Felicia
Persiapan acara perusahaan membuatku kembali bertemu Hendra di kantor. Aku diminta membantu logistik yayasan karena pernah bekerja sama dengan beberapa usaha lokal. Saat melihat nama bakery Mireia, aku memberitahukan kedekatan keluargaku dengan Hendra dan meminta penilaian vendor tetap ditangani tim lain. Undangan resmi diterima melalui Bu Merry.
Di ruang rapat, seorang staf memastikan siapa yang akan mewakili keluarga pendiri jika ayah Hendra tidak dapat hadir. Hendra menjawab bahwa tugasnya tetap sebagai insinyur senior dan pemimpin pekerjaan teknis; pembukaan acara bukan pengangkatan sebagai direktur. Aku melihat ketegangan di wajahnya ketika namanya dicatat sebagai wakil keluarga.
Setelah rapat, aku menemuinya di koridor.
“Kamu sudah cerita ke Mireia?” tanyaku.
“Sebagian.”
“Sebagian yang mana?”
Ia memandangku. “Aku sudah bilang pekerjaanku lebih besar daripada yang pernah kuceritakan. Aku belum menjelaskan soal harapan keluarga.”
“Acara ini akan membuatnya melihat hal-hal yang sulit kamu sembunyikan.”
“Aku tahu. Aku akan bicara sebelum acara.”
“Kamu sudah mengatakan itu beberapa kali.”
Ia menghela napas. “Aku akan melakukannya.”
Aku tidak ingin ikut mengatur hubungan mereka. Tetapi aku juga tidak ingin Mireia berdiri di acara itu dan mengetahui posisinya dari kartu nama atau sapaan orang lain. Aku mengenalnya cukup lama untuk tahu Hendra sering menunda percakapan yang membuatnya takut.
“Kalau kamu benar-benar menghormatinya, berikan informasi sebelum ia harus menafsirkannya sendiri,” kataku.
Hendra menunduk. “Aku tahu.”
“Aku tidak sedang menyalahkanmu karena keluargamu punya perusahaan. Aku hanya tidak ingin dia merasa semua orang di sekelilingmu tahu lebih banyak daripada dirinya.”
“Termasuk kamu?”
Aku terdiam. “Aku tahu sebagian karena keluarga kita dekat. Tapi aku tidak akan menjadi orang yang menceritakan hal itu kepadanya. Itu harus datang darimu.”
Aku kembali mengurus logistik, tanpa ikut memberi nilai atau menetapkan pesanan bakery Mireia. Tim pengadaan yang tidak terlibat dalam hubungan kami menyimpan catatan harga, kualitas, dan kemampuan memenuhi jumlah pesanan. Ketika ada usul menambah pesanan sebagai dukungan pribadi, aku meneruskannya kepada tim untuk ditolak atau ditinjau melalui aturan yang berlaku bagi semua vendor.
Sore itu aku menelepon ibuku. Ia bertanya apakah aku sudah bertemu Mireia lagi. Aku menjawab belum, tetapi bakery itu akan terlibat dalam acara perusahaan. Ibu berkata ia berharap suasana tetap nyaman untuk semua orang.
“Aku juga berharap begitu,” kataku.
“Kamu masih menyukai Hendra?”
Aku diam sejenak. “Iya. Tapi itu perasaanku untuk kuurus sendiri.”
Ibu tidak memberi nasihat panjang. Ia hanya berkata aku boleh tetap menyayangi seseorang tanpa membuat diriku menjadi bagian dari hubungan yang bukan milikku. Aku tahu itu benar. Aku berusaha menjalankan batas tersebut.
Beberapa hari kemudian, aku bertemu Mireia di bakery. Aku sedang membeli kue untuk dibawa ke rumah. Ia menyapaku ramah, lalu menceritakan persiapan acara. Aku bertanya apakah panitia sudah memberi detail teknis yang cukup.
“Sudah. Bu Merry yang menangani komunikasi. Aku hanya fokus pada produksi.”
“Bagus. Kalian memang punya tim yang kuat.”
Ia tersenyum. “Kami berusaha.”
Aku ingin menyebut jabatan Hendra, tetapi aku menahannya. Bukan karena ingin melindunginya dari kenyataan, melainkan karena Mireia berhak mendengarnya langsung dari orang yang menyembunyikannya. Aku hanya berkata, “Kalau ada hal yang membingungkan soal acara, tanyakan langsung ke panitia.”
“Pasti.”
Saat pulang, aku mengirim pesan kepada Hendra bahwa Mireia tampak tenang, tetapi ia tidak akan selamanya menunggu. Aku menulisnya tanpa ancaman. Aku hanya ingin ia memahami bahwa waktu untuk memperbaiki kepercayaan terus berjalan.
Hendra membalas, “Aku akan bicara malam ini.”
Aku berharap kali ini ia tidak membiarkan satu lagi alasan mengambil tempat percakapan itu.
***
Hendra
Malam sebelum acara utama, aku berjanji datang ke rumah Mireia setelah ia selesai bekerja. Besok para vendor akan membuka stan dan aku diminta mewakili keluarga dalam pembukaan. Aku tak bisa menunda lagi tanpa membuatnya menerima kejutan di depan orang lain.
