Luna
Tok… tok…
Ketukan di pintu memecah lamunanku. Suara hangat yang familiar terdengar menyusul, “Dek…” panggilnya lembut. “Udah bangun?” lanjut suara itu. Mas Reihan.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku. Tatapanku tertuju pada cermin di atas wastafel. Wajahku terpantul jelas—lebam kehitaman mencolok dan jejak air mata yang masih membekas di pipi.
“Hah…” desahku pelan. Tidak mungkin aku bisa menyembunyikan semua ini, apalagi semalam aku pergi terburu-buru saat Adrian tertidur. Aku hanya membawa tas kecil yang biasa kupakai ke minimarket. Isinya cuma dompet dan ponsel, tanpa makeup atau apa pun untuk menyamarkan luka ini.
Ketukan di pintu terdengar lagi. “Iya, Mas…” sahutku, suara serak tersisa dari tangis panjang.
Aku memutar keran air, buru-buru membasuh wajahku. Air dingin menyentuh kulitku, memberi sedikit rasa lega meski hanya sementara. Dengan langkah terburu-buru, aku keluar dari kamar mandi. Rasa sakit di kakiku semakin terasa, membuatku meringis setiap kali menggerakkan tubuhku. Luka memar yang belum sempat kulihat dengan jelas terus berdenyut, tersembunyi di balik kain.
Saat pintu kubuka, sorot mata Mas Reihan langsung menyambar ke arahku. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Ia mengamati diriku dari kepala hingga kaki. Raut wajahnya berubah tegang. “Astaga, Dek…” gumamnya pelan, nada suaranya penuh kecemasan. “Kamu kenapa?” tanyanya, tangannya terulur menyentuh wajahku yang lebam.
Aku mencoba tersenyum tipis, meskipun terasa hambar dan terpaksa. Tidak tahu harus mulai dari mana, rasanya seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. “Mas kok udah pulang?” tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan suara yang terdengar kaku.
Mas Reihan menghela napas, menatapku sejenak sebelum berbicara. “Tadi malam Davin nelpon Mas,” ucapnya. "Dia bilang kamu datang sambil nangis-nangis. Mas langsung batalin semua urusan dan buru-buru pulang."
Tatapannya kembali tajam, kali ini penuh desakan. “Kamu kenapa? Siapa yang ngelakuin ini ke kamu? Adrian, ya?”
Aku diam, tak mampu berkata apa-apa. Hanya anggukan kecil yang kulakukan. Seketika rona merah memenuhi wajahnya, napasnya terdengar lebih berat. “Kurang ajar!” desisnya, suaranya rendah tapi penuh amarah. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, seperti berusaha menahan diri.
Aku menggigit bibir, berusaha menahan tangis yang sudah memenuhi dadaku. Tapi akhirnya, air mata itu jatuh juga. Melihat itu, sorot mata Mas Reihan melunak. Tanpa berkata-kata, ia menarikku ke dalam pelukannya.
“Ssst, Dek... Mas di sini. Kamu aman sekarang,” bisiknya pelan, mencoba menenangkanku.
Aku menangis tersedu-sedu di pelukannya, meluapkan segala rasa takut, sakit, dan lelah yang selama ini hanya kutahan sendiri. Keheningan di antara kami terasa hangat, seperti ruang aman yang perlahan membungkusku, mengizinkan semua beban itu jatuh tanpa hambatan.
“Ssst…” gumamnya lembut sambil membelai kepalaku. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk menenangkan, seakan mengatakan bahwa aku tidak perlu lagi menahan apa pun.
Tangisku perlahan mulai mereda. Aku menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diriku. Dengan ragu, aku melepaskan genggaman pada bajunya.
“Udah nangisnya?” tanya Mas Reihan sambil menunduk, matanya menatapku dengan lembut.
Aku mengangguk pelan, mengusap sisa air mata di pipiku dengan punggung tangan, mencoba menata ulang emosi yang masih bergemuruh di dalam diriku.
“Hm… cengeng,” godanya, bibirnya melengkung tipis, mencoba membuatku tersenyum.
"Mas!" protesku, mencoba terdengar kesal, meski suaraku masih terdengar lemah.
“Ya udah, sini, duduk dulu,” tuturnya sambil menunjuk sofa di ruang tamu. Ia berjalan ke dapur tanpa menunggu jawabanku, mengambil segelas air putih. Suara air yang mengalir terdengar samar sebelum ia kembali ke ruang tamu.
“Minum dulu, Dek,” ungkapnya pelan, sambil menyodorkan gelas itu ke tanganku.
Aku mengangguk pelan dan meneguknya sedikit demi sedikit. Keheningan menggantung di antara kami, hanya suara napasku yang terdengar. Mas Reihan menatapku dengan sabar, menunggu tanpa sedikit pun memaksakan apa pun.
