Melihat tidak ada ekspresi apapun dari wajah Raizel, Helder menjadi sangat kesal dan hampir saja dia meluapkan kekesalannya.
'Huuuu! Tahan! Tahan! Aku tidak boleh marah saat ini.' gumam Helder dalam hati.
"Baiklah sesi perkenalan selesai, kita akan bicarakan soal ini nanti, kalau kalian ada pertanyaan. Tanyakan langsung padanya saat istirahat."kata Helder dengan tegas dan lantang.
Melirik kembali kearah Raizel, Helder berkata." Duduklah di belakang Jarot.
Dengan sikap yang acuh dan cuek, Raizel berjalan dengan mantap kearah barisan bangku dan meja, namun anggapan semua orang Raizel sangat angkuh.
Selama beberapa jam. Raizel mengikuti kelas seperti mana mahasiswa yang lain, dia hanya duduk di paling belakang tanpa berinteraksi satu sama lain dengan semua siswa.
"Ting! Tong! Ting! Tong!
Jam pelajaran pertama usai, saat ini masuk seorang dosen dengan perawakan tinggi besar memakai kacamata. Dia adalah seorang Professor saint.
"Mari kita mulai mata kuliah hari ini, semuanya buka buku kalian."Kata Profesor tersebut.
Melihat ada yang berbeda dengan posisi duduk para muridnya, Profesor itu pun bertanya." Hei kalian! kenapa duduk kalian begitu?
Jarot dengan sigap langsung berkata." Anak baru ini belum punya buku prof, jadi kami berinisiatif berbagi.
"Oh begitu! Sambil menaikan kacamata nya agar terlihat lebih jelas. profesor kembali bertanya. "Tapi kenapa kalian bertiga dekat-dekat begitu?
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Jarot dengan mimik wajah tidak bersalah berkata. "Aku juga tidak bawa buku pelajaranku prof, hehe!
Saat jam pelajaran sedang berjalan, semua murid fokus memperhatikan apa yang diberikan oleh profesor mereka. Namun Jarot dengan santainya malah tertidur diatas meja.
Saat mendengar suara ketukan dari keypad laptop yang sangat nyaring, Jarot pun terbangun dan terkejut saat itu juga. dia heran dengan posisi Raizel yang sama sekali belum berubah dari awal pelajaran dimulai.
Mendengar suara ketukan yang semakin cepat di sebelahnya, Raizel sedikit tertarik dengan hal itu. dia menggeser pandangannya dan menatap serius kearah jari jemari dari orang di sebelahnya.
"Dia hanya sedikit menoleh kearah Speed, dan kenapa juga Speed sibuk dengan mouse nya, padahal ini cuma mencatat saja. Apa dia ngetik pakai mouse?"gumam Jarot dalam benaknya.
Sementara orang yang di panggil Speed oleh Jarot, saat ini nampak sangat serius dengan apa yang ada didalam layar laptop miliknya.
***
Saat istirahat, anak-anak dari kelas lain berdatangan dan ingin berinteraksi dengan Raizel. namun mereka seolah terhalang dengan Aura yang tak kasat mata.
Hanya Speed dan Jarot saja yang tidak merasakan hal apapun saat berada didekat Raizel, itu karena Raizel sendiri yang tidak menghalangi auranya untuk dua orang yang berada di samping kiri dan kanannya.
Namun tidak dengan semua orang yang ada didalam kelas, mereka hanya bisa menatap kearah Raizel dan dua orang lainnya dari kejauhan.
Hal itu membuat Jarot dan juga Speed menjadi tidak enak hati, mereka merasa risih saat semua pandangan mata tertuju kearah mereka berdua.
***
Di sebuah museum kota, tepatnya dimana tempat Raizel terbangun didalam peti matinya. terlihat Frank yang memakai jas berwarna hitam berdiri di samping peti mati yang Raizel tinggalkan.
Dia bisa menemukan tempat itu karena mengikuti sisa aura yang di keluarkan oleh Raizel, untuk orang biasa atau kau lainnya. hal itu semacam itu tidak akan mungkin, tapi berbeda dengan Frank yang sudah menyatakan diri sebagai pelayan Raizel.
"Bukankah museum ini sudah ditutup untuk umum, tapi kenapa aku merasakan jejak aura dari orang lain selain Tuan."Gumam Frank sambil menatap kesekitar bangunan.
melanjutkan pemikirannya. Frank kembali bergumam. "Sebelumnya museum ini sudah tidak terpakai lain dan akan segera di bongkar, namun sampai saat ini tidak terjadi.
"Nampaknya semua ini sudah dirancang dengan matang. Tapi tak ada yang tahu jika Tuanku tertidur disini, begitu juga aku."gumam Frank kembali, melanjutkan analisa nya.
"Hmmm!! Berapa banyak kebetulannya? dan berapa banyak ini semua sudah di rencanakan?" Frank mulai sedikit curiga dengan salah satu organisasi. dia pun kembali bergumam. "Kalau bahkan sampai satu saja dari mereka terlibat dalam hal ini ...!!!
Setelah puas memeriksa kondisi dan keadaan dari museum serta memastikan dugaannya, Frank kembali pulang ke kampus, tidak lupa dia merapihkan peti mati tempat tuannya tertidur.
**
Di ruangan Dekan.
