Luna
Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela, menyilaukan mataku hingga aku memejamkan kembali sejenak, mencoba meredakan sakit kepala yang berdenyut pelan. Aku tidak ingat kapan tepatnya aku tertidur. Yang kuingat hanyalah Mas Davin menyuruhku beristirahat di kamar Mas Reihan setelah tangisanku akhirnya mereda.
Aku membuka mataku lagi, mencoba menyesuaikan pandangan dengan cahaya di ruangan. Aku duduk di pinggir tempat tidur, menghela napas kecil sambil mengusap wajahku. Pandanganku langsung tertuju pada jam di meja nakas. Sudah jam 11 siang.
Tubuhku terasa berat, pikiranku masih kacau, dan aku tidak punya energi untuk melakukan apa-apa. Bahkan untuk sekadar pergi ke kamar mandi, aku harus memaksa diriku mengumpulkan niat yang nyaris tidak ada.
Setelah beberapa saat terdiam, aku akhirnya memaksakan diri untuk bangun. Langkah pertamaku terasa berat, seperti lantai apartemen ini enggan menopangku. Badanku sakit, terutama di bagian paha, yang masih terasa nyeri dari tendangan semalam. Aku mencoba berdiri lebih tegak, meski rasa sakit itu menusuk setiap kali aku melangkah.
Saat aku berdiri di depan cermin, refleksi yang kulihat membuatku terdiam. Wajah itu... terasa asing. Mataku sembab, dengan lingkaran hitam yang semakin jelas. Pipiku yang lebam terlihat lebih gelap dibandingkan semalam, meninggalkan jejak luka yang tidak hanya di kulit, tapi juga di dalam hati. Ada kelelahan yang sulit dijelaskan, tertanam dalam sorot mataku yang kosong.
Aku terus menatap bayangan diriku sendiri, hingga tanpa sadar ingatan malam itu kembali menghantamku—tajam dan tanpa peringatan.
Aku baru saja pulang dari berbelanja kebutuhan rumah. Tas belanjaan di tanganku terasa berat, tapi aku tidak peduli. Langkahku cepat, berharap bisa segera masuk ke rumah dan bertemu Adrian. Aku ingin menyelesaikan semua masalah kami tanpa keributan. Aku ingin semuanya menjadi lebih baik. Tapi semua harapan itu lenyap begitu aku membuka pintu.
Adrian keluar dari kamar tidur kami dengan hanya mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Rambutnya basah, meneteskan sisa air yang membasahi kulitnya. Senyum santai menghiasi wajahnya, penuh kepuasan yang membuat darahku mendidih. Di belakangnya, seorang wanita muncul, mengenakan lingerie merah mencolok. Rambutnya acak-acakan, dan lipstik merah di bibirnya memudar.
Aku berdiri mematung di ambang pintu, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Tubuhku kaku, dan pikiranku kosong.
“Kamu masih kuat nggak?” tanya Adrian dengan nada santai, suaranya terdengar begitu lepas, seolah dunia hanya miliknya. Dia belum menyadari kehadiranku yang membeku di tempat, menyaksikan semuanya dengan napas tertahan.
“Hmm, capek sih,” jawab wanita itu dengan suara genit, diiringi tawa kecil yang terdengar begitu ringan, seperti tidak ada yang salah. “Tapi kalau sama kamu, aku nggak keberatan kalau kita lanjut lagi.”
Adrian tersenyum, senyum yang lelah tapi penuh kepuasan, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kepuasan setelah menuntaskan hasratnya. “Beneran?" gumamnya pelan sambil mendekatkan wajahnya ke perempuan itu. Ia mencium bibirnya dengan santai, dan perempuan itu membalasnya tanpa ragu. “Masih kuat untuk berapa ronde lagi?” tanyanya sambil menarik tubuh perempuan itu lebih dekat, tangannya meremas bokongnya dengan gerakan yang penuh kendali.
Aku merasakan darahku mendidih, jantungku berdegup begitu kencang hingga suaranya terasa menggema di kepala. Tubuhku tidak mampu bergerak meski aku ingin. Ketika akhirnya mencoba berbicara, suaraku keluar parau, nyaris tak terdengar. “Adrian… kamu ngapain?”
Dia menoleh perlahan, ekspresinya tenang tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Aku abis mandi,“ katanya dengan nada datar, seperti tidak ada yang salah dengan situasi ini.
“Mandi?” ulangku, mencoba menguasai diri meski suaraku bergetar. Kemarahan dan ketidakpercayaan bercampur menjadi satu, memenuhi dadaku. Tubuhku gemetar, dan mataku panas menahan air mata yang ingin tumpah. Aku menarik napas panjang, berusaha meredam amarah yang terus membara. “Jadi sekarang kamu sudah berani bawa perempuan-perempuanmu ke rumah?”
“Dia cuma temen,” balasnya singkat, nadanya terdengar malas, bahkan sedikit meremehkan. “Jangan drama, Luna.”
