Seminggu kemudian...
Hari ini jadwalku mengambil obat. Setelah aku mengambil obat, aku kembali ke home karena belum ada kegiatan apapun yang bisa aku kerjakan.
Akhirnya aku sampai rumah. Langsung tiduran lagi. Tiba-tiba abang datang.
Ngagetin kayak hantu saja.
“Dek. Tidur saja lu. Ngegym yok.” kata abang tiba-tiba.
Eh abang mau gue mati apa ya. Jawab apa ya gue.
“Males ahh bang. Gue udah keker gini dah. Ngapain gue ngegym lagi.”
“Eh dek. Lo itu bukan keker. Lo itu lemper plus kurus. Ehh iya ya lo kurus. Kok lo bisa kurus dek. Ngapain aja lo di kampung. Ayo lah dek. Udah setahun loh kita gak ngegym bareng. Lagian lo juga gak ngapa-ngapain.” rayu abang.
Mati gue. Apa ya alasannya.
“Ehhh gue diet bang hahaha. Gue gak bisa. Gue ada urusan. Bisnis.”
Alasan yang tepat. Daripada gue langsung KO.
“Urusan apaan sih dek. Ahh lo kagak asyik deh. Ya sudah deh kalau gak bisa. Gue berangkat ya.” akhirnya abang menyerah untuk membujukku.
“Oke bang. Hati-hati.” jawabku sambil melambaikan tangan.
“Ye.” abang membalas lambaianku.
Ahhhh aku kembali tidur.
.....
Gadis P.O.V
Ahh senin pagi yang melelahkan. Banyak juga mata kuliah pagi ini. Eh ada apaan ya di kostan ramai-ramai.
“Kalian kenapa ya?” tanyaku kepada anak-anak seisi kostanku.
“Ini loh Dis. Bulan Maret bakal ada observasi. Pemilik kostan ini tapi diwakili sama anak nya. Dengar-dengar anaknya ada 2 terus cowok. Ganteng-ganteng katanya. Gak sabar nunggu bulan depan.” jawab salah satu temanku.
“Owalah gitu ya. Ya sudah aku masuk dulu ya.” kataku berlalu.
Akupun menulis diary kembali.
Dear diary,
Hari ini tanggal 31 Februari 2015 kuliah sungguh melelahkan. Setelah aku pulang dari kuliahan,aku mendengar teman satu kostanku mengatakan pemilik kostan ini mau observasi tapi diwakili oleh anaknya. Apa aku boleh berharap itu pangeran jaketku ya. Semoga dia.. Aku kangen sama dia. Aku ingin bertemu dengannya.
Boy- My first love at the sign.
.....
Sebulan kemudian.....
Haaaahhh. Aku terbangun setelah tidur panjang semalam. Mana abang ya. Pukul 10 pagi. Wah gila. Aku tidur apa pingsan. Aku pun mandi dan bersiap-siap. Hari ini ada jadwal observasi dan ketemu Gadis. Aku akan menelepon abang dulu.
“Hallo bang. Dimana?”
“Eh dek. Lo itu tidur kayak orang mati saja dibangunin susah banget. Gue lagi makan terus sehabis itu cari buku baru selesai cari buku, gue ke kantor. Jangan lupa kerjaan lo ya. Bye adikku sayang.” jawabnya dengan santai.
Ehh demi apa aku kesana sendirian. Setidaknya kan dia mengantarku sampai depan kostan gitu.
.....
Gadis masih berharap itu pangeran jaketnya. Tapi sebelum bertemu dengannya, ia harus ke toko buku dahulu untuk mencari buku kuliah.
Akhirnya dia sampai di toko buku. Gadis melihat satu persatu buku dan ahh ternyata ketika ia mengambil buku itu ,buku itu dipegang oleh seseorang dan itu Bayu tetapi ia mengira itu adalah Boy karena mereka berdua sangat mirip. Belum sempat Gadis memanggilnya, ia tiba-tiba pergi. Bayu langsung pergi. Sepertinya ia terburu-buru.
Setelah Gadis sampai di kostan, ia ingin melihat siapa yang bicara tapi kostannya sudah ramai. Akhirnya ia menunggu di kamar.
“Selamat siang. Hadirin sekalian. Saya Boy. Saya di sini sebagai perwakilan Ayah saya. Tujuan saya di sini saya akan melakukan observasi dimana nantinya kamar kalian saya datangi satu-satu dan silahkan kemukan pendapat saran dan kritikannya ya. Mohon kerjasamanya ya. Terima kasih.”
Aku tidak sabar menuju ke kamarnya Gadis. Setelah aku ke kamar mereka satu-persatu, tibalah kamar terakhir yaitu kamar Gadis.
“Boy!!!.”
