Gadis P.O.V
Aku merasa bosen sekali. Apa aku ketoko buku aja kali ya.
Akhirnya aku sampai di toko buku. Ketika aku mau masuk tiba-tiba aku merasa....
“Awww..”
Pasrah deh. Mending tutup mata deh. Sakit sakit lah ini badan. Lagian tuh orang ngepel tapi gak ada peringatan lantai basah. Eh tapi kok aku gak sakit ya.
Waktu aku membuka mata, ternyata aku tidak jatuh. Aku ditangkap oleh seorang cowok. Kami bertatapan sebentar dan setelah beberapa detik aku terdiam dan aku sadar ternyata itu Boy. Aku rasa ini tak mungkin sekali karena dia lagi ke Jepang.
“Lo gak apa?” katanya sambil memastikanku baik-baik saja.
“Hmmm.” kataku sambil mengangguk dan menatapnya.
“Oke kalau begitu.” dia pun membantuku berdiri dan meninggalkanku begitu saja.
Dia berjalan menjauh. Eh dia pergi. Aku sadar sepenuhnya dan masih sempat memanggil dia.
“Boyyyyy!!!!” kataku sambil berteriak.
Dia menoleh sebentar dan tak lama langsung pergi.
Lah gimana sih. Seperti orang tak kenal saja.
Aku pun kembali ke kostan karena sudah badmood lagi.
Gadispun menulis diary dengan kesal.
Dear diary,
Hari ini tanggal 18 Mei 2015 aku ketemu Boy. Dia bohongin aku ternyata. Dia masih disini. Tapi setelahku telepon tadi nomornya gak aktif. Terus tadi itu siapa? Aku kangen kamu sayang. Kamu baik-baik saja kan di sanaaa.
Boy-My Love
.....
Bayu P.O.V
3 minggu kemudian.
Sudah 3 minggu berlalu, Bayu rindu pada Boy, adiknya.
Ahhhh sudah 3 minggu, aku rindu sekali dengan adikku. Seminggu lagi dia akan kembali.
Yes, aku bisa bertemu dia lagi.
Ah bosen.
Pengen ke toko buku deh.
Eh ngomong-ngomong toko buku, kemarin itu siapa ya. Cewek ceroboh yang memanggil aku dengan sebutan Boy. Lah dia kenal Boy. Boy, adikku bukan ya. Aku harus mencari cewek itu. Ada apa dia dengan Boy.
Aku harus mencari tahu.
.....
Gadis P.O.V
Sudah 3 minggu Boy pergi. Tinggal seminggu lagi aku bisa bertemu Boy.
Ah bosen.
Aku ingin ke toko buku deh.
Beli komik.
Akhirnya aku sampai di toko buku. Memilih komik favoritku tidak lama.
Tiba-tiba setelah aku berbalik, aku melihat seorang berdiri tepat di depanku.
Tiba-tiba ia menarik tanganku dan membayarkan komikku. Dia membawaku keluar toko buku dan membawaku ke gang sempit.
Ah pasti dia mau seperti cowok yang di drama korea itu tapi ia malu-malu.
Dia berhenti.
Dia mendorongku ke tembok lalu dia maju perlahan.
Tangannya sejajar dengan bahuku.
Apaa ini?
Dia berbohong kepadaku apa mungkin memberi kejutan ini.
“Hmmmm Boy. Aku rasa kita bisa melakukan ini pelan-pelan. Kita kan baru jadian sebulan yang lalu. Tapi kenapa coba kamu mesti bohong segala cuma buat ngasih aku kejutan kayak gini. Kamu benar-benar gak tertebak yaa Boy.” kataku menggodanya.
“Sebenarnya siapa lo itu? Ada hubungan apa lo sama adik gue?” tanyanya tiba-tiba.
“Aku Gadis . Adik? Boy jangan bercanda. Ini Boy kan?” kataku dengan bingung.
“Bukan. Ini Bayu, abangnya Boy.” jawabnya dengan singkat dan jelas.
“Haaaaaa???”
.....
Gadis P.O.V
“Sebenarnya lo kenal Boy darimana?” tanyanya.
“Aku kenal Boy di bis 5 bulan yang lalu. Dari situ entah kenapa tanpa disengaja kami sering bertemu. Ya sudah deh kami dekat terus kami pacaran.” kataku menjelaskan.
“Sudah pacaran selama 5 bulan?”
