Jessica mengerjabkan matanya dia merasakan tubuhnya pegal, lelah dan juga intinya terasa sakit serta ngilu, dia kembali mengingat kejadian semalam, hingga dirinya tersadar bahwa semalam dia sudah diperkosa oleh pria bermata biru itu, dan kini dia melihat seorang pria yang tengah tertidur di sisinya.
Gadis itu membekap mulutnya ketika melihat kini dia tidak memakai sehelai baju pun, Jessica menurunkan kedua kakinya dengan perlahan dia memunguti baju yang sudah robek itu kemudian memakainya, dia keluar dari kamar hotel dengan terburu-buru takutnya pria itu akan terbangun.
Jessica keluar dari hotel dan berlari dia menaiki taksi, pengemudi taksi melihat aneh ke arahnya karena penampilan yang sangat berantakan juga baju yang robek dibagian kancingnya.
Setelah sampai di rumah Jessica langsung masuk ke dalam rumah, untung saja ibu tirinya tidak ada dia takut jika ibunya menyadari bahwa dirinya tidak pulang semalaman.
Gadis itu memeluk kdua lututnya dia bawah guyuran sower, dia menatap jijik akan tubuhnya yang sudah di jamah oleh pria yang bukan suaminya, perasaannya kacau ingin sekali dia pergi dari dunia ini dan menyusul kedua orangtunya.
Dia sudah tidak tahan dengan semua cobaan yang saat ini terjadi pada hidupnya, siapa yang mau menerima wanita yang sudah tidak perawan nantinya, bahkan dia tidak bisa membayangkan jika hasil pemerkosaan semalam berbuah hasil da hamil diusianya yang masih sembilan belas tahun.
Impiannya dan juga cita-citanya menjadi seorang pembisnis hebat seperti sang ayah sekarang sudah lenyap, masa depan yang sudah dia persiapkan dengan baiknya kini harus di kubur hidup-hidup.
"Kenapa semua ini terjadi padaku.. Hikss" Jessica memukul kepalanya dan membenturkannya ke tembok, dia ingin mengakhiri semua ini rasanya menyesakkan dia sungguh tak sanggup lagi.
Namun sekelibat bayangan ayahnya yang mengatakan untuk tidak menyerah kini terbayang dibenak Jessica, haruskah dia menyerah, tapi ada doa dan harapan kedua orangtuanya untuk kebahagiaanya dia tidak bisa menyerah begitu saja.
Jessica memakai bajunya dan kini dia menutupi tubuhnya dengan selimut, setelah memberitahukan kepada Amy kalau dirinya tidak akan masuk kerja karena alasan sakit, kini Jessica tertidur dan memeluk foto kedua orangtuanya.
Dia terbangun ketika matahari sudah hampir terbenam, Jessica menyandarkan punggungnya ke ranjang, dia menarik nafasnya dengan pelan kemudian keluar dari kamar untuk memasak, sejak kemarin dia belum memakan apapun dan sekarang perutnya sudah sangat lapar.
Selesai masak terdengar suara ibunya yang sudah pulang dengan seorang laki-laki yang tengah di rangkul nya, Jessica menatap kesal ke arah ibu tirinya dia tidak bisa lagi menatap wanita itu menjijikan karena dirinya juga sekarang sudah sama menjijikan.
"Tumben kamu udah ada di rumah" Ujar ibu tiri Jessica dengan nada sinisnya.
"Iya bu, Jessi udah siapin makanan buat ibu, kalau begitu Jessi ke kamar dulu yah"
"Siapa gadis itu yang?" Tanya pria yang dibawa oleh ibunya, dan sebenarnya Jessica juga mendengarnya.
"Ohh, anakku sudahlah sekarang kita makan dulu sebelum bercinta" Jessica yang mendengar itu merasa mual, sedari dulu ibu tirinya tidak pernah berubah masih suka bermain dengan laki-laki yang berbeda.
Jessica menutup pintunya dia memakan masakan yang sudah dia buat tadi, sengaja dia tidak makan di ruang makan karena dia juga sudah tidak tahan dengan tingkah ibunya yang seakan lupa tempat ketika bercinta.
