Pukul tujuh pagi. Ruang editing kantor production house itu masih sepi, menyisakan hanya dengungan halus dari pendingin ruangan. Kirana sudah duduk di mejanya sejak pukul enam lebih lima belas menit. Ia sengaja datang lebih awal, berharap bisa menghindari pertemuan tatap muka yang pasti akan terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
Namun, usahanya sia-sia.
Pintu kaca terbuka. Keenan melangkah masuk, membawa dua kantong kertas berisi sarapan dan minuman. Pria itu tampak kurang tidur, ada bayangan samar di bawah matanya, dan senyum biasanya yang karismatik kini terlihat pudar, digantikan oleh raut wajah yang penuh rasa bersalah.
"Ra, pagi—"
"Selamat pagi, Mas Keenan," potong Kirana cepat. Suaranya datar, tanpa intonasi, tanpa senyum. Matanya tetap terpaku pada layar monitor yang menampilkan timeline video mentah. "Kalau tidak ada instruksi shot list baru, saya akan langsung lanjut color grading untuk footage taman kemarin ya Mas."
Keenan terdiam. Mulutnya yang tadinya ingin mengucapkan kata maaf untuk kesekian kalinya, tertutup kembali. Ia mengangguk kaku. "Oke. Good morning."
Kirana bisa merasakan tatapan Keenan yang tertuju padanya selama beberapa detik sebelum pria itu berbalik menuju ruangannya sendiri. d**a Kirana terasa sesak. Ia tahu ia bersikap terlalu dingin, tapi tembok pertahanannya belum siap untuk diturunkan. Insiden semalam—suara shutter kamera, kilatan layar ponsel, dan rasa panik yang mencekik—masa lalu itu masih terasa segar, terlalu perih.
Sepanjang pagi, Keenan tidak memaksa. Ia tidak datang ke meja Kirana untuk mengulang permintaan maafnya yang terdengar klise. Sebagai gantinya, pria itu memilih bahasa yang lebih sunyi.
Tepat pukul sepuluh, sebuah gelas iced latte dengan oat milk—minuman favorit Kirana yang harganya cukup mahal—muncul di sudut mejanya, di samping tumpukan harddisk. Tidak ada catatan tempel, tidak ada ucapan. Hanya kopi itu.
Sepuluh menit kemudian, saat Kirana hendak memindahkan hardcase kamera yang berat ke ruang penyimpanan, Keenan sudah ada di sana. Tanpa sepatah kata pun, pria itu mengambil alih tas berat tersebut, membiarkan Kirana hanya membawa tas laptopnya.
"Terima kasih, Mas," ucap Kirana singkat, menatap lantai.
"Sama-sama," balas Keenan pelan.
Tidak ada kehangatan. Tidak ada pencairan suasana. Kirana tetap menjaga jaraknya, berjalan dua langkah di belakang Keenan, membiarkan pria itu menanggung beban fisik sebagai bentuk penebusan dosa yang tak terucapkan. Keenan merasa seperti sampah. Ia tahu, kata-kata maafnya tidak akan pernah cukup untuk menghapus rasa takut di mata Kirana semalam.
***
Pukul empat sore.
Mereka berada di ruang storage, terpaksa berbagi ruang sempit yang dipenuhi rak-rak berisi lensa, tripod, dan kabel. Keenan sedang menggulung kabel XLR, sementara Kirana sedang membersihkan sensor kamera mirrorless miliknya. Keheningan di antara mereka terasa tebal, hampir mencekik.
Keenan tidak bisa menanggungnya lagi. Ia butuh mencairkan suasana, meski hanya sedikit. Ia butuh melihat Kirana yang semalam tertawa kecil karena ayam geprek, bukan Kirana yang kini tampak seperti patung es.
"Ra," panggil Keenan tiba-tiba, suaranya memecah keheningan. "Lo tahu nggak, kenapa subscriber pertama gue itu cuma dua belas orang? Dan sebelasnya adalah akun palsu milik nyokap gue?"
Tangan Kirana yang sedang memegang blower kamera berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, tapi telinganya menangkap. "Tidak tahu, Mas."
"Karena video pertama gue itu... bencana total," lanjut Keenan, mencoba membuat nadanya terdengar ringan, meski hatinya berdebar cemas. "Judulnya 'Tutorial Nasi Goreng Kampung Ala Bintang Lima'. Gue syuting di kos-kosan. Gue lupa nyalain external mic, jadi suaranya cuma rekaman angin AC yang kresek-kresek."
Kirana tetap diam, tapi bahunya yang tadinya tegang, turun sedikit.
"Terus," Keenan melanjutkan, tertawa kecil pada kenangannya sendiri, "pas gue lagi sok keren ngaduk nasi di wajan, kompornya meledak kecil. Api nyambar minyak. Gue panik, lempar spatula, dan tanpa sadar keluarin kata kata sumpah bahasa Jawa yang sangat ngga pantas. Footage-nya terekam jelas. Wajah gue pucat pasi, rambut gue gosong di bagian ujung, dan di akhir video... gue duduk di lantai makan nasi goreng dari pesan GoFood karena nasi goreng bikinan gue udah ngga karuan bentuknya."
