah gue. Gue walau jutek yang bawaannya jutek asli di sana tanpa diolah lagi. Lah lo! Muka bebelac badan l-men tapi kelakuan kayak Masha and the bear," kata Anna sembari mengatakan program program TV di zaman dulu yang sekarang sedang diputar kembali di berbagai channel TV di Indonesia. Anna suka sekali menonton hal-hal seperti itu. Karena menurutnya memang cerita yang ditampilkan oleh Masha and the bear atau kartun terdahulu menyampaikan rasa yang lucu tanpa menjatuhkan satu pihak. Dan di zaman modern sekarang tidak ada lagi hal-hal kartun yang bisa membuat mereka diam di rumah. Namun para anak-anak zaman sekarang suka sekali bermain ponsel atau bermain robot di luar rumah. Dan kecanggihan TV tidak terlalu dihiraukan lagi.
Hal yang sebenarnya membuat Anna merasa sedih karena banyak sekali anak-anak yang sudah dewasa sebelum umurnya karena permainan yang mereka mainkan bukan lagi ranahnya anak-anak. Namun Gama selalu mengatakan bahwa setiap zaman pasti akan berbeda permainannya. Dan setiap zaman akan beda generasi dan cara pemikiran mereka. Maka dari itu Anna membiarkan hal-hal yang menurutnya kurang bagus untuk anak-anak zaman sekarang, karena apa yang dikatakan Gama juga benar. Setiap zaman pasti akan beda generasi dan beda pemikirannya.
"Kemaren aku tuh dengar kamu nyanyi lagunya jorok banget tau enggak sih"
"Lagu apaan?"
"Talk dirty! Dih lo diam diam suka nonton porno lo kan?"
"Si anjing!" umpat Anna hingga membuat Virzha terkekeh dan memegang perutnya. Ia terkejut karena Anna mengumpat di depan guru yang sekarang sedang memandangnya tajam.
"Virzha dan Jeffry sekarang keluar. Saya mau bicara dengan Anna," ucap guru tersebut dengan menatap Anna sangat tajam.
"Yah pak. Pacar saya belum makan pak. Apa gak bisa nanti saja?" Virzha misuh-misuh sedangkan Anna menatap pada bola mata Noel yang sepertinya menatapnya tajam.
Akhirnya setelah banyak rengekan yang terdengar di telinga Noel atas Virzha, kini dua orang yang itu saling menatap seakan mereka terganggu dengan kehadiran masing-masing. Anna memandang Noel yang sekarang berjalan mengarah ke dirinya. Nafas Anna kini tak beraturan ketika matanya menatap tepat pada mata Noel. Seakan-akan pria itu ingin melahapnya habis. Ia meneguk ludahnya kasar saat tangan Noel beralih memegang lengan kanannya. Pria itu dengan cepat menyibak lengan seragam Anna.
"PAK! JANGAN KURANG AJAR YA!" teriak Anna namun Noel tampaknya tidak memperdulikan teriakan gadis itu. Ia masih saja menghalangi tangan yang hendak merobek lengan seragamnya. Namun tiba-tiba tetesan air mata mengenai leher Anna.
"Tato ini."