Anna ini terdiam dan tergugu saat pandangannya terhunus pada sosok pria yang kini menahan isakan tangisnya. Dia juga sebenarnya menangis karena perlakuan yang dilakukan oleh Noel. Namun tangisannya masih bisa ditahan dan Noel ternyata lebih parah dari yang dia bayangkan. Wajahnya memerah dengan tangan gemetar sembari mengusap tato yang ada di lengan Anna. Wajah pria itu kini mendekat ke arahnya lalu mencium keningnya lembut. Anna kaget dan sekaget-kagetnya. Tak terasa air matanya juga ikut mengalir hingga saat Noel memegang tengkuk lehernya ia menenggelamkan kepalanya pada d**a pria itu. Rasanya hatinya tiba-tiba merasakan sakit namun damai di saat bersamaan ketika pelukan itu semakin menguat hingga membuat ia merasa nyaman. Ia merasakan bahwa Noel adalah tempatnya untuk pulang.
Keduanya tetap saling berpelukan dengan Noel yang masih sibuk mencium rambut gadis itu. Ia seakan familiar dengan tekstur lembut rambut yang dimiliki oleh Anna. Rasanya ia ingin sekali menikmati aroma rambut juga tekstur ini setiap hari dan setiap detiknya. Noel bahkan merasakan debaran itu kembali hadir setelah sekian lama ia menahan diri untuk tidak memeluk gadis ini. Ia menahan dirinya karena dia takut apa yang ia pikirkan dan apa yang ia canangkan itu adalah hal yang salah. Karena ia sendiri bahkan belum yakin dengan perasaannya dan juga instingnya tersebut. Ia masih terlalu ragu bahwa dirinya dan Anna adalah sesuatu yang sebenarnya di takdirkan oleh Tuhan.
Setelah sekian lama Anna memeluk pria itu dengan menumpahkan tangis dan juga pikiran buruknya, kini pria itu juga melepaskan pelukan mereka lalu menangkap pelan wajah Anna.
"Anna, kamu merasakan hal yang sama dengan saya bukan? Saya mohon jangan berbohong dengan perasaan kamu sekarang. Kamu juga merasakan debaran yang sama dengan saya bukan?" tanya Noel dengan kalimat yang banyak dan berbondong-bondong hingga membuat Anna sendiri merasa kalut untuk menjawabnya.
Anna masih diam saja hingga dengan cepat ia berdiri. Tangannya hendak membuka pintu namun tidak jadi karena tiba-tiba ia merasakan pelukan hangat dari orang yang dibelakangnya. Anna kembali merasakan getaran di dadanya semakin kuat. Ia ingin menangis sekuat-kuatnya di dalam pelukan pria itu. Padahal beberapa menit yang lalu mereka bertengkar dan tidak ada satu pun yang mau mengalah dalam argumen yang mereka debatkan. Namun sekarang keduanya seakan seperti sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan bahkan untuk waktu semenit sekalipun.
"Anna, saya mohon kamu jawab pertanyaan saya. Apa kamu pernah mengalami mimpi yang berulang-ulang bahkan dengan reka adegan yang sama?"
Pertanyaan Noel mampu membuat Anna gemetaran karena mengingat mimpi-mimpi yang ia alami. Tangannya bahkan yang tadinya ingin menarik tuas pintu keluar seketika melemas mendengarkan pertanyaan yang diberikan oleh Noel.
"Aku tau. Aku tahu kalau kamu merasakan hal yang sama dengan aku juga. Aku tahu kalau kamu memiliki tato yang sama dengan aku juga. Aku tahu saat melihat wajahmu bawa kau juga sama bermimpi buruk denganku selama berturut-turut. Aku harap kau tidak akan menyangkalnya lagi karena ini adalah hal yang tak bisa di bilang tidak mungkin" lirih Noel. Pria itu membalikkan tubuh Anna hingga tubuh gadis itu menempel di pintu. Tangan Noel langsung mengelus pipi Anna dengan gemetaran. Bibirnya terasa kelu bahkan matanya tak henti mengeluarkan air mata.
