Perdebatan di depan gerbang pun terus berlanjut, Hilder sebagai guru masih terus menjaga wibawanya, dia tidak mau harga dirinya turun di depan murid-murid nya, itu sebuah hinaan untuknya.
"Eh, ternyata betul orang asing yang beda."Sahut Jarot
"Dibanding kamu dia sudah pasti tampak beda. lihat saja kakinya jauh lebih jenjang dari kaki cebolmu itu! ha..ha! "Kata Helder sambil tertawa terbahak-bahak.
Jarot yang terkejut dan tidak terima di ejek oleh gurunya, hanya bisa mengumpat dalam hati. dia tidak berani berbuat apa-apa pada Helder yang di kenal galak.
"Oh begitu, aku lihat bapak terus lihat dia, aku langsung tahu jika dia orang asing! malah kaya dari spesies yang beda di bandingkan pak guru haha"Jawab Jarot sambil tertawa.
"Jarot, Antar dia bertemu dekan, saat ini pak rektor sedang tidak ada." Teriak Helder tegas.
"Apa??? kenapa harus aku pak! "protes Jarot.
"Pak guru, bapak tidak boleh pergi begitu saja pak."Teriak Jarot saat melihat Helder berjalan begitu saja. lalu kembali berteriak." jangan pura-pura tidak dengar, pak!!
"hufft Sial.....! Hei kamu ayo ikut aku! "Ucap Jarot dengan nada kesal.
Tap! Tap! Tap!
Dua orang itu pun berjalan melalui koridor, mereka berdua akan menuju Ruang Dekan yang berada di ujung.
**
Didalam Ruangan Dekan,
Seorang Pria paruh baya sedang duduk tenang sambil di temani segelas kopi, saat ini pria itu nampak sedang sangat serius membaca pemberitaan di koran.
"Srek! Ting!
"Sruuuup! Akh nikmat sekali kopi.tubruk ini, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan!" Sahut pria paruh baya itu.
"Tok! Tok! Tok!
"Masuk!
Terdengar suara datar dan acuh dari dalam ruangan, dimana Pria paruh baya yang menjadi dekan Universitas Hondo lah yang berkata.
"Krieett....!
"Jarot, Anda keperluan apa kamu kesini? apa kamu dalam masalah lagi?" ucap acuh pria paruh baya itu, dengan mimik wajah yang acuh.
"Untuk kali ini tidak pak. Aku kesini karena membawa murid pindahan." Jarot berkata pada intinya sambil menggaruk kepalanya.
"Murid Pindahan? "ucap Pria paruh baya itu mengulangi.
"Iya pak, Tadi pak Helder yang menyuruhku membawa murid itu menemui bapak,"Ucap Jarot dengan tegas.
"Oke! Terimakasih banyak, kamu boleh kembali kekelas sebelum terlambat." ucap dekan paruh baya itu.
"Baik pak! kalau begitu aku pamit ke kelas pak."ujar Jarot kemudian membalikkan tubuhnya.
"kamu masuk kesini, aku akan ke kelas dulu,"ujar Jarot.
Raizel hanya melirik kearah kepergian Jarot yang menuju kelas, melihat pintu ruangan yang sedikit terbuka. Raizel sedikit aneh dengan hal itu.
Setelah berpikir sejenak. Raizel melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan dengan perlahan, mendorong pintu ruangan Raizel pun masuk kedalam ruangan.
Didalam ruangan, Frank sedang mencari data tentang kepindahan murid baru. namun dia tidak menemukan data perpindahan.
"Hmmm.....murid pindahan? Aneh tak ada berkas tentamu." Sahut Frank sambil melepaskan kacamata.
Saat tatapan matanya beradu dengan mata Raizel, seketika itu juga Frank terkejut, reflek dia langsung berdiri dari duduknya dan berkata. "K-Kamu...!!!"
"Sudah lama juga, ya! Frank...!!!!" kata Raizel.
Seketika itu juga tubuh Frank bergetar hebat, dia langsung jatuh berlutut dengan satu lutut di tekuk dan menundukkan kepalanya. "Tuan"
"Bangunlah."
Setelah mengatakan itu, Raizel berjalan kearah kursi dan duduk sambil melipat satu kakinya.
"Baik Tuan..!"
Frank bangkit dari posisinya, dia kemudian menghampiri raizel yang sedang duduk dengan tenang di sofa yang ada di ruangan.
"Tuan! Bagaimana kabar Tuan?" Tanya Frank membuka pembicaraan.
"Aku baru saja bangun,"Ucap Raizel sedikit terkekeh.
"Apa...!!!"ucap Frank terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Tuannya.
"Frank! Berapa lama aku tertidur didalam peti mati?" tanya Raizel.
"Aku tidak tahu kapan Tuan mulai tertidur, tapi aku ingat terakhir kali melihat Tuan yaitu 1000 tahun silam."ujar Frank mantap.
"Seribu tahun...."
"Aku sempat mencari Tuan kemana-mana setelah Tuan menghilang, tapi aku tak berhasil menemukan Anda, Tuan."Ucap Frank kembali sambil kembali menundukkan kepala, lalu berkata."Aku minta maaf Tuan.
"Aku sudah tertidur selama itu?
Seribu tahun Raizel menghilang dan tertidur, dan kini baru terbangun kembali. Dia sudah begitu lama tertidur, bukan cuma beberapa tahun.
"Aku harus menyelidiki semuanya, termasuk bagaimana Tuan bisa terbangun disini."ucap Frank di benaknya.
