Cahaya matahari sore di Taman Suropati menembus celah-celah dedaunan, menciptakan efek bokeh alami yang sempurna di latar belakang. Bagi Kirana, ini adalah golden hour yang tidak boleh disia-siakan.
Ia berjongkok di dekat akar pohon beringin, secara obsesif melilit selotip hitam di sekeliling kaki tripod agar tidak ada insiden tersandung kabel seperti kemarin. Layar monitor kamera yang ia pegang menampilkan histogram pencahayaan yang nyaris sempurna.
"Oke, Mas Keenan. Posisinya geser ke kiri dua sentimeter. Dagu turun sedikit. Tatap titik di dahan pohon itu, jangan lihat lensa," instruksi Kirana. Suaranya tegas, namun ada getaran tipis yang mengkhianati kecemasannya.
Jari-jari Kirana mencengkeram bodi kamera begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya dangkal. Ini harus sempurna. Nggak boleh ada yang salah. Kalau hasilnya jelek, aku tamat. Bayangan tagihan rumah sakit dan tatapan tajam Pak Bram berkelebat di kepalanya, membuatnya semakin kaku.
Dari sudut matanya, ia melihat Keenan menghela napas panjang. Bahunya yang tadinya tegak kini merosot, menandakan kebosanan yang mulai memuncak.
"Kir, gue udah di posisi ini selama sepuluh menit," keluh Keenan, tangannya menurunkan kemeja linen yang tadinya ia kancingkan setengah. "Apa gue nggak boleh kedip? Atau sekalian gue tahan napas biar makin sinematik?"
"Mas, lighting-nya lagi bagus banget. Kalau Mas Keenan gerak, exposure-nya bisa over," balas Kirana cepat, matanya tidak lepas dari layar monitor. "Sekarang, coba jalan pelan. Bayangkan Mas Keenan lagi merenungi hidup. Tiga, dua, satu... action."
Keenan melangkah. Wajahnya berusaha terlihat kontemplatif, tapi karena terlalu memikirkan instruksi Kirana, ekspresinya justru terlihat seperti orang yang sedang sembelit parah.
"Cut!" Kirana menurunkan kamera, frustrasi. "Mas, bahunya kaku. Santai sedikit. Kita take ulang."
Keenan akhirnya berhenti. Ia berjalan menghampiri Kirana, lalu duduk di bangku taman sambil mengambil botol air mineral dari tasnya. "Kir, dengerin gue sebentar," ucapnya, nadanya mulai serius. "Gue tahu lo jago soal komposisi. Tapi ini vlog perjalanan. Audience gue nggak nonton buat lihat gue merenung kayak patung lilin. Mereka nonton karena gue asik. Lo bikin gue kelihatan kayak robot yang lagi error."
Dada Kirana sesak. Kata-kata Keenan menohok tepat di pusat ketidakamanannya. Robot. Kaku. Ia tahu ia kaku, tapi itu adalah satu-satunya cara ia bertahan. Jika ia tidak mengontrol setiap detail, ia akan gagal. Dan ia tidak boleh gagal lagi.
"Saya cuma mau hasilnya terlihat profesional," balas Kirana, suaranya terdengar lebih dingin dari yang ia maksud. "Kalau Mas Keenan mau yang asal-asalan dan fun, silakan syuting pakai handphone."
Keenan menatapnya, alisnya terangkat. Ia tidak marah, tapi tatapannya membuat Kirana merasa seperti anak kecil yang sedang tantrum. "Gue nggak bilang asal-asalan. Gue cuma bilang, biarlah mengalir. Feel-nya harus dapet, bukan cuma frame-nya."
Sebelum Kirana sempat membela diri, sebuah suara kecil memecah konsentrasi mereka.
"Mas! Bolaku!"
Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berlari kencang dari arah playground. Sebelum Keenan sempat bereaksi, bola plastik berwarna merah menyala itu meluncur deras dan menghantam tulang keringnya.
Buk.
"Aw!" Keenan meringis, memegangi kakinya.
