Luna
Mas Reihan duduk di sofa, napasnya belum sepenuhnya teratur. Di sisi lain, Mas Davin berdiri di dekat jendela, memperhatikan langit mendung yang terlihat jelas dari balik kaca apartemen. Wajahnya serius, seperti memikirkan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
Aku duduk di ujung sofa, tubuhku terasa kaku. Mereka berbicara tentang apa yang harus dilakukan, tapi suara mereka seakan hanya samar-samar terdengar. Kepalaku penuh dengan pikiran sendiri, berputar-putar tanpa henti. Aku ingin melakukan sesuatu, tapi entah kenapa tubuhku seperti menolak bergerak.
“Kalau kamu jadi pengacaranya Luna, kamu bisa bantu urus ini?” tanya Mas Reihan sambil melirik ke arah Mas Davin.
Mas Davin menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan tegas, “Bisa, Rei. Tapi Luna harus setuju. Ini keputusan dia.”
Mereka menatapku bersamaan. Pandangan mereka begitu jelas—menuntut jawaban yang aku sendiri belum punya. Aku hanya mampu menunduk, berusaha menghindari tatapan itu.
“Dek.” Kali ini suara Mas Reihan terdengar lebih tenang, namun tidak kehilangan ketegasannya. “Kalau ini terus dibiarkan, Adrian akan merasa bisa melakukan apa pun. Kamu tahu itu.”
Aku menelan ludah, mencoba meredam kegelisahan yang terus menguasai. "Kalau aku lapor, apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanyaku lirih.
Mas Davin menjauh dari jendela, berjalan ke kursi di hadapanku, lalu duduk. “Kita mulai dengan laporan resmi ke polisi,” ucapnya tenang. “Setelah itu, kita minta visum untuk jadi bukti pendukung.”
Aku menggigit bibir bawahku, suaraku sedikit bergetar. “Tapi... Adrian bisa langsung ditahan?”
“Kalau ada cukup bukti, iya,” jawabnya jujur. “Tapi proses ini butuh waktu. Kamu harus siap untuk menjawab pertanyaan dari penyidik dan menghadapi situasi yang mungkin tidak mudah. Kami bakal temani kamu, tapi semua ini tetap keputusan kamu.”
Aku menunduk dalam-dalam, kedua tangan saling menggenggam di pangkuan. “Kalau kita tunggu dulu? Mungkin Adrian bakal lebih tenang,” ujarku ragu. Suaraku nyaris tenggelam di ruangan yang sunyi. “Biasanya setelah marah, dia… berhenti.”
Mas Reihan langsung bereaksi. Tatapannya tajam, suaranya rendah, tapi terdengar jelas. “Kamu tahu itu nggak benar, Dek. Setiap kali kamu diam, dia makin berani. Adrian nggak akan berubah, dan kamu tahu itu.”
Sesak di dadaku semakin terasa, seolah ada yang menghimpit dari dalam. “Tapi kalau dia tahu aku lapor, dia pasti lebih marah. Dia akan datang ke sini lagi. Aku nggak mau kalian ikut kena masalah.”
“Kami tahu risikonya,” jawab Mas Davin dengan tenang tapi tegas. “Tapi kamu harus aman dulu. Kalau kita diam, ini nggak akan berhenti. Laporkan sekarang supaya kita bisa ambil tindakan.”
Aku mengangkat kepala, menatap mereka satu per satu. Keyakinan mereka terlihat jelas, seperti mereka benar-benar tahu ini adalah jalan yang paling tepat. Tapi di kepalaku, semuanya terasa lebih rumit. Bayangan Adrian terus muncul—suara bentakannya, tatapan yang membuat tubuhku membeku, dan rasa sakit yang tidak bisa kujelaskan. Semua itu terasa seperti rantai yang menahan langkahku.
“Luna.” Suara Mas Reihan lebih pelan kali ini. Dia berlutut di depanku, memastikan aku melihatnya. “Mas ada di sini buat kamu. Kamu cuma perlu mulai satu langkah dulu. Lapor polisi, sisanya biar kami yang urus.”
Aku ingin berbicara, tapi tidak ada suara yang keluar. Ruangan ini terasa semakin sempit, dan napasku terasa berat. Aku akhirnya mengangguk kecil, meskipun di dalam kepala masih ada perdebatan yang sulit dihentikan.
“Aku... cuma butuh waktu sebentar,” kataku akhirnya. Suaraku lirih, seperti terseret keluar dari tenggorokan.
Mas Davin tidak berkata apa-apa. Tatapannya lembut, tapi ada peringatan di baliknya. “Kami tunggu, Luna. Tapi jangan terlalu lama.”
Aku kembali mengangguk, lalu berdiri. Kaki ini terasa berat, seperti melangkah di atas lantai yang menjeratku. Dengan perlahan, aku berjalan menuju kamar dan menutup pintu di belakangku.
