CANTIK TAPI HANTU
"Bimm...Bimm... Cepetan sini" teriaknya seakan-akan sedang dalam masalah besar.
Ada apa dengan Lanny?
••••••••••••••
Aku berlari dengan sangat cepat menuju arah dapur.
"kenapa Lann?" tanyaku panik.
"Ehh lo kenapa panik gitu kek dikejar hantu aja" tanya nya balik dengan rasa heran.
"Lo yang kenapa tadi manggil gue kek sedang terjadi sesuatu, malah nanya balik" tanyaku dengan sedikit kesal.
"Ohh... A-anu Gue minta tolong bukain nih kresek... Gue laper, lo kan tau gue hantu gak bisa buka tuh kresek. He-he" jawabnya sambil tertunduk malu dan sesekali tersenyum.
Entah kenapa belakangan ini tingkah Lanny kadang membuat ku deg-degan. Apalagi ketika wajahnya menunjukkan ekspresi malu, terlihat senyum manis di bibirnya, untuk sekelas hantu sih Lanny lumayanlah. He-he.
"Woyy gue laper...."ucap Lanny yang tiba-tiba saja berada tepat di depan wajah ku dengan suara sedikit halus. Kini wajah kami hanya berjarak sekitar 1 centi aja. Hal itu membuat ku semakin deg-degan.
"A-ahhh iya-iya nih udah gue bukain" dengan suara terbata-bata dan jantung yang masih deg-degan ku coba raih kantong kresek di atas meja. Setelah itu aku pun memberikan makanan itu kepada Lanny.
"Makasih" jawabnya sembari melemparkan senyum indah khas miliknya ke arah ku.
Disisi lain aku merasa kasihan melihat jiwa Lanny yang sampai sekarang belum menemukan jawaban untuk kembali ke alamnya. Aku tidak tahu harus berapa lama lagi dia harus tinggal dengan ku.
Sekilas pikiranku kembali mengingat keanehan yang terjadi hari ini di kampus. Aku merasa ada sesuatu yang janggal entah apa itu dan sedang menunggu untuk di bongkar.
"Ehh lu kenapa Bim?" tanya Lanny sembari berjala kearah ku.
"Kaya lagi ada yang lo pikirin"sambungnya.
"Hmm gini, lo mau gak temani gue ke kampus?" tanyaku sembari memegang tangan Lanny dan menatapnya penuh arti.
Entah mengapa perasaan ini kembali hadir, jantungku berdekup kencang, serasa akan terlepas dari tubuh ini. Apakah dia juga merasakan hal yang sama?. Ahhh sudahlah bagaimanapun juga dia itu hantu.
Puk! Puk! Puk!
Suara ketukan tangannya didahi ku seketika menyadar kan ku dari lamunan seketika itu juga aku melepas tangannya.
"Wahh emang udah gak bener ni anak kerjaan nya ngelamun mulu"
"Emang kenapa sih lo ngajak gue ke kampus?" tanya nya.
"Udahh pokoknya lo ikut aja" jawabku yang langsung mengakhiri obrolan dengan berjalan ke arah kamar.
Singkat cerita, pada pukul 16:25 aku dan Lanny pun berangkat ke kampus.
Ketika sampai di kampus aku meminta ijin kepada bapak security yang bertugas saat itu agar aku dan Lanny leluasa mencari tau misteri tentang kampus itu dengan alasan mengambil barang yang tertinggal.
Singkat cerita sampailah aku di salah satu ruangan kelas tepat berada di sebelah ruangan kelas ku. Seperti sesosok wanita yang melayang tepat di depan ku menuju ke arah ruangan itu. Lantas dengan cepat aku dan Lanny mengejarnya. Sampailah kami di dalam ruangan itu dan ku lihat dengan jelas sesosok wanita itu berdiri menghadap kami dengan tatapan tajam dan senyum menyeringai. Seluru badannya mengeluarkan cairan kental berwarna merah dan di tangan serta kakinya terdapat banyak sekali luka sayatan. Yahh aku tidak takut sama sekali melihat sosok menyeramkan ini karna sudah terbiasa hanya saja aku agak merasa ngeri dengan luka-luka di tubuhnya yang nampak nyata.
Entahlah tega sekali orang yang melakukan hal k**i itu padanya.
Dengan terbata-bata dan susah payah sosok itu bicara dan memulai kontak dengan ku.
"Seperti dugaan ku, kamu bisa melihat ku."
Seketika suasana menjadi sangat mencekam hawa dingin seolah menyelimuti tubuh. Gemetar mulai merasuki perasaan tapi ku coba untuk menepis semua itu.
"E-emang kenapa kalau gue bisa nge-lihat lo?" tanya ku dengan sedikit terbata, karena memang suasana saat itu sangat mencekam. Entah kenapa sosok itu lebih menyeramkan dari Lanny.
"T-tolong aku!"
"Apa yang bisa gue bantu?"tanyaku tanpa berpikir panjang.
