"Twitter? Maksud Bapak apa?" Keenan mengerutkan kening, tangannya dengan sigap merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Jari-jemarinya menari di atas layar dengan cepat.
Pak Bram mengangguk pucat, keringat dingin di dahinya memantulkan cahaya lampu neon ruang editing. "Rumor kalau lo pake uang donasi panti asuhan buat beli mobil sport, Ken! Klien korporat kita baru saja membatalkan kontrak sepihak karena isu ini. Kalau nama kamu terseret skandal, production house ini bisa bangkrut bulan ini juga!"
Keenan mendengus pelan, tidak terlihat panik sama sekali. Ia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menekan tombol post. "Udah, Pak. Baru aja gue klarifikasi. Itu mobil sewaan buat konten prank bulan depan, dan struk donasi ke panti asuhan udah gue pin di Twitter sejak tahun lalu. Netizen cuma salah tangkep screenshot."
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk meredam badai yang hampir membuat Pak Bram terkena serangan jantung. Kirana menonton interaksi itu dalam diam. Baginya, itu adalah tamparan realitas lainnya. Karir Keenan, dengan jutaan pengikut dan pujian, ternyata berdiri di atas es yang sangat tipis. Satu kesalahan kecil, satu rumor palsu, dan semuanya bisa hancur. Sama rapuhnya seperti hidupnya dulu.
Pak Bram menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kelelahan. Ia menatap amplop cokelat di tangannya, lalu beralih menatap Kirana yang masih menggenggam erat ID card-nya.
"Kirana, simpan kartu itu," ucap Pak Bram, nadanya kembali tegas dan mengikat.
"Tapi, Pak Bram, saya rasa lebih baik saya—"
"Saya nggak mau dengar," potong Pak Bram. Ia melangkah masuk, menatap Kirana lekat-lekat. "Klien utama kita batal. Kita butuh proyek series Keenan ini sukses besar buat nutupin kerugian. Saya tahu kalian bentrok soal visi, tapi saya nggak punya waktu buat cari videografer baru yang bisa ngimbangin kecepatan kerja Keenan."
Kirana menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Jadi, Bapak mau saya tetap di sini?"
"Kamu dapat kesempatan terakhir," tegas Pak Bram. "Besok kalian syuting ulang di taman kota. Kalau hasil editan kamu untuk video besok masih nggak sesuai sama kemauan Keenan, masih terlalu lambat, dan nggak menarik secara algoritma... kamu benar-benar keluar dari production house ini. Saya nggak bisa pertahanin orang yang nggak bisa kerja sama."
Kata-kata itu menghantam d**a Kirana seperti palu godam. Bayangan masa lalu di mana ia disebut tidak kompeten, di mana karyanya dibuang ke tempat sampah, kembali berputar di kepalanya. Tangannya gemetar, namun ia memaksakan diri untuk menegakkan punggung. Ia tidak akan membiarkan mereka melihatnya hancur. Tembok pertahanannya kembali dibangun, bata demi bata, dingin dan kokoh.
"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Kirana. Suaranya datar, tanpa getaran emosi sedikit pun. Ia mengalungkan kembali ID card itu ke lehernya. "Saya akan berikan hasil yang sesuai dengan standar algoritma Mas Keenan."
Pak Bram mengangguk puas, lalu menepuk bahu Keenan sekilas. "Selesaikan masalah kalian. Saya mau video ini jadi masterpiece yang viral." Setelah itu, bos mereka berbalik dan meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan bunyi klik yang menggema.
Hening.
Keenan menatap Kirana, rahangnya mengeras. "Lo nggak usah maksa diri kalau emang nggak sreg sama gaya gue, Ra."
"Saya profesional, Mas Keenan," balas Kirana dingin, matanya menatap lurus ke depan, menghindari tatapan pria itu. "Selamat malam."
***
Pukul dua pagi.
Kantor production house itu sudah sepi dan gelap, menyisakan ruang editing di sudut yang masih bermandikan cahaya biru dari layar monitor. Kirana duduk membungkuk, bahunya tegang seperti batu karang yang dihantam ombak. Matanya perih, lingkaran hitam di bawahnya semakin menebal, dan jari-jemarinya menari di atas keyboard dengan gerakan mekanis yang dipaksakan.
Ia sedang membongkar ulang timeline video syuting mereka yang pertama. Ia harus menemukan jalan tengah. Ia harus membuat hook yang cepat di lima detik pertama, memangkas transisi fade-in yang ia banggakan, dan memasukkan jump cut yang dinamis. Setiap kali ia menghapus frame yang menurutnya indah demi memuaskan algoritma, ada sedikit bagian dari hatinya yang ikut teriris.
Perutnya berbunyi. Bukan sekadar kruyuk-kruyuk kecil, melainkan protes keras yang menuntut diisi. Kirana menghela napas, menyelamatkan project-nya, dan menyeret langkah yang terasa berat menuju minimarket di seberang kantor.
Lima belas menit kemudian, ia kembali ke mejanya dengan sebuah mangkuk styrofoam berisi mie instan rasa kari ayam. Uap panas mengepul, membawa aroma gurih yang menyengat hidung. Kirana menyedot mie itu dengan cepat, tidak peduli pada keanggunan. Ia hanya butuh energi untuk bertahan hingga matahari terbit.
