Ini adalah hari kedua Sakura kuliah, ia sudah banyak mengerti bagaimana peraturan dan tata tertib di tempatnya kuliah. Ia menjadi salah satu mahasiswa yang lumayan pintar di kelasnya.
Di hari itu kedatangan mahasiswi baru dan duduk tepat di sebelah Sakura.
“Hey kamu,” Zain memanggil mahasiswi baru itu sambil menggebrak meja. Wanita itu terkejut dengan ulah Zain.
“A-ada apa,” ujarnya gugup dan takut, ia membenarkan kacamatanya. Rambutnya di kepang dua memberikan kesan cupu dari diri gadis itu. Pakaiannya sebuah kemeja yang dimasukan rok panjangnya sebawah lutut.
“Siapa nama lo?”
“Nama aku Yarani”
“Oh ... dasa Micin,” celetuk Zain tanpa dosa.
“Sebagai orang baru di sini kamu harus mengikuti peraturan aku!” lanjut Zain angkuh.
Keningnya berkerut, “Apa itu, Kak?” tanyanya bersiaga.
“Gampang. kamu harus jadi b***k aku selama seminggu. Tapi kalo kamu gk mau tidak papa, aku bakal ngbuli kamu selama kuliah di sini," ujarnya enteng, ia melipat tangannya di depan d**a.
“A-aku mau kok, Kak." Setuju tanpa fikir panjang.
“Bagus, sekarang kamu lap sepatu aku!” seru Zain sambil menyodorkan tisu pada gadis itu.
Yarani pun mengambilnya dengan agak ragu, setelah ia hendak berdiri dan beringsut jongkok mengelap sepatu Zain. Namun seorang gadis merebutnya dengan cepat. Zain melotot marah ke arah gadis itu, siapa lagi kalo bukan Sakura.
"Kamu tidak pantes jadi budaknya si Tarzan kaya dia!” protes Sakura kesal.
“Apa maksud kamu, hah. Kamu sejak awal cari ribut sama aku!” Zain memandang nyalang pada sosok Sakura si pengganggu baginya.
“Emang kenapa? Dasar cowo sombong, mentang-mentang kamu anak pemilik sekolah ini,” Sakura balik marah dengan sikap Zain yang seenaknya.
"Kamu harus tetep jadi b***k aku, titik, awas aja kalo kamu gk mau!” ancam Zain pada gadis baru itu.
“Gak, dia tidak boleh. Aku tidak suka kamu semena-mena!” Masih membela gadis baru itu.
"Kamu emang ngajak ribut sama aku!” hardik Zain melangkah ke arahnya. Sementara yang lain takut melihat kemurkaan Zain. Davian yang mencium bau-bau permusuhan dan akan menjadi masalah, ia segera melerai keduanya dan tepat saat itu dosen masuk kelas.
“Urusan kita belum selesai,” ucap Zain dengan sinis. Sakura hanya mengendikan bahu tak perduli, dengan santai gadis itu duduk di bangkunya.
Pelajaran pun dimulai, selama pelajaran Sakura terus saja memandang ke arah dekat jendela dimana Davian tengah memperhatikan materi yang di sampaikan dosen. Pikiran Sakura menghayal entah kemana. Ia meletakan dagunya di atas tangan sambil tersenyum-senyum genit.
“Nona Jen.” Rupanya ibu dosen itu mengetahui kelakuan murid barunya yang aneh, jangan-jangan sters ni bocah. Ia menghampiri meja Sakura dan memukul meja dengan keras hingga Sakura terkaget-kaget.