Tristan membaca rancangan yang dikirim Evelyn sebelum berangkat ke kantor. Ia memeriksa bagian yang menyebut rumah dan dua mobil, kemudian berhenti pada namanya sendiri di sebelah nama Sherly.
Dua tahun yang lalu, ia menandatangani dokumen lain dengan perasaan bahwa mungkin kehidupan akan menjadi lebih mudah jika ia berhenti mempertanyakan keputusan keluarga.
Ternyata menikah tanpa memperhatikan keinginan sendiri tidak membuat siapa pun terlindungi dari kecewa.
Ia menandai satu bagian yang perlu diperjelas, lalu membawa catatan itu ke pertemuan bersama Evelyn. Pengacara tersebut menanyakan apakah ada sesuatu dalam kesepakatan yang tidak lagi sesuai dengan keinginannya.
"Tidak. Aku ingin memastikan semuanya ditulis dengan jelas."
Mereka membahas bagian yang telah disepakati dan hal yang masih membutuhkan tanggapan pihak Sherly. Tristan tidak menggunakan kabar tentang orang tuanya sebagai alasan menunda seluruh proses.
Ada banyak hal dalam hidupnya yang belum dapat dikendalikan. Menanggapi dokumen yang menunggu tandatangannya bukan salah satunya.
***
Sesudah pertemuan, ia menelepon Sherly pada waktu yang sudah disepakati.
"Aku sudah menanggapi bagian yang diminta," katanya.
"Aku akan memeriksanya dengan pendampingku."
Tidak ada pertengkaran mengenai rumah. Tidak ada ancaman mengambil kembali dua mobil karena mereka sedang marah pada hal lain. Kesepakatan lama tetap menjadi dasar pembicaraan, sementara bagian yang belum selesai diteruskan melalui orang yang menangani.
Sherly terdiam sebentar sebelum berkata, "Aneh, ya."
"Apa?"
"Dulu kita tidak bicara sejelas ini sebelum menikah."
Tristan bersandar pada kursi.
"Iya."
"Aku terlalu sering menunggu kamu memahami bahwa aku tidak bahagia. Lalu marah karena kamu tidak menanyakannya."
"Aku juga memilih sibuk daripada menghadapi bahwa kita tidak menjalani kehidupan yang kita inginkan."
Pengakuan itu tidak mengubah pernikahan mereka menjadi kesalahan yang hanya dilakukan satu orang. Mereka sama-sama masuk ke dalamnya dengan harapan yang tidak pernah diperiksa cukup dekat.
Sherly mengembuskan napas.
"Aku ingin hubungan kita setelah ini tidak membuat Ailana terus merasa bersalah ketika senang."
"Aku juga."
Mereka menetapkan satu urusan praktis untuk akhir pekan: memeriksa barang pribadi Tristan yang masih tersimpan di rumah. Ailana akan diberitahu sebelumnya, agar kotak-kotak tidak mendadak terlihat seperti tanda bahwa ayahnya menghilang.
***
Ketika hari itu tiba, Ailana mengawasi dari pintu kamar sambil memeluk bantal.
"Ayah mengambil semuanya?"
"Hanya beberapa barang Ayah yang masih ada di sini."
"Foto juga?"
Tristan berhenti melipat sebuah kemeja.
"Foto yang ada di kamarmu tetap di sana."
Ailana memandang Sherly, yang mengangguk menguatkan jawaban itu.
Mereka memeriksa sebuah kotak bersama. Di dalamnya ada buku, beberapa dasi, dan kabel yang tidak lagi diketahui milik alat apa. Ailana mengangkat kabel tersebut dengan wajah serius.
"Ini boleh ikut Ayah."
Tristan tertawa. "Terima kasih atas izin istimewanya."
Ketegangan sedikit mencair. Ailana mulai bercerita tentang rencana sekolah sambil membantu memilih benda yang memang milik ayahnya. Sherly keluar sebentar untuk mengambil minuman.
Pada dasar kotak lain, Tristan menemukan foto lama dari awal pernikahan mereka. Ia dan Sherly berdiri berdampingan, tersenyum ke arah kamera.
Ia tidak merobeknya atau menyembunyikannya dengan malu. Foto itu bagian dari kehidupan yang pernah dijalani, meskipun bukan akhir yang mereka harapkan.
Ia meletakkannya dengan hati-hati.
***
Sherly kembali membawa nampan dan melihat foto di tangannya.
"Kamu mau membawanya?"
Tristan berpikir sebentar. "Apa kamu ingin menyimpannya di sini?"
"Kita bisa membuat salinan kalau Ailana menginginkannya."
Putri mereka mendekat untuk melihat. Ia menunjuk pakaian Tristan, lalu mengatakan dasinya terlihat terlalu kaku. Sherly tertawa dan mengakui ia pernah mengatakan hal yang sama.
