Darah menetes membasahi lantai, saat Pria bertubuh tinggi besar itu membunuh si pencuri. Seolah-olah kehidupan si pencuri itu tidaklah berarti sama sekali, tubuh si pencuri di buang begitu saja setelah darahnya habis.
"Kita punya masalah, aku kira ini akan mudah. Karena kita sudah menyembunyikan peti matinya, tapi ini malah jadi menyusahkan." kata pria pertama bertubuh agak pendek.
"Peti matinya terlihat istimewa, sebaiknya aku tetap disini dan mulai mengalir informasi." gumam pria itu dalam hati.
"Haruskah aku membereskan ini semua?" sahut pria bertubuh besar.
"Tidak biarkan saja! Para petinggi takkan suka kalau masalahnya jadi ramai." Sahut pria pertama.
***
Ting Tong
Bel tanda Istirahat terdengar, semua mahasiswa mulai membereskan barang-barang mereka, bersiap untuk pergi ke kantin atau lainnya.
"Hoaaammm, waktunya makan siang." Ucap Jarot sambil merentangkan tangannya, Lalu berkata saat melihat ke arah Raizel. " Hei, saatnya makan siang. kenapa kamu tidak makan?
Raizel hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Jarot, di kehidupan yang lalu. Raizel tidak perlu asupan makanan, dia hanya tinggal menggunakan energi jika merasa lapar.
"Apa kamu tidak bawa makanan?" Tanya Jarot, lalu menyilangkan kedua tangan di d**a sambil berkata." kamu juga tidak bawa uang jajan? Tidak bawa Tas, Buku, Makanan, Uang. Kamu memang nekad.
"Kamu tahu? kamu lebih parah dariku. Paling tidak aku bawa Uang jajan dan Tas." ucap Jarot sambil bangkit dari duduknya. Kemudian berkata." Ayo ikut aku, aku yang traktir.
Raizel pun ikut bangkit dari duduknya, dan berjalan mengikuti Jarot. Baru saja beberapa langkah berjalan bersama Raizel, sebuah teriakn dari belakang terdengar.
"Jarot bin Somad!! Tunggu." Teriak Suara itu.
"Eh?" Menoleh ke arah belakang, Jarot melihat Speed bangkit dari duduknya, sambil membetulkan posisi kacamatanya. Speed berkata." Aku ikut!
"Tunggu, Apa kamu juga sama tidak punya uang?" Tanya Jarot.
Sambil berdeham dan malu-malu, Speed berkata." D.. Dompetku ketinggalan.
"Yasudah ayo sekalian saja kalau begitu. halahhh bobol besar aku hari ini."Ucap Jarot sambil berjalan keluar dari ruangan kelas.
Tak berselang lama, mereka bertiga sudah berada di kantin. Suasana kantin saat ini sangat ramai oleh semua murid, petugas kantin pun nampak sibuk berlalu lalang sambil membawa pesanan.
Namun kali ini ada yang berbeda. Disaat Jarot, Raizel dan Speed berjalan masuk kedalam kantin, semua mata memandang kearah mereka bertiga, berbisik lirih pada sesama teman mereka.
"Pelayan, Tolong bawakan aku Bakmi daging. Kuahnya yang banyak!" Ucap Jarot sambil melambaikan tangannya. Lalu menoleh ke arah Speed dan Raizel, " Kamu mau makan apa?
Speed dan Raizel hanya terdiam, mereka tidak tahu harus memesan apa. Terlebih Raizel yang masih belajar Beradaptasi, dia belum familiar dengan semua ini.
"Tambah Dua mangkok lagi bakmi dagingnya." Teriak Jarot Pada pelayan.
Setelah mengatakan itu, mereka bertiga duduk di sudut ruangan kantin. Perbincangan semua orang di dalam kantin semakin terdengar, mereka membahas seputar kedatangan Jarot dan Raizel.
Tak berselang lama, seorang pelayan datang membawa tiga mangkuk bakmi daging yang sudah di pesan Jarot.
"Silahkan di nikmati bakmi dagingnya." ucap pelan kantin dengan sopan.
"Terimakasih paman." Sahut Jarot sambil tersenyum ramah.
Melirik kearah Raizel, Jarot menyodorkan semangkuk Bakmi daging untuknya sambil berkata." Ini untukmu, kamu belum pernah coba ini kan? Ini enak banget.
Raizel hanya menatap fokus pada apa yang di lakukan oleh speed dan Jarot saat ini, setelah beberapa saat kemudian. Raizel menirukan apa yang di lihatnya.
"Ayo cepat makan, nanti tidak enak jika sudah dingin."Kata Jarot kembali mengingatkan.
"Apa karena kamu belum pernah coba ini." Kali ini Speed yang berkata.
Raizel pun mengambil sumpit makanya dengan perasaan aneh, dia menggoyangkan sumpit di tangannya terlebih dahulu.
"Makan itu pakai ini?" Tunjuk Jarot pada salah satu tempat makanan yang ada di meja. lalu berkata." Ini namanya sambal, paling enak dimakan dengan bakmi.
Mengangguk mengerti. Raizel mencampurkan sambal pada bakmi, lalu memasukan sedikit mie kedalam mulutnya sambil merasakan sensasi rasa yang masuk kedalam mulutnya.
"Pedas, Huuu!!" ucap Raizel sambil mengipas-ngipaskan tangannya.
"Ayolah stop bicara, habiskan makananmu."Ujar Jarot dengan mulut penuh mie.
Saat menatap kearah mangkuk Mie, Raizel sedikit terkejut, melihat mie yang mengembang dan terasa menjadi lebih banyak.
