— DI ANTARA BENAR DAN AMAN
Hari-hari berikutnya terasa berat.
Mia menjalani rutinitas dengan tubuh yang hadir, tetapi pikiran yang selalu tertinggal. Di kantor, Lila memperhatikannya.
“Kamu lagi kenapa sih?” tanya Lila akhirnya. “Serius, kamu kelihatan capek.”
Mia tersenyum lemah. “Aku cuma lagi banyak mikir.”
“Tentang apa?”
Mia ingin menjawab: tentang pilihan yang tidak pernah benar-benar bersih. Tentang kejujuran yang bisa melukai. Tentang dirinya sendiri yang terlalu lama bersembunyi.
Tapi yang keluar hanya, “Tentang hidup.”
Siang itu, ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Daffa.
Aku nggak mau bikin kamu serba salah. Kalau kamu mau aku berhenti, bilang aja.
Mia menatap pesan itu lama. Ia tahu, diamnya justru lebih kejam.
Aku cuma butuh waktu, balasnya akhirnya.
Balasan datang cepat.
Ambil waktumu. Aku di sini kalau kamu butuh.
Kalimat itu membuat air mata Mia jatuh. Bukan karena Daffa melainkan karena ia sadar, ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang ia butuhkan.
— PENGAKUAN SETENGAH
Malam itu, Rendi datang ke apartemen Mia.
Tidak ada rencana. Tidak ada janji sebelumnya. Ia hanya muncul dengan wajah yang tampak lelah, tapi tekad yang jelas.
“Kita perlu ngomong,” kata Rendi.
Mia mengangguk. Jantungnya berdegup terlalu keras.
Mereka duduk berhadapan. Televisi menyala tanpa suara, hanya menjadi latar agar keheningan tidak terasa terlalu telanjang.
“Kamu berubah,” kata Rendi akhirnya. “Dan aku bukan orang bodoh, Mi.”
Mia menunduk. “Aku nggak bermaksud menjauh.”
“Terus kenapa kamu menjauh?” tanya Rendi. Tidak marah. Hanya ingin tahu.
Mia menarik napas panjang. Kata-kata itu akhirnya keluar, meski gemetar.
“Ada masa lalu yang datang lagi.”
Rendi terdiam.
“Dan aku lagi berusaha ngertiin perasaan aku sendiri,” lanjut Mia. “Aku nggak selingkuh. Tapi aku juga nggak mau bohong.”
Rendi memejamkan mata sejenak. “Kamu masih punya perasaan?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
“Aku… belum tahu,” jawab Mia jujur.
Jawaban itu seperti pisau yang pelan tapi tepat.
Rendi berdiri. “Kalau kamu belum tahu, berarti aku lagi berdiri di posisi yang salah.”
Mia bangkit. “Ren, aku nggak mau nyakitin kamu.”
“Tapi kamu sudah,” jawab Rendi pelan.
Ia mengambil jaketnya, berhenti sejenak di depan pintu.
“Aku cinta kamu,” katanya. “Tapi aku nggak mau jadi tempat singgah.”
Pintu tertutup pelan.
Dan untuk pertama kalinya, Mia tahu:
ia sudah melewati titik di mana semuanya bisa kembali seperti semula.