Tristan membiarkan mereka menertawakannya. Untuk beberapa saat, foto itu tidak menjadi bukti bahwa pernikahan mereka gagal. Itu hanya sebuah gambar lama dengan dasi yang buruk.
Mereka sepakat foto tetap disimpan di rumah dan Tristan dapat mengambil salinannya nanti. Ailana meletakkannya kembali tanpa harus diminta memilih siapa yang lebih berhak.
Ketika kotak ditutup, Sherly menuliskan isinya di bagian atas. Tulisan itu memudahkan Tristan mengingat bahwa yang sedang dipindahkan hanyalah barang. Ia masih akan kembali untuk menjemput Ailana sesuai jadwal, dan pintu rumah tersebut tidak perlu menjadi tempat pertengkaran setiap kali ia datang.
Caramella mengantar Susan berangkat pada pagi yang sama. Ibunya memeriksa tas tiga kali sebelum yakin semua sudah dibawa.
"Aku bisa menelepon nanti malam," kata Caramella.
"Ibu juga bisa meneleponmu."
"Kita pilih salah satu, nanti malah saling menelepon bersamaan."
Susan tertawa dan memeluknya. Caramella membalas pelukan itu lebih lama daripada yang direncanakan.
Ia tidak meminta ibunya tetap tinggal.
Sesudah kendaraan menjauh, ia kembali ke apartemen dan berdiri di ruang tamu. Ada cangkir Susan yang sudah dicuci, selimut yang dilipat, dan satu tanaman kecil yang selama beberapa minggu terakhir lebih sering disiram ibunya.
Keheningan datang begitu cepat.
Caramella membuka tirai, lalu memilih membersihkan meja. Ia memutar musik pelan dan menyiapkan makan siang sebelum merasa lapar. Tindakan itu tidak menghapus kegelisahan, tetapi membuat hari tersebut mempunyai bentuk.
Ia tidak harus menunggu malam tiba untuk memutuskan bagaimana akan melewatinya.
***
Menjelang sore, ia keluar membeli bunga murah dari toko dekat gedung. Bukan hadiah dari seseorang. Ia hanya menyukai warnanya dan ingin melihat sesuatu yang segar di meja.
Ketika kembali, Tristan sedang masuk membawa sebuah kotak.
Mereka sama-sama berhenti di depan lift.
"Pindahan?" tanya Caramella.
"Sebagian barang dari rumah Sherly."
Ia mengangguk. Tristan tidak menambahkan bahwa perceraian akan segera selesai karena ia belum mengetahui kapan tepatnya. Namun ia mengatakan dokumen sedang bergerak melalui Evelyn.
"Aku senang kalian membicarakannya dengan jelas," ujar Caramella.
"Ailana ikut memilih kabel yang harus kubawa."
Wanita itu tertawa. "Itu keputusan penting."
Pintu lift terbuka. Mereka masuk bersama dan berdiri menghadap pintu. Caramella memegang bunga, Tristan memegang kotak, dan untuk beberapa saat keduanya hanya dua tetangga dengan tangan penuh.
***
Di lantai mereka, Caramella mengatakan Susan sudah pulang untuk menemui putranya.
Tristan memandangnya. Ia hampir menawarkan diri datang setiap malam, lalu berhenti sebelum kalimat itu keluar.
"Apa kamu punya rencana malam ini?"
"Makan, menelepon Ibu, mungkin membaca."
Ia mengangguk. "Semoga perjalanan beliau lancar."
Caramella memperhatikan kotak yang mulai bergeser di tangannya.
"Kamu sebaiknya menaruh itu sebelum jatuh."
"Iya."
Mereka berpisah di depan pintu masing-masing. Setelah masuk, Caramella meletakkan bunga dalam vas dan menyalakan lampu ruang tamu. Ia tidak merasa ditinggalkan hanya karena Tristan tidak menawarkan mengambil tempat ibunya.
Malam itu ia menelepon Susan sesuai rencana. Ibunya sudah tiba dan sedang sibuk mendengar cerita putranya. Caramella mendengarkan suara kehidupan lain di seberang telepon dan ikut tersenyum.
Di apartemen sebelah, Tristan meletakkan kotak di lantai. Ia memasukkan buku ke rak, menggantung kemeja, lalu menemukan kabel pilihan Ailana.
Ia masih tidak tahu kabel itu milik apa.
Namun untuk pertama kali, mengeluarkan barang dari rumah Sherly tidak terasa seperti upaya menghapus keluarganya. Ia sedang mengakhiri pernikahan, sambil belajar mempertahankan hubungan yang masih menjadi tanggung jawabnya.