Anna memutar-mutar makanannya dengan tidak selera. Entah Kenapa perasaannya sekarang gundah gulana saat mengingat ucapan-ucapan yang di berikan oleh Noel mampu membuat ia merasa kalut dan takut di saat bersamaan. Ia merasa bahwa dirinya tersakiti karena ucapan yang diberikan oleh Noel kepadanya. Ucapan pria itu seakan menusuknya hingga ia sendiri merasakan kesedihan yang mendalam. Ia bahkan dia tadi menangis terus menerus entah karena apa alasannya dia juga tidak tahu. Namun perasaan sesak saat menatap mata Noel mampu mengantarkannya seperti kejadian terjadi di masa lalu terputar kembali di dalam otaknya. Ia merasakan perasaan rindu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia seperti di antar kembali oleh cerita-cerita lama sehingga ia bisa bernostalgia.
"Anna, Kenapa dia tadi makanannya di putar-putar aja?" tanya Gama saat melihat Anna dari tadi hanya diam dan memutar makanannya tanpa minat sekalipun. Padahal makanan yang ada di depan ini adalah makanan kesukaannya khusus hari ini Gama masakan.
"Anna gak kenapa napa. Lagi gak enak badan aja" lirih Anna namun Gama tahu bawa adiknya memiliki perasaan yang di sembunyikan dan belum bisa ia ceritakan.
"Kamu tau kan kalau kamu punya kakak yang bisa menjaga kamu bisa menjadi pendengar kamu kapanpun kamu butuh. Kamu nggak sendirian Anna di dunia ini. Kamu punya kakak yang bisa kamu andalkan dan bisa kamu jadikan tempat cerita atau tempat kamu lelah. Selama Ini kakak belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu. Selama ini kakak nggak bisa fokus untuk merawat kamu disaat kamu sakit banget nggak ada di samping kamu. Tapi kakaknya mau yang terbaik buat kamu walaupun Kakak nggak bisa memberikan hal yang terbaik itu"
"Bukan gitu," ucap Anna dan mengambil tangan Gama untuk ia genggam, "Kakak adalah kakak terbaik yang pernah ada di hidup aku. Kakak sekaligus orang tua yang selalu aja buat aku bahagia. Kakak bahkan nggak bisa dibandingkan dengan siapapun karena kakak adalah kakak terhebat yang pernah aku dapatkan. Kalau aja kehidupan selanjutnya itu memang ada. Aku tetap mau kakak menjadi kakak aku. Kakak yang selalu sayang sama aku dan selalu ada disaat aku butuh. Aku enggak pernah terlalu mengharapkan waktu kakak walaupun kadang aku rindu. Namun Aku juga nggak mau kakak terbebani dengan sesuatu yang seharusnya nggak terlalu Kakak pikirin. Kakak juga harus fokus pada hidup kakak. Kakak juga harus fokus pada masa depan Kakak jangan tentang aku terus"
"Kalau kamu nggak bahagia bagaimana bisa kakak bahagia? Kalau kamu bahkan selalu rindu sama orang tua kita, bagaimana Kakak bisa senyum-senyum sendiri karena ada kekasih kakak. Anna, kamu itu kebagian terutama bagi kakak untuk sekarang ini. Tanpa kamu kalau nggak tahu kan harus hidup seperti gimana lagi. Kakak hanya berharap kalau kamu bahagia terus, sayang" Gama mengelus rambut Anna lalu mengecup kening gadis itu, "Makannya kalau enggak mengharapkan Kalau kamu bakalan membalas kebaikan Kakak di kemudian hari. Ngeliat kamu bahagia dengan sesuatu yang kakak idam-idamkan selama ini. Kakak cari uang kesana kemari juga hanya untuk kamu. Supaya kamu selalu bahagia dan selalu aja dalam lindungan Tuhan. Nyaman dengan siapapun tanpa kamu berpikir bahwa kamu akan dibenci. Jika kamu merasa dibenci Kakak adalah tempat kamu pulang, sayang" kata Gama membuat tangisan Anna semakin kencang.
