Helipet militer bergetar pelan di udara. Suara baling-baling mengisi kabin sempit tempat para relawan duduk mengenakan rompi pelindung. Di sudut kursi dekat jendela, Carla duduk membisu. Matanya terus menatap ke luar, menahan napas melihat lanskap gersang dan asap tipis yang mengepul dari kejauhan.
suara Carla pelan, nyaris berbisik:
"Tania… tempat ini... jauh lebih nyata dari yang aku bayangkan."
Tania menoleh, senyum tipis terukir di wajahnya:
"Kamu kelihatan pucat. Deg-degan, ya?"
Carla menarik napas, mencoba tersenyum tapi gagal:
"Ini pertama kalinya aku masuk zona merah. Aku pikir aku siap, tapi ternyata... aku nggak berhenti mikir hal buruk."
Tania menepuk lutut Carla perlahan:
"Itu wajar. Aku pun gemetaran waktu pertama kali. Nggak ada yang benar-benar siap masuk wilayah konflik, Car."
Carla menatap jari-jari tangannya yang mengepal:
"Aku takut… takut panik, takut salah kasih obat, takut jadi beban buat tim medis..."
Tania mendekat, menatap Carla dengan nada serius tapi lembut:
"Dengar ya, kamu itu bukan orang sembarangan. Kamu bisa, Car. Kamu sudah melewati masa pendidikan terberat dan kamu lolos seleksi relawan saat banyak orang mundur. Kamu kuat."
Carla masih menatap luar jendela, suara pelan:
"Tempat ini... bukan rumah sakit, bukan apotek. Ini wilayah perang, Tan. Gimana kalau aku nggak bisa menyesuaikan diri?"
Tania tersenyum hangat, nada suaranya menguatkan;
"Justru itu kenapa kamu dibutuhkan. Di tempat seperti ini, orang kayak kamu—yang punya empati, yang peduli, dan yang peka—itu langka."
Carla sedikit tersenyum samar:
"Aku cuma takut kecewa sama diriku sendiri..."
Tania menggenggam tangan Carla erat:
"Kamu takut karena kamu manusia. Tapi kamu tetap melangkah ke helipet ini, itu artinya kamu punya keberanian. Jangan biarkan ketakutan itu matiin cahaya kamu."
Helipet sedikit berguncang, pilot memberi info bahwa mereka akan mendarat dalam waktu lima menit. Lampu indikator berganti menjadi kuning. Udara dalam kabin makin tegang, tapi Carla menarik napas lebih dalam.
Carla mengangguk perlahan:
"Oke... aku akan berusaha."
Tania senyum semangat:
"Kita nggak sendiri. Tim medis bakal kerja bareng. Dan kamu punya aku."
Carla tersenyum kecil, kali ini tulus:
"Makasih ya, Tan."
Dari jendela kecil di sisi helipet, cahaya senja memantul pada wajah Carla yang kini mulai lebih tenang. Misi kemanusiaan baru saja dimulai—dan ia siap, meski tak tahu siapa yang akan ia temui di tanah asing itu.
Debu berhamburan saat baling-baling helipet berhenti berputar. Lima mobil militer berjajar rapi di sisi landasan tanah keras. Reihan berdiri tegak, rompi anti-peluru terpasang sempurna, menyambut para relawan yang mulai turun satu per satu.
Reihan dengan suara lantang tapi bersahabat:
"Selamat datang di zona penugasan! Saya, Prajurit Reihan Sadewa, mewakili tim militer di sini, mengucapkan terima kasih atas kedatangan kalian sebagai relawan kemanusiaan."
Para relawan menoleh dan menyimak dengan seksama. Wajah mereka bercampur antara tegang dan kagum.
Reihan melanjutkan:
"Kami tahu ini bukan tempat yang mudah, tapi keberadaan kalian sangat berarti bagi para pengungsi. Kalian akan diantar menggunakan lima kendaraan menuju camp utama. Setiap mobil sudah dibagi sesuai keahlian masing-masing."
menunjuk ke arah deretan mobil
"Silakan naik sesuai instruksi. Kita bergerak sekarang."
Tania berbisik ke Carla sambil berjalan menuju mobil:
"Kamu siap, Car?"
Carla tersenyum tipis:
"Siap, walaupun jantungku kayak mau loncat keluar."
Dokter Arman relawan berusia 30-an, humoris:
"Tenang aja. Kalau jantungnya loncat, aku bisa bantu tempel lagi."
semua tertawa kecil,-
Suster Nia duduk di barisan belakang, nyolek temannya:
"Eh, kamu liat tadi yang nyambut kita? Ganteng banget nggak sih? Sersan Sadewa itu?"
Suster Vivi celetuk cepat:
"Fix aku semangat kerja kalau tiap hari liat dia."
Reihan menoleh setengah curiga ke arah suara cekikikan:
"Kalau saya boleh tahu, kalian para suster atau fans klub militer?"
Nia menutup mulut, malu-malu:
"Maaf, Pak Sersan. Kami dua-duanya."
semua tertawa lagi, suasana mencair
Reihan tersenyum kecil:
"Baik, kita berangkat. Oh iya, kalau ada yang merasa tidak enak badan setelah perjalanan, beri tahu petugas di camp. Debu di sini cukup tajam bagi yang belum terbiasa."
Carla setengah bicara ke Tania, pelan:
"Aku belum lihat siapa-siapa dari militer. Apa mungkin kita akan langsung ditempatkan di bagian medis?"
Tania mengangguk:
"Seharusnya iya. Semoga koordinasinya lancar."
Semua relawan masuk ke mobil. Suara pintu-pintu ditutup. Mesin menyala. Lima kendaraan mulai bergerak menuju camp pengungsian.
Dokter Raka dari mobil keempat:
"Ini akan jadi penugasan yang panjang... Tapi aku yakin ini akan mengubah hidup kita."
Carla menatap keluar jendela, bergumam sendiri:
"Aku hanya ingin membantu… dan mungkin… menemukan jawaban yang selama ini belum sempat kutanya."
---
Daftar Nama Relawan untuk referensi selanjutnya:
1. Carla Aksara – Apoteker
2. Tania vianti – Apoteker
3. Dokter Arman Prasetya – Dokter umum
4. Dokter Raka Adityo – Dokter bedah
5. Dokter Hana Lestari – Dokter anak
6. Suster Nia Aprilia – Perawat
7. Suster Vivi Kusuma – Perawat
8. Suster Mita Diani – Perawat
9. Perawat Yudha Pradana – Laki-laki, spesialis triase
10. Perawat Citra Ayuningtyas – Perawat gawat darurat
Di bawah tenda medis darurat yang baru dibangun, Carla dan Tania sibuk menyusun perlengkapan. Kotak-kotak kardus besar bertuliskan “Obat-obatan – Fragile” berserakan di sekitar kaki mereka.
Carla mengelap peluh di dahi:
"Tan… box ini berat banget. Mereka nggak tahu apa ini obat, bukan karung beras?"
Tania mengangkat ujung kotak lain sambil tertawa:
"Mereka pikir kita punya tenaga Iron Man kali. Sini, angkat bareng."
Carla menghela napas, lalu mengangkat box sendiri:
"Nggak, aku coba angkat satu dulu. Biar lebih cepat selesai."
Dari kejauhan, Reno berdiri di balik tiang tenda barak utama. Matanya tak lepas menatap sosok Carla yang sibuk dan tampak sedikit kesusahan. Senyum kecil mengembang di bibirnya.
Reno gumam pelan, tersenyum:
"Masih sama… ekspresinya waktu serius tuh nggak berubah."
Tiba-tiba, Carla kehilangan keseimbangan saat mengangkat kotak terlalu berat. Tubuhnya nyaris limbung.
Carla panik:
"Tan! Aku—"
Reihan berlari cepat menghampiri:
"Sini, aku bantu!"
Ia menahan box sebelum jatuh, lalu mengangkatnya dengan satu tangan. Carla terkejut.
Carla terengah-engah:
"Wah… makasih, aku nyaris jatuh barusan."
Reihan menyodorkan tangan sambil tersenyum ramah:
"Kita belum sempat kenalan secara pribadi. Namaku Reihan. Tapi kalian boleh panggil aku Rei."
Carla menyambut jabat tangan:
"Aku Carla. Ini Tania, kami berdua apoteker yang dikirim dari Jakarta."
Tania ikut tersenyum:
"Senang berkenalan, Pak Reihan."
Reihan mengangkat tangan, santai:
"Kalau suasana santai gini, cukup panggil Rei aja. Nggak usah "Pak" segala. Kecuali nanti lagi ada Komandan lewat, baru panggil "Pak", ya?"
Carla dan Tania saling melirik, lalu menahan tawa. Reihan mengangkat box ke meja lipat lalu menyeka keringat di dahinya.
Dari kejauhan, Reno masih memperhatikan diam-diam sambil bersedekap.
Reno menggeleng kecil, bicara sendiri:
"Rei… Rei… baru liat gadis cantik langsung meluncur serangan awal."
Reno membalikkan badan, lalu berteriak lantang ke arah Rei.
Reno:
"PRAJURIT SATU REIHAN SADEWA!"
Reihan langsung tegak. Kotak hampir jatuh dari tangannya. Matanya membesar.
Reihan dalam hati panik:
"Aduhhh... sersan Reno liat tadi aku godain Carla sama Tania! Mati aku..."
Reihan berlari cepat, menghormat:
"SIAP, KOMANDAN!"
Reno tanpa banyak bicara:
"Push up. Seratus kali. Di sini. Sekarang."
Reihan terperanjat:
"Seratus...?!"
Reno datar, menatap tajam:
"Karena KOMANDAN Sadewa lebih memilih godain relawan daripada cek perimeter barak."
Reihan menghela napas dalam hati:
"Siap… laksanakan."
Reihan mulai push up di depan tenda, napasnya langsung berat setelah hitungan ke-20.
Carla berbisik ke Tania sambil menahan tawa:
"Kamu liat? Dia dihukum gara-gara kita?"
Tania tutup mulut biar nggak ngakak:
"Dia kayak tentara drama Korea yang gagal flirting."
Carla dan Tania tertawa pelan, lalu melirik ke arah punggung Reno yang mulai berjalan pergi meninggalkan lokasi.
Carla menatap sosok Reno dari belakang, lirih:
"Aku nggak tahu kenapa… tapi punggung itu kayak… pernah aku kenal."