Ruang editing yang dingin itu hanya diisi oleh suara dengingan halus dari harddisk eksternal dan klik mouse yang ritmis. Di luar jendela, matahari sore Jakarta mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan yang menyelinap melalui celah tirai blinds.
Kirana menghela napas panjang, bahunya yang tadinya tegang akhirnya rileks. Ia menekan tombol spacebar untuk menghentikan playback, lalu memutar kursinya menghadap ke samping.
"Nah, render-nya sudah selesai, Mas Keenan," ucap Kirana. Suaranya terdengar tenang, jauh berbeda dengan getaran defensif yang pernah ia tunjukkan beberapa hari lalu. "Ini final cut untuk footage di Taman Suropati. Silakan ditonton."
Keenan, yang sejak tadi duduk di sofa kecil di sudut ruangan sambil pura-pura scrolling ponselnya, seketika menaruh perangkatnya. Ia bangkit dan menarik kursi di sebelah meja Kirana, duduk dengan postur yang ia usahakan agar terlihat santai dan tidak terlalu antusias.
"Oke. Mari kita lihat apakah lo udah ngerti selera pasar," ucap Keenan yang nadanya dibuat-buat cuek.
Kirana hanya mengangguk tipis, lalu menekan play.
Layar monitor utama menyala. Tiga detik pertama video itu meledak dengan dinamika. Potongan gambar fast-paced dari hiruk-pikuk persimpangan jalan Jakarta, dipadukan dengan sound effect langkah kaki dan klakson yang di-mix sempurna dengan ketukan musik lo-fi. Tepat saat musik memasuki drop, transisi itu melembut secara ajaib.
Whip pan yang mulus membawa penonton langsung ke kehijauan Taman Suropati. Color grading-nya hangat, menonjolkan tone emas dari sinar matahari sore yang menembus dedaunan. Keenan muncul di layar, berjalan dengan ritme yang pas, menoleh ke kamera dengan senyum yang karismatik. Tidak ada jeda yang canggung, tidak ada frame yang terbuang sia-sia. Ritmenya sangat YouTube, tapi jiwa sinematik Kirana tetap hidup di setiap komposisi gambarnya.
Keenan mencondongkan tubuhnya ke depan. Pura-pura cuek yang ia bangun tadi runtuh dalam sekejap. Matanya terpaku pada layar, pupilnya memantulkan warna-warna cerah dari monitor. Ia bahkan tidak berkedip saat bagian B-roll dedaunan berputar lambat.
Lalu, video masuk ke bagian akhir. Alih-alih outro yang membosankan, Kirana menyisipkan cuplikan blooper. Layar berubah menjadi black and white, menampilkan Keenan yang sedang memeluk batang pohon dengan wajah panik, sementara anjing kampung terlihat kegirangan sambil melompat-lompat dan menjilati sepatu Keenan. Di sudut layar, terdengar suara tawa renyah Kirana yang terekam oleh mic kamera.
Video berakhir. Layar kembali gelap.
Hening menyelimuti ruang editing.
Di dalam kepala Keenan, alarm peringatan sedang berbunyi sangat keras. Ini gila, batinnya. Transisinya sempurna. Pacing-nya bikin penonton nggak bakal sadar kalau mereka sudah nonton sampai habis. Dan blooper di akhir? Itu emas. Engagement-nya bakal gila-gilaan. Ini adalah video terbaik yang pernah gue punya.
Namun, egonya sebagai seorang kreator dengan jutaan subscriber menolak untuk menyerah begitu saja. Jika ia memuji Kirana habis-habisan sekarang, gadis itu akan jadi besar kepala. Ia akan merasa bisa mengatur channel-nya. Keenan harus menjaga wibawanya. Ia harus tetap menjadi 'bos' yang kritis.
Keenan berdehem pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangannya di d**a. Ia memalingkan wajah, berusaha terlihat tidak terlalu terkesan.
"Lumayanlah..." ucap Keenan akhirnya, nadanya datar dan sok keras. "Untuk ukuran kamu. Nggak seburuk yang gue kira."
Ruangan itu terasa berhenti berputar selama satu detik.
Dulu, kalimat seperti ini mungkin akan membuat Kirana panik, tersinggung, atau bahkan menangis di dalam hati. Tapi sekarang? Kirana hanya menatap profil samping wajah Keenan.
Ia melihat bagaimana ujung telinga pria itu sedikit memerah. Ia melihat bagaimana mata Keenan, meski sudah tidak menatap layar, masih sesekali melirik ke arah monitor yang gelap, seolah enggan melepaskan bayangan terakhir dari video yang baru saja ditontonnya. Kirana tahu persis apa arti kata 'lumayan' dari mulut Keenan Pradipta. Itu adalah bahasa rahasia pria itu untuk berkata: Ini luar biasa, tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakannya.
Alih-alih marah, sudut bibir Kirana terangkat. Sebuah senyum tipis, tahu diri, dan penuh kemenangan kecil terukir di bibirnya.