Aku meletakkan gelas itu pelan-pelan ke atas meja. "Kalau kamu siap, ceritakan ke Mas apa yang terjadi," katanya lembut, memberi ruang tanpa memaksa.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. “Mas… aku nggak tahu harus mulai dari mana,” ujarku pelan, suaraku masih bergetar.
“Mulailah dari mana pun kamu merasa nyaman. Mas akan mendengarkan,” tuturnya dengan nada menenangkan.
Aku menunduk, menatap jemariku yang terus saling meremas, mencoba mencari keberanian. “Setahun terakhir, pernikahanku dengan Adrian berubah drastis,” kataku dengan suara pelan, hampir seperti bisikan. “Awalnya, aku pikir ini masalah kecil, penyesuaian di awal pernikahan.”
Aku berhenti sejenak, menahan napas, mencoba menenangkan diri. "Tapi kenyataannya..." suaraku semakin serak, "dia malah selingkuh, Mas. Bukan cuma satu perempuan."
Mas Reihan mengusap wajahnya, menahan respons spontan yang mungkin ingin ia lontarkan.
"Aku pikir kalau aku bertahan, dia akan berubah. Tapi setiap kali aku memaafkannya, dia mengulanginya lagi," lanjutku, suaraku pecah, penuh amarah dan sakit. "Aku nggak ngerti lagi harus gimana, Mas."
Mas Reihan menatapku serius. "Kenapa kamu nggak pernah cerita sebelumnya, Dek?" tanyanya pelan, sorot matanya penuh campuran kesedihan dan kekhawatiran.
“Aku takut,” jawabku. “Takut dianggap gagal menjaga rumah tangga. Aku malu, Mas. Aku pikir aku bisa memperbaikinya sendiri, tapi…”
Air mata kembali mengalir deras, tapi aku memaksakan diri untuk menyelesaikan kalimatku. “Kemarin... dia terang-terangan bawa perempuan itu ke rumah, Mas.”
Ketika aku mengatakannya, rasa malu, marah, dan sakit itu kembali menghantamku, seperti belati yang menusuk di dadaku. Aku menunduk, berusaha menenangkan diri, tetapi entah kenapa air mata ini tak kunjung berhenti.
Suara pintu apartemen terdengar terbuka. Langkah kaki berat mendekat, dan aku sedikit mengangkat wajahku, cukup untuk melihat Mas Davin muncul membawa beberapa kantong belanjaan. Dia berhenti beberapa langkah dariku, matanya berpindah dari wajahku yang basah oleh air mata, ke wajah Mas Reihan yang jelas-jelas menahan amarah.
“Aku mandi dulu, gerah,” katanya singkat, sambil meletakkan kantong plastik di meja dapur. Tanpa banyak kata, ia berjalan menuju kamarnya.
Keheningan kembali merayapi ruangan. Hanya terdengar langkah kaki Mas Davin yang semakin menjauh, sebelum pintu kamar tertutup dengan pelan. Mas Reihan, yang tadi tampak berusaha menahan diri, kini menatapku dengan serius. Wajahnya terlihat lebih kaku, lebih tegang.
"Luna," panggilnya pelan. "Adrian sering ngelakuin ini ke kamu?"
Aku menelan ludah, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menjawabnya. "Beberapa bulan terakhir ini, Mas," jawabku. "Awalnya cuma bentakan, tapi lama-lama... dia mulai main tangan."
“Dia sering mukul kamu?” Mas Reihan bertanya, namun suaranya lebih terdengar seperti pernyataan yang sulit dipercaya.
Aku hanya mengangguk pelan, bibirku bergetar, mencoba menahan diri agar tidak menangis lagi.
"Di mana aja? Muka kamu, tangan, semua tanda-tanda ini?" Suara Mas Reihan mulai meninggi, marah, meskipun masih berusaha untuk menahannya.
Setiap pertanyaan itu seperti jarum yang menancap lebih dalam ke hatiku. Tapi aku tahu, aku harus memberitahunya, aku harus jujur. "Pernah… di pipi, di tangan, kadang di punggung... yang paling parah, kemarin..." Aku berhenti sejenak, napasku tersengal, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk dikeluarkan.
Mas Reihan mengepalkan tangan, wajahnya tegang, menahan amarah yang tampaknya sudah sulit dia kendalikan. "Dan ini?" tanyanya lagi, sambil menunjuk bekas luka di pergelangan tanganku.