Aku menyiapkan semua yang ingin kukatakan. Aku akan menjelaskan bahwa aku memimpin proyek teknik, bahwa ayahku mengharapkan aku mengambil tanggung jawab yang lebih besar, dan bahwa keluarga sedang membicarakan masa depan perusahaan. Aku akan mengakui bahwa aku menyembunyikan itu karena takut, bukan karena Mireia pernah meminta sesuatu dariku.
Pukul enam, ayah memanggilku ke ruang rapat. Ada perubahan mendadak pada susunan acara; direktur utama tidak dapat hadir dan meminta aku membuka sesi vendor. Aku menjelaskan bahwa aku punya janji penting. Ayah menyuruhku mengirim Damar sebagai pengganti, tetapi panitia sudah mencetak materi yang mencantumkan namaku. Aku tetap berkata akan pergi setelah menyelesaikan koordinasi.
Rapat berakhir pukul delapan lewat. Setelah masuk ke mobil yang masih terparkir dan belum menyalakan mesin, aku menelepon Mireia.
“Aku terlambat lagi,” kataku. “Aku sedang berangkat sekarang.”
Ada jeda di seberang. “Kamu bilang akan datang setelah aku selesai kerja.”
“Aku tahu. Ada perubahan acara yang harus kuurus.”
“Hendra, acara itu besok. Aku juga sedang menyiapkannya. Kamu bisa bicara sepuluh menit sekarang?”
Aku memandangi jalan yang macet. “Bisa. Aku akan telepon setelah sampai.”
“Kamu bisa bicara lewat telepon.”
Aku tahu ia benar. “Iya. Aku akan cerita sekarang.”
Aku kembali menyebut proyek teknik. Mireia memotong dengan tenang: itu sudah ia ketahui. Ia menanyakan hubungan keluargaku dengan pemilik perusahaan dan kepemilikan bengkel. Aku diam terlalu lama. Tidak ada istilah teknis yang bisa menggantikan jawaban atas kedua pertanyaan itu.
“Aku ingin kamu mengatakan yang sebenarnya, bukan gambaran umumnya,” katanya.
Sebelum aku bisa menjawab, panggilan lain masuk dari panitia. Mereka membutuhkan persetujuan untuk mengubah susunan pembukaan. Aku melihat layar dan merasakan tubuhku menegang.
“Aku harus menjawab ini sebentar.”
“Kalau kamu angkat, kita berhenti lagi?”
Aku terdiam. Aku seharusnya menolak panggilan itu. Namun acara besok melibatkan banyak orang dan perubahan tersebut berkaitan dengan keselamatan serta alur tamu. Aku meminta Mireia menunggu beberapa menit, lalu menerima panggilan.
Percakapan dengan panitia berlangsung lebih lama dari yang kukira. Aku memberi instruksi, meminta konfirmasi keamanan, dan memastikan vendor menerima jadwal baru. Ketika kembali ke telepon Mireia, panggilannya sudah terputus. Aku mengirim pesan meminta maaf. Ia membalas: “Aku tidak bisa bicara malam ini. Besok aku fokus pada pekerjaan. Jangan mencari aku di area produksi.”
Aku membaca pesannya berulang kali. Mireia tidak memutuskan hubungan kami. Ia menetapkan batas agar bisa bekerja tanpa tekanan. Aku harus menghormatinya. Aku mengirim balasan bahwa aku tidak akan mengganggunya di area produksi dan akan menunggu ia siap bicara.
Esok pagi, aku datang ke lokasi lebih awal. Tim menata meja, memasang papan vendor, dan memeriksa jalur listrik. Nama bakery Mireia terlihat pada salah satu papan. Aku meminta panitia memastikan semua vendor memiliki ruang dan akses yang sama. Aku tidak menghampiri stan mereka.
Damar menemuiku sambil memegang jadwal acara. “Kamu sudah cerita?”
“Belum sepenuhnya.”
“Hari ini akan ada orang yang memanggilmu dengan jabatan.”
“Aku tahu.”
“Mireia tidak seharusnya mengetahui lewat orang lain.”
“Aku tahu,” kataku lagi, kali ini terdengar seperti pengakuan atas kegagalanku sendiri.
Acara belum dibuka ketika Bu Merry datang bersama tim bakery. Aku melihat Mireia membawa nampan sampel dan berbicara dengan panitia. Ia tampak profesional, fokus pada pekerjaannya. Aku tidak mendekat. Aku ingin menepati permintaannya.
Salah satu staf menyerahkan kartu pengenal untuk pembukaan. Di bawah namaku tertulis “Senior Mechanical Engineer — Perwakilan Keluarga Pendiri”. Tidak ada jabatan baru; justru hubungan keluarga yang selama ini kutahan kini dicetak untuk diketahui seluruh tamu. Aku memasukkannya ke saku tanpa meminta mereka menutupinya.
Kemudian panitia memanggilku menuju panggung untuk pengarahan pembukaan. Aku melihat Mireia dari kejauhan, sedang mengatur kotak kue bersama Kak Laila. Ia belum menoleh ke arahku. Aku harus menemukan cara mengatakan semuanya tanpa membuatnya merasa pekerjaannya menjadi bagian dari urusan keluarga kami.
Panitia memberi tanda bahwa pembukaan segera dimulai. Aku berdiri di sisi panggung, masih belum menyelesaikan percakapan dengan Mireia. Semua kesempatan yang kulewatkan tidak mendadak berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kuhindari.