Setelah cukup kenyang Jesica membiarkan piring itu masih berada di dalam kamarnya, pagi nanti baru dia cuci karena malam jika harus keluar dari kamar dan mendengar suara desahan ibu tirinya.
Keesokan paginya Jessica bekerja dengan penuh ketakutan karena dia takut jika sewaktu waktu pria itu menghampirinya lagi, dia sungguh tidak tahan dengan semua yang terjadi di hidupnya ini.
"Jes, kemarin mam kamu pulang duluan yah?" tanya Amy yang membuat badannya menengang ketakutan.
"Ahhh... iya, aku merasa tidak enak badan" Amy mengangguk kemudian mereka berdua melanjutkan kerjanya.
Setelah jam makan siang ibu tirinya menelpon untuk segera pulang kerumahnya, Jessica yang sedikit bingung pun meminta izin kepada bosnya untuk pulang terlebih dahulu, untung saja restoran sedang tidak terlalu ramai.
Jessica dengan langkah gontai nya dia memasuki pekarangan rumah dan melihat sebuah mobil mewah terparkir di dean rumahnya, dia sedikit bingung karena kebanyakan dari laki-laki yang dibawa oleh ibunya tidak sekaya itu.
Jessica masuk kedalam rumah dan melihat seorang laki-laki yang berjas mahal tengah berbincang dengan ibunya,
"Jess, ini tuan Felix beliau adalah kaki tangan tuan Abraham yang uangnya ibu pinjam itu" Jessica masih tidak mengeri dengan arah pembicaraan ibu tirinya.
"Bukannya uang itu sudah lunas yah bu, ketika aku jual sebagian tanah milik ayah juga dari gajih ku setiap bulannya?" tanya Jessica
"Emm. sebenarnya ibu meminjam uang itu dengan jumlah yang sedikit banyak" Jessica mendelik kesal kearah ibunya, dia sudah menjual semua harta berharga peninggalan ayahnya dan sekarang wanita itu meminjam uang dengan gampangnya.
"Bu, aku udah jual semuanya bahkan tabungan kuliahku, untuk apa ibu meminjam uang itu? untuk pria yang ibu tiduri itu!" Jessica kehabisan kesabaran, dia sudah muak dengan ibu tirinya yang menghabiskan semua uangnya bahkan tabungan kuliahnya juga.
"Tutup mulut sialan kamu itu, dan sekarang ikutlah dengan tuan Felix"
"Kenapa aku harus ikut dengannya bu? Apa ibu jual aku?!"
"Dengar yah Jes, kamu itu cuman jadi jaminan sementara setelah ibu lunasi hutangnya kamu akan bebas" Jessica, gadis itu luruh, dia sudah tidak punya apa-apa lagi dan sekarang menjadi jaminan hutang ibu tirinya.
"Aku ngak mau!" Jessica merasakan pipinya perih karena tamparan yang dia dapatkan dari ibu tirinya, kemudian Jessica di tarik oleh kedua pengawal dengan perawakan tinggi.
Jessica meronta ronta namun dia tidak punya kekuatan lagi ketika dia dibius oleh pengawal itu hidupnya kian hancur dan kini luka tersebut udah hancur berkeping-keping.
"Kalau begitu saya pergi, senang bisa bekerjasama dengan anda" Ibu tiri Jessica menjabat tangan pria dihadapannya, dia merasakan kepuasan karena sebenarnya Jessica bukan hanya jaminan hutang melainkan sudah dijual olehnya dengan harga yang tinggi, wanita itu tersenyum paus dengan gepokan uang yang berada di hadapannya.
Sekarang sudah tida ada yang tersisa dari diri Jessica dia terjebak dalam keserakahan sang ibu tiri, kebahagiaan yang selalu dia impikan kini harus musnah seketika ketika kenyataan pahit juga rasa sakit yang datang bertubi-tubi kepadanya, da sudah tak tersisa.
Namun takdir sebenarnya tidak semenyakit kan itu hanya saja bagaimana kita bisa atau tidaknya menjalani kehidupan ini, karena rasa sakit semua orang akan terus merasakan itu, kita tidak bisa mengelak akan rasa sakit tapi dibalik itu semua tuhan sudah menakdirkan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah sedikitpun manusia ketahui