Raizel berdiri di atas ketinggian salah satu gedung yang ada, dia menatap kearah kerumunan orang-orang. mereka berlalu lalang di jalanan dan terlihat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Mata Raizel sedikit memicing, saat melihat sesuatu yang membuatnya tertarik. kumpulan anak-anak muda yang akan berangkat ke kampus lah yang membuat Raizel tertarik.
"Swooossshhh!
Menggunakan kekuatannya, Raizel merubah pakaiannya menjadi seragam murid Universitas Hondo.
Pakaian yang awalnya berwarna hitam kelam pun, berubah menjadi warna putih seketika lengkap dengan dasi dan nama siswa di saku depannya.
Raizel pun turun dari ketinggian gedung, tanpa ada seorang pun yang mengetahui Raizel berjalan mengikuti kerumunan orang-orang, semua mata memandang heran kearah Raizel. Namun Raizel tidak menghiraukan semuanya.
"Siapa dia....!
Suara pertanyaan dari kerumunan orang terdengar, mereka menebak-nebak darimana datangnya Raizel. Itu karena bentuk wajah dan aura Raizel yang sangat berbeda dengan para manusia pada umumnya.
Raizel kembali terkejut saat melihat semua orang berhenti berjalan, Raizel melihat sebuah lampu merah saat semuanya terdiam. Raizel pun melakukan hal sama dengan semua orang.
Namun saat lampu lalu lintas sudah kembali hijau dan semua orang kembali berjalan, Raizel masih santai berdiri di tempatnya. menatap orang-orang yang berjalan menyebrangi jalan raya.
setelah memperhatikan dengan seksama, Raizel memutuskan untuk berjalan menyebrangi zebra cross, namun saat dirinya berjalan kembali di trotoar.
"Drap! drap! drap!
Suara derap langkah orang berlari terdengar, beberapa orang berlari dengan cepat tanpa memperdulikan keselamatan mereka saat menyebrang, mereka semua para murid-murid Universitas Hondo yang takut telat.
Saat kembali melihat lampu merah yang berdiri di sisi jalan, Raizel melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Dia berhenti untuk menunggu lampu kembali hijau, padahal Raizel tidak akan menyebrang jalan.
"Tidak ada Waktu untuk santai begitu, Hari ini Helder yang jaga gerbang." ucap suara yang tiba-tiba membuat Raizel terkejut, dia lalu melirik kearah belakang dan melihat Sorang pemuda berdiri di belakangnya.
Saat tatapan keduanya bertemu satu sama lain, pemuda itu sedikit terkejut saat melihat bola mata Raizel yang berwarna merah seperti api.
"Siapa orang ini?" gumam pemuda itu dengan tatapan heran.
Namun tidak ada waktu untuknya untuk bertanya banyak, saat melihat jam di tangannya sudah hampir jam delapan.
"Kamu bakal telat kalau tidak buru-buru." raung pemuda itu lalu berlari meninggalkan Raizel.
Dengan sikap dinginnya, Raizel hanya menatap dari kejauhan tidak ada niatan untuknya untuk ikut berlari.
"Ngomong-ngomong siapa orang itu? sejak kapan di kampus ada anak seganteng itu?"gumam pemuda yang berlari meninggalkan Raizel.
Raizel mulai kembali berjalan mengikuti arah pemuda yang baru saja berbicara dengannya, dia berjalan menggunakan sedikit kekuatannya.
"Kalian terlambat, padahal kalian tahu aku yang menjaga gerbang kampus. murid-muridku tidak boleh kubiarkan santai begini."kata Helder, yang berada di depan gerbang.
Raizel penasaran dengan Arah suara yang sangat lantang dan tidak enak didengar, dia melirik kebalik gerbang dan melihat seorang pria paruh baya dengan perawakan kekar dan tinggi, wajahnya begitu menyeramkan seperti seorang perampok.
Didalam halaman Kampus, tepatnya di lapangan upacara terlihat tujuh orang siswa sedang berlutut di hadapan Helder. mereka semua menundukkan kepala mereka, tidak ada yang berani menatap kearah Helder.
Sedangkan Helder berjalan mondar mandir memperhatikan semua murid yang terlambat, dengan tongkat base ball di tangannya. menambah kesan angker pada sosok Helder.
Diantara tujuh orang yang sedang di hukum oleh Helder, nampak satu orang pemuda yang bertemu dengan Raizel saat di jalan.
Seketika teriakan dari Helder terdengar, "Jarot Jatmiko kamu terlambat lagi, sambil mengayunkan tongkatnya kearah kepala Jarot.
"Pleetakkk...!
"Hahaha... seketika gelak tawa enam orang lain pun terdengar
Disaat semua orang sedang menertawakan kekonyolan Jarot, mendadak Jarot kembali memicingkan mata kirinya.
Jarot seketika malu saat melihat ada gadis yang di incarnya selama ini, sambil memalingkan wajahnya, Jarot berkata lirih. "kenapa ada Yuna disini sih!
"Sebagai hukuman atas keterlambatan kalian, ayo lari lima putaran."Teriak Helder tegas.
"Apa? lima putaran...!" Jawab tujuh orang itu serempak.
"Pak guru itu kebanyakan!
"Itu terlalu melelahkan pak.!
"betul pak.!
"Hmmm....
Jarot yang tidak berkomentar hanya diam di belakang Yuna, seketika itu juga tatapan tajam Helder mengarah kearah Jarot.
"Sepertinya perasaanku tidak enak,"Gumam Jarot lirih.
Dengan senyum menyeramkan, Helder langsung memekik." Kalau Jarot mau berlari tujuh putaran, yang lain boleh lari tiga putaran.
