Langit mulai memerah saat Carla berjalan pelan di tepian camp pengungsian. Peralatan medis sudah selesai dibereskan, dan kini ia ingin sekadar menghirup udara sore yang sedikit lebih tenang.
Carla dalam hati, langkahnya ringan:
"Jadi seperti ini camp pengungsian…
Banyak anak-anak kecil, lansia… tempat ini tidak seburuk yang aku bayangkan."
Ia berhenti sejenak di dekat tebing kecil, melihat matahari yang perlahan turun.
Carla masih bergumam dalam hati:
"Aku bahkan bisa melihat sunset dari sini…
Ada kaktus… dan bunga-bunga liar. Cantik..."
Tiba-tiba, dari kejauhan, Carla melihat sosok pria berpakaian hitam mengendap-endap di balik tenda pengungsi. Matanya membesar. Tangannya reflek hendak meraih HT di pinggang medisnya, tapi—
Carla panik:
"Hei—!"
Tak sempat teriak, seseorang membekap mulutnya dari belakang. Gerakannya cepat, kuat, dan terlatih. Carla hanya sempat menginjak tanah sebelum tubuhnya diseret ke semak.
---
Di sisi lain camp, Tania keluar dari tenda medis sambil membawa sebotol air.
Tania menengok kanan-kiri:
"Carla? Kamu di mana sih? Katanya cuma sebentar…"
Matanya menangkap sesuatu yang membuat tubuhnya membeku: jejak ban jeep yang melaju dari arah dalam camp menuju luar pagar belakang.
Tania berlari ke arah tebing, matanya menyipit melihat siluet beberapa mobil jeep yang melaju cepat di kejauhan. Di tanah, ia melihat name tag tergeletak—bertuliskan:
TANIA teriak panik:
"CARLA?!"
Tania memungut name tag itu, lalu berbalik dan lari ke camp utama secepat yang ia bisa.
---
Di pos utama, Reihan sedang mengecek laporan logistik ketika Tania masuk tergesa-gesa, wajahnya pucat.
Tania teriak histeris:
"Rei! Carla! Dia... dia diculik! Aku lihat jeep keluar dari area belakang camp!"
Reihan menegakkan badan, kaget:
"Apa?! Diculik?"
Tania menyerahkan name tag yang jatuh:
"Aku lihat sosok mencurigakan. Dia sempat ke tebing belakang. Lalu… hilang."
Reihan mengaktifkan HT-nya cepat:
"Tim satu, dua, dan tiga segera siaga. Ada penyusup dan kemungkinan penculikan. Arahkan drone pantau wilayah barat!"
berlari ke ruang taktis, menemui Reno yang tengah memantau peta operasi
Reihan dengan nada serius:
"Lapor, komandan! Ada penculikan di camp!"
Reno menoleh cepat, tajam:
"Siapa yang ditawan?"
Reihan menelan ludah, lalu tegas:
"Salah satu apoteker relawan yang baru datang pagi tadi."
Reno matanya langsung membara:
"Siapa namanya?"
Reihan menyerahkan daftar dan menunjuk nama paling bawah:
"Carla Aksara."
Reno langsung berdiri dari kursinya, kursi terlempar ke belakang. Matanya menajam.
Reno mendesis:
"Carla..."
ia menoleh tajam ke Reihan
Reno:
"Kenapa camp bisa kecolongan? Di mana penjaga perimeter?"
Reihan sigap, nada menyesal tapi tegas:
"Siap jawab, Pak! Penjaga belakang ditemukan tak sadarkan diri. Mereka diduga dibius dari jarak jauh—pakai senapan khusus. Ada yang jatuh dari pagar, cedera ringan."
suara Reno mulai meninggi:
"Ini kelalaian fatal! Tapi ini belum selesai."
berbalik cepat ke petugas komunikasi
"Siapkan kendaraan. Jeep satu dan dua ikut dengan saya. Rute selatan arahkan thermal drone. Aku sendiri yang akan berangkat ke lokasi!"
Petugas:
"Siap, KOMANDAN!"
Reihan terdiam, melihat punggung Reno yang menjauh cepat sambil mempersiapkan rompi tempurnya. Dalam hatinya… ia tahu: ini bukan misi biasa bagi Reno.
Suasana senyap. Langit malam memayungi pasukan dalam bayang-bayang pepohonan. Reihan memasangkan rompi pelindung ke tubuh Reno yang bersiap menyelinap.
Reihan mengesat dahi Reno dari debu:
"Pasukan siap di posisi."
Reno mengancing rompi, tegas:
"Rei, kamu bawa pasukan dari sisi utara. Kepung dari belakang."
Reihan mengangguk:
"Siap. Kau dari mana?"
Reno mencengkram bahunya, penuh tekanan:
"Aku akan menyelinap lewat sisi barat. Begitu kamu lihat sinyal dari kembang api dariku—serang secara bersamaan."
Reihan tegas:
"Diterima. Hati-hati, Sersan."
---
Beberapa menit berlalu. Pasukan sudah mengepung area markas musuh. Reihan berdiri di balik jeep tempur, berbicara lewat pengeras suara.
Reihan berteriak lantang:
"Kami hanya ingin pembicaraan! Serahkan relawan perempuan itu, dan kalian akan aman!"
Musuh jawaban samar dari dalam markas:
"Negosiasi? Di tempat seperti ini?!"
