"Anna!" seru seseorang hingga membuat anak memutar tubuhnya ke belakang ketika suara itu memanggil namanya. Dia sebenarnya tidak mau menoleh ke belakang namun apa salahnya dia menoleh? Hingga iya melihat Virzha melambaikan tangan ke arahnya setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya yang kebetulan mengantarnya pada pagi hari ini. Virzha memang selalu diantar oleh orang tuanya atau bahkan sopir. Karena pemuda ini pernah melakukan tindakan kriminal dengan balap-balapan di jalanan dengan ilegal. Pemuda itu juga pada akhirnya masuk rumah sakit karena kecelakaan yang terjadi saat mereka melakukan lomba tersebut. Banyak luka yang mendarat di wajah bahkan kaki pria itu mengalami patah tulang hingga Mama Virzha menangis berhari-hari melihat kondisi putranya itu. Darimana Anna tau? Pacarnya sendiri yang cerita.
"Kamu baru aja datang sayang?"
Anna mengangguk lalu menerima uluran tangan kekasihnya untuk berjalan ke kelas. Keduanya banyak diperhatikan oleh orang-orang sekitar hingga membuat Anna sebenarnya sedikit merasa aneh dan merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan oleh adik-adik kelasnya. Namun Anna mencoba tidak peduli dengan tatapan itu karena memang itulah konsekuensi untuk berpacaran dengan anak yang termasuk sangat berpengaruh di sekolah bahkan terkenal tampan atau cantik. Hal ya semuanya sudah lumrah terjadi pada di masa lalu juga. Katanya mamanya dulu saja selalu bertengkar dengan Kakak kelasnya karena rebutan cowok. Kalau di ingat lagi sekarang rasanya mamanya itu malu karena rebutan cowok di masa lalu. Ah, jadi kangen mama.
"Tadi malam aku telepon kok kamu nggak angkat? Kamu lagi belajar ya?"
"Iya. Ada ulangan semester yang harus aku kerjakan untuk penambahan nilai supaya sesuatu mata disebut dengan raksasa di semester depannya. Lagian Aku juga mau fokus untuk belajar supaya keterima beasiswa di Himalaya. Aku pengen nerusin kuliah di sana aja"
Virzha tampak kaget dengan pernyataan kekasihnya itu. Hingga dia tiba-tiba mengajak kekasihnya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di depan kelas Anna. "Kamu beneran, yang?"
Anna mengangguk, "Aku lebih baik Himalaya aja supaya kakak aku gak kesepian. Aku nggak mau meninggalkan dia di masa-masa sulitnya sekali lagi. Aku nggak mau dia terbebani dengan aku yang sekolah di luar negeri sana karena enggak mungkin seluruhnya adalah biaya sendiri. Mungkin ada hal-hal dadakan yang akan terjadi di di masa depan ketika aku kuliah di luar negeri nantinya dan hal itu mungkin akan lebih sulit. Jadi aku memutuskan untuk untuk kuliah di sini" kata Anna dengan tatapan sendunya.
Virzha kemudian menarik Anna ke belakang sekolah. Ia nenyudutkan Anna di dinding hingga kini tatapan pria yang ada di hadapannya ini seakan menusuknya. "Kamu beneran pengen pindah di sini karena kakak kamu atau kamu pindah ke sini karena ada hal yang lain?" tanya Virzha dengan nada yang dingin sekaligus menusuk hati Anna. Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal itu padanya?
"Maksud kamu apa?"
"Semalam kamu pulang jam berapa?"
"Jam 3 sore"
"Kenapa lama banget? Bukannya kita pulang jam 2?"
"Ya aku ada urusan sama OSIS. Kamu Kenapa sih tiba-tiba pertanyaan aneh kayak gitu?"
"Di mananya pertanyaan aku aneh?" Virzha mencengkram lengan Anna, "Aku nungguin kamu semalam di depan pagar. Aku tungguin kamu sampai lama bahkan sampai Jeffry pulang. Dan kamu bilang kamu pulang jam 3 sore karena urusan OSIS? Jeffry bahkan udah pulang sebelum jam itu"
"Kan yang OSIs bukan hanya Jeffry aja. Banyak anak-anak OSIS yang lainnya udah lagipula ini bukan lagi periode aku atau Jeffry. Ini periode tahunnya Nana. Kamu jangan asal nuduh aku kayak gitu dong"
"Emangnya aku ada nuduh kamu?"
