“Sedang apa di sini? Kamu mencuri ya?" tuduh pria itu sembari berkacak pinggang.
Sakura langsung saja melebarkan matanya, dengan tubuh yang berkeringat deras ia memandang pria itu dengan marah. Nampaknya hati Sakura ikut memanas saat ini.
“Sembarangan saja kamu! Kalau aku mau maling nunggu kamu pergi," bela wanita itu.
“Iya juga. Tak kusangka kamu pintar," celetuknya seperti gurauan saja.
Sakura hanya memutar bola matanya dengan malas. Diraihnya sebuah buku majalah yang tergeletak nganggur di atas meja. Ia langsung saja mengibas-ngibaskan ke tubuhnya agar sedikit menetralisir rasa panas.
"Tidak ada AC ya di sini?" Sakura sedikit merengek.
Zain meirik ke arah AC yang dimatikan. Demi menghemat tenaga. Terlebih keuangannya sedang memburuk ketika sang ayah tidak memberikan uang bulanan padanya.
“Tidak ada. Jadi sekarang kamu pergi!" sahut pria itu ketus.
Sakura tak bergerak dari tempat duduknya, ia justru melingkarkan kakinya dengan santai. Kemudian ia menjawab, "aku ini tamu! Jangan diusir!" cerocos gadis itu.
“Dasar manusia menyebalkan!" Pria itu berkata dengan geram.
Sementara Sakura hanya memasang wajahnya santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Terutama saat tidak diharapkan di ruangan ini.
Kali ini pandangan Sakura mengarah kepada teras yang berada di luar. Horden yang dibiarkan terbuka itu menjadi tatapan menarik bagi Sakura.
Gadis itu langsung bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan ke arah tempat yang menjadi ketertarikan buat Sakura.
“Sembarangan saja kamu ya! Tidak sopan!" pekik pria itu mengikuti langkah Sakura yang kali ini langsung saja meraih gagang pintu.
“Melihat saja tidak boleh," decak Sakura bisa merasakan angin yang berhembus sehingga rasa panas itu sedikit lebih lega. Ia tidak mengerti kenapa Zain tidak memasangkan ac.
“Wuah ... ternyata kamu ini seorang pecinta bonsai ya?" tanya Sakura.
Pria di sampingnya itu kini nampak malas ketika mendapat pujian dari Sakura. Ia sudah terlanjur kesal kepada gadis itu.
“Oh iya ... itu dia kamarku!" ucap Sakura menunjuk sebuah teras yang berseberangan dengannya. Melihat hal itu membuat Zain tiba-tiba saja tersenyum tipis.
Namun senyuman itu tidak dilihat oleh Sakura ketika gadis itu langsung saja memandang ke arah teras milik Davian. Ia cukup senang sekali ketika melihat daerah di sana, yang membuat ia terpesona adalah adanya lukisan.
“Kenapa? Mau bikin drama lagi di depan Davian?" tanya pria itu sedikit mencibir.
Sakura masih memasang wajah santai dan lebih terfokus kepada pemandangan lukisan yang terlihat indah meski dilihat dari seberang sekali pun.
“Melihatnya saja aku sudah sangat kagum. Apalagi kalau melihat dari dekat. Aku ingin dilukiskan satu dari dia," terang gadis itu sembari menerawang jauh.
Pandangannya kali ini kosong di mana tubuhnya tengah berada di pagar. Pagar itu tingginya sepinggang sehingga tidak akan bahaya jika berada di pinggiran.
“Dia suka membuat lukisan untuk pesanan seseorang," ucap Zain kemudian.
Kali ini pandangan Sakura langsung saja beralih ke arah Zain, “Sungguh?" gadis itu sedikit mengeraskan ucapannya sehingga Zain harus menutup salah satu telinga yang berada di samping Sakura.
“Bisakah kamu memelankan suaramu sedikit?" tanya pria itu sembari mengusap telinganya yang pengang sesaat.
Sakura hanya terkekeh, “Maaf. Aku terlalu bersemangat. Aku sangat suka sekali dengan Davian. Bukan hanya sebagai seorang fans berat, tetapi aku adalah seseorang yang mencintai Davian. Bukankah dia masih jomblo sampai saat ini?" ucap gadis itu dengan suara cepat.
“Ya terserah kamu saja. Bahkan kamu rela membuat drama murahan itu tadi. Aku sangat salut sekali," ucap Zain yang entah mengapa ia bisa tersenyum mengingat tingkah wanita itu tadi.
Dengan drama seperti itu kemungkinan untuk mendekati Davian sangat mudah.
“Jadi bisakah kau membantuku mendekati Davian?"