"Ini YouTube, bukan festival film Cannes."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Keenan. Datar, tajam, dan tanpa filter. Senyum tipis yang sejak tadi berusaha Kirana pertahankan seketika lenyap, digantikan oleh rasa dingin yang merambat cepat dari ujung kaki hingga meremaskan dadanya.
Ruangan editing berukuran tiga kali tiga meter itu tiba-tiba terasa sangat pengap. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dengingan kipas CPU yang bekerja keras, seolah ikut menahan napas mendengar komentar tersebut.
"Maksud lo apa?" suara Kirana terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan. Ia meremas ujung kausnya, jari-jarinya memutih karena tekanan.
Keenan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi ergonomis dan memijat pangkal hidungnya yang tidak gatal. "Maksud gue, video ini terlalu... lambat. Transisi fade-in lo di bagian awal itu tiga detik. Color grading-nya terlalu moody, gelap, banyak teal and orange yang nggak perlu. Penonton gue buka YouTube buat cari hiburan, Ra. Kalau dalam lima detik pertama nggak ada hook yang nendang, mereka bakal scroll. Retensi penonton gue bakal anjlok."
"Tapi itu proses membangun mood Mas Keenan" bantah Kirana, suaranya mulai bergetar. Bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu yang retak di dalam dadanya. "Lo minta video yang bercerita tentang perjalanan ke pantai tersembunyi. Gue butuh transisi itu buat nunjukin kontras antara hiruk-pikuk kota dan ketenangan pantai. Gue begadang Semaleman, Ken. Semaleman! Cuma buat nyocokin tone warna ini biar nggak kelihatan norak!"
Semalaman. Kata-kata itu terasa pahit dan berkarat di lidahnya. Bagi Keenan, itu cuma soal angka, metrik, dan algoritma. Bagi Kirana, itu adalah pembuktian diri. Itu adalah caranya berteriak bahwa ia berharga.
Tanpa sadar, bayangan masa lalu itu menyergapnya seperti monster yang keluar dari lemari. Suara tawa yang mengejek. Layar laptop yang menyilaukan di tengah malam. Komentar-komentar jahat yang menghancurkan harga dirinya hingga ke kepingan terkecil. Karyamu nggak ada harganya. Nggak ada yang mau lihat. Kamu cuma pembuat sampah. Rasa sesak itu kembali, membuat tenggorokannya perih dan matanya panas.
Keenan menatapnya, raut wajahnya yang biasanya percaya diri kini berkerut. Ia tidak bermaksud jahat. Ia hanya terbiasa dengan dunia yang digerakkan oleh engagement dan sponsorship. "Gue hargai usaha lo, Kirana. Sumpah. Tapi kita harus realistis. Algoritma YouTube nggak peduli seberapa artistik video lo kalau nggak ada yang nonton sampai habis. Ini konten traveling, bukan film indie yang bakal tayang di bioskop."
"Jadi menurut lo, semua usaha gue semalaman ini... sampah?" Mata Kirana mulai berkaca-kaca. Ia menatap layar monitor, tempat timeline video yang ia susun dengan penuh cinta kini terlihat seperti lelucon.
"Bukan sampah," Keenan mencoba melunak, tapi nadanya tetap terdengar seperti instruksi bos yang sedang menegur bawahan yang keras kepala. "Cuma nggak pas. Nggak sesuai sama branding channel gue. Lo harusnya tahu target audiens gue siapa. Mereka nggak mau mikir, Ra. Mereka mau hiburan instan."
Hiburan instan. Kirana tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat getir. "Maaf ya, Keenan. Gue kira lo butuh seorang videografer, bukan robot yang bisa nebak isi pikiran penonton dalam hitungan milidetik."
"Kirana, jangan bawa-bawa perasaan..."
"Gue nggak bawa-bawa perasaan!" potong Kirana cepat, suaranya meninggi, memantul di dinding ruangan yang sempit. Tangannya gemetar saat ia meraih mouse, mematikan layar monitor dengan kasar. "Gue cuma melakukan pekerjaan gue dengan standar terbaik yang gue punya! Kalau lo maunya konten murahan yang cuma modal clickbait, thumbnail norak, dan jump cut yang bikin pusing, silakan cari orang lain!"
Keenan berdiri, alisnya terangkat tinggi. "Murahan? Lo pikir gue minta video murahan? Gue cuma bilang ini terlalu pretensius!"
"Pretensius?!"
Suasana memanas. d**a Kirana naik turun, napasnya pendek-pendek. Ia siap untuk meledak, siap untuk membentak balik, siap untuk melontarkan semua rasa frustrasinya—
KRUUYUUUUUKKKK.
Suara itu terdengar sangat keras. Sangat panjang. Dan sangat... lapar. Suaranya bergema, seolah ada mesin motor tua yang sedang dipanaskan di dalam ruangan.
