Tangan besar itu masih terulur di udara.
Kirana menatapnya seolah-olah itu adalah granat yang pin-nya sudah ditarik. Suara Ping! imajiner di kepalanya semakin nyaring, beradu dengan detak jantungnya yang seperti sedang memukul-mukul tulang rusuknya. Ia harus menjabatnya. Itu sopan santun dasar.
Dengan napas yang ditahan sampai paru-parunya terasa sakit, Kirana mengulurkan tangan kanannya. Jari-jari Keenan membungkus tangannya. Hangat, kering, dan cengkeramannya tegas.
"Halo," balas Kirana. Suaranya keluar lebih tinggi satu oktaf dari biasanya, terdengar seperti tikus kejepit. Otaknya yang sedang error berat akhirnya berhasil memproses satu nama yang terlintas di benaknya. "Saya Kirana. Videografernya... Rian."
Hening.
Senyum cerah di wajah Keenan sedikit memudar, digantikan oleh ekspresi bingung yang lucu. Ia mengerjapkan matanya. "Rian? Rian yang lagi opname tifus di UGD pagi ini?"
Wajah Kirana seketika memanas hingga ke ujung telinga. s**l. s**l. s**l.
"Maksud saya... Keenan! Keenan Pradipta," Koreksi Kirana cepat, buru-buru menarik tangannya dan memeluk folder di dadanya seperti perisai. "Maaf, saya belum sarapan, otak saya belum login."
Keenan tertawa. Tawa yang renyah dan benar-benar tulus, membuat sudut matanya sedikit berkerut. "Nggak apa-apa. Santai aja. Selamat bergabung di kapal gila ini, Kirana. Besok pagi kita briefing di studio, ya. Datang pagi-pagi, kita susun storyboard."
Kirana hanya bisa mengangguk kaku. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa lega karena Keenan tidak tersinggung, atau malah takut karena pria itu tertawa melihat kebodohannya.
***
Keesokan paginya, pukul 07.00 WIB.
Studio kecil di lantai dua production house itu masih sepi. Kirana sudah ada di sana sejak satu jam yang lalu. Ia tidak bisa tidur semalaman, perutnya mulas karena campuran rasa cemas dan kafein dari dua cangkir kopi instan yang sudah ia habiskan.
Bagi Kirana, persiapan adalah kunci untuk mengendalikan keadaan. Jika ia sibuk dengan teknis, ia tidak perlu memikirkan hal lain.
Di atas meja panjang, tiga buah kamera mirrorless berbaris rapi seperti prajurit. Lensa-lensa sudah dibersihkan dengan blower dan kain microfiber. Kartu memori sudah diformat, dan baterai terisi penuh seratus persen. Kirana sedang asyik melilit kabel HDMI dengan teknik over-under agar tidak kusut, sampai akhirnya jarum jam di dinding berdetak melewati pukul 09.00 WIB.
Rahang Kirana mengeras.
Ia meletakkan kabel dengan sedikit lebih keras dari yang diperlukan. Lima juta subscriber, batinnya kesal. Jutaan views, brand deal selangit, tapi manajemen waktu nol besar.
Pak Bram bilang Keenan Pradipta adalah profesional. Tapi profesional mana yang membuat kru-nya menunggu selama dua jam lebih tanpa kabar? Kirana membayangkan pria itu mungkin masih sibuk memilih outfit atau sekadar menikmati sarapan mewahnya di kafe hits Jakarta Selatan. Sementara di sini, Kirana harus memikirkan risiko jadwal syuting yang berantakan.
Pukul 09.25 WIB, pintu studio akhirnya terbuka.
Aroma parfum beraroma wood and spice yang khas langsung menyeruak, diikuti oleh sosok yang tampak sama sekali tidak bersalah. Keenan melangkah masuk mengenakan kaos oversize berwarna sage green, celana kargo, dan sneakers mahal yang masih terlihat pristine. Di tangan kanannya, ia memegang gelas kopi iced americano dan sekantong roti dari toko bakery ternama.
"Morning!" sapa Keenan ceria, seolah-olah ia tidak datang terlambat dua jam lebih. "Sorry banget, Kir. Tadi di jalan ada kecelakaan di lampu merah Sudirman, macetnya nggak ngotak."
Kirana menatapnya datar. Ia menyilangkan tangan di d**a, posture tubuhnya kaku. "Kecepatan rata-rata ketika ada kecelakaan dari sana sampai ke sini dua jam Mas Keenan? Atau beli sarapannya yang lama?"
Keenan berhenti mengunyah rotinya. Ia menatap Kirana sejenak, lalu senyum miring muncul di bibirnya. "Wah. Galak juga ya videografer baru gue. Panggil Keenan aja, nggak usah Mas-Mas."
"Teman itu orang yang menghargai waktu temannya," gumam Kirana pelan, cukup keras untuk didengar, tapi cukup pelan untuk bisa ditangkal jika pria itu marah.
Keenan tertawa kecil, lalu berjalan menghampiri meja tempat peralatan berbaris. Ia melirik kamera-kamera yang tertata rapi dengan alis terangkat. "Oke, oke. My bad. Gue janji nggak akan telat lagi. Jadi, apa rencana lo buat syuting pertama besok di Taman Suropati?"
Ini adalah momen Kirana. Ketika berbicara tentang teknis, rasa gugupnya sedikit mereda. Ia mengambil tablet-nya dan membuka aplikasi catatan.