Anak itu berhenti mendadak. Matanya membelalak ketakutan, bibirnya mulai tremor, bersiap menangis karena mengira akan dimarahi orang asing yang ia tabrak.
Kirana panik. "Ya ampun! Frame-nya rusak! Mas, Mas nggak apa-apa? Kita harus reset lagi, cahayanya udah mulai—"
"Kir, hold on," potong Keenan.
Alih-alih marah, Keenan justru tersenyum. Ia memungut bola merah itu, lalu berjongkok agar tingginya sejajar dengan anak tersebut.
"Wah, tendangannya keras banget, Dek," ucap Keenan, nadanya bercanda. Ia mengulurkan bola itu. "Kamu latihan di mana nih? Mau jadi striker timnas nanti?"
Anak itu mengedip, air mata yang tadinya mau keluar seketika hilang. Ia mengambil bola itu dengan ragu. "Mau jadi striker..." gumamnya pelan.
"Boleh tuh," Keenan tertawa kecil, lalu berdiri dan menunjuk bangku taman di kejauhan.
"Nih, coba tembak lagi ke arah sana. Kalau kena bangku itu, kamu juara."
Anak itu langsung bersemangat. Ia mundur beberapa langkah, lalu menendang bola itu dengan sekuat tenaga. Bolanya melenceng jauh ke arah semak-semak, tapi anak itu tertawa lepas, suara yang renyah dan murni. Keenan ikut tertawa, rambutnya yang tadinya ditata rapi kini sedikit berantakan tertiup angin sore.
Kirana berdiri terpaku. Tangannya yang tadinya ingin menurunkan kamera, kini secara refleks menekan tombol record.
Lewat layar monitor, Kirana melihat sesuatu yang tidak bisa ia rekayasa. Cahaya matahari sore menyinari wajah Keenan yang sedang tertawa tulus bersama anak kecil itu. Bokeh dari dedaunan di belakang mereka terlihat magis. Tidak ada pose kaku, tidak ada instruksi. Hanya ada kehangatan yang murni dan autentik.
Jantung Kirana berdetak aneh. Bukan karena panik, tapi karena ia menyadari satu hal: Keenan Pradipta di depan lensanya, untuk pertama kalinya, terlihat benar-benar hidup.
Ia tidak sadar bahwa ia terus merekam sampai ibu anak itu datang dan meminta maaf, serta menggandeng anaknya pergi.
"Kir," panggil Keenan, menoleh ke arah Kirana yang masih mematung. "Tadi ke-rekam nggak? Sorry ya, take-nya beneran rusak."
Kirana menelan ludah, buru-buru mematikan kamera. "T-terekam. Kita... kita pulang aja. Cahayanya udah habis."
Malam harinya, ruang editing di kantor terasa sunyi, hanya diterangi cahaya monitor dan suara dengung harddisk eksternal.
Kirana duduk di kursinya, merasa sangat percaya diri. Ia telah menggabungkan take sinematik yang ia susun dengan susah payah, serta footage "kecelakaan" bersama anak kecil tadi yang ia poles warna dan kontrasnya dengan sangat hati-hati. Ini adalah mahakarya. Ini akan membuat Keenan tutup mulut.
Keenan duduk di sofa kecil di belakangnya, menatap layar monitor dengan tangan bersedekap. Video berdurasi tiga menit itu baru saja selesai diputar.
Kirana berbalik, mencoba menyembunyikan senyum puas di bibirnya. "Gimana? Color grading-nya udah saya sesuaikan sama mood taman. Transisinya halus, dan angle waktu Mas Keenan sama adik tadi, saya pakai slow motion biar emosinya dapet."
Keenan tidak langsung menjawab. Ia menatap layar yang kini menampilkan freeze frame adegan terakhir, lalu menghela napas panjang. Ia menggeser kursinya, menatap Kirana dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Kir," ucap Keenan pelan, suaranya terdengar berat. "Ini YouTube, bukan festival film Cannes."
Senyum di bibir Kirana seketika lenyap.