"Tolong temukan tubuhku!"
Tanpa di minta sosok itupun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada nya. Spontan sosok itu berjalan menuju salah satu kursi di ruangan itu dan mulai bercerita. Terlihat sedih di raut wajahnya yang tertutup oleh wajah menyeramkan. Aku pun dengan seksama mendengarkan ceritanya.
POV Fira
•••••••••••••••
Saat itu pagi sangat cerah terdengar suara binatang-binatang pagi seraya menyapa ku terlihat sinar matahari yang menusuk mataku melalui jendela kamar.
Aku lantas bangun dan bergegas mandi. Yahh aku Fira, Safira Onnie umurku 22 tahun dan aku adalah salah satu mahasiswi baru dikampus itu yang belum nyampe sebulan kuliah disitu.
Singkat cerita aku pun berangkat menuju kampus. Saat sampai di kampus akupun langsung bergegas ke lantai 2 kebetulan ruangan kelas saya ada di lantai dua. Entah kenapa seolah banyak pasang mata yang selalu memperhatikan ku. Aku sedikit menoleh kebelakang di keramaian warga kampus mata ku tertuju kepada seseorang yang memakai baju serba hitam. Sontak orang misterius yang berbaju hitam itu langsung mengalihkan pandangan dariku. Yah benar dia yang melihat ku.
"Siapa dia?... kok aku gak pernah nge-lihat dia?" gumam ku dalam hati.
Aku segera bergegas masuk ruang kelas setelah sosok berbaju hitam itu hilang dari pandangan.
Singkat cerita saat kelas sudah selesai aku bergegas bersiap untuk pulang. Ruangan saat itu sudah kosong dan tinggal aku sendiri. ketika hendak berjalan menuju lift yang ada disitu pandangan ku seketika menjadi gelap, seperti sebuah kain yang sangat tebal dengan keras dan kasar menutup mulut dan hidungku. Seketika aku tidak sadarkan diri.
Puk! Puk! Puk!
Suara tangan menampar pipi ku dengan sedikit kasar. Perlahan aku berusaha membuka mata ku. Dan aku sadar bahwa aku terikat di sebuah kursi. Tepat di depan ku terlihat seorang lelaki muda menggunakan baju hitam dan memakai topeng di wajahnya. Aku sontak panik dan berontak sekuat tenaga ku tapi apalah daya. Tali yang terikat di tangan dan kaki ku membuat ku sulit bergerak. Peluang untuk kabur pun terasa tidak mungkin.
Aku pun hanya bisa berteriak sekuat tenaga berharap seseorang bisa menyelamatkan ku dari sosok misterius itu.
"Oh jadi kamu udah sadar?"tanya pria misterius itu.
"Lepaskan aku! Aku mohon lepaskan!" teriaku ketakutan karena firasatku mengatakan akan ada bahaya besar yang terjadi.
Pria itu berjalan mendekati ku seraya menempelkan pisau di wajah ku. Aku semakin bergetar ketakutan keringat dingin sebesar biji jagung mengalir deras membasahi ku. Aku sangat takut dan tiba-tiba saja aku menangis dengan kencang, yang ada di pikiran ku saat ini adalah bagaimana cara aku bisa kabur. Tapi terasa mustahil untuk kabur.
"Gimana? Apa kamu takut?" tanyanya dengan senyum jahat.
"Tolong lepaskan aku b******k!" tukas ku dengan ketakutan dan amarah yang amat sangat meluap.
"Ha-ha-ha teriaklah sekuat tenagamu tidak akan ada yang mendengar mu ha-ha-ha"ucapnya dengan tertawa jahat dengan wajahnya masih tertutup topeng.
"Aaaaaahhhhhhhhh!" aku berteriak kesakitan, ternyata dia menyayat paha ku dengan pisaunya. Seketika cairan merah kental bercucuran deras dari paha ku.
"Apa kamu merasa sakit?"ucapnya seolah tidak mempunyai dosa.
"Aahhgg, A-apa salahku?" tanyaku sembari menahan sakit.
"Apa salah mu?"timpalnya lagi sembari mengangkat kepalaku dengan kasar yang sedang tertunduk tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Aku akan menjelaskannya nanti, saat akan membun*h mu ha-ha-ha"jawabnya dengan puas.
Aku semakin ketakutan nafas ku sudah tidak bisa terkendali jantungku berdegup kencang setelah mendengar bahwa dia akan membun*h ku.
Aku sangat ketakutan saat ini ketika tangannya mulai menyentuh bagian tubuhku yang sensitif. Perlahan dia membuka kancing baju ku. Aku berusaha berontak tapi aku sudah tidak punya tenaga lagi. Entah apa yang akan dilakukannya padaku tapi aku sudah sangat ketakutan.
"Aku akan membun*h mu setelah aku menikmati tubuh indah mu ha-ha-ha" ucapnya dengan santai.
Tiba-tiba saja.
"Buggggggggg!!"
next part 3 nya, di tunggu ya