Satu jam kemudian....
Aku sadar akhirnya. Ah Rumah Sakit lagi. Sudah hampir setahun aku bulak balik kesini. Bau rumah sakit sudah merasuk dalam jiwaku. Sudah lama aku di sini bukan berarti aku sudah hampir sembuh karena semakin hari malah aku merasa badanku semakin lemah. Kabel dimana-dimana. Aku sudah seperti komputer saja.Sampai kapan aku akan seperti ini.
Ahhhh dokter kemana ya. Nafasku masih tak beraturan. Aku takut aku sudah mati tapi belum merasakan cinta di hidupku. Akhirnya dokter datang.
“Dokkk ad.....a a....p..aa de...nga..nnnn....” aku mencoba untuk bicara.
Uhuuukk uhuukkkk.
Mungkin sebaiknya aku tidak bicara dahulu.
“Kamu istirahat sebentar Boy. Saya sudah periksa kamu. Tinggal menunggu hasilnya saja. Sebentar lagi hasilnya keluar.” kata dokter mendatangiku.
Memang sebaiknya aku atur dulu nafasku yang tidak tahu sampai kapan bertahannya. Setengahnya mau aku simpan biar jaga-jaga kalau aku sudah kehabisan nafas setelah aku mendengar penjelasan dokter.
Sejam berlalu......
Oke aku siap mendengar penjelasan dokter. Tapi pertama aku harus ngomong sama abang. Pasti dia khawatir sekali.
“Halo bang.”
“Eh adek gue. Kemana aja lo itu. Gue nyariin lo. Gue telepon bibi di kampung katanya lo sudah berangkat jam 10 tadi tapi kenapa sekarang belum sampai juga? Harusnya jam 1 sudah sampai. Lo kemana haaaah?!! Gue sudah nelepon 30 kali gak diangkat pula. Mau gue gorok leher lo?!” jawab abang dengan rasa khawatirnya.
Ya elah abang. Baru juga ngomong 2 kata dia sudah banyak kata. Akhirnya aku berbohong lagi.
“Bang, gue memang berangkat jam 10 tapi kan di jalan macet baru sampai jam 2 tadi. Terus teman gue ngajak makan tapi ketunda setengah jam. Abis itu beneran kok makan. Ini baru pesan makanan. Nanti kalau sudah selesai gue kesana ya.”
“Oke gue tunggu sampai jam 4. Kalau lo gak datang, gue tinggalin lo biar lo kesasar nyari perumahan nenek.” kata abang mengancamku.
“Ye elah jangan dong. Tungguin gue ya bang.” aku memohon.
“Iya. Jangan telat.”
“Iya..” kataku sambil menutup pembicaraan.
Hampir aku kehabisan kata-kata. Akhirnya aku masuk ruang dokter pribadiku.
“Boy. Saya harus menyampaikan hal penting tentang penyakit kamu.” kata dokter.
“Iya dok.”
“Tapi ini akan menimbulkan syok berat. Saya harap kamu tahan ya. Sebenarnya keadaan kamu belum sepenuhnya pulih. Tapi saya harus menyampaikan sebelum terlambat.” jelas dokter.
“Iya dok semoga saya baik-baik saja.” jawabku dengan ragu.
Kayak gak yakin gini gue.
“Boy. Sebenarnya penyakit kamu sudah tak bisa ditanggulangi dengan perawatan biasa. Harus dengan intensif. Jantung kamu semakin lemah dari hari ke hari. Obat biasa tidak kuat untuk memompa jantung kamu dengan normal. Jantung kamu harus segera dipasangi alat berupa alat pacu jantung. Jadi alat pacu jantung itu berguna untuk memompa darah secara efisien ke tubuh kamu. Saya masih punya obat penguat otot jantung dosis tinggi. Ini saya resepkan sementara menunggu persetujuan kamu untuk dilakukan pemasangan alat pacu jantung. Ketika kamu pingsan tadi saya memberi kamu obat suntik penahan. Tapi hanya bertahan 1 minggu. Tapi pengguna obat itu sebenarnya tidak tahan dengan guncangan dan syok berat. Makanya dari itu setelah seminggu kemudian kamu ambil obat ini yang telah saya resepkan ini. Sebaiknya akan lebih baik jika kita harus segera menemukan jantung yang sesuai dengan kamu supaya dilakukan operasi cangkok jantung. Saya sangat menyarankan kamu jangan beraktivitas terlalu berat apalagi stress dan mendengar suara-suara yang mengagetkan karena jantung kamu sudah rusak Boy. Saya harap kamu bisa menjaga semua itu Boy.” jelas dokter.
Aku terdiam mendengar penjelasan dokter. Apa sudah separah itu.
“Uhuuukkk arrgggghh dok sakit.” erang aku tiba-tiba.
Sakit itu datang lagi.
“Tarik nafas Boy. Tenang.. Maaf Boy seharusnya saya memberi tahu diwaktu yang tepat.” ujar dokter meminta maaf.
Aku mencoba menahan sakit itu. Akhirnya sakitnya agak berkurang.
“Gak apa dok. Saya memang harus mengetahuinya cepat atau lambat. Begini saja dok. Saya terima dulu obatnya. Jika memang obat itu tidak bisa lagi baru langsung dilakukan pemasangan alat pacunya dok.” kataku dengan mantap.
“Oke saya mengerti. Tapi setelah menjalani pemasangan alat pacu harus mencari donor yang sesuai. Alat pacu hanya bertahan 1 tahun. 1 tahun cukup untuk mencari donor jantung yang sesuai.” jelas dokter.
“Iya dok saya permisi dulu ya. Terima kasih dok.” kata aku pamit.
“Iya Boy sama-sama.” jawab dokter.
Aku tak menyangka hidup aku bakal berakhir seperti ini. Apa aku bertahan lama setelah semua ini.
......
Akhirnya aku sampai di kantor.
“Oyy dek. Akhirnya lo sampai juga. Lo disuruh Ayah buat ngeobservasi kostan. Tadinya Ayah nyuruh gue tapi lo tahu sendiri gue kan. Kalau gue yang observasi, nanti yang ada cewek pada ngefans karena secara pesona gue lebih baik jauh dari lo,makanya gue gak mau repot gara-gara fans gue bertambah.” kata abang dengan pedenya.
Ya elah abang gue. Kegeeran banget.
“Emang kostan nya dimana?”
“Di dekat terminal. Banyak cewek cantik. Siapa tahu lo ada yang nyantol.” tawar abang.
“Buset. Emangnya gue ini lo bang. Cewek bisa dijejerin.” ejekku.
Itu kostan nya Gadis. Aku bakal ketemu dia lagi.
Yeah..
“Hmmm dek lo kenapa? Muka lo pucet banget.” kata abang sambil melihat ke arahku.
“Ahhh aku gak apa bang. Ayo berangkat.”
. ....
Akhirnya sampai juga di rumah nenek.
Setelah bertemu dengan Nenek sebentar, sehabis itu pulang lagi. Alhasil aku harus istirahat karena kata dokter tadi aku harus banyak istirahat. Hari yang melelahkan. Hari ini aku harusnya senang ketemu Gadis tapi malah aku drop. Ahh ya sudahlah. Mending aku tidur aja dah.
.....