Peta itu menutupi seluruh meja makan. Kalandra menahan keempat sudutnya dengan cangkir, asbak kosong, dan dua batu laut yang ia bawa pulang bertahun-tahun lalu. Garis-garis biru tua dan biru muda berkelok di atas kertas — kedalaman, beting, arus. Di tengahnya, sebuah selat membentang sempit di antara dua daratan: di peta hanya selebar dua ruas jari, jarak terdekat antar pantai sekitar tiga belas kilometer.
Tiga belas kilometer. Itu kalau air diam. Air ini tak pernah diam.
Ia menarik garis lurus dengan pensil dari satu titik di pantai timur ke titik di pantai barat. Lalu, dengan pensil merah, ia menggambar apa yang sebenarnya akan terjadi: bukan garis lurus, melainkan huruf S yang melebar. Karena selat ini punya arus pasang-surut yang mengalir bukan menyeberang, melainkan menyamping — sepanjang lorong sempit itu air dipompa bolak-balik oleh pasang laut seperti darah di pembuluh yang terlalu kecil. Saat air pasang, arus menyeret ke utara. Saat surut, menyeret ke selatan. Di antara keduanya ada jendela tenang — beberapa puluh menit saja — lalu arus berbalik dan menggandakan kekuatannya.
Seorang perenang yang menyeberang lurus akan diseret menyamping berkilometer ke utara di paruh pertama, lalu harus melawan seretan ke selatan di paruh kedua. Jarak di peta tiga belas kilometer. Jarak yang sebenarnya ditempuh tubuh bisa membengkak jadi delapan belas, dua puluh, dua puluh dua — tergantung seberapa pintar ia membaca air dan seberapa lambat ia berenang. Makin lambat, makin lama ia terjebak dalam arus, makin jauh ia diseret. Sebuah hukuman bagi yang lemah dan yang ragu.
Itu sebabnya selat ini tak punya nama di daftar rekor mana pun. Bukan karena tak ada yang mencoba. Ada beberapa, bertahun-tahun lalu. Sebagian berhenti separuh jalan, dinaikkan ke perahu dengan bibir ungu. Sebagian tersesat dalam kabut subuh dan menyerah. Tak satu pun pernah menyeberanginya secara resmi dan sah — solo, tanpa pelindung arus, tanpa menyentuh apa pun dari start sampai mendarat, dengan seorang pengamat resmi yang mencatat dan meratifikasi.
Kalandra tahu aturannya luar kepala, karena aturan adalah satu-satunya hal yang membuat angka berarti. Dalam penyeberangan solo yang sah, perenang tidak boleh menyentuh perahu pendamping, tidak boleh menyentuh tali, tidak boleh menyentuh manusia, dari saat kakinya meninggalkan pantai start sampai kakinya menapak pantai seberang. Ia hanya boleh menerima makanan yang dilemparkan bertali, lalu tali itu ditarik kembali. Sekali ia menyentuh perahu — entah karena lelah, panik, atau tubuh yang menggigil tak terkendali — renangnya batal. Tidak terhitung. Apa pun yang sudah ia bayar dengan jam-jam di air, dengan dingin, dengan darah dan garam, menjadi nol.
Itu hukum yang kejam, dan Kalandra menyukainya. Hukum yang tidak bisa ditawar adalah hukum yang jujur.
Adiknya tidak punya hukum apa-apa.
Ia membiarkan pikiran itu datang, karena melarangnya hanya membuatnya datang lebih keras. Dua tahun lalu, di selat ini, Niar masuk ke air sebelum subuh tanpa kru, tanpa perahu, tanpa navigator, tanpa pengamat, tanpa siapa pun yang tahu persis di mana ia. Hanya seorang gadis tujuh belas tahun dengan tubuh berbakat dan keyakinan bahwa air mencintainya. Niar tidak mengukur arus. Niar tidak menghitung jendela pasang. Niar berenang dengan gairah, dengan keyakinan, dengan tubuh yang memang dilahirkan untuk jarak — dan air mengambilnya di suatu tempat di tengah huruf S itu, di antara pasang yang berbalik dan dingin yang merayap, di tempat yang tak pernah benar-benar ditemukan.
Mereka menemukan kacamata renangnya tersangkut di jaring nelayan tiga hari kemudian, dua belas kilometer ke utara dari titik ia masuk. Itu saja. Itu jarak yang sebenarnya arus tempuh dengan tubuh adiknya.
Kalandra tidak menangis saat mengingatnya. Ia sudah lama melewati bagian itu. Yang tersisa bukan air mata, melainkan kemarahan yang sudah didinginkan jadi keputusan. Selat ini membunuh Niar bukan karena selat ini tak bisa diseberangi. Selat ini membunuh Niar karena Niar mengiranya bisa diseberangi dengan cinta. Selat ini hanya bisa diseberangi dengan disiplin. Dengan data. Dengan aturan yang lebih keras dari air itu sendiri.
Maka ia akan menyeberanginya dengan benar. Dengan kru. Dengan navigator yang hafal tiap belok arus. Dengan pengamat resmi yang akan menulis, hitam di atas putih, bahwa selat ini telah diseberangi seorang manusia secara sah — bukan dengan nekat, melainkan dengan perhitungan. Ia ingin nama selat ini akhirnya masuk ke rekor, dengan cara yang seharusnya. Ia ingin membuktikan bahwa adiknya tidak mati karena selat ini mustahil. Adiknya mati karena Niar tidak menghormatinya.
Ibunya berdiri di ambang pintu dapur, melihat peta yang menutupi meja makan, melihat huruf S merah, melihat selat yang ia kenali bahkan tanpa nama tertulis. Wajahnya berubah. Tangannya mencengkeram lap di pinggang.
"Itu selat yang sama," katanya pelan. Bukan pertanyaan.
Kalandra tidak mengangkat kepala dari peta. "Itu selat yang sama."
Keheningan menggantung di antara mereka, setebal kabut subuh. Bau teh dingin. Suara ombak jauh dari jendela. Papan rekor Niar tergantung di dinding ruang depan, terlihat dari tempat mereka berdiri, biru pudar di antara foto-foto.
"Kau mau mati seperti adikmu," kata ibunya, suaranya retak di tengah.
"Tidak," jawab Kalandra. Ia menegakkan punggung, dan untuk pertama kali menatap ibunya langsung. Matanya tidak basah. Matanya hanya lelah, dan keras seperti batu laut di sudut peta. "Aku mau menyeberanginya tanpa mati. Itu seluruh maksudnya. Niar berenang seperti orang yang mengira air sayang padanya. Aku tidak akan begitu. Aku akan berenang seperti orang yang tahu air tidak sayang pada siapa-siapa."
Ibunya tidak menjawab. Ia hanya berbalik, kembali ke dapur, dan suara piring yang ditata terdengar sedikit terlalu keras.
Kalandra menunduk lagi ke peta. Ia menarik garis baru — bukan lurus, bukan huruf S yang pasrah pada arus, melainkan busur melengkung yang sengaja menyimpang ke selatan di awal, supaya saat pasang berbalik dan menyeret ke selatan, arus itu justru mengembalikannya ke garis. Melawan air dengan cara membaca air. Ia mencatat sudut, waktu, kecepatan yang dibutuhkan. Angka di atas angka, dingin di atas dingin.
Di luar, laut berkilau acuh tak acuh, seperti biasa. Selat itu, jauh di sana di balik cakrawala, menunggu tanpa nama. Kalandra berniat memberinya satu.