Di sore yang mendung itu, Carla duduk sendiri di bangku taman, memandangi layar ponsel. Notifikasi dari email masuk:
"Selamat! Lamaran Anda diterima. Silakan hadir untuk sesi interview tahap dua besok pukul 09.00 WIB."
Namun, bukannya bahagia, wajah Carla justru terlihat bimbang.
Carla berbisik sendiri:
“Kenapa malah ngerasa berat, ya... Padahal aku yang ngelamar sendiri.”
Tania muncul dari belakang, meletakkan minuman di samping Carla:
“Nih kopi, biar otaknya bisa mikir lebih jernih... Kamu ngelamun dari tadi.”
Carla tersenyum hambar:
“Makasih, Tan... Aku dapat panggilan kerja, tapi entah kenapa... rasanya aku belum siap.”
Tania:
“Belum siap karena masih mikirin Reno?”
Carla menghela napas panjang:
“Bukan cuma dia. Aku... kayak belum pulih sepenuhnya. Rasanya kayak belum bisa ketemu dunia luar.”
Tania duduk di sebelahnya:
“Kalau gitu... mungkin ini waktu yang tepat buat kamu cari udara segar. Bukan di sini... Tapi di luar negeri.”
Carla menoleh cepat:
“Maksud kamu?”
Tania:
“Aku baru aja gabung program relawan kesehatan internasional. Kayak kerja sosial gitu. Kita bantu di negara konflik atau krisis kemanusiaan. Mereka butuh tenaga medis dan farmasi juga.”
Carla bingung:
“Tapi aku apoteker, Tan... Emang dibutuhin?”
Tania:
“Justru! Mereka kekurangan tenaga di bagian distribusi obat dan penanganan darurat. Kamu tahu cara nyusun dosis, tahu reaksi obat, itu penting banget.”
Carla:
“Dan kamu ngajak aku?”
Tania:
“Kamu butuh tempat baru buat sembuh. Aku tahu kamu nggak bisa langsung kerja kantoran lagi, kan? Jadi mending kamu cari arti baru buat hidup kamu.”
Carla lirih:
“Aku... takut nggak sanggup.”
Tania lembut:
“Kamu bakal sanggup, Car. Lagipula, programnya ada benefit. Uang saku dari pemerintah, jaminan kesehatan internasional, pelatihan intensif. Kamu juga bisa belajar banyak hal baru.”
Carla:
“Aku cuma takut... pergi malah bikin aku makin hancur.”
Tania:
“Atau justru di sana kamu bakal sembuh. Kadang yang kita butuhin itu bukan diam di tempat, tapi jalan jauh... sampai akhirnya luka itu nggak terasa lagi.”
Carla terdiam. Tatapannya kosong mengarah ke pepohonan yang mulai merunduk tertiup angin sore. Di dalam hatinya, ada ruang kosong yang belum tahu harus diisi dengan apa. Tapi mungkin, perjalanan baru ini... bisa jadi jawabannya.
Carla pelan:
“Kalau aku setuju... kapan berangkatnya?”
Tania tersenyum lebar:
“Minggu depan. Kita ikut gelombang keempat. Negara tujuan: kawasan zona kemanusiaan Timur Tengah.”
Carla menelan ludah, tegang:
“Zona perang?”
Tania:
“Bukan zona tempur langsung. Tapi dekat. Kita akan ditempatkan di klinik darurat, nggak terlalu jauh dari kamp pengungsi. Tapi kamu nggak sendirian. Ada pengamanan khusus, dan seluruh tim diseleksi ketat.”
Carla:
“Tan, kalau aku ikut... ini bukan karena aku berani. Tapi karena aku capek terus sembunyi.”
Tania menepuk bahunya:
“Kadang keberanian muncul karena kelelahan. Dan kamu udah cukup lama bertahan. Sekarang waktunya... bangkit.”
Carla menatap Tania dalam-dalam:
“Oke... Daftarin aku.”
