Gadis terbangun pagi-pagi dan harus cepat ke kampus esok hari. Ia bergegas ke terminal dan tak lupa sarapan tadi. Ia pamit dengan orang tuanya. Ayahnya yang mengantarnya ke terminal.
Akhirnya Gadis duduk di bis. Masih pukul 10.00 WIB. Lama sekali memang naik bis. Berhenti dan mengangkut penumpang. Ia melamun. Tiba-tiba Gadis teringat oleh cowok berjaket itu. Keinginan untuk bertemu semakin besar karena jaket cowok itu terbawa olehnya.
.....
Aku sudah 2 bulan di kampung. Saat ini, aku ingin bertemu Nenek yang baru pindah sejak sebulan yang lalu. Aku ke sana bersama abangku, Bayu. Saat ini, abangku masih bekerja di kantor.
Aku melihat jaketku dan cewek itu di bis yang akan ku naiki.
Segera aku menghampirinya.
“Hai...” kataku tiba-tiba.
“Loh? Kamu yang kemarin kan. Kok bisa?” katanya dengan syok.
“Iya gue yang kemarin. Kok bisa ya. Hmmm mungkin kita jodoh hehehe. Oh iya nama lo siapa?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.
“Nama aku Gadis,Gadis Rainingsih. Kamu?” jawabnya sambil menjabat tanganku.
“Nama gue Boy, Boy Antama. Salam kenal ya.”
Akupun tersenyum.
.....
Akhirnya setelah 2 jam mereka sampai di tempat tujuan.
Akhirnya aku dan Gadis sampai di terminal. Aku melihat sekeliling. Ternyata ramai suasana di terminal. Boy melihat Hana. Ada perlu apa Hana di sini.
Ehh.....
“Arrgggghh sakit.” ujarku tiba-tiba memegangi dadaku.
“Kamu kenapa Boy?” tanyanya seketika melihatku.
“Gak apa Dis.” kataku menyembunyikan sakitku.
Bagaimana ini. Gue terpaksa bohong. Sakau lagi dah gue. Duhh mana gue harus ketemu abang lagi. Gak mungkin lah gue kayak gini. Duh gue gak sanggup berdiri lagi.
“Boy itu ada kursi. Ayo duduk.” katanya mengajakku.
Ide bagus.
Segera aku duduk dan tenangkan diri, ini pasti gara-gara lihat Hana berciuman tadi.
Aku teringat kata dokter aku harus secepatnya minum obat lagi, kalau tidak segera minum, aku akan pingsan. Tak lucu jika aku pingsan di terminal.
Bagaimana ya.
Aku rasa sakitnya sudah agak berkurang. Aku berpaling melihat ke Gadis. Siapa tahu sakitnya akan hilang. Eh tapi malah makin deg-deg an. Dia kenapa ya. Kok dia gelisah ya.
“Dis, lo kenapa?” tanyaku ke dia.
“Hmm sebenarnya aku kebelet hehehe. Tapi aku masa ninggalin kamu di sini.“ katanya dengan sangat jujur.
“Ide bagus eh maksudnya ayok gue juga.” kataku bersemangat.
Akhirnya aku bisa minum obat dengan tenang. Ya bau-bau obat plus kamar mandi lah.
Akhinya aku keluar dari WC.
“Dis, sehabis ini mau kemana?” tanyaku ke Gadis.
“Aku mau ke kostan nih. Besok kan aku ada jadwal ngampus.”
“Owalah memang kostannya dimana, ngampus dimana?”
“Dekat kok. Jalan kaki dari sini saja sampai. Depan kampus. Kampus aku ya di depan kostan. Kalau kamu?” tanyanya kembali kepada aku.
“Gue mau bertemu abang gue. Jurusan?”
“Jurusan Manajemen Ekonomi Bisnis. Ya sudah ya aku duluan. Bye.” dia pun mengakhiri pembicaraan.
“Eh Dis. Tunggu. Boleh minta nomor handphone?” aku pun memanggil dia lagi setelah ia jalan beberapa langkah.
“Boleh. Nih 082189567326.” dia pun memberi nomor handphonenya.
“Oke Dis. Bye.”
.....
Akhirnya Gadis sampai di kostan. Gadis menulis diary.
Dear diary,
Hari ini 24 Februari 2015, aku bertemu kembali dengan pengeran jaketku. Tidak disangka. Aku senang sekali. Dia tadi meminta nomor aku. Uhh. Semoga aku bisa bertemu dia lagi.
Boy-My first love at sign.
Akhirnya Gadis tertidur.
.....
Sementara di kantor Bayu, Bayu sudah menunggu Boy.
“Kemana adek gue ini. Belum sampai juga. Padahal ada yang ingin gue bicarain sama dia. Gue ada kerjaan untuk dia buat observasi sebuah kostan. Di telepon gak diangkat-angkat." ujar Bayu kesal sambil menggenggam handphonenya.
.....
Disisi lain, Boy masih di terminal berjalan tertatih-tatih. Ia bingung karena ia tadi sudah meminum obat tetapi tidak ada efeknya sama sekali. Tidak bisa meredakan nyeri yang dirasakan.
“Aduhhh.....”
Lah penyakit ini susah sekali ya hilang sakitnya. Perasaanku sudah minum obat tadi tapi malah sakitnya tambah parah seakan-akan tak ada efeknya sama sekali.
Bagaimana ini.
Aku harus mencari taxi. Bahaya jika sampai pingsan di sini. Akhirnya dengan langkah gontai, aku mencari taxi. Akhirnya ketemu juga taxinya. Aku sudah tak tahan lagi menahan sakitnya.
“Arggggggghh sakitttttt.” erangku.
“Mas kenapa. Ini tujuan mau kemana?” tanya pak supir.
“Kee rru..maa..hhh saa..kk..ii..t de..pan ka....m..pus paaa..kk.” jawabku terbata-bata.
Hadeh nafas saja sudah susah disuruh ngomong pula.
Tentu saja aku sudah menyiapkan kertas berisi catatan.
(Pak ke rs depan kampus. Kalau ada dokter nanyain saya ke bapak,itu berarti dokter saya. Nama saya Boy Antama. Ongkos taxinya biar dia yang bayar. Tolong ya pak.)
Setelah aku memberi kertas itu ke Pak supir. Aku menelepon dokterku.
“Hallo Boy. Kenapa?” tanya dokter dari seberang sana.
“Doo..kk. saaa..yaaa.. o..t..w.. naa..ikkk ta...xiii ob...aattt gaa....kkk......” jawabku dengan tersendat-sendat.
Dan aku sudah benar-benar tidak tahan lagi.
.....
Sementara di kantor Bayu, Bayu khawatir akan adiknya.
“Adek gue kemana lagi. Benar- benar. Udah gue telepon 30 kali gak ada yang diangkat. Sebenarnya kemana dia. Ada niatan gak sih dia ketemu gue. Mau nyari dia tapi gak tahu nyari kemana. Gue tunggu saja dah sampai jam 4. Lagian ini masih jam 1.” kata Bayu.
.....
Citttttt!!!!. Sebuah taxi melaju dengan cepat akhirnya sampai di RS. Si dokter mencari dan akhirnya bertemu dengan supir taxi yang membawa Boy.
“Anda dokter yang dicari penumpang Boy Antama kan?” tanya supir taxi.
“Ya penumpang yang bernama Boy Antama.” jawab dokter.
“Iya ayo. Pasien anda sudah pingsan.” kata Pak supir memberi tahu.
....