"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan. Tapi Anda jelas menuduh saya seakan-akan saya memiliki hal yang sama dengan anda. Anda terlalu mengekang saya seakan-akan Saya adalah orang yang anda cari selama ini. Saya bisa memperhatikan wajah anda yang selalu menatap saya dengan tatapan sendu anda. Saya tidak pernah merasakan apa yang anda katakan tadi. Dan jika Anda mengatakan hal itu, jelas itu bukan saya. Saya tidak pernah melakukan hal itu atau bermimpi dengan hal yang sama seperti anda mimpikan. Saya tidak pernah atau Anda bahkan cerita-cerita Anda yang tadi anda sebutkan tidak pernah terjadi dalam hidup saya. Jadi saya harapkan anda tidak melakukan hal itu dengan menuduh saya seperti yang anda sebutkan tadi" ucap Anna dengan nada yang bergetar hingga perasaan itu seakan terasa sesak di dadanya. Ia menahan diri untuk menahan tangisannya namun tatapan dari Noel seakan tidak bisa membuatnya berpaling sehingga getaran di dadanya semakin menguat.
"Kami berbohong"
"Saya tidak berbohong"
"Terlihat jelas di mata kamu bahwa kamu berbohong"
"Bagaimana bisa anda melihat saya berbohong atau tidak dengan mata saya. Saya tahu anda adalah orang yang sangat pintar jadi profesor di usia yang sangat muda. Tapi bukan berarti anda tahu tentang apapun terjadi pada saya atau pada orang lain dengan tindakan atau mata yang mereka tampilkan ketika anda menolong mereka dengan pertanyaan-pertanyaan tidak berdasar yang anda berikan. Saya tidak berbohong tidak Anda jelas tidak boleh memaksa saya untuk mengatakan hal-hal yang tidak terjadi pada hidup saya. Karena jelas apa yang anda lakukan itu adalah tindakan yang sama sekali tidak sopan"
Tatapan mereka tetap sama fokus pada satu sama lain hingga satu nama membuat Anna tercengang dan semakin gemetaran.
"Sehwa ya-"
-/-
Virzha masih menatap pintu yang tertutup itu. Ia merasa aneh dengan tatapan Noel kepada Anna. Tatapan pria itu menajam padanya namun ketika ia menatap kekasihnya mata Noel seakan menampakkan bahwa dirinya rindu. Rindu yang sudah lama ingin ia berikan ia ingin beritahu namun terhalang oleh sesuatu. Virzha menengadahkan kepalanya ke atas untuk menetralisir rasa sesak di dadanya. Ia merasakan cemburu ketika tatapan Anna juga seperti lain kepada Noel. Pria itu seakan ingin mengambil kekasihnya dari dirinya.
"Udahlah. Gak mungkin cewek lo kenapa-napa di dalam" ucap Jeffry yang kebetulan masih saja duduk di sampingnya. Pemuda itu membuka beberapa presentasi yang berada di tabletnya. Tipe pria yang sangat rajin dan antusias dalam belajar.
"Aneh banget tuh guru. Kenapa coba ngomongnya harus banget berdua?"
"Ya ngapain juga ngobrol rame-rame? Kan ini urusan guru sama muridnya"
"Ya tapi karena apa? Masa dari tadi juga nggak keluar-keluar mereka?"
"Gila lo! Cemburuuuu banget sama siapapun bahkan sama gue sekalipun. Udahlah, cewek lo juga nggak ngapa-ngapain di dalam kecuali dia keluar dengan keadaan aneh baru bisa ngomong kayak gitu. Kalau dia keluarkan memang lama pasti ada hal serius yang diomongin sama Pak Noel. Lo tuh nggak boleh dikit-dikit merasa bahwa orang-orang yang di dekat cewek lo membawakan pengaruh yang nggak baik untuk dia. Cewek lo gak bakalan direbut, cuy. Percaya deh" kata Jeffry dengan nada yang menenangkan. Namun Virzha merasa bahwa apa yang ia pikirkan kini takut akan menjadi kenyataan yang pahit. Ia pernah merasakan mimpi dimana dirinya terjebak dengan keadaan kekasihnya yang tidak memilihnya padahal sudah akan menikah. Virzha tidak tahu pemikiran dari mana yang ia dapatkan. Namun dari mimpi tersebut seakan-akan ia menjadi orang yang hanya bisa melihat kebahagiaan orang lain saja.
"Kakak