"Ada"
"Kapan? Daritadi aku udah dibenerin sama kamu supaya aku tahu kamu pulang jam berapa ternyata kamu bohong"
"Aku bohong? Kamu bilang aku bohong dari mana sih? Aku nggak ada bohong sama sekali sama kamu. Aku jujur sama kamu menyudutkan aku kayak gini itu maksudnya apa ya?" Suara Anna tiba-tiba bergetar dengan tangan yang terasa dingin dan kebas. Rasanya kini ia ketakutan ketika melihat wajah memerah milik Virzha. Ia seakan takut bawa Virzha mengetahui apa yang ia lakukan semalam dengan Noel. Bahkan dirinya tak henti-hentinya daritadi berdoa agar kekasihnya itu tidak mengetahui apa yang terjadi semalam.
"Kamu pulang jam 8 malam" Dan di saat itu tubuh Anna semakin melemas, "Kamu pulang jam 8 malam dengan pakaian yang udah nggak lagi sama dengan kamu masuk di dalam kantor"
Ucapan Virzha semakin membuatnya bergetar tidak karuan hingga kini air matanya mengalir dengan derasnya. Ia mencengkram seragam Virzha dengan kuat seakan meminta pertolongan dari pria itu.
"Aku minta maaf sama kamu kalau aku udah bohong sama kamu tapi sumpah demi Tuhan aku nggak ngelakuin apapun di belakang kamu bahkan aku nggak pernah selingkuh dari kamu. Kamu harus percaya sama aku bahwa aku cinta sama kamu aku nggak bakalan pernah kamu sama sekali. Aku bakalan ceritain hal apapun itu tentang aku sama Noel di saat aku benar-benar udah siap ceritain ke kamu karena ini memang berat juga untuk aku. Aku apa namanya ke bawah kali ini bakalan terjadi di hidup aku. Maka dari itu kamu harus percaya sama aku bahwa aku nggak bakalan pernah mengkhianati kamu. Aku akan cerita semuanya disaat Aku bener-bener siap. Jadi di saat itu aku mohon sama kamu untuk peduli dan jangan kekang aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenernya aku juga nggak tahu jawabannya apa. Aku mohon sama kamu untuk mengerti bahwa aku juga di posisi yang bingung. Aku nggak kenal apapun tentang Noel. Tapi memaksaku untuk mengingat hal-hal yang seharusnya nggak aku ingat. Aku harap kamu mengerti bahwa aku sukanya cinta banget sama kamu dan aku gak bakalan pernah menghianati kamu bareng sedikitpun terlintas di pikiran aku juga nggak pernah melakukan hal itu. Aku bahkan berani bersumpah sama kamu Kalau aku nggak pernah berpikiran untuk selingkuh. Aku mohon sama kamu untuk percaya sama aku" ucapan yang berulang-ulang itu selalu diucapkan oleh Anna hingga membuat Virza mengangguk lalu memeluk tubuh kecil kekasihnya itu.
Tubuh Anna bergetar seakan ia merasakan trauma yang begitu besar ketika ia ingin menceritakan bahkan belum cerita, iya hanya ingin memberitahu bahwa ada sesuatu besar yang dia sembunyikan dari Virzha. Belum cerita saja kekasihnya sudah gemetaran dan menangis hebat seperti ini. Apalagi jika ia benar-benar memaksa Anna untuk menceritakan hal apa yang terjadi dalam hidupnya. Virzha tidak akan memaksa kekasihnya itu untuk menceritakan hal yang terjadi semalam. Ia untuk sementara akan diam saja dan tidak akan mengatakan hal apapun walau rasa penasarannya benar-benar sangat tinggi.
Kini Virzha mengamati wajah kekasihnya kemudian mendaratkan ciuman hangat di bibir kekasihnya itu. Hingga lambat laun tangisan yang dikeluarkan oleh Anna kini telah sempurna hilang. Ia sembari menguatkan kekasihnya itu.