"Konsepnya cinematic vlog, kan? Saya sudah riset dan melakukan location scouting kemarin sore. Kita akan take saat golden hour di sore hari. Saya siapkan lensa 35mm untuk wide shot biar kelihatan environment-nya, dan 85mm untuk close up biar bokeh-nya dapet. Color palette kita akan warm tone, senada dengan feed i********: lo yang—"
"Kir, Kir, tunggu," Keenan memotong, mengangkat satu tangan. Ia terdengar sedikit bosan. "Gue nggak ngerti istilah-istilah teknis gitu. Yang gue butuh itu vibe. Vibe yang asik, yang bikin penonton ngerasa lagi jalan-jalan bareng gue. Jangan terlalu kaku kayak dokumenter TVRI, ya."
Dahi Kirana berkerut. Ia menurunkan tablet-nya. "Ini bukan dokumenter TVRI. Ini soal komposisi dan lighting. Kalau lighting-nya salah, vibe yang lo mau nggak akan dapet. Lo mau hasilnya terlihat murah atau berkualitas?"
Nada suara Kirana naik satu tingkat. Ia tahu ia terdengar defensif, tapi ia tidak suka karyanya diremehkan hanya karena klien tidak paham teknis.
Keenan menatapnya, senyumnya menghilang, digantikan oleh tatapan menilai. "Gue mau hasilnya autentik. Bukan sekadar gambar cantik yang nggak punya nyawa. Besok lo bakal ngerti maksud gue."
Kirana mendengus pelan, lalu berbalik badan untuk mengambil tas kameranya yang tergeletak di lantai sudut ruangan. Ia butuh lensa 35mm-nya untuk ditunjukkan secara fisik agar pria itu paham.
"Sini saya tunjuk—"
Kalimat itu terputus oleh suara brak yang keras, disusul oleh bunyi plastik dan logam yang beradu dengan lantai kayu.
Kaki kanan Kirana tersangkut lilitan kabel roll extension yang tidak digulung dengan sempurna. Keseimbangannya hilang seketika. Tangan kirinya yang memegang tablet melayang di udara, sementara tangan kanannya secara refleks mencari pegangan. Jari-jarinya berhasil mencengkeram kaki tripod aluminium, tapi tripod itu ikut goyah.
Kirana berakhir dalam posisi setengah jongkok yang sangat tidak wajar, memeluk kaki tripod seperti koala, sementara lens cap kamera mental jatuh tepat di depan sepatu Keenan.
Hening menyelimuti studio. Hanya terdengar suara AC yang berdengung pelan.
Kirana menutup matanya rapat-rapat. Bunuh gue sekarang. Tolong, bumi tolong belah dan telan gue. Wajahnya terasa seperti disetrika panas. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, menemukan Keenan sedang menatapnya dari atas. Pria itu masih memegang gelas kopinya, dengan satu alis terangkat tinggi.
"Kamu selalu se-graceful ini?" tanya Keenan. Nadanya santai, ada senyum geli yang jelas-jelas terlihat di bibirnya.
Rasa malu Kirana seketika berubah menjadi panas. Ia cepat-cepat melepaskan pelukannya dari tripod, berdiri, dan merapikan roknya dengan gerakan kaku.
"Kabelnya yang melintang," bela Kirana cepat, pipinya merona merah padam. "Ini bahaya. Harusnya di-tape ke lantai atau digulung. Standar keselamatan kerja, Mas Keenan."
Keenan tertawa. Bukan tawa mengejek, tapi tawa yang genuine, membuat bahunya berguncar. Ia membungkuk, memungut lens cap yang tergeletak di lantai, lalu mengulurkannya pada Kirana.
Saat tangan mereka kembali bersentuhan, Kirana merasakan sengatan listrik statis yang membuatnya buru-buru menarik tangan.
"Oke, standar keselamatan kerja. Dicatat," ucap Keenan, masih dengan senyum yang tidak mau hilang. Ia melangkah mundur, menatap Kirana lekat-lekat. Tatapan yang kali ini tidak lagi santai, melainkan tajam dan menantang.
"Dengar, Kirana," ucap Keenan, suaranya turun sedikit, terdengar lebih serius. "Gue lihat lo jago soal teknis. Alat-alat lo tertata rapi, lo hafal settingan. Tapi lo terlalu kaku. Lo terlalu takut salah sampai lupa kalau di depan kamera itu ada manusia, bukan objek mati."
Kirana mengerjap, kata-kata itu menohok tepat di ulu hatinya.
Keenan melangkah menuju pintu, membalikkan badannya sekilas. "Besok sore di Taman Suropati. Gue mau lihat seberapa 'artistik' lo. Tapi kalau hasilnya membosankan dan kaku kayak robot, gue yang akan cari videografer dari PH lain. Deal?"
Tanpa menunggu jawaban, Keenan melambaikan tangan dan melangkah keluar dari studio, meninggalkan aroma parfumnya yang tertinggal di udara.
Kirana berdiri terpaku di tengah ruangan. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena tantangan yang baru saja dilempar pria itu. Ia menatap lens cap di tangannya, lalu meremasnya pelan.
Menyebalkan, batin Kirana. Tapi tunggu aja besok, Keenan Pradipta. Gue bakal buktiin kalau 'robot kaku' ini bisa bikin lo kagum!