Tiba-tiba, pintu kaca ruang editing terbuka.
Kirana tersedak. Ia terbatuk keras, memukul-mukul dadanya sambil meraih botol air mineral. Saat pandangannya yang berair akhirnya fokus, ia melihat Keenan berdiri di ambang pintu. YouTuber itu mengenakan hoodie abu-abu, rambutnya berantakan, dan menenteng kantong plastik hitam.
Mata Keenan terbelalak melihat mangkuk styrofoam di meja Kirana. Ia menatap mie itu, lalu menatap Kirana, lalu kembali menatap mie itu.
"Lo..." Keenan menunjuk mangkuk itu dengan jari telunjuknya, suaranya terdengar ragu. "Lo beneran makan mie instan?"
Kirana meletakkan garpu plastiknya perlahan. Ia menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu menatap Keenan dengan tatapan datar. "Saya lapar, Mas Keenan. Mie instan cepat saji, jadi saya bisa segera menyelesaikan revisi ini."
Keenan meringis. Rasa bersalah yang sejak tadi ia pendam sejak pertengkaran mereka kini menamparnya keras. Ia melangkah masuk, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ehm... sorry soal analogi tadi malam. Gue cuma bercanda, Ra. Maksud gue, audiens gue emang butuh sesuatu yang fast-paced, tapi bukan berarti karya lo nggak bernilai."
"Saya tahu maksud Mas Keenan," potong Kirana, suaranya tetap formal dan menjaga jarak. "Cepat, panas, dan langsung kenyang. Tapi saat ini, saya hanya butuh panas dan kenyang agar tidak pingsan di depan laptop."
Keenan terdiam. Wanita di depannya ini benar-benar telah membangun benteng es setebal Kutub Utara. Ia tahu ia yang salah karena terlalu blak-blakan, tapi melihat Kirana menutup diri seperti ini membuatnya merasa seperti orang jahat.
Dengan canggung, Keenan melangkah mendekati meja Kirana. Ia meletakkan kantong plastik hitam yang ia bawa ke samping keyboard.
"Gue... tadi mampir beli sate ayam di depan stasiun," gumam Keenan, matanya menghindar dari tatapan tajam Kirana. "Gue kekenyangan, nggak habis. Lo makan aja. Biar nggak makan mie doang. Lambung lo bisa protes."
Sebelum Kirana sempat menolak, Keenan juga meletakkan sebotol Pocari Sweat dingin yang berembun di sebelah mangkuk mie.
"Dan minum ini. Biar nggak seret," tambah Keenan cepat. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya, terlihat salah tingkah. "Udah ya. Gue cuma mau ngambil harddisk eksternal gue yang ketinggalan. Jangan tidur di sini, Ra. Nanti lo jadi zombie, channel gue dikira bikin konten horor prank hantu kantoran."
Tanpa menunggu balasan Kirana, Keenan mengambil harddisk-nya di meja sebelah, lalu berbalik dan melangkah keluar. Namun, tepat sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekilas. "Editan lo yang tadi malam... color grading-nya emang bagus. Gue cuma salah ngomong. Night, Ra."
Pintu tertutup.
Kirana menatap kantong plastik berisi sate ayam dan botol minuman dingin itu. Uap dari mie instannya mulai menghilang, digantikan oleh aroma kacang dan daging bakar yang menguar dari kantong plastik. Tangannya yang tadi gemetar karena kelelahan, kini terasa sedikit lebih hangat saat menyentuh botol Pocari Sweat yang dingin.
Sudut bibir Kirana berkedut. Sangat tipis, nyaris tak terlihat. Ia membenci betapa mudahnya Keenan membuat emosinya berantakan hanya dengan sebungkus sate dan satu kalimat pujian yang canggung.
"Dasar YouTuber aneh," gumam Kirana pelan pada ruangan yang kosong.
Ia membuka bungkus sate itu, memakan satu tusuk sambil menatap layar monitor. Rasa manis dan gurih dari bumbu kacang mengisi mulutnya, memberikan ledakan energi yang ia butuhkan. Dengan perut yang kini lebih tenang dan pikiran yang sedikit lebih jernih, Kirana kembali meletakkan tangannya di atas mouse.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan mengorbankan jiwanya untuk algoritma, tapi ia juga tidak akan membiarkan egonya menghancurkan karirnya. Ia akan menggabungkan hook cepat yang Keenan inginkan, dengan sentuhan sinematik yang menjadi ciri khasnya.
Pukul lima pagi, saat langit Jakarta mulai berubah menjadi kelabu keunguan, Kirana menekan tombol Export.
Video itu selesai. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, Kirana tahu, ini adalah karya terbaik yang pernah ia buat di bawah tekanan. Besok pagi, di taman kota, ia akan membuktikan pada Keenan, dan pada dirinya sendiri, bahwa ia bukan sekadar mie instan.
Ia adalah Kirana Larasati. Dan ia siap untuk syuting besar besok pagi.