Di suatu wilayah gurun di kawasan Timur Tengah, sekitar barak militer pasukan aliansi. Angin sepoy-sepoy menggiring debu tipis menyapu kaki-kaki tenda berwarna krem pudar. Reno duduk sendiri di atas hamparan pasir, tepat di ujung barak, jauh dari keramaian. Di tangannya tergenggam sebuah liontin kecil berisi foto Carla. Ponsel di tangannya menyala, memperlihatkan galeri foto-foto mereka sebelum perpisahan.
Reno:
menatap layar ponsel, bibirnya tersenyum tipis,
"Dia tetap cantik… bahkan saat wajahnya belepotan kue waktu ulang tahunnya yang ke-24. Carla selalu bisa bikin aku lupa kalau dunia ini kejam."
Suara dari belakang menyela suasana:
"Hei, kalau rindu tuh telepon aja. Jangan nyiksa perasaan sendiri. Lagian kita ini jauh dari Istana Presiden, nggak masalah sesekali ngabarin dia."
Reno menoleh. Reihan, sahabat sekaligus bawahannya di unit ini, menghampirinya. Pakaian tempurnya masih berdebu, badge di dadanya menunjukkan pangkat Sersan Satu.
Reno:
"Aku nggak mau nambah luka buat dia, Han. Terakhir kali aku tinggalin..., dia nangis sejadi-jadinya. Matanya bengkak... suaranya gemetar. Aku nggak kuat lihat dia kayak gitu."
Reihan:
"Tapi kalau kamu diam aja, dia bisa mikir kamu udah beneran ninggalin."
Reno:
"Dia lebih aman kalau jauh dariku. Dunia yang kujalani ini... kotor, kelam. Aku aja udah penuh luka. Aku nggak mau Carla ikut terluka karena aku."
Reihan menarik napas panjang:
"Sepertinya itu juga alasan kenapa kamu nggak pernah bisa punya hubungan serius sama wanita manapun ya?"
Reno senyum miris:
"Kamu terlalu banyak mikir, KOMANDAN."
Reihan nyengir lebar:
"Heh! Aku ini masih muda, wajar dong kalau masih nyari-nyari yang terbaik buat masa depan."
Reno angkat alis skeptis:
"Dengan cara punya banyak hubungan dan menyeleksi siapa yang paling setia?"
Reihan ketawa ringan:
"Yaa siapa tahu, dari lima belas cewek yang deketin aku, satu dua ada yang serius. Masa kamu nggak iri sama aku?"
Reno berdehem tajam:
"Kamu tuh sok ganteng banget!"
Reihan masih nyengir:
"Yaaa... setidaknya aku nggak galau di depan tenda sambil peluk liontin."
Reno mengalihkan pandangan, menyimpan liontin ke balik jaket anti peluru:
"Kamu udah patroli ke camp pengungsian belum? Jangan cuma modal senyum dan rayuan, tugas tetap tugas."
Reihan langsung tegap:
"Belum, KOMANDAN. Saya langsung ke sini setelah koordinasi logistik."
Reno nada tegas tapi lembut:
"Segera cek perbekalan senjata dan obat-obatan. Kemarin para pengungsi ngeluh tim medis terbatas. Jangan sampai ada korban cuma karena kita lambat bergerak."
Reihan salut singkat:
"Siap, laksanakan, KOMANDAN Reno!"
Dalam hati sambil melangkah pergi:
"Kenapa mood-nya berubah cepet banget? Ngaku aja deh, dia iri karena aku punya pacar dan dia cuma punya foto."
Reihan berlalu meninggalkan Reno yang kembali diam, menatap langit gurun yang memerah
Sore berganti malam. Langit Timur Tengah menggantungkan kelamnya di atas tenda-tenda pengungsian. Di dalam salah satu tenda, Reno duduk bersandar dengan lampu redup menyala. Di tangannya tergenggam selembar kertas strategi evakuasi para pengungsi ke negara aman. Matanya fokus… namun jiwanya jauh mengembara.
Reihan masuk sambil membawa berkas:
"Lapor, KOMANDA Reno!"