"Isinya bertambah."Ucap Raizel reflek.
"Bodoh, mana ada isinya bertambah. Mienya sudah mengembang. Ayo cepat makan."Ucap Jarot yang sudah sangat kesal.
Sementara Speed tetap fokus pada makanan miliknya, dia tidak menghiraukan apapun selain makan. Tak peduli jika ada orang berkelahi di sebelah pun, Speed akan tetap makan.
***
Malam hari. Di atas sebuah gedung yang sangat tinggi di pusat kota, dua orang pria misterius terlihat di museum bersama si pencuri, kali Ini sedang berdiri dengan sangat gagah.
"Menemukan peti mati itu akan lebih sulit dari dugaanku."Ucap pria pertama.
"Mungkin seharusnya kita interogasi lebih lama lagi pencuri itu, daripada dia kita makan."Jawab pria bertubuh besar.
"Dia tidak tahu apapun. Jadi makanan untukmu itulah satu-satunya hal berguna yang bisa dia lakukan untuk kita." jawab pria pertama dengan acuh.
"Hahaha. Aku setuju!" Tawa pria bertubuh besar sebelah menjawab. lalu berkata." Ini menyenangkan, aku sebelumnya tidak puas terlibat dalam tugas yang sederhana, menurutmu siapa mereka.?
"Siapapun mereka, kita tidak pedulikan. Seperti biasa kita bisa bunuh mereka kalau mereka jadi halangan."Ucap pria pertama dengan seringai kejam di wajahnya.
"Bagaimana dengan dia?"Tunjuk pria bertubuh besar dari atas gedung. lalu kembali berkata." Aku merasakan sesuatu. Kurasa dia sudar kembali sadar, sudah dua puluh satu jam setelah dia tergigit, jadi dia harus bergerak cepat.
"Dia punya waktu tiga jam sebelum tubuhnya rusak." ucap pria pertama.
"Akankah dia dapat makanan dalam tiga jam?" Tanya pria bertubuh besar.
"Dia tidak akan mati kelaparan, tempat ini cukup tenang baginya untuk bisa dapat makanan." Dengan tatapan dingin. dan kejam pria pertama menjawab.
**
Di sisi lain, Para teman sekelas Raizel terlihat sedang berjalan di tengah kota. mereka akan kembali pulang setelah bermain bersama.
"Daaahhh sampai besok di kampus." ucap Yunda pada dua temannya
"Dah Yunda, hati-hati dijalan."Sahut Liza temannya.
Saat Yunda membalikan tubuhnya, dia terkejut melihat ada seseorang yang duduk di sudut lorong gelap sambil membelakangi tubuhnya.
Berjalan mendekati pria yang sedang terduduk, Yunda dengan cepat berlari sambil bertanya." Paman kenapa?
"Gerrrtttt.....!
"Hei!!" Yunda terkejut setengah mati, matanya melotot dengan mulut yang terbuka lebar.
Saat pria itu membalikan tubuhnya kearah Yunda, sontak Yunda langsung terpaku di tempatnya. Matanya melotot semakin lebar dengan tubuh yang bergetar.
"Gaaarrhhh.!
"Ahhhhhh....!
Suara raungan di sertai teriakan Yunda menggema di heningnya suasana malam. membuat burung-burung yang sedang bersandar di dahan pohon terkejut.
**
Di saat yang bersamaan, Jarot dan dua orang lainnya berada dijalan yang sama. mereka bertiga sedang berjalan pulang sambil berbincang dengan riang.
"Aduh kenapa sih aku tidak bisa sekali pun menang."Ujar Jarot pada Speed.
"Lucu, Mana mungkin kamu berpikir bisa menang lawan aku."Ucap Speed dengan sombong.
"Yaudah lah terserah."Sahut Jarot dengan pasrah.
"Berikut kamu main juga, ya?" Kata Speed melirik kearah Raizel.
Dengan heran, Jarot pun bertanya." Kok kamu bisa cuma duduk dan lihat kami berdua main berjam-jam, aku bisa ajari kami main kalau kamu mau.
"Serius? Kamu yang sering emosi mau mengajarkan Rai main?" Ejek Speed sambil terkekeh.
Saat berada di dekat lorong, tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara jeritan yang cukup nyaring, seketika Speed langsung terkejut.
"Suara apa itu?" tanya speed.
merasa sangat familiar dengan suara yang baru saja didengarnya. Jarot langsung berlari kearah sudut lorong dengan sangat cepat.
jarak yang cukup dekat, membuat Jarot tidak perlu waktu banyak untuk sampai di sumber suara. Namun Jarot nampak sangat terkejut, begitu melihat Yunda sedang di tarik oleh seorang pria.
"Yunda!" Teriak Jarot, dia langsung bergegas melesat kearah Yunda sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Dasar k*****t! Terima ini..!!
"Bugh! Arggh!"
Gedebuk
Satu hantaman yang sangat keras tepat mengenai d**a pria itu, dia pun terlempar sejauh lima meter dan menghantam tembok dengan sangat keras.
Speed langsung berlari kearah Yunda yang sedang terduduk di tanah, dia lalu membantu Yunda berdiri sambil berkata." Kamu tidak apa-apa Yunda.
Mendengar itu, Wajah Jarot lesu dan mengeluarkan raut wajah heran, dalam hatinya berkata.' seharusnya aku yang bertanya dan membantu Yunda bangun.'
Melihat perubahan roman wajah dari Jarot, Speed tidak enak hati, dia pun berkata sambil menatap Jarot." tenanglah Rot, kurasa Yunda baik-baik saja