***
"Sreet,...Sreet...
"Tuan ini namanya kopi."Ucap Frank sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"........" Raizel bingung dengan apa yang di tawarkan oleh Frank, melihat dengan seksama Raizel mengambil cangkir gelas dan meminum kopi tersebut.
"Bagaimana anda Beradaptasi dengan bahasa? Karena Tuan sudah tertidur begitu lama, aku khawatir...."Ucapan Frank terputus dengan ucapan dari Raizel.
"Tidak ada masalah dengan kemampuan ku. Aku akan terbiasa seperti yang sudah-sudah."potong Raizel
"Saya senang mendengarnya Tuan!" ucap Frank. namun mendadak wajahnya berubah terkejut." Eh?"
Melihat pakaian yang di pakai Raizel, Frank berpikir sendiri." Tuan memilih pakaian paling santai saat kembali kedunia, tapi kenapa..?" saat memikirkan kejadian sebelumnya Frank pun mengerti dan tersenyum sendiri.
"Penjaga gerbang mu cukup mengesankan Frank."Sahut Raizel sambil tetap menikmati secangkir kopi.
"Penjaga gerbang!"ulang Frank sambil menaikan alis Kananya.
"Saat aku tertidur, Apa kau memimpin klan keluarga tertentu?"tanya Raizel.
"Tidak Tuan, Tempat ini di sebut Universitas, tempat kami mendidik dan membimbing para murid."Ujar Frank tegas.
"Universitas."ulang Raizel sambil menyeruput kopi, Lalu berkata. "Aku ingin tahu lebih banyak soal dunia sekarang.
Dengan ekspresi yang tenang, Frank berkata."Aku akan pastikan Tuan tidak kesulitan beradaptasi di tempat ini.
****
"Semuanya, saat ini kita kedatangan mahasiswa baru dari luar negeri."Ucap Helder berteriak lantang.
Seketika ruangan kelas menjadi hening, semua orang terkejut dan heran dengan kehadiran Raizel yang sangat berbeda dengan murid lainnya.
"Ini bukan kali pertama mereka bereaksi seperti ini, sekarang aku juga harus lihat mereka terkagum-kagum di kelas seperti ini."gumam Hilder.
"Perlu diketahui teman baru kalian ini dilahirkan dan di besarkan diluar negeri, ini kali pertamanya di Indonesia, jadi bantu dia memahami budaya kita dan Lainnya.
"Namanya adalah.....!"Ekh aku lupa menanyakan namanya."gumam Helder.
"raizel kembali berkata menggunakan bahasa bangsawan,"Perekecret porokocrot!"
"Bahasa apa itu?
"Apa kalian paham artinya
Suara bisik-bisik terdengar didalam ruangan dan membuat kelas langsung bising dengan suara para mahasiswa.
"ggggrrhh.... lagi-lagi? Jarot juga tadi begitu, aku tak pernah dengar bahasa itu sebelumnya. mana aku tahu!
"Aku tidak mungkin asal bicara soal nama, sialan! sialan."Ujar Helder sangat kesal.
"Raizel Esnowa.!" Itu sebutannya disini. "Ucap Raizel.
"Eh....tunggu sebentar!"Ucap Jarot.
"Hei kamu bisa bahasa Indonesia."Tanya Jarot.
"Betul, kamu ternyata bisa bahasa korea." ucap Helder kaget.
"Kamu benar, tapi tidak fasih."Sahut Raizel acuh.
"Lalu apa nama panggilanmu."Tanya Helder.
"Terserah kamu semua mau panggil apa saja."Ucap Raizel masih tetap acuh.
Jarot langsung bangkit dari duduknya dan menaikan tangannya ke udara sambil berteriak." Pak Guru...!!?
"Apa....! Tidak usah berteriak aku tidak Tuli."ucap Helder.
"Pak, saya hampir saja tidak menyadarinya?",ucap Jarot yakin.
"Soal apa?" tanya Helder.
"Dia tidak panggil anda pak Guru atau dosen."kata Jarot.
Seketika wajah Helder langsung suram, dia pun baru menyadari dan membenarkan apa yang di katakan oleh Jarot.
Melirik kearah Raizel, Helder berkata. "Benar kenapa kamu tidak pernah memanggilku Pak Guru atau Pak Dosen?
Namun saat mengingat Ucapan dari Dekan jika Raizel belum tahu budaya dan lingkungan di Indonesia untuk itu Helder bisa memakluminya.
"Pak dekan secara langsung minta tolong padaku, jadi aku tak bisa menghukumnya."Gumam Helder dalam hati.
"Pak Guru....! Dia kemungkinan tidak paham, karena dia dari negara lain."Ucap Jarot kembali berkata.
"Aku rasa semua orang baru bisa melakukan kesalahan yang sama."Ucap salah satu murid lainnya.
"Mempertimbangkan hal itu, rasanya hukumannya cukup dengan bapak mengunci kepalanya selama 5 detik saja."Jarot kembali berkata sambil terkekeh.
"Jarot....!"Teriak Helder dengan raut wajah sangar.
"Ya pak."Jarot menjawab dengan datar.
"Dengan senang hati bapak akan lakukan itu kekamu!!!" ujar Helder dengan wajah garang.
melirik lagi kearah Raizel, Helder lalu berkata."Di Indonesia, kami pakai kata penghormatan untuk menyebut orang lain. Itu juga dipakai untuk bermacam-macam keadaan, bapak tidak bisa menjelaskannya semua sekarang. Tapi kami juga begitu saat memanggil orang yang le