“Abang gak tahu? Gak bang. Kami baru pacaran hampir sebulan ini. Setelah dia nembak aku dan kami resmi pacaran lalu dia ke Jepang.” jelasku lagi.
“Iya dia bilang dia ke Jepang. Tapi dia sama sekali gak ngehubungin gue dan gue telepon gak pernah diangkat juga.”
“Iya bang. Dia juga gak ngehubungin aku dan setelah kutelepon ternyata gak dijawab.” sahutku juga dengan lesu.
“Punya pacar dia gak ngomong, ke Jepang dia gak pernah ngasih kabar. Gue aja gak tahu gimana dia di Jepang. Nanti juga pulang tiba-tiba aja nongol.” keluhnya.
“Kok bisa dia gak ngomong bang?” tanyaku dengan penasaran.
“Dia itu pendiam sekali semenjak Ibu kami meninggal. Apapun yang terjadi dan yang dirasain gak pernah dia bilang sama gue.”
“Dia sedih banget Bang waktu Ibu kalian meninggal. Waktu kami makan es krim itu dia cerita.” jelasku sambil menceritakan persis apa yang diceritakan Boy waktu itu.
“Haaaa gue gak pernah tahu itu. Berarti dia cerita semuanya ke lo?” katanya dengan syok.
“Ya gak juga sih bang. Tapi aku rasa memang ada yang disembunyiin deh.” aku berbicara sambil berpikir.
“Apa?”
“Hmmm aku gak tahu juga sih bang. Aku merasa saja kok dia setiap ketemu aku mukanya agak pucat gimana gitu. Apa dia kelewat putih ya. Gak ngerti juga aku hahaha.” candaku.
“Sebenarnya gue merasa juga iyaa. Setiap diajak ke dokter buat diperiksa dia nolak. Tapi semoga cuma perasaan gue aja Dis.” katanya mengkhawatirkan adiknya.
“Oh iya bang. Balik dulu ya.” pamitku.
“Eh gua anterin Dis. Lagian udah malam. Gak baik.” katanya.
“Ehh ya sudah dehh.”
Setelah sampai.
“Lah ini bukannya kostannya bokap gue?” tanyanya kepadaku.
“Iya bang hehehe.”
“Owalah gitu. Ya sudah deh gue balik ya.” pamitnya.
“Makasih bang.” jawabku.
“Yoi.”
.....
Sementara di Rumah Sakit, Boy masih terbaring lemah. Semenjak dilakukan operasi pemasangan alat pacu jantung, Boy belum sadarkan diri selama 3 minggu.
.....
Setelah 3 minggu berlalu, akhirnya Boy siuman.
Dimana ini. Oh iya ini di Rumah sakit. Gue lihat perawat memberi tahu dokter kalau gue sudah membuka mata.
“Dok, pasien sudah sadar.” kata suster memberi tahu dokter.
“Tolong lanjutkan pemantauan. Jika keadaan membaik dalam 4 jam segera pindahkan ke Rawat Inap.” jawab dokter.
Setelah 4 jam, keadaan Boy makin membaik.
“Pasien keadaannya sudah membaik dok.”
“Pindahkan ke Rawat Inap.” perintah dokter.
Setelah beberapa saat.
“Boy, bagaimana keadaan kamu? Apa sudah baikan?” tanya dokter.
“Iya dok. Lumayan. Sebenarnya apa yang terjadi dok? Terakhir saya ingat saya collaps dan luka ini luka apa?”
“Boy, kamu koma selama 3 minggu. Telah saya lakukan operasi pemasangan alat pacu mengingat jantung kamu sudah tidak sanggup lagi berdetak normal.” kata dokter.
“Haaa 3 minggu. Lama sekali. Jadi apakah operasinya berhasil dok?”
“Iya Boy, operasi berhasil dengan lancar tapi ingat Boy, kita harus segera cepat mencari donor jantung untuk kamu.” dokter mengingatkanku.
“Iya dok. Apa saya boleh pulang sekarang?”
“Jangan dulu Boy. Kamu harus banyak istirahat dulu di sini. Kamu masih dalam masa penyembuhan. Seminggu lagi kamu boleh pulang.”
“Apa saya sudah terbebas dari obat-obatan dok?” tanyaku lagi.
“Belum Boy. Kamu akan berhenti minum obat jika kamu sudah melakukan cangkok jantung.” jawaban dokter yang membuatku lesu.
“Hmmmm kalau begitu bagaimana jika saya mengalami syok berat atau sedih mendalam atau stress? Apa masih mempengaruhi detak jantung saya dok?” tanyaku lagi.
