Matahari pagi di Taman Suropati bersinar cerah, menembus celah-celah dedaunan rindang dan menciptakan pola bayangan estetik di atas jalan setapak. Kirana sudah berdiri di sana sejak pukul tujuh, menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya dengan lapisan concealer yang agak terlalu tebal. Ia tampak lebih rapi dari biasanya, kemeja flanelnya disetrika licin, dan ia sudah siap dengan laptop yang terbuka di atas bangku taman.
Keenan datang sepuluh menit kemudian, membawa dua gelas kopi. Ia tampak segar dalam kaus putih dan celana kargo, siap untuk menghadapi dunia dan algoritma YouTube.
"Selamat pagi, Ra," sapa Keenan, menyodorkan satu gelas kopi. "Nih, iced americano. Biar melek."
"Terima kasih, Mas Keenan," jawab Kirana, menerima gelas itu dengan sopan. Ia segera menutup laptopnya dan menatap pria itu. "Sebelum kita mulai, saya mau tunjukkan konsep revisi editan semalam."
Keenan mengangguk, mendekat ke layar laptop yang kembali dibuka Kirana. Video berdurasi lima belas detik itu berputar. Tiga detik pertama menampilkan hook yang cepat dan dinamis—potongan gambar fast-paced dengan suara langkah kaki dan hiruk-pikuk kota. Namun, tepat saat ketukan musik berubah, transisi itu melembut menjadi pan sinematik yang memukau, memperlihatkan wajah Keenan dengan color grading yang hangat dan elegan.
Keenan menatap layar itu dalam diam. Ia tidak memotong pembicaraan, tidak mengeluh soal durasi, dan tidak menyebut kata Cannes.
"Oke," ucap Keenan akhirnya, mengangguk pelan. "Ini... lumayan. HooK-nya dapet, transisinya juga nggak bikin pusing. Ayo coba eksekusi untuk footage hari ini."
Kirana menghela napas lega, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Baik. Kalau begitu kita mulai dari area rumput di sebelah sana."
Mereka mulai berjalan menyusuri taman. Suasana syuting hari ini terasa jauh lebih cair. Kirana lebih santai memberikan instruksi, dan Keenan yang biasanya rewel soal pencahayaan, kini tampak lebih kooperatif.
"Ra," panggil Keenan tiba-tiba saat mereka berjalan berdampingan. "Lo nggak perlu kaku banget, tahu. Panggil gue Keenan aja. 'Mas Keenan' bikin gue ngerasa tua, padahal umur kita cuma beda dua tahun."
Kirana menatapnya sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan. "Maaf, saya lebih nyaman memanggil Mas Keenan. Sudah terbiasa sopan."
Keenan mendengus pelan, tidak tersinggung. "Kaku. Tapi ya sudahlah, suka-suka lo aja."
Mereka tiba di sebuah area yang teduh, dibatasi oleh semak-semak rindang dan sebuah bangku taman kayu. Keenan menunjuk area tersebut. "Gue mau coba walking away terus noleh ke kamera. Cool guy vibes. Lo follow dari belakang, ya."
"Siap. Action dalam tiga, dua, satu..."
Keenan mulai berjalan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, membusungkan d**a sedikit, dan melangkah dengan ritme yang ia anggap sangat karismatik. Ia bahkan sempat menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap lensa kamera dengan tatapan tajam yang biasanya ia gunakan untuk thumbnail video YouTubenya.
Sangat keren. Sangat sempurna. Sampai sebuah suara geraman kecil terdengar dari dalam semak-semak.
Guk! Guk!
Seekor anjing kampung berbulu cokelat dengan kerah merah melompat keluar dari balik dedaunan. Anjing itu tidak terlihat ganas, justru ekornya bergoyang sangat cepat. Terlihat anjing itu sangat antusias, tampaknya ia mengira langkah Keenan yang berirama adalah undangan untuk bermain kejar-kejaran.
"Guk! Woof!" Anjing itu melompat mendekat, mencoba menggigit ujung celana kargo Keenan.
Keenan membeku. Tatapan cool guy-nya seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi teror murni. "Ra... anjing."
"Diam saja, Mas. Nanti juga pergi sendiri," bisik Kirana, mencoba menenangkan, meski ia sendiri juga mulai mundur selangkah.
Tapi anjing itu tidak pergi. Ia malah semakin mendekat dan melompat lebih tinggi, m******t sepatu sneakers mahal Keenan.
