Pagi telah datang menggantikan malam, sinar mentari pagi mulai menyinari memberi kehangatan. pagi ini kiara mulai bersekokah, seperti biasanya dia sudah bangun sejak subuh tadi untuk mempersiapkan perlengkapan sekolah nya. teribasa melakukan semua nya sendiri sejak kecil
membuat kia tidak bergantung kepada orang lain. kia sudsh terbiasa menyiapkan nya sendiri, tak pernah ada sapaan hangat dari sang ibu tiri, ya karena memang kia di tinggal kan ibu kandung nya sejak ia baru di lahirkan dan sang ayah juga memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda dan setelah usia nya satu tahun ibu tirinya mengandung dan melahirkan bayi perempuan cantik dan membuat semua perhatian sang ayah terbagi dua dan sejak saat dia berusia 3 tahun ayahnya mengabaikan nya. ia menyadari sekarang dia sudah menikah dia harus belajar lebih mandiri lagi dari sebelum nya.
pagi ini althar pun sudah siap berangkat dengan setelan kerjanya, membuat aura ketampanan nya terpampang jelas sehingga gafis manapun yang melihat ketampanan nya akan merasa tergila-gila padanya. gadis mana yang tak terpana melihat ketampanan nya itu. sosok yang terlihat begitu sempurna di mata kaum hawa. tampan, mapan dan sukses, begitu juga dengan kia meskipun usia mereka terpaut tujuh tahun tapi tidak membuat pesona althar ber kurang di matanya. justru kia lebih suka menatap wajah tampan suaminya dari pada menatap wajah-wajah teman sebaya nya.
bukan tak pernah ada lelaki yang mendekati dan menyukai nya hanya saja kia lebih mementingkan berbincang dengan sahabat nya di bandingkan berkencan dengan anak lelaki sebayanya.
kini kia sedang menunggu althar di ruang makan terlijat dengan jelas di atas meja makan sudah di suguhkan nya kopi hitam kesukaan althar dan nasi goreng buatan nya.
" pagi mas, udah ganteng aja " senyum kia.
" mas sarapan dulu ya kia udah bikinin mas kopi dan nasi goreng untuk mas " ajak nya sambil memberikan kode tangan mengajak sang suami untuk sarapan.
" terimakasih kia, seharusnya kamu nggak perlu repot-repot membuat nya kan ada si bibi " ucap althar pada kia.
" ya elah mas nungguin bibi kelamaan bukan nya datang tepat waktu yang ada ntar kita terlambat berangkat nya " sahut kia.
" em kia " panggil althar.
" iya mas " jawab kia.
" apa boleh aku meminta sesuatu " tanya althar.
" apa ? "
kia bingung melihat ekspresi wajah althar yang meminta sesuatu padanya padahal kan althar tau dia tak punya apa-apa bahkan keluarga pun yura rasa dia sudah tidak punya harapan satu-satunya saat ini hanyalah althar.
" mas mau minta apa " ucap kia mengulangi pertanyaan althar tadi.
" jangan panggil mas dong panggil sayang gitu kek " ucap althar sambil nyegir.
" ya tuhan ku pikir apa tadi " ucap kia dengan menarik nafasnya dan membuang nya kasar.
" hehehe aku merasa tak suka kau panggil mas kalau kau panggil mas suami tersayang baru aku suka "cengiran edan althar membuat kia malu.
" hem, baiklah kalau begitu mas suami ku tersayang bisakah kau mengantar ku berangkat sekolah dan aku juga ingin meminta uang jajan ku padamu " ucap kia tersenyum pada althar.
" apa uang jajan yang ku berikan kemarin habis ? " tanya akthar,bukan nya dia perhitungan atau pelit tapi dia hanya mengetes saja seberapa hemat nya kia.
" ada sih tapi kalau untuk pulang naik bis nggak cukup " ucapnya menundukkan pandangan nya karena takut pada althar.
melihat ekspresi wajah masam kia althar si buat gemes dan rasanya hasrat nya itu ingin sesegera mungkin menerkam kia.
" sepertinya kau hilang ingatan bukan kah aku sudah memberikan mu karu kredit ? " tanya althar sambil terkekeh.
mendengar ucapan althar sontak terkejut dan terkekeh malu.