"Terima kasih, Mas Keenan," jawab Kirana lembut, nada suaranya tidak mengandung racun sedikit pun. "Saya akan jadikan itu sebagai pujian tertinggi dari Mas Keenan. Lain kali saya akan usahakan agar hasilnya lebih dari sekadar 'lumayan'."
Keenan menoleh, sedikit terkejut oleh respons Kirana yang begitu tenang. Senyum tipis di wajah gadis itu membuatnya merasa seolah rahasianya baru saja dibongkar paksa.
"Ehem. Ya... gitu deh," Keenan mencoba mengambil alih situasi. Ia ingin mengakhiri momen canggung ini dengan kembali ke persona cool guy-nya. "Intinya lo mulai ngerti selera pasar. Gue pikir lo bakal ngotot pakai transisi fade-in tiga detik itu lagi."
Untuk menekankan kata-katanya, Keenan memutuskan untuk melakukan gerakan yang ia anggap sangat karismatik. Ia akan menyandarkan kursinya ke belakang, melipat tangan, dan menatap Kirana dengan tatapan mentor yang bijaksana.
Keenan menggeser bobot tubuhnya ke belakang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi putar ergonomic mahal milik ruang editing.
KREEKK.
Suara besi yang protes terdengar sangat nyaring. Roda kursi bagian belakang tiba-tiba kehilangan pijakan di lantai keramik yang licin.
"Whoa—!"
Keenan kehilangan keseimbangan. Tangannya yang tadinya dilipat di d**a terlempar ke depan secara refleks untuk mencari pegangan. Tangannya menghantam meja, dan secara spesifik, siku kanannya menekan dengan keras tumpukan keyboard dan MIDI controller di atas meja.
QUACK!
Suara efek bebek yang sangat keras dan nyaring meledak dari speaker monitor studio yang volumenya masih di-setel maksimal.
QUACK! QUACK! QUACK!
Keenan yang tadi hampir terjatuh ke belakang, kini membeku dengan posisi setengah berdiri, satu tangan memegang tepi meja, tangan lainnya masih menekan tuts keyboard. Wajahnya yang tadinya berusaha terlihat keren kini berubah menjadi tomat matang.
Kirana terpaku selama satu detik, memproses insiden fisik dan audio yang baru saja terjadi. Lalu, ia tidak bisa menahannya.
"Pfft..." Tangan Kirana segera menutup mulutnya, bahunya berguncang. "Maaf... Mas Keenan... itu sound effect dari project yang tadi saya buka."
Keenan perlahan menegakkan tubuhnya, merapikan kemejanya yang kusut dengan gerakan kaku. Ia membuang muka, menolak untuk menatap Kirana. "Gue... gue cuma mau ngetes responsif nggak keyboard ini. Nggak ada hubungannya sama video lo."
"Iya, Mas. Sangat responsif," balas Kirana, suaranya bergetar menahan tawa. Matanya berbinar penuh kegelian.
"Ehem. Gue... gue mau ke ruang break dulu. Ambil air," gumam Keenan cepat. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang jauh terlalu cepat untuk seseorang yang sedang santai. "Lo... lo simpan aja project file-nya. Jangan lupa di-backup buat jaga-jaga."
"Baik, Mas Keenan. Hati-hati jalan," ucap Kirana.
Pintu ruang editing terbuka dan tertutup dengan cepat. Keenan Pradipta, YouTuber dengan lima juta subscriber yang biasa menghadapi ribuan fans tanpa rasa takut, baru saja kabur dari ruang editing seperti dikejar hantu.
Kirana menatap pintu yang tertutup itu, lalu menoleh kembali ke layar monitor. Senyum di wajahnya melebar, tulus dan hangat. Ia meletakkan tangannya di atas meja, memandangi pantulan wajahnya di layar yang gelap.
Jantungnya berdetak dengan ritme yang aneh. Bukan karena takut atau tertekan, melainkan karena ada rasa nyaman yang perlahan tumbuh di antara mereka. Keenan mungkin keras kepala, egonya setebal tembok, dan cara memujinya terbalik-balik. Tapi di balik semua itu, ada sisi canggung yang sangat manusiawi.
Tanpa sadar, Kirana menyadari bahwa ia mulai menikmati hari-harinya bersama pria yang menyebut karyanya 'mie instan' itu.
Tiba-tiba, perutnya berbunyi. Kruyuk.
Kirana tertawa pelan, kali ini benar-benar sendiri. Ia melirik jam di sudut layar monitor. Pukul tujuh malam. Ia sudah lupa makan siang karena terlalu fokus merapikan color grading.
"Kayaknya," gumam Kirana pada ruangan yang kosong, "Gue butuh mie instan."
Ia bangkit dari kursinya, mengambil dompetnya, dan melangkah keluar ruangan. Ia tidak tahu bahwa di lorong luar, Keenan sedang berdiri bersandar di dinding, memegangi dadanya yang berdebar bukan karena hampir jatuh dari kursi, tapi karena senyum Kirana tadi terasa terlalu indah baginya untuk ditatap langsung.