"Ya ampun! Ra, usir! Usir!" Keenan panik. Ia kehilangan semua harga dirinya dalam hitungan detik. Pria yang biasa menjelajahi hutan dan mendaki gunung itu kini menjerit kecil, melompat ke atas bangku taman kayu.
Namun, bangku itu tidak cukup tinggi. Anjing itu tetap melompat-jompat di depannya. Dengan gerakan yang sangat tidak elegan, Keenan memanjat setengah badan ke batang pohon dekoratif di sebelah bangku, memeluk batang kayu itu dengan erat. Kacamata hitamnya miring, rambutnya berantakan, dan napasnya terengah-engah.
Kirana menurunkan kamera dari bahunya. Awalnya, ia merasa kasihan. "Mas Keenan, coba panggil pemiliknya—"
Tapi kata-katanya terhenti di tenggorokan.
Kirana menatap Keenan yang sedang memeluk pohon dengan wajah pucat dan kaki yang bergelayut konyol. Anjing itu kini hanya duduk di bawah, menjilati sepatu Keenan dengan santai. Kontras antara citra cool guy yang baru saja dipamerkan Keenan dengan realitas dirinya yang sekarang memeluk pohon benar-benar di luar kendali.
Sebuah suara snort lolos dari bibir Kirana. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar.
Keenan menatapnya ngeri. "Ra... lo bukannya nolongin gw malah ketawa?!"
Itu adalah titik hancurnya pertahanan Kirana. Tawa itu meledak. Bukan senyum tipis sopan, bukan kekeh kecil yang ditahan. Kirana tertawa lepas. Suaranya renyah, menggema di antara pepohonan taman, memantulkan cahaya pagi yang hangat. Ia membungkuk, memegangi perutnya yang sakit, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Maaf... maaf, Mas..." isak Kirana di sela tawanya, bahunya berguncang hebat. "Tapi... Mas Keenan... memeluk pohon..."
Keenan terdiam.
Rasa paniknya terhadap anjing itu perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang lain. Ia menatap Kirana. Gadis yang ia anggap kaku, membosankan, dan terlalu serius selama berminggu-minggu ini, kini tampak... bercahaya. Mata Kirana yang biasanya teduh dan tertutup kini menyipit indah karena tawa. Pipinya merona merah, dan suara tawanya yang murni terasa seperti melodi yang menghidupkan seluruh taman yang sunyi.
Jantung Keenan berdetak aneh. Bukan karena anjing, tapi karena pemandangan di depannya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Kirana Larasati sangat cantik. Sangat cantik.
"Hey! Boby! Sini, Nak!"
Seorang bapak-bapak jogger berlari mendekat, langsung menarik kerah anjing tersebut. "Wah, maaf ya, Mas. Dia kalau lihat orang jalan cepat, dikira mau main."
Keenan perlahan menurunkan kakinya dari pohon. Ia merapikan kemejanya yang kusut, membetulkan letak kacamata hitamnya, dan berdehem untuk mengembalikan sisa-sisa wibawanya.
"Ehem. Tadi itu..." Keenan memulai, mencoba terdengar sangat profesional meski suaranya sedikit serak. "Gue lagi ngetes refleks lo sebagai videografer. Kalau ada bahaya mendadak, lo harus siap mengamankan kamera. Lo lulus."
Kirana masih berusaha menenangkan napasnya. Ia mengeluarkan tisu dari saku kemejanya, menghapus air mata di sudut matanya yang tumpah karena terlalu banyak tertawa.
"Iya, Mas," jawab Kirana, nada suaranya masih bergetar oleh sisa-sisa tawa, namun matanya menatap Keenan dengan kelembutan yang baru. "Refleks saya sangat bagus. Dan Mas Keenan... sangat menghibur."
Keenan merasa telinganya memanas. Ia cepat-cepat memalingkan wajah, pura-pura sangat tertarik pada semak-semak di sebelahnya. "Yuk. Kita lanjut syuting. Jangan ada lagi yang namanya cool guy."
Kirana tersenyum, mengangkat kembali kameranya. "Siap, Mas Keenan."
Di balik lensa kamera, Kirana merekam Keenan yang kembali berjalan. Tapi kali ini, tidak ada lagi pose sok keren. Keenan berjalan dengan santai, sesekali menoleh ke belakang, memastikan Kirana masih tertawa kecil di belakangnya. Dan bagi Keenan, itu adalah footage terbaik yang ia dapatkan hari ini.