Jari telunjuk Elang tidak bisa diam di tempat. Mengetuk dagu atau beralih ke sudut meja. Beberapa kali retina matanya membidik ke arah pintu kamar mandi. Pikiran kotor semakin menyesatkan dirinya. Terlebih, suara gemericik air yang mengalir di dalam sana. Seakan sedang memanggil-manggil dirinya di luar. Sudah lima belas menit lebih ia duduk tidak tenang. Sampai-sampai membalas pesan dari temannya asal-asalan.
Tidak lucu rasanya, kalau seorang pria harus ingkar pada tekadnya sendiri. Sedangkan, di depan mata terlalu banyak hal menggoda tanpa ampun.
Suhu pendingin ruangan dalam kamar hotel sudah cukup dingin, tapi kenapa badan Elang malah kegerahan? Ia sudah menanggalkan jaket miliknya dan menyimpan di lemari gantung. Tetap saja masih merasa agak panas. Aneh sekali.
Joy baru keluar dar