“Hei Gadis.” kataku dengan tersenyum.
“Kok kamu bisa di sini?” katanya dengan bingung.
“Bisaaa dong hehehe.”
“Ihhhh tapi kamu sombong loh.” katanya tiba-tiba.
“Haaaa Dis. Loh sombong gimana?”
“Tadi aku ketemu kamu di toko buku tapi kamu gak lihat aku.” omelnya.
“Seumur hidup gue, gue gak pernah ke toko buku loh Dis. Lo salah lihat kali.” kataku bingung.
“Iya kali ya. Gak mungkin juga sih itu kamu.Eh ternyata kamu anak pemilik kostan ini. Kok kamu gak bilang waktu di terminal?” tanyanya.
“Eh itu. Gue mau bikin kejutan buat lo dah. Eh Dis makan es krim bareng yok.” ajakku.
“Eh seriusan? Mau sih hehehe.” jawabnya dengan senang.
“Yok. Eh gue tutup dulu kegiatannya ya.”
“Hadirin sekalian,telah selesai kegiatan observasinya. Hasilnya tidak ada sama sekali keluhan. Terima kasih atas kerja samanya. Selamat sore.”
.....
“Dis lo suka rasa apa?”
“Aku vanila. Kamu ?” tanya dia balik.
“Gue juga vanila. Enak ya. Terus warnanya juga putih.” jawabku.
“Kamu suka warna putih ya?” tanya Gadis.
“Iya. Soalnya awan warna putih sih.”
“Iya memang awan warna putih. Jadi kamu juga suka awan?” tanyanya.
“Lah lo juga suka awan? Kenapa?” tanyaku ingin tahu.
“Karena dulu waktu aku kecil sering banget piknik. Nah ibu itu sering tiduran terus aku ngikut deh. Terus aku tanya sama ibu....
Flashback mode on.
Ibu lagi lihat apa? Lihat awan kata ibu. Awan itu yang mana bu? Awan itu yang gerak itu, nak. Owalah bagus ya bu. Aku pengen naik. Di balik awan itu ada apa bu? Ada surga sayang. Surga itu apa bu? Surga itu tempat orang baik sayang. Aku mau masuk surga bu. Kalau begitu jadilah orang baik dan selalu nurut sama ibu dan ayah ya. Iyaa bu siap.
Flashback mode off.
“Gitu ceritanya. Kalau kamu?” kata Gadis bertanya kepadaku.
“Kalau gue juga gara-gara ibu sering ngajak gue naik pesawat. Ceritanya sih sama persis yang dibilang sama ibu lo."
Flashback mode on.
Bu itu apa yang gerak-gerak? Itu awan Boy. Bagus ya bu. Aku pengen kesana. Di sana ada apa bu? Hmm apa ya. Ada peri sayang. Peri? Peri apa bu? Peri yang membawa kita ke surga sayang. Surga itu apa ? Surga itu tempat orang baik sayang. Aku mau ke sana bu. Ya sudah jangan nakal kalau Boy mau kesana jadilah anak baik dan nurut sama ayah,ibu terus abang ya.. Iya ibu...
Flashback mode off.
“Gitu ceritanya.” aku tersenyum mengingat semua itu.
“Ibu memang selalu punya cerita bagus. Selalu buat anaknya senang walaupun ceritanya kadang gak masuk akal.” kata Gadis ikut tersenyum juga.
“Iya seandainya Ibu masih ada. Gue rindu. Seandainya memang ada peri di sana. Gue pengen minta antar dia ke surga buat ketemu Ibu.” kataku lagi.
“Eh mati dong. Kamu mah ngomong aneh-aneh aja loh. Ibu kamu..?” tanyanya.
“Ya ibu gue udah meninggal setahun yang lalu.” jawabku dengan murung.
“Maaf Boy udah buat kamu sedih.” kata Gadis.
“Gak apa kali Dis. Gue udah bisa ikhlas kok walau kadang masih rindu juga hehehehe.” kataku berusaha menghibur diri.
“Hehehe. Eh balik yok. Mendung. Parkiran jauh Boy. Nanti kalau kita kehujanan gimana hehehe.” katanya.
“Lo gak suka hujan Dis?”
“Siapa bilang? Aku suka banget malahan. Nama aku kan Gadis Rainingsih. Rain kan berarti hujan. Aku cuma takut kamu sakit saja.” katanya dengan khawatir.
“Gue juga suka hujan kali Dis. Tenang aja.” kataku sambil berusaha untuk kuat.
Fakta terburuknya. Dingin bisa saja membunuh gue.
Tiba-tiba hujan mulai deras.
Tiba-tiba Gadis menarik tangan Boy.
“Boyy menari yukk. Aku pernah melihat di film. Kayaknya enak menari dalam hujan.” ajak Gadis.