"Apa?!!!
Jarot langsung tersentak, dia memasang muka jelek dengan apa yang di dengarnya.
Semua mata seketika melirik kearah Jarot, mereka menatap Jarot dengan tatapan tajam, Yuna lalu memohon pada Jarot dan itu tidak bisa di tolak oleh Jarot.
"Haha...aku bisa lari tujuh putaran, kalian tidak usah cemas. yang ku punya hanya tenaga."Ucap Jarot sambil tersenyum kecut.
"Jarot makasih....!
"makasih banyak Jarot...!
Jarot pun mau tidak mau berlari mengelilingi lapangan sebanyak tujuh putaran, dia seorang diri menyelesaikan hukuman dari Helder, sedangkan teman-temannya berlari tiga putaran saja.
"Kenapa sih bikin lapangan kok gede banget, Kok aku ga seperti dulu ya? apa aku makin tua?"Gumam Jarot saat berhasil menyelesaikan Hukuman dari Helder.
"Cepat masuk, pelajaran sudah mau dimulai! Sana masuk kelas jika sudah selesai."Teriak Helder dengan lantang.
Saat Helder menantap para murid yang berjalan memasuki kelas, dia merasakan jika ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
Ingin memastikan dugaannya, Helder seketika itu menoleh kearah belakang.
!!!!
Helder di buat terkejut dengan apa yang memasuki visinya, saat ini seorang pemuda bertubuh kurus namun agak tinggi, berparas tampan dan berkulit putih, berdiri dengan sangat tenang di depan gerbang masuk.
Saat kedua tatapan saling beradu, Helder merasakan sedikit gentar, namun sebagai seorang guru. dia tidak ingin wibawanya jatuh, Helder buru-buru menguasai dirinya saat itu juga.
"Kamu ini! Jam segini baru sampai ke kampus?
Namun tidak ada Tanggapan apapun dari Raizel, bahkan ekspresi bersalah atau ketakutan pun tidak tampak, yang ada hanya ekspresi dingin yang di tunjukan Raizel.
"Aku tak pernah mengira, kamu murid tipe telat. selain itu kamu terlalu percaya diri.
"Eh? tunggu dulu, saya belum pernah melihat kamu sebelumnya.
Dengan cepat Helder berjalan dan mengamati Raizel dengan seksama, dia memalingkan pandangannya ke kanan dan ke kiri berulang-ulang.
"Ya, tuhan! Akhirnya selesai juga. hosh! hosh!" Jarot berkata sambil menunduk didekat Helder.
Saat Jarot menaikan kepalanya, dia kembali terkejut dengan siapa yang ada di depannya.
"Ka-Kamu kan!....
"Kamu kenal dia Jarot?"Tanya Helder sambil menunjuk tangan kearah Raizel.
Sambil memasang Ekspresi serius, Jarot berkata." Tidak pak, aku baru saja melihat dia tadi pagi.
Sambil memegang dagunya, Helder Bergumam." Gitu ya, jadi kamu juga belum pernah melihatnya sebelumnya, ya?
"Ehh? Apa bapak juga sama? "Tanya Jarot dengan suara tertahan.
"Apa mungkin dia murid pindahan pak?" Jarot kembali menanggapi. kemudian melanjutkan,"Kalau tidak tentu anak-anak yang lain pasti sudah mengenali wajah seperti itu pak!.
"Ya bapak juga merasa begitu, mungkin benar dia murid pindahan."Sahut Helder sambil menyilangkan kedua tangan.
"Hei kamu, apa kamu baru disini?" Teriak Helder sambil menunjuk jari.
Raizel yang tidak paham dengan kehidupan dunia ini, hanya terdiam beberapa menit, tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya, Raizel tiba-tiba menganggu.
Melihat Raizel yang mengangguk, Helder dan Jarot langsung saling tatap. tak lama kemudian mereka berdua terkekeh dengan ekspresi kejam.
"Seharunya kamu bilang dari tadi,"Kata Helder dengan tatapan bengis, lalu berkata." Jadi kamu ini pindahan dari Universitas mana?
"......!"Raizel kembali diam membisu, karena memang dia tidak paham apa yang dimaksud.
"Kamu tidak mau bilang? daritadi kamu hanya manggut-manggut saja, siapa yang ajarin?" tanya Jarot kesal.
"Saya sedang bertanya sama kamu, ayo cepat jawab."Teriak Helder dengan nada yang sudah sangat kesal.
"Porokocrot Perekecret!" ucap Raizel menggunakan bahasa asalnya.
Sontak kedua orang yang sedang mengintrogasinya pun bingung setengah mati, mereka tidak mengerti dengan bahasa yang di ucapkan oleh Raizel.
"Dia bilang apa pak?"Tanya Jarot menatap kearah Helder.
Gengsi dengan Statusnya sebagai Guru, Helder pun pura-pura mengerti. dia lalu berkata,"Dia...Dia bilang! Dia datang dari jauh!
"Jadi begitu ya? Dari jauh."Sahut Jarot sambil sedikit heran.
"Sepertinya dia tinggal di luar negeri,"Helder kembali menanggapi.
"Tapi dia kelihatan seperti orang Nusantara, namun agak sedikit berbeda sih."Ucap Jarot sambil menatap kearah Raizel.
"Apa kamu warga keturunan, atau memang orang asing?" tanya Helder.
kembali Raizel hanya terdiam, tak berselang lama dia kembali mengangguk kearah Helder dan Jarot didepannya.
Senyum terkembang dari mulut Helder, dia merasa jika dugaannya benar. berbeda dengan ekspresi Jarot.