Aku mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak berteriak. Amarah yang berkecamuk di dalam diriku hampir tak terbendung, tapi rasa lelah yang menyelimuti tubuhku membuatku tetap berdiri di tempat. “Teman?” tanyaku, suaraku meninggi meski tetap bergetar. “Kamu pikir aku nggak tahu apa-apa? Kamu bawa dia ke rumah ini, ke kamar kita, ciuman dengan keadaan seperti itu, dan kamu dengan santainya bilang dia cuma teman?”
Adrian hanya mengangkat bahu dengan sikap acuh. “Luna, kamu terlalu banyak nonton drama. Lebih baik kamu beresin itu belanjaan. Nggak ada yang perlu dibesar-besarkan.”
Darahku terasa mendidih, dan setiap kata yang keluar dari mulut Adrian hanya menambah bara pada amarah yang sudah membakar hatiku. Semua rasa sakit, kekecewaan, dan penghinaan yang selama ini kupendam akhirnya tak terbendung. Aku melangkah maju dengan tegas, menatapnya tajam, membiarkan kebencian yang selama ini kupendam terlihat jelas di mataku.
“Drama?” Aku tertawa dingin, suaraku semakin bergetar meski tak lagi kupedulikan. “Setelah semua yang kamu lakuin, kamu minta maaf, dan sekarang kamu ulangi lagi perbuatan mesummu itu?” Langkahku semakin mendekat, tanganku mengepal hingga kuku-kuku menusuk telapak tanganku. “Kamu bawa dia ke sini, ke rumah kita, ke kamar ini, dalam keadaan seperti itu, dan kamu pikir aku akan diam saja?!”
Adrian menatapku tanpa ekspresi, wajahnya tetap datar seakan setiap kata yang keluar dari mulutku hanya angin lalu baginya. Alih-alih merasa bersalah, dia malah menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan santai, menunjukkan sikap yang benar-benar tidak peduli.
“Luna, aku capek,” ujarnya dengan nada ringan, sambil mengangkat bahu seolah ini hanyalah percakapan biasa. “Kamu terlalu lebay. Udah, tenang aja. Ribut kayak gini nggak ada gunanya.”
Tanganku bergetar, dan aku mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi rasanya sia-sia. “Capek?” tanyaku, suaraku rendah tapi penuh tekanan. “Kamu bilang aku terlalu berlebihan, tapi kamu bawa perempuan itu ke sini, ke rumah ini, dan kamu mau aku anggap itu hal biasa?”
Aku menunjuk ke arah perempuan itu, yang masih berdiri di kamar kami tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pemandangan itu terus terngiang di pikiranku—mereka berciuman tanpa ragu, di tempat ini, di kamar yang seharusnya menjadi milik kami berdua. Aku kembali menatap Adrian dengan sorot penuh kebencian. “Apa kamu pikir aku nggak akan marah melihat semua ini? Atau kamu kira aku akan terus diam?” Mataku menatap tajam ke arahnya, menunggu jawaban yang lebih dari sekadar pengabaian santai.
Adrian hanya mengangkat alis, ekspresinya tetap datar, seolah tak terpengaruh oleh emosiku. “Udah aku bilang, dia cuma temen. Jangan lebay,” katanya dengan nada malas, seperti amarahku hanyalah gangguan kecil dalam harinya.
Setelah itu, dia menoleh ke perempuan yang masih berdiri di sana dengan lingerie merahnya itu. “Pakai baju kamu, Nis,” katanya santai, nada suaranya lebih seperti perintah, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Perempuan itu tersenyum kecil, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia melangkah pelan menuju kamar, mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, gerakannya tenang tanpa tergesa. Sementara itu, Adrian berjalan ke sofa di ruang tengah, duduk dengan santai, dan menyandarkan tubuhnya. Dia mengambil remote televisi, menekan-nekan tombolnya tanpa benar-benar menyalakan apa pun, seperti semua yang baru saja terjadi benar-benar tidak lagi penting baginya.
Beberapa saat kemudian, perempuan itu keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Dia mengenakan gaun longgar yang terlihat santai, langkahnya tetap tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Dia berjalan menuju pintu depan, tapi berhenti sejenak dan berbalik. Dengan percaya diri, dia mendekati Adrian yang masih duduk santai di sofa.
Senyum tipis tersungging di wajahnya. Tanpa ragu, dia menundukkan badan dan mencium bibir Adrian. Ciuman itu tidak terburu-buru, seolah ingin memastikan aku melihatnya dengan jelas. Aku berdiri kaku di tempat, dadaku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menghimpit hingga aku sulit bernapas.
Aku mencoba menahan emosi yang meluap di d**a. Bibirku tertarik ke atas membentuk senyum pahit—sama sekali bukan untuk mereka, melainkan untuk diriku sendiri. Adrian tetap dengan wajah datarnya, sama sekali tidak terganggu. Tangannya malah terangkat, mengelus punggung perempuan itu dengan santai. Dia benar-benar tidak menganggap keberadaanku di ruangan itu.
“Sampai ketemu lagi,” ucap perempuan itu ringan, sambil melirik Adrian dengan senyum puas. Dia berbalik, melangkah perlahan menuju pintu tanpa sedikit pun menoleh ke arahku. Pintu tertutup dengan tenang di belakangnya, meninggalkan aku berdiri mematung di tengah ruangan, tenggelam dalam rasa sakit yang tak bisa kuungkapkan.
***