“Yuk..”
Akhirnya aku dan Gadis menari dalam hujan.
“Boy seru kan menari sambil hujan-hujanan hehehe.” katanya dengan senang.
Aku melihat wajahnya . Dia tersenyum manis. Termanis yang pernah aku lihat.
“Dis makasih ya. Gara-gara lo aku bisa ngerasain semua ini.”
“Nyantai sajaa kalii Boy. Awas Boy kita kepleset. Pelan-pelan narinya.” kata dia mengingatkanku.
Gadis. Seandainya gue punya banyak waktu. Gue pengen ngelakuin ini gak cuma sekali. Gue pengen ngelakuin ini berkali-kali sama lo. Tapi sayang waktu gue udah gak banyak lagi. Gue bahagia banget bisa kenal lo Dis.
“Dis balik yuk. Udah malam.”
“Yuk.”
.....
Begitu selesai mengantar Gadis. Boy kembali ke rumah.
“Dek. Basah kuyup lo. Darimana saja? Gimana observasinya?” tanya abang.
“Bagus hasilnya. Gue habis ngelakuin nikmatnya dunia. Sangat nikmat. Udah ah gue mau ganti baju.” pamitku sambil tersenyum.
“Haaaaaaaa. Adek gue udah mulai tercemari otaknya. Bahaya. Gue harus ikutin dia.” kata abang.
Di dalam kamar mandi, sambil mandi aku masih membayangkan betapa baiknya Tuhan menciptakan nikmat di dunia ini. Merasakan hujan dan cinta yang begitu kuat hingga aku rasa aku hampir gila. Selesai mandi akhirnya aku ingin mengganti baju. Baru saja aku memegang kenop pintu, tiba-tiba saja dadaku terasa sakit.
“Aduhhhh...” kataku sambil memegangi dadaku.
Ahhhhhhh. Sakit itu lagi. Aduh pasti ini gara-gara hujan-hujanan tadi. Mana aku masih di kamar mandi lagi. Ahhhhh sakit sekali lagi. Aku harus meminum obat. Mana obatnya di laci lagi.
Aku membuka pintu kamar mandi dan aku terkejut. Abang ngapain mukanya seperti syok gitu di depan pintu kamar mandiku.
“Woy bang. Ngapain lo depan kamar mandi gue?” kataku sambil menahan sakit.
“Eh gak apa-apa kok. Udah udah lanjutin lagi deh ituu.” kata abang.
“Apaan sih lo bang. Lanjutin apaan lah. Udah sana keluar. Gue mau pakai baju.” kataku sambil menggelengkan kepala.
Setelah abangku keluar, segera aku menutup pintu kamarku, aku agak setengah berlari mengambil obat. Akhirnya aku minum juga obat itu.
Sakitnya masih bisa aku rasakan. Nyeri yang biasa aku alami tapi kali ini sakitnya membuatku stress. Harusnya aku bahagia aku harusnya bisa bermimpi indah dan tak ada yang menggangguku malam ini. Tapi ternyata.
Ahhhhhh siallll.
Ahhhhhhhhhhhhh sakitnya.
Sampai aku meringkuk di kasur.
Aku mencoba tidur dan akhirnya aku tertidur sebentar.
Aku mendengar abangku masuk ke kamarku. Aku pura-pura tidur saja. Siapa tahu sakitnya hilang.
“Dek. Lo ngapain di dalam. Gila nih anak pasti abis ke diskotik ya. Oyy gak ngajak-ngajak ya. Suara lo sampai segitunya. Dekkk oyyyy. Kok gak ngejawab omongan gue sihhhh. Lah tidur. Gitu amat tidurnya. Meringkuk kayak kucing. Gue selimutin ahhhh. Demam nih anak. Dia ini pasti lah kalau tidur tangan ditindih. Gue benerin tangannya. Gue taruh samping badannya. Kalau gak dibenerin nanti pegel lagi. Kok tangannya dingin terus keringetan sih. Udah ah mending gue ambil kompresan.” kata abangku ngomel tak jelas seperti kereta.
.....
Sementara itu Gadis menulis diary kembali..
Dear diary,
Hari ini tanggal 10 April 2015 anak pemilik kostan itu datang dan ternyata beneran Boy pangeran jaketku. Aku senang sekali. Terus tadi dia ngajak aku makan es krim vanila kesukaan aku. Terus tadi itu hujan, eh dia malah ngajakin aku hujan-hujanan. Terus aku ajak dia nari sekalian aja deh. Pokoknya aku senang banget hari ini. Kapan ya bisa ketemu dia lagi. Aku benar-benar sudah jatuh cinta pada pandangan dengannya.
Love Boy-my first love at the sign
.....