Pukul dua pagi.
Jarum jam di dinding kantor production house itu seolah bergerak dengan beban yang sangat berat. Ruang editing yang biasanya riuh oleh suara diskusi dan tawa, kini hanya diisi oleh dengungan halus CPU dan suara klik mouse yang ritmis. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan cahaya biru dari monitor yang memantul di wajah Kirana.
Kirana mengucek matanya yang perih. Layar monitor mulai terlihat blur, tanda-tanda otaknya menolak untuk diajak kompromi. Mangkuk styrofoam bekas mie instan dari beberapa jam yang lalu sudah bertengger manis di tempat sampah. Kini, ia hanya menyesap air putih dari botol mineral, mencoba membilas rasa gurih penyedap yang masih menempel di lidahnya.
Tiba-tiba, pintu kaca ruang editing terbuka.
Kirana menoleh, sedikit terkejut. Keenan berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kaus hitam yang sama seperti sore tadi, tapi kali ini ia menenteng kantong plastik bening dengan noda merah berminyak di dasarnya. Aroma bawang goreng dan cabai rawit seketika menyeruak ke dalam ruangan ber-AC itu.
"Lo masih di sini?" tanya Keenan, melangkah masuk dan meletakkan kantong plastik itu di atas meja Kirana, tepat di samping keyboard.
"Mas Keenan? Ngapain ke sini jam segini?" Kirana menatap kantong plastik itu. "Itu apa?"
"Ayam geprek," jawab Keenan santai, sambil menarik kursi putar di sebelah Kirana dan duduk. "Gue beli ini buat makan malam, tapi kayaknya kebanyakan. Mubazir kalau dibuang. Satunya buat lo aja."
Kirana menatap Keenan skeptis. Ia ingat betul tadi sore Keenan hanya minum kopi hitam dan tidak menyentuh makanan sama sekali. "Mas Keenan belum makan malam, kan? Setau saya tadi sore Mas Keenan cuma minum kopi."
Keenan mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan kabel mouse yang sebenarnya sudah rapi. "Gue udah makan roti tadi. Udah, makan dulu aja. Mumpung masih anget."
Kirana menghela napas pelan, menyadari bahwa sifat keras kepala pria itu tidak akan berubah meski dipaksa. Ia membuka ikatan kantong plastik itu. Di dalamnya ada dua porsi ayam geprek dengan sambal bawang yang melimpah, lengkap dengan lalapan dan nasi hangat. "Mas Keenan beli dua porsi?"
"Lo duluan aja. Bentar lagi juga gue laper," Keenan mengambil satu kotak styrofoam dan membukanya. "Gue pesen level setan. Biar melek."
Kirana mengambil kotak satunya, yang ternyata level pedasnya jauh lebih manusiawi. "Mas Keenan yakin kuat level setan? Perasaan tadi siang Mas Keenan minta sambal dipisah waktu kita makan siang."
"Siapa bilang gue nggak kuat? Asal lo tahu aja, gue itu tahan pedas. Orang Jawa Timur. Setengah darah gue adalah sambal terasi." Keenan menangkis dengan nada sok percaya diri. Ia mengambil potongan ayam, mencocolnya ke dalam sambal merah pekat, dan memasukkannya ke dalam mulut.
Untuk tiga detik pertama, Keenan mengunyah dengan wajah datar. "Enak nih. Ayamnya empuk."
Namun, di detik kelima, raut wajah Keenan mulai berubah. Rona merah merayap dari leher hingga ke telinganya. Matanya yang biasanya tajam kini mulai berkaca-kaca. Ia menelan ayam itu dengan susah payah, lalu buru-buru meraih botol air mineral Kirana dan meneguknya hingga setengah botol tanpa menuangkannya ke gelas terlebih dahulu.
"Mas Keenan... kepedesan?" tanya Kirana, menahan senyum.
Keenan menggeleng cepat, mengipasi lidahnya dengan tangan. Suaranya terdengar serak dan sedikit berat. "Enggak. Ini... ini pedesnya nendang banget ya, Ra? Gue sih biasa aja. Cuma lagi keringetan aja, AC-nya kurang berasa nih."
Keringat dingin sudah memercik di pelipisnya. Napasnya mulai terdengar seperti orang yang baru saja lari maraton.
Kirana tidak bisa menahan diri. Ia tertawa kecil, bahunya berguncang pelan. "Mas Keenan, itu level sepuluh. Kalau nggak kuat, coba minum s**u buat ilangin rasa pedasnya. Di kulkas pantry masih ada s**u UHT."
"Siapa bilang nggak kuat?" Keenan kembali mengambil potongan ayam, didorong oleh egonya yang terluka. Ia memakannya dengan cepat, lalu langsung terbatuk hebat. "Uhuk! Uhuk! Air, Ra, air!"
Kirana buru-buru menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyodorkannya. "Sudah, Mas. Jangan dipaksa. Nanti lambungnya yang protes."
Keenan menghabiskan air di gelas itu dengan sekali teguk, napasnya terengah-engah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan. "Oke. Gue kalah. Sambal ini curang."
Suasana di ruang editing itu perlahan menghangat. Tawa kecil Kirana dan kekalahan konyol Keenan meruntuhkan sedikit ketegangan yang tersisa dari sore hari. Mereka makan dalam diam yang nyaman, hanya diiringi suara sendok dan garpu plastik yang saling beradu serta dengungan AC.
Setelah makanan habis, Keenan menyeka mulutnya dengan tisu. Ia menatap profil samping wajah Kirana yang sedang kembali fokus pada layar monitor. Cahaya biru dari layar membuat wajah gadis itu terlihat pucat, tapi juga sangat serius.
"Ra, gue penasaran," Keenan memulai percakapan, nadanya lebih lembut dari biasanya. "Lo itu jago banget ngedit. Mata lo tajem banget kalau liat frame, lo tahu persis angle mana yang bagus. Tapi lo selalu nolak kalau diajak muncul di depan kamera. Kenapa lo serius banget sama kamera, tapi takut sama lensanya?"
Jari Kirana yang sedang memegang mouse berhenti bergerak. Ia menatap layar monitor yang menampilkan wajah Keenan di dalam video.
"Dengan kamera, saya yang memegang kendali, Mas," jawab Kirana pelan. Suaranya terdengar rapuh, seolah ia sedang memilih setiap kata dengan sangat hati-hati tanpa menoleh. "Kamera tidak akan pernah merekam saya tanpa izin. Dan... kamera tidak akan mengkhianati saya."
Keenan mengerutkan kening. Ada nada getir yang sangat dalam dari kalimat itu. Kata 'mengkhianati' terasa terlalu berat untuk diucapkan oleh seseorang yang hanya berurusan dengan alat elektronik. "Mengkhianati? Maksudnya, Ra?"
Kirana menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Nggak ada. Cuma... lebih enak di balik layar aja. Saya lebih suka melihat orang lain bersinar."
Keenan menatap Kirana lekat-lekat. Ia merasakan ada dinding tebal yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Tapi di saat yang sama, ia juga merasa momen ini sangat langka. Kirana yang biasanya tertutup dan formal, baru saja membuka sedikit celah tentang perasaannya. Keenan merasa mereka sedang berada di titik yang lebih dekat.
Ingin mengabadikan momen langka ini, atau mungkin hanya ingin pamer pada subscriber-nya bahwa timnya bekerja keras, Keenan mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Eh, momen lo makan ayam geprek jam 2 pagi sambil ngedit ini lucu banget," ucap Keenan santai, mengangkat ponselnya dan mengarahkan kamera ke arah Kirana. "Gue foto buat story Behind The Scenes ya? Fans gue suka lihat sisi struggle tim gue."
Layar ponsel menyala. Ikon kamera terfokus pada wajah Kirana yang masih memegang sendok plastik.
Klik.
Suara shutter ponsel yang biasanya terdengar normal, malam itu terdengar seperti letusan bom di telinga Kirana.
Senyum tipis di wajah Kirana seketika lenyap. Wajahnya memucat dalam sekejap, seolah semua darah telah ditarik dari kulitnya. Napasnya terhenti. Bayangan masa lalu itu datang tanpa diundang—lampu flash yang menyilaukan, tawa yang mengejek, dan rasa malu yang membakar harga dirinya hingga menjadi abu.
Kirana langsung menjatuhkan sendoknya, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menunduk dalam-dalam. Bahunya gemetar hebat.
"Tolong jangan, Mas," suara Kirana terdengar tajam, dingin, dan bergetar. "Tolong hapus fotonya kalau sudah terlanjur."
Keenan membeku. Ponselnya masih terangkat di udara. Ia menatap Kirana yang kini menyusut di kursinya, tampak begitu kecil dan rapuh. Suasana hangat yang baru saja ia rasakan hancur berkeping-keping dalam satu detik.
"Ra? Sorry, sorry!" Keenan buru-buru menurunkan ponselnya, panik. Ia mengetuk layar dengan cepat, menghapus foto itu, lalu membuka folder Recently Deleted dan menghapusnya lagi dari sana. "Gue bercanda. Gue nggak jadi foto. Udah gue hapus beneran, sumpah."
Kirana perlahan menurunkan tangannya. Matanya merah, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Tatapan yang ia berikan pada Keenan kini sepenuhnya berbeda. Dingin. Berjarak. Tembok pertahanan yang tadi sempat retak, kini kembali dibangun dengan beton dan baja.
"Saya rasa editing-nya sudah cukup untuk malam ini," ucap Kirana. Ia menyimpan project file dengan gerakan yang cepat, lalu menutup laptop-nya. "Mas Keenan sebaiknya pulang istirahat. Besok kita punya jadwal pagi."
"Ra, gue minta maaf. Gue nggak tahu—"
"Selamat malam, Mas Keenan."
Kirana berdiri, menyampirkan tasnya ke bahu, dan berjalan melewati Keenan tanpa menatapnya. Langkahnya cepat, terdengar gema sepatu ketsnya di lantai keramik lorong yang kosong.
Keenan berdiri sendirian di ruang editing yang kini terasa jauh lebih dingin dari seharusnya. Kantong ayam geprek yang baru setengah habis teronggok di meja, sambal level sepuluhnya masih memanas di udara.
Ia menatap layar ponselnya yang masih menampilkan aplikasi kamera. Dengan tangan gemetar, Keenan menutup aplikasinya dan memasukkan ponsel itu ke saku.
Ada sesuatu di dalam diri Kirana yang baru saja ia sentuh tanpa sengaja, sebuah luka yang tersembunyi jauh di balik senyum tipis dan etos kerja yang keras. Dan Keenan menyadari, bahwa luka itu bukan sesuatu yang bisa disembuhkan dengan pujian tsundere atau sebungkus ayam geprek jam dua pagi.
Pintu ruang editing tertutup di belakang Kirana, meninggalkan Keenan dalam keheningan yang panjang.