Rasanya selama ini ia hanya bisa mengeluh dan memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Selama ini ia menyangka bahwa dirinya yang paling menderita di dunia ini tanpa ia sadari kakaknya juga merasakan hal yang sama sepertinya. Selama ini ya terlalu egois dengan memikirkan bahwa semesta benar-benar membencinya padahal Ia tahu bahwa kakaknya juga menderita sama dengannya. Dia bahkan cara untuk menanyakan hal-hal sepele untuk kakaknya. Namun ia selalu mengeluh kepada kakaknya padahal Ia tahu kakaknya juga pernah merasakan lelah. Anna merasakan bahwa dirinya tidak berguna sama sekali. Namun sekarang ia tidak akan memikirkan tentang banyak percintaan namun dia akan fokus kepada kakaknya. Jika Virzha melakukan atau menuntut hal-hal yang tidak masuk akal kepadanya, ia tidak akan mendengarkan pemuda itu.
"Ini Kenapa acara makan-makan jadi sedih-sedihan?" Gama menghapus air mata di pipi adiknya dengan tawa dan senyum yang membuat Anna sendiri merasakan kenyamanan.
"Yaaa kakak sih bikin aku sedih" Anna menghela nafasnya lalu mencium tangan Gama, "Kak, kalau aku salah tolong tegur aku. Kalau Kakak merasakan kesedihan ataupun tidak merasakan kelelahan. Namun Kakak merasa Kakak nggak ada teman cerita, Kakak punya aku sebagai adik kakak. Tolong buat aku lebih berguna dalam hidup kakak. Aku hanya mau kebahagiaan di dalam hidup kita. Nggak kayak dulu kita yang selalu saja bertengkar dengan hal sepele. Aku tahu seberapa egoisnya aku dulu. Aku selalu cari mama sama papa padahal aku sendiri tahu seberapa berat kakak kehilangan mama sama papa juga. Aku tahu pada saat itu Kakak juga nggak bisa fokus ke manapun bahkan sampai nggak mau kuliah. Dan sekarang tiba-tiba beasiswa ku dicabut untuk satu semester. Aku masing-masing merasa gak berguna bagi kakak" Anna menangis lagi. Entah kenapa iya tak berhenti menyalahkan dirinya karena perasaan galau yang ia rasakan pada saat ini membuat ia ingin sekali mengatakan hal-hal yang menyesakkan dadanya dan hal-hal yang memenuhi otaknya.
"Anna, kakak nggak pernah berharap apapun untuk kamu. Kakak hanya mau kamu baik-baik aja itu udah cukup sayang. Kakak bisa mencari uang untuk kamu bayar semester ini. Kamu nggak usah banyak pikiran lagi dan fokus untukmu agar bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri nanti"
"Aku gak mau keluar negeri" Anna menatap lamat wajah kakaknya,"Aku mau kuliah di sini aja tanpa mau ke luar negeri. Aku mau fokus sama kakak aja di sini karena aku takut kalau misalnya enggak ada aku kakak akan sama siapa lagi?"
"Kenapa begitu? Kakak gak sakit keras sehingga kamu nggak perlu lagi mikirin Kakak"
"Kakak memang enggak sakit keras. Tapi kakak pasti merasa kesepian kalau nggak ada aku disini. Aku mohon sama kakak kakak izin aku untuk kuliah di sini aja tanpa perlu aku keluar negeri. Aku bisa ambil jalur undangan dari berbagai kampus yang bagus di negeri kita. Himalaya bahkan termasuk kampus yang paling bagus dan paling berpengaruh sehingga akan lebih baik kalau aku kuliah di sana tanpa aku keluar negeri. Kampus di sana juga tahapnya udah internasional bahkan udah termasuk top 3 dunia. Kalau aku bisa mendapatkan beasiswa di tahun ini, aku yakin kalau aku bisa masuk ke dalam kampus Himalaya. Karena kakak tahu kan kalau aku itu sanggup melakukan hal-hal tantangan seperti itu?"
Gama tersenyum memandang adiknya lalu mengusap pipi gadis tersebut, "Kakak tau seberapa hebatnya Anna dalam belajar. Bahkan kayaknya benar-benar hebat sampai Kakak aja bisa kalah sama kamu"
Anna tertawa lalu duduk di pangkuan Gama yang masih duduk di bangku makan, "Aku sayang kakak"
"Kakak juga sayang adek kakak yang emosian ini" ucap Gama hingga Anna memukul punggung pria itu dengan kuat. Gama tertawa lalu mengelus punggung adik kecilnya itu. Adik yang ia akan berjanji selalu membuatnya bahagia dan tidak lagi merasakan kesedihan seperti dahulu.
Walau bayaran dia adalah nyawa sekalipun