Aku mengusap bekas luka itu perlahan, mataku mulai berkaca-kaca. “Dia ikat tangan aku pakai ikat pinggang... waktu itu aku coba pergi dari rumah,” jawabku pelan, suaraku nyaris hilang. Aku berhenti, enggan melanjutkan. Aku tak ingin Mas Reihan tahu semua yang terjadi, apalagi bagian yang lebih gelap dari kenyataan ini. Aku takut dia akan semakin hancur jika tahu lebih banyak.
Mas Reihan memejamkan mata, wajahnya semakin memerah menahan amarah. “Sudah benar-benar kelewatan dia,” ucapnya dengan nada rendah, tapi penuh penekanan. Dia berdiri dari duduknya, melangkah ke arah pintu. “Mas bakal buat perhitungan sama dia.”
“Mas!” Aku buru-buru berdiri dan menahan lengannya. “Kalau Mas ke sana sekarang, nanti kalian bakal berantem. Jangan...”
Mas Reihan menatapku, wajahnya penuh amarah yang tak bisa lagi dia simpan. “Mas nggak bisa diem aja ngeliat kamu diperlakukan kayak gitu,” katanya, suara sedikit bergetar.
“Mas,” aku berusaha mencegahnya. Aku mungkin ingin Adrian mendapatkan balasannya, tapi bukan dengan cara seperti ini.
“Kamu di sini aja, biar Mas yang samperin dia,” ucapnya, tegas.
“Mas!” Aku semakin panik, menarik tangannya dengan lebih kuat. Tapi Mas Reihan tak bergeming. Aku tahu, jika aku tidak menghentikannya sekarang, semuanya akan semakin buruk. Aku menatapnya putus asa, lalu berteriak, “Mas Davin!”
Suara ku hampir hilang, tetapi cukup keras untuk membuat pintu kamar terbuka. Mas Davin muncul, rambutnya masih basah, mengenakan kaos bersih. Dia melangkah mendekat dengan tenang, berhenti di antara kami.
“Rei,” Mas Davin memanggil dengan suara rendah, mencoba menenangkan. “Kamu bikin Luna takut.”
Mas Reihan hanya memandangnya dengan tatapan tajam penuh amarah. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Lalu, Mas Davin mengangkat tangan, memberi isyarat agar Reihan mendengarkan. "Kamu mau apa ke sana? Berantem sama Adrian?" tanyanya, nada suaranya tetap tenang.
Mas Reihan menggertakkan gigi, jelas berjuang keras menahan amarah. “Aku nggak peduli, Dav. Aku nggak bisa diam aja.”
Davin menepuk bahunya sekali lagi. “Kita semua marah, Rei. Tapi nggak bisa pakai emosi untuk nyelesain ini.”
“Dia mukulin adik aku, Dav! Kamu lihat sendiri, Luna kayak gini! Apa aku harus diam aja?” balas Mas Reihan, nada suaranya meninggi.
Mas Davin tetap tenang, meski jelas dia bisa merasakan emosi yang meluap dari Mas Reihan. “Kita nggak bisa main kasar, Rei. Kalau kamu datengin dia sekarang, cuma bakal bikin masalah lebih besar. Kita butuh bukti, langkah yang jelas. Luna butuh perlindungan, bukan kekacauan.”
"Buktinya sudah jelas begini, Dav! Luka-luka di wajahnya, di tangannya, Astaga!" Suara Mas Reihan pecah, penuh emosi yang sulit ia bendung.
“Rei, emosi dan tindakan gegabah nggak bakal nyelesain semuanya,” ucap Mas Davin lagi, mencoba membujuk dengan tenang.
Mas Reihan tetap menatap Mas Davin tajam, seolah mencoba menembus argumen itu dengan emosinya. Namun, perlahan dia menarik napas panjang, dan tangannya yang terkepal mulai mengendur.
"Luna harus ke rumah sakit buat visum," lanjut Mas Davin, melirikku. "Itu langkah pertama. Kalau kita punya bukti, baru kita bisa lapor polisi. Biar hukum yang urus Adrian."
Aku mengangguk pelan, meski tubuhku terasa lemas. "Aku mau visum, Mas," kataku akhirnya, suaraku nyaris tak terdengar.
Mas Reihan masih terlihat frustrasi, tapi akhirnya mengangguk. "Oke. Kita urus ini dengan cara yang benar. Tapi habis itu, aku nggak bakal tinggal diam," katanya, nada suaranya lebih dingin.
Mas Davin menepuk bahu Reihan, memberi tanda persetujuan. “Lebih cepat visum, lebih baik,” ujarnya sambil menatapku.
Mas Reihan berjalan kembali ke sofa dan duduk, lalu menatapku dengan serius. “Kamu siap untuk visum, Dek?” tanyanya. Aku mengangguk perlahan, tetapi rasa takut, malu dan binggung semakin menumpuk di d**a.
***