Keduanya membeku.
Keenan yang tadinya terlihat mengintimidasi dengan d**a membusung, kini terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Matanya melirik ke bawah, ke arah perutnya sendiri, lalu kembali menatap Kirana dengan wajah yang seketika memerah padam hingga ke ujung telinga.
Kirana berkedip, air mata yang tadinya sudah menggenang di pelupuk matanya seketika surut, digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa. "Itu... perut lo?"
Keenan berdehem canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menghindari tatapan Kirana. "Ehm. Sorry. Gue belum makan. Tadi siang cuma sempet minum kopi hitam doang pas ngedit teaser."
Hening sejenak. Ketegangan yang tadinya siap meledak itu kini menguap begitu saja, digantikan oleh kecanggungan yang luar biasa. Kirana tidak tahu apakah ia harus tertawa atau tetap marah. Perut YouTuber dengan lima juta subscriber itu baru saja mengalahkannya dalam perdebatan.
"Jadi..." Keenan mencoba mencairkan suasana, tangannya bergerak-gerak mencari analogi. "Dengerin, Ra. Nggak usah pakai marah-marah. Lo tahu nggak bedanya video lo sama... mie instan?"
Kirana menyipitkan mata, menatap Keenan seolah ia baru saja menerima tantangan perdebatan kedua. "Apa? Mie instan murahan?"
"Bukan!" Keenan mengangkat kedua tangannya, panik. "Maksud gue... video lo itu kayak steak wagyu di restoran bintang lima. Cantik, plating-nya rapi, porsinya kecil-kecil tapi mahal, dan butuh waktu buat nikmatinnya. Tapi penonton gue itu kayak orang yang baru saja kelaparan tiga hari di tengah hutan! Mereka nggak butuh plating, Ra. Mereka butuh mie instan! Cepat, panas, pedas, dan langsung kenyang! Nggak perlu mikir!"
Kirana menatap Keenan ngeri-ngeri sedap. Analogi apa itu? "Keenan... itu analogi yang sangat buruk. Dan agak menghina."
"Tapi lo ngerti maksud gue, kan?" Keenan tersenyum miring, senyum yang biasanya ia pakai untuk menenangkan fans-nya di depan kamera. Senyum yang sialnya, kali ini berhasil membuat sudut bibir Kirana berkedut menahan senyum.
Tapi senyum itu hanya bertahan sedetik.
Rasa sakit di d**a Kirana kembali menyeruak, mengubur dalam-dalam momen lucu barusan. Keenan mungkin tidak bermaksud jahat, tapi fakta bahwa Keenan membandingkan karya hatinya dengan 'mie instan' tetaplah sebuah tamparan keras. Kirana merasa kecil lagi. Tidak dihargai. Karyanya tidak punya tempat di dunia Keenan.
"Gue ngerti," kata Kirana pelan. Suaranya kini datar, tanpa emosi. Jauh lebih menakutkan daripada saat ia berteriak.
Ia mulai membereskan barang-barangnya. Memasukkan harddisk eksternal ke dalam tas ranselnya dengan hati-hati, menutup laptop, dan merapikan kabel-kabel dengan gerakan kaku.
"Ra, lo mau ke mana? Kita belum selesai bahas revisi—"
"Nggak ada revisi," potong Kirana. Ia melepas lanyard berwarna hitam dari lehernya. ID card bertuliskan Kirana Larasati - Freelance Videographer itu kini bergantung di antara jari-jarinya yang gemetar. "Lo benar. Gue bukan mie instan. Gue nggak cocok untuk selera murah meriah lo. Lo butuh orang yang bisa masak mie instan dengan cepat, dan itu bukan gue."
Keenan terdiam, senyum di wajahnya lenyap sepenuhnya. Ia menyadari bahwa candaannya tadi tidak menghapus luka yang ia buat. Ia melangkah maju. "Kirana, tunggu. Gue cuma..."
"Gue undur diri dari proyek ini," ucap Kirana tegas. Ia bersiap melempar ID card itu ke atas meja kaca di hadapan Keenan.
Namun, sebelum kartu itu sempat melayang, pintu ruangan editing terbuka dengan suara benturan yang keras, membuat keduanya tersentak.
Pak Bram, bos mereka, berdiri di ambang pintu. Kemejanya kusut, wajahnya pucat, dan keringat dingin terlihat mengkilap di dahinya. Sebuah amplop cokelat tebal terselip di bawah lengannya.
"Jangan ada yang resign dulu!" seru Pak Bram, napasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja lari maraton. Matanya liar menatap Kirana, lalu Keenan. "Simpan dulu ID card-nya, Ra. Kita punya masalah besar. Klien utama kita batal sepihak. Dan kalau kalian nggak dengar kabar dari Twitter lima menit terakhir... karir Keenan bisa tamat."