Reno menoleh pelan:
"Ada perkembangan?"
Reihan tegas tapi santai:
"Perbekalan senjata masih aman. Bahan makanan cukup untuk dua bulan ke depan. Bantuan medis minggu depan akan tiba—relawan dari negara kita. Sepuluh orang total: lima perawat, dua apoteker, dan tiga dokter."
menyerahkan daftar nama dan data
"Ini file mereka, Pak. Silakan dicek."
Reno membuka berkas. Matanya menelusuri nama demi nama, hingga berhenti pada satu baris yang tak memiliki foto.
Reno alis terangkat, bibirnya tersenyum samar:
"Carla Aksara… Kenapa fotonya nggak ada?"
Reihan:
"Siap, KOMANDAN. Dia relawan terakhir saat penutupan pendaftaran. Datanya dikirim langsung ke Barak Dua , dua hari lalu. Karena mendesak, tim administrasi langsung proses tanpa lengkapi foto. Kita kekurangan medis, jadi dia diterima cepat."
Reno menarik napas dalam:
"Baik. Nggak masalah."
diam sejenak, lalu suaranya berubah lebih tegas
"Tolong jemput dia saat helipet mendarat minggu depan. Pastikan tenda-tenda darurat untuk pengobatan disiapkan. Tenda yang tersedia sekarang kurang memadai untuk penanganan medis."
Reihan mengangguk:
"Siap, laksanakan."
Reihan keluar. Reno masih menatap nama Carla. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Reno:
"Ia datang karena tahu aku di sini… atau karena panggilan jiwanya?"
Angin malam masuk dari celah tenda. Reno memejamkan mata. Ingatannya menyeretnya ke masa lalu.
---
[Flashback – Setahun Lalu, di Halaman Rumah Carla]
Carla manja sambil menyandarkan kepala di bahu Reno:
"Reno, aku mau lihat sunset di pinggir pantai… sama kamu."
Reno tersenyum lembut:
"Tentu. Suatu hari, kita akan melihatnya bersama."
Tiba-tiba ponselnya berdering. Suara militer tegas terdengar di seberang.
Suara:
"Lapor, KOMANDAN. Presiden akan menuju lokasi konferensi. Beliau meminta Anda pribadi untuk mengawal perjalanan rahasia ini. Lokasi sudah terpantau banyak sniper. Tim mata-mata kita butuh back-up segera."
Reno menjawab cepat:
"Aku akan ke sana."
Ia menoleh ke arah Carla. Matanya berusaha menyembunyikan kegelisahan.
Reno:
"Dua hari lagi aku akan ajak kamu ke pantai. Tunggu aku di rumah, ya? Hari ini aku diminta bantu pelatihan militer. Mereka kekurangan tenaga."
Carla tersenyum, meski matanya ragu:
"Baiklah, aku nggak masalah... Tapi kamu nggak bohong, kan? Pekerjaanmu nggak berbahaya, kan?"
Reno menatapnya dalam, lalu tersenyum menenangkan:
"Tentu saja. Mana mungkin aku bohong padamu. Aku cuma masak dan ngejar-ngejar junior yang malas."
Carla memeluk erat:
"Berjanjilah… Jangan sampai terluka. Aku akan sangat marah kalau sesuatu terjadi padamu."
Reno membalas pelukan itu, lalu mengecup keningnya penuh cinta.
Reno berbisik di telinga Carla:
"Aku janji…"
---
Lamunan itu buyar. Reno kini duduk kembali sendirian di dalam tenda. Lampu di atasnya bergoyang pelan tertiup angin. Ia memandangi kembali secarik nama yang tak bergambar.
Reno bicara pada dirinya sendiri:
"Sudah setahun berlalu... dan kini kita akan bertemu lagi."
ia tersenyum sendu, lalu menunduk pelan
"Apakah sikapmu akan berubah padaku, Carla?"
suara lirihnya nyaris tenggelam dalam angin malam
"Aku sungguh… merindukanmu."