Sakura terkaget-kaget saat dosen menggebrak mejanya.
“Habis obatnya, nona Jen. Kenapa dari tadi memandang ke arah Zain?” tanyanya pedas.
“Eh ibu sadis amat, emang aku sakit?” tanya Sakura melirik sinis ke arah Zain diikuti tawa dari teman sekelasnya. Dalam hati ia berkata, gk liat apa kalo aku memandangnya ke arah pria pujaan ku.
“Kamu maju ke depan!” perintah wanita itu dengan kasar.
“Saya, Buk?” tanya Sakura sambil menoleh kanan kiri dan belakang siapa tau bukan dirinya yang ditunjuk.
“Terus siapa? Emang saya tadi baru ngomong sama setan!” tandasnya galak.
Tanpa berkata lagi akhirnya Sakura segera mengikuti intruksi dosen itu.
“Kamu jelaskan materi yang saya sampaikan tadi, tentang politik lokal di negara kita!” terang dosen itu berusaha tetap sabar.
Sakura terdiam sesaat, nyawanya belum terkumpul sempurna, fikirannya masih melayang pada khayalannnya bersama Davian barusan. Ia buru-buru memutar otak sebelum ia mendapat masalah lebih besar. Zain yang duduk di pojokan sana tertawa di atas penderitaannya. Sementara Davian yang duduk di dekat jendela hanya menatapnya dengan datar.
“Sakura Jen Howyi!” panggil wanita itu
“Emm ... iya Buk, saya akan menjelaskan materi yang tadi Ibu sampaika," sahut Sakura sambil melangkan ke depan.
“Ehem ...” Sakura berdehem untuk menetralisir kegugupannya.
“Mungkin materi yang saya sampaikan tidak sepenuhnya sama dengan penjelasan dari Ibu, namun intinya sama... Bla ... bla ... bla” akhirnya Sakura menyelesaikan penjelasannya dan mendapatkan tepukan tangan yang riuh dari seluruh mahasiswa.
“Bagus, kamu boleh duduk!" seru wanita itu tersenyum cerah saat Sakura tampil memuaskan.
“Terimakasih Buk,” ucap Sakura kembali ketempat duduknya.
“Lain kali jangan di ulangi lagi. Jangan mentang-mentang kamu sudah pintar bisa seenaknya!” seru wanita itu yang hanya di balas anggukan kepala oleh Sakura.