"Aku sudah memeriksa tempat tuan terbangun, Bangunan itu dulunya adalah sebuah museum. Namun pemerintah Sudah menutupnya setahun yang lalu dengan alasan ada seseorang sudah membeli bangunan tersebut.
"Aku sudah berusaha mencari sang pembelinya, tapi ia tidak pernah ada. Aku berasumsi, seseorang yang tidak ingin di kenal membelinya untuk tujuan tertentu. Dan satu-satunya yang mencuat, adalah peti mati tempat Tuan tertidur."Kata Frank menyudahi hasil penyelidikannya.
"Kletak....!!
"Tak ada seorang pun bisa tahu anda tertidur didalamnya."Ujar Frank, lalu melanjutkan ucapannya."Namun aku mecurigai Kaktus Suci ikut terlibat."imbuh Frank.
"Sepertinya itu tidak mungkin Frank! mereka tidak bisa mengaikatnya denganku." Imbuh Raizel dengan datar.
"Namun demikian, kalau salah satu dari mereka terlibat dalam situasi ini. kita harus menyikapinya dengan serius."Sahut Frank tegas.
"Kaktus Suci! Mereka pastinya sudah banyak berubah."Ucap Raizel sedikit acuh tak acuh.
"Mereka telah membesar dan menjadi penuh dengan rahasia, lebih lagi kelompok yang beranggotakan manusia yang paling banyak berubah. mereka adalah yang terlemah, tapi kini mereka sepertinya lebih kuat dari pihak lainnya.
"Apa dunia ini menjadi terbalik?"tanya Raizel kemudian.
"Dulu Mereka bergerak dibawah bayang-bayang kekuatan lain. Tapi kini umat manusia sudah berkembang pesat, mereka tersebar diantara kaum manusia dan kekuataj mereka amat besar."Ucap Frank mengakhiri.
"Kaum Manusia selalu cepat beradaptasi dan cepat berubah."Sahut Raizel dingin.
"Setelah anda menghilang, Aku hanya kembali setahun sekali. jadi aku paham keadaan terkini tentang informasi tertentu.
"Karena tuan sekarang sudah bangun, aku akan mengawasi setiap pergerakan mereka, aku bertekad untuk menyelidiki situasi." Frank berkata dengan nada dingin.
"Lakukan apa yang menurutmu perlu dilakukan."ujar Raizel
"Bagaimana pelajarannya."tanya Frank.
"Sebuah pengalaman baru untukku. "Raizel menjawab.
"Syukurlah, ternyata tidak terlalu buruk."sahut Frank dengan napas Lega.
"franksten. sepertinya aku punya masalah dengan kekuatanku."kata raizel dengan nada yang sangat datar.
Frank seketika langsung terkejut dia bingung memahami apa yang dimaksud oleh Tuannya.
"Apa itu karena anda tertidur terlalu lama?"Tanya Frank.
Namun tidak ada Jawaban sama sekali dari Raizel, dia masih tetap diam dan acuh.
'Tuan bisa terhubung pikiran orang lain, bahkan bila ia tak paham apa yang dikatakan seseorang, kemampuannya akan membantunya untuk memahami apa yang mereka katakan. bahkan sampai membantu memperlajari bahasa mereka, kalau ada masalah dengan kemampuan tersebut.'Gumam Frank
setelah terdiam beberapa menit. Raizel pun berkata. "Pada pelajaran matematika.
"matematika? bahkan jika pikirannya terhubung dengan sang guru, jelas beliau tidak bisa memahami persamaan dan aritmatika yang rumit.'gumam Frank dengan tebakannya.
"Gurunya adalah si penjaga gerbang. "kata Raizel kembali. lalu melanjutkan. "Penjaga gerbang itu ternyata bukan orang biasa seperti yang kukira.
***
Malam hari didalam museum salah satu pencuri yang akan membawa peti mati Raizel kembali bersama dua orang yang terlihat sangat misterius.
"Mustahil, A-Apa yang terjadi? Aku meninggalkannya tepat disini."Ujar pencuri tersebut dengan raut wajah tidak percaya.
"Hmmm.....
"Aku serius, kemarin peti mati itu masih berada disini." ujar si pencuri.
Salah satu dari dua orang misterius itu berkata. "Tak ada yang boleh tahu soal ini.
Sisi kejam dari dua orang misterius itu pun terlihat, aura penindasan yang sangat mutlak membuat tubuh si pencuri itu bergetar dengan sangat hebat.
Dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya, si pencuri itu berkata."Berikan aku waktu, dan aku ak___!
"Bolehkan dia kumakan? Suara salah satu Pria misterius yang bertubuh besar terdengar memotong ucapan si pencuri.
"A-Apa?! Kumohon biarkan aku hidup." ucap si pencuri memelas.
Dengan tatapan mata acuh, pria misterius yang agak sedikit kurus berkata pada rekannya."Terserah kau."
"Jangan lakukan itu."
"Arrrrhhhhh....!!!"
Sebuah Sambaran tangan dengan cepat mencekik leher dari si pencuri, dengan seringai kejam dan mata memerah, pria misterius bertubuh tinggi besar itu membukan mulutnya.
Gigi yang seperti seorang Vampir pun terlihat dan langsung mengigit leher dari si pencuri, hingga tidak ada lagi terdengar suara erangan dari si pencuri.