Begitu aku membaringkan tubuh di kasur, aku menatap langit-langit yang gelap. Bayangan Adrian masih ada di sana, bersama semua ketakutan yang kurasakan. Aku menarik selimut hingga menutupi tubuhku, memejamkan mata rapat-rapat. Aku hanya ingin waktu berhenti sejenak, walaupun aku tahu besok semuanya tetap harus kuhadapi.
***
DAVIN
Aku menatap pintu kamar yang baru saja ditutup Luna. Suara kunci berputar terdengar jelas di telingaku, seperti tanda bahwa dia sedang berusaha membangun tembok untuk menjauh dari dunia—atau mungkin dari kami.
Ruangan mendadak sunyi. Aku beralih ke Reihan yang duduk di sofa, kepalanya disandarkan ke belakang dengan napas berat. Satu tangan menutup wajahnya, sementara matanya tetap terbuka, menatap kosong ke langit-langit. Dari sini, aku bisa melihat jelas kekhawatirannya sebagai seorang kakak.
“Dia masih terlalu takut,” gumam Reihan, suaranya rendah namun berat.
Aku menegakkan tubuhku di sofa, menatap Reihan yang masih bersandar lemas. “Aku tahu ini nggak mudah buat Luna, Rei. Tapi setidaknya, sekarang dia mulai terbuka. Dia tahu kita ada di sini buat dia.”
Reihan membuka mata dan menatapku. Ada kelelahan yang tidak bisa dia sembunyikan. “Aku cuma takut dia nyerah, Dav. Kamu dengar tadi, kan? Dia bilang ‘mungkin Adrian bakal tenang’. Dia masih berharap, dan itu yang bikin aku nggak bisa terima.” Rahangnya mengeras, dan tatapannya berpindah ke pintu kamar Luna. “Sebagai kakaknya, aku seharusnya bisa ngelindungin dia. Tapi lihat sekarang… aku nggak bisa bikin dia ngerasa aman.”
Kata-katanya membuatku diam sejenak. Aku paham rasa bersalah itu; perasaan tidak berdaya yang tidak pernah mudah diterima. Tapi menyalahkan diri sendiri tidak akan mengubah apa pun.
“Rei,” panggilku, memastikan dia mendengar apa yang aku katakan. “Ini bukan salah kamu. Kita ada di sini sekarang, dan itu yang penting. Kalau kamu khawatir soal laporan, aku yang urus semuanya.”
Dia menatapku lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Kamu yakin?”
Aku balas menatapnya. “Yakin. Aku bakal pastikan Luna aman. Kalau aku harus ngurus laporan ke polisi atau ngebantu ngawal prosesnya, aku siap.”
Reihan menarik napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya lagi. Dia kelihatan sedikit lebih tenang, meskipun jelas beban di pikirannya belum sepenuhnya reda.
Aku melirik jam di dinding. “Nanti sore aku harus pulang. Renovasi rumahku selesai, dan aku harus cek beberapa hal.”
Reihan menoleh cepat. “Terus, Luna gimana?”
“Aku bakal sering kesini buat ngecek keadaan dia,” jawabku mantap. “Lagipula kamu ada di sini, kan?”
Dia terdiam, seakan masih mencari alasan untuk membantah. Tapi akhirnya dia mengangguk kecil. “Aku bakal jagain dia. Tapi… keadaannya belum stabil. Kalau ada apa-apa, kamu harus balik secepatnya.”
“Aku pasti balik.” Aku memotong cepat, memastikan nada suaraku tidak menyisakan keraguan. “Kita sama-sama jagain Luna, Rei. Dia butuh kita, tapi kita juga harus kasih dia ruang buat mikir dan ngambil keputusan sendiri.”
Reihan menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya lagi. Aku tahu dia kelelahan, tapi tidak ada pilihan selain bertahan.
Aku melirik pintu kamar Luna yang masih tertutup rapat. Di balik sana, dia pasti sedang berusaha mencari tenang dengan caranya sendiri. Tapi cepat atau lambat, dia harus keluar—dan menghadapi semuanya.
Aku bersandar lebih dalam di sofa, memijat tengkukku yang terasa kaku. Wajah Luna kembali terbayang di pikiranku: tatapan kosongnya, langkahnya yang berat, dan suara lirihnya tadi malam saat ia berdiri di ambang pintu. “Hai…” katanya pelan, mencoba memaksakan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. Yang kulihat hanya pecahan dirinya yang rapuh.
Sulit dipercaya seseorang bisa melakukan ini padanya. Adrian. Lelaki yang seharusnya mencintai dan menjaganya, tapi justru menghancurkannya.
Amarah mendidih di dadaku, tapi aku menahannya. Ini bukan waktunya. Yang dibutuhkan Luna sekarang adalah ruang untuk bernapas, waktu untuk menyembuhkan dirinya, dan orang-orang yang benar-benar peduli.
***