“Boy, jantung yang sehat pun jika mengalami syok berat atau sedih mendalam saja bisa berdetak cepat sekali.” jelas dokter.
“Berarti saya bisa akan langsung mati jika syok berat atau sedih mendalam atau stress?.” simpulanku.
“Boy, kamu jangan khawatir. Jika kamu bisa mengontrol emosi kamu dan kamu tidak stress berkepanjangan dan jangan beraktivitas terlalu berat tidak akan terjadi apa-apa dengan kamu dan jangan lupa jika kamu merasa nyeri d**a hebat dan sering frekuensinya, segera datang ke Rumah Sakit ya.” dokter menyarankanku.
“Iya dok.”
“Nah kamu istirahat dulu ya selama seminggu.” kata dokter lagi.
“Iya dok. Makasih ya.”
“Iya Boy. Sama –sama.”
......
Setelah genap sebulan.
Gadispun menulis diary lagi dengan senangnya.
Dear diary,
Hari ini tanggal 11 Juni 2015 tepat sebulan setelah kepergian Boy ke Jepang akhirnya dia pulang juga. Aku senang banget. Rinduu sekaliii.
Boy- My Love
......
Akhirnya aku kembali juga ke rumah setelah sebulan lamanya terkurung di Rumah Sakit. Yah tapi memang aku benar-benar batal ke Jepang.
“Oy dek. Akhirnya lo balik. Gue kangen banget sama lo. Gimana liburannya?” kata abang sambil memelukku.
“Hey bang. Gue kangen juga sama lo. Keren tempatnya. Sip deh. Gue mau istirahat dulu ya Bang?” kataku pamit ke kamar.
“Gak kangen sama yang lain nih?”
“Haaaaa siapa? Ayah? Ayah aja gak tahu gue ke Jepang.” tanyaku bingung.
“Sok amnesia lo. Pacar lo lah.”
“Ehhhh? Lo tahu darimana gue punya pacar?” tanyaku penasaran.
“Gue gak sengaja ke toko buku terus dia manggil gue Boy karena lo tau sendiri kan kita mirip kalau orang gak teliti ngeliat kita. Langsung gue introgasi dah. Ternyata lo ini gak bilang-bilang punya pacar. Pacar lo cantik juga ya.” goda abang.
“Ih gila lo bang. Punya gue itu.” kataku manyun.
“Heeeh lo itu yang gila. Udah dijodohin malah punya pacar lo. Gilaaa...”
“Oh iya gue belum cerita kalau gue udah diputusin sama Hana. Gila dia itu. Gue udah mutusin dia, eh dia malah bilang gue selingkuh eh terus dia mutusin gue. Lagian sah-sah saja dong gue punya pacar.” kataku gak mau disalahkan.
“Lah maksud lo gimana? Selingkuh?”
“Iya bang. Waktu pertama kali gue kenalan sama Gadis di terminal, masa gue lihat si Hana ciuman sama supir angkot. Kan gila itu namanya. Hahahahha.”
“Haaaaaaa hahhahaha gila tuh cewek murahan amat ciuman sama supir angkot. Lah lo masa di bandingin sama supir angkot. Bagusan amat. Mending sama kucing cocok tuh. Hahahaha.”
“Eh bang. Lo kok samain gue sama kucing sih?” tanyaku protes.
“Iya soalnya lo itu malasan terus anak rumahan yang kerjaannya cuma tidur doang hahaha. Kucing kan begitu hahahaha.” jelas abang.
“Reseh looo yaaaaaa hahahaha. Tapi gue imut juga dehh disamain sama kucing hahahaha."
“Gileeeeee hhahahaha.” abangku ketawa dengan keras.
“Udah ahh gue mau tidur dulu. Temenin gue ya lusa ketemu Gadis.” pintaku.
“Tuh kan tidur hahahaha. Oh iya dehh.”
“Udah ahh.” kata aku menyudahi.
“Iye iye.”
.....
Setelah sampai di kostan, aku dan abang segera menuju ke kamar Gadis. Aku sengaja sembunyi untuk memberi suprise ke dia.
“Dis.” panggil abang.
“Eh iya bang. Sebentar. Eh Bang Bayu. Ada apa ya?” kata Gadis sambil membukakan pintu.
“Gue ada kejutan buat lo.” kata abang.
“Kejutan apaan?”
“Balik dulu dong.