— NAMA YANG KEMBALI
Mia tidak tahu bahwa hidup kadang hanya butuh satu pesan untuk menggoyahkan keseimbangan yang susah payah dibangun.
Malam itu, saat ia sedang melipat pakaian, ponselnya bergetar.
Nomor tidak tersimpan.
Mi. Ini aku. Daffa.
Dunia seolah mengecil. Suara mesin cuci, dengung AC, semuanya menjauh.
Tangannya gemetar. Ia tidak langsung membalas. Ia duduk di lantai, bersandar pada ranjang, membaca pesan itu berulang kali.
Aku nggak tahu kamu masih pakai nomor ini atau nggak. Aku cuma mau bilang… aku minta maaf.
Permintaan maaf. Setelah bertahun-tahun.
Kenangan menyeruak tanpa izin tawa, pertengkaran, janji yang tidak pernah selesai. Daffa adalah bagian hidup yang tidak pernah benar-benar ia pahami, karena semuanya berakhir terlalu tiba-tiba.
Mia meletakkan ponsel. Ia menarik napas panjang.
Ia sekarang punya Rendi. Hidupnya stabil. Ia tidak seharusnya membuka pintu lama.
Namun malam itu, ia tidak bisa tidur.
— RETAK KECIL
Rendi menyadari perubahan itu lebih cepat dari yang Mia kira.
“Kamu kenapa akhir-akhir ini sering bengong?” tanya Rendi saat mereka makan malam.
“Nggak apa-apa,” jawab Mia otomatis.
Rendi menatapnya lama. “Kamu selalu bilang gitu.”
Mia terdiam. Ia ingin berkata jujur, tapi kejujuran terasa seperti bom yang siap meledak.
“Aku cuma capek,” katanya akhirnya.
Rendi mengangguk, tapi ada sesuatu yang tidak sepenuhnya percaya di matanya.
Malam itu, setelah Rendi pulang, Mia kembali membuka ponsel.
Maaf aku baru balas. Kamu kenapa hubungi aku?
pesannya akhirnya terkirim ke Daffa.
Balasan datang cepat.
Aku cuma sadar aku pergi tanpa penjelasan. Dan itu salah.
Air mata Mia jatuh tanpa aba-aba.
— DUA SUARA
Hari-hari berikutnya, Mia hidup dengan dua suara di kepalanya.
Yang satu berkata:
Kamu sudah punya hidup yang baik. Jangan rusak.
Yang lain berbisik:
Kamu belum pernah jujur.
Ia membalas pesan Daffa seperlunya. Tidak lebih. Tapi tidak juga berhenti. Setiap pesan terasa seperti melangkah di tanah rapuh.
Di depan cermin kamar mandi, Mia menatap dirinya sendiri.
“Apa sebenarnya yang kamu mau?” bisiknya.
Pertanyaan itu tidak pernah memiliki jawaban sederhana.
Dan di sanalah, tepat sebelum segalanya benar-benar berubah, Mia masih berdiri di tengah meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menunda pilihan sedikit lebih lama.
Padahal, hidup tidak pernah memberi ruang aman bagi orang yang ragu.