Reihan dengan nada tenang, sengaja mengulur waktu:
"Kami punya bantuan medis. Kalau kalian mau keluar tanpa luka, ini kesempatan."
Di saat yang sama, Reno menyelinap dalam gelap. Ia menunduk di balik drum, melumpuhkan dua penjaga dengan senjata bius sunyi. Tak ada suara. Hanya napas berat dan detak jantungnya yang memandu.
---
Beberapa menit kemudian…
Reno berhasil masuk ke ruangan utama. Matanya langsung membelalak saat melihat Carla duduk di kursi tua, tangan dan kaki diikat kasar. Luka di lengan dan betisnya terlihat jelas. Lampu gantung redup menggantung di atas kepalanya.
Di dalam ruangan gelap dan pengap itu, Carla masih diikat di bangku tua. Luka di lengan dan kakinya makin perih. Seorang pria bertubuh besar berdiri di hadapannya, wajahnya penuh amarah.
Penyekap membentak dengan kasar:
"Katakan, siapa kamu sebenarnya? Apa kamu mata-mata?!"
Carla berusaha tetap tenang meski tubuh gemetar:
"Aku cuma apoteker. Relawan."
Penyekap mendekat, membalik kursinya dengan kasar:
"Jangan main-main denganku, perempuan! Siapa pacarmu? Siapa orang penting yang akan menyelamatkanmu, hah?!"
Carla menatap tajam, mendadak berani:
"Kau tak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup kalau menyentuhku."
Penyekap tertawa keras, mengejek:
"Hah?! Siapa yang akan menyelamatkanmu? Tentara-tentara lemah itu?!"
Carla menyeringai, lalu berkata lantang:
"Pacarku… adalah KOMANDAN Reno. RENO KAISAGARA....!!!!!!
Sejenak suasana hening. Si penyekap menatapnya tajam, lalu wajahnya berubah murka.
Penyekap mendesis marah:
"Jadi kamu perempuan itu…"
Tanpa aba-aba, dia mengayunkan tamparan keras ke wajah Carla.
Carla mendesis kesakitan, darah mengalir di sudut bibirnya:
"Ahh!"
---
Dari balik lorong gelap tak jauh dari ruangan itu, Reno baru saja berhasil menjatuhkan penjaga terakhir. Tapi suara tamparan dan teriakan Carla membuatnya berhenti. Tubuhnya menegang. Napasnya memburu.
Reno berbisik marah:
"Sial..."
Ia mengintip dari balik pintu. Begitu melihat penyekap mengangkat tangan lagi ke arah Carla, Reno tak berpikir dua kali. Ia mengangkat pistol dan—
DUAR!
Peluru menembus d**a si penyekap. Tubuh besar itu langsung roboh ke lantai, tersungkur tanpa suara. Darah menggenang. Reno berlari masuk, mata tajamnya masih menatap tubuh yang baru saja ia lumpuhkan.
Reno bernapas berat, cepat-cepat ke arah Carla:
"Carla! Kamu nggak apa-apa?!"
Carla menoleh perlahan. Matanya membesar. Reno berlutut, segera melepas tali pengikat tangannya.
Carla terisak, suara gemetar:
"Kamu… kamu beneran datang ,…"
Reno menyentuh pipinya yang memar, penuh perasaan:
"Aku minta maaf… aku terlambat."
Carla air matanya mengalir, pelan:
"Kamu RENO…???"
Reno nada lembut tapi panik:
"Kamu terluka… kamu kenapa bisa sampai begini…?"
Carla bergetar, pelan:
"Aku… aku pikir aku mimpi. Kamu… kamu beneran… Reno?"
Reno menatap matanya dalam:
"Iya, ini aku. Aku datang. Sekarang kamu aman."
Reno mengangkat Carla ke pelukannya dengan hati-hati.
Reno pelan di telinga Carla:
"Kamu masih bisa jalan?"
Carla menggenggam pundaknya lemah:
"A..aku..aku bisa. Tapi kakiku lemas."
Reno tersenyum kecil di tengah ketegangan:
"Kalau begitu, jangan banyak bicara. Pegangan erat, kita harus cepat keluar dari sini."
---
Begitu keluar dari bangunan, Reno berhenti sejenak. Ia merogoh saku dan menyalakan kembang api merah terang ke langit. Sinyal: keadaan aman. Dalam hitungan detik, pasukan Reihan mulai menyerbu dari segala arah.
Reihan teriak melalui HT:
"Semua tim! Serang, serang, lindungi relawan!"
Reno menyerahkan Carla ke dua prajurit medis yang langsung berlari membawa tandu ringan.
Reno mengusap rambut Carla perlahan:
"Kamu aman sekarang. Jangan takut lagi ."
Prajurit:
"Akan kami bawa ke camp utama, Komandan. Siap periksa luka dan stabilkan kondisi."
Reno menatap Carla dengan penuh makna:
"Obati lukamu di camp setelah itu baru kita bicara lagi ,setelah luka-lukamu selesai di obati..."
Carla hanya diam di atas tandu, terpaku menatap Reno. Matanya berkaca, bibirnya bergetar… tapi tak ada kata yang mampu keluar. Dalam hatinya bergema…
Carla dalam hati, lirih:
"Kamu… kamu benar-benar datang. Kamu yang dulu pergi tanpa pamit. Dan sekarang… menyelamatkanku. apa arti semua ini ..apa semua ucapanmu saat itu hanya kebohongan belaka."