Sebuah suara kecil lolos dari bibir Kirana. Pfft.
Ia segera menutup mulutnya dengan punggung tangan, memalingkan wajah agar Keenan tidak melihat pipinya yang merona. Itu bukan tawa lepas, hanya sebuah dengusan kecil yang tidak sengaja. Tapi bagi Keenan, itu adalah suara terindah yang ia dengar sepanjang hari ini.
"Video itu nggak pernah gue upload," Keenan tersenyum miring, menatap profil samping Kirana. "Tapi dari situ gue belajar. YouTube itu bukan soal jadi sempurna di depan kamera. Tapi soal berani kelihatan bodoh."
Kirana perlahan menurunkan tangannya. Ia menatap layar kamera di hadapannya, lalu menatap Keenan. Senyum tipis yang tadi berusaha ia tahan, kini memudar, digantikan oleh tatapan yang lebih dalam.
"Kenapa Mas Keenan tetap lanjut bikin video YouTube?" tanya Kirana pelan. "Kalau video pertama saja seburuk itu."
Keenan meletakkan gulungan kabelnya. Ia menyandarkan punggung ke rak besi, menatap langit-langit ruang storage yang remang-remang. Senyum di wajahnya lenyap, digantikan oleh keseriusan yang jarang ia tunjukkan.
"Karena gue butuh sesuatu yang murni milik gue," ucap Keenan, suaranya terdengar serak. "Dulu... sebelum YouTube, gue punya band. Midnight Sky. Gue sama temen-temen gue udah main di kafe-kafe kecil selama tiga tahun. Sampai suatu hari, kita dapat tawaran kontrak dari label besar."
Kirana menatapnya, tidak berkedip.
"Di hari penandatanganan kontrak," Keenan menelan ludah, "tiga teman gue itu udah tanda tangan di belakang gue. Mereka ganti nama band jadi Sky High, dan mereka nggak butuh gue. Gue ditinggalin begitu aja."
Keenan menatap tangannya sendiri. "Gue mulai YouTube karena gue trauma dikhianati. Di depan kamera, gue yang pegang kendali. Gue yang nentuin angle, gue yang nentuin cerita. Nggak ada yang bisa ninggalin gue, dan nggak ada yang bisa ngerubah narasi di belakang punggung gue kalau gue yang jadi pemeran utamanya."
Ruangan itu kembali hening. Hanya terdengar suara AC yang berdesir pelan.
Kirana merasakan sesak di dadanya. Kata-kata Keenan bagaikan cermin yang memantulkan jiwanya sendiri. Keenan butuh kendali karena takut dikhianati oleh teman. Kirana butuh kendali di balik kamera karena ia pernah hancur lebur saat seseorang merekamnya tanpa izin, saat privasinya dirampas dan diumbar ke ribuan orang asing.
Bibir Kirana bergetar. Ia ingin bercerita. Ia ingin memberitahu Keenan tentang Reno, tentang video viral yang menghancurkan harga dirinya, tentang ayahnya yang meninggal karena serangan jantung saat melihat layar ponsel. Kata-kata itu sudah ada di ujung lidahnya, mendesak untuk keluar.
Tapi bayangan lampu flash yang menyilaukan itu kembali menyergapnya. Napasnya tercekat.
"Saya..." suara Kirana terdengar parau. Ia menunduk, memeluk tubuh kameranya erat-erat. "Saya mengerti kenapa Mas Keenan suka kontrol. Tapi..." Ia menarik napas gemetar. "Tapi kadang, kontrol itu cuma ilusi, Mas. Seberapapun kuatnya kita sebagai pemeran utama... kita nggak bisa ngontrol apa yang dilakukan orang lain sama kita."
Keenan menatap Kirana. Ia melihat bahu gadis itu bergetar halus. Ia melihat air mata yang tertahan di pelupuk mata Kirana, menolak untuk jatuh.
Keenan tahu, ada monster di masa lalu Kirana yang jauh lebih gelap daripada miliknya. Dan ia juga tahu, ia tidak berhak memaksa monster itu keluar hari ini.
Perlahan, Keenan melangkah maju, namun ia berhenti tepat dua meter dari Kirana. Ia tidak menyentuhnya. Ia tidak mengeluarkan ponselnya. Ia hanya berdiri di sana, memberikan ruang, memberikan rasa aman.
"Oke," ucap Keenan lembut, suaranya penuh dengan ketulusan yang tidak dibuat-buat. "Kalau lo belum siap cerita, gue nggak akan maksa. Gue nggak akan nanya lagi."
Keenan menatap mata Kirana yang masih menunduk. "Tapi... gue di sini, Ra. Kalau lo butuh. Kapan pun."
Kirana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, matanya masih terpaku pada lantai.
Jarak di antara mereka masih ada. Tembok es itu belum sepenuhnya runtuh. Tapi untuk pertama kalinya sejak insiden semalam, Kirana tidak merasa sendirian di dalam ruang storage yang sempit itu. Dan Keenan belajar satu hal penting hari ini: cinta dan kepercayaan tidak dibangun dengan memaksa seseorang membuka pintu, melainkan dengan duduk di depan pintu itu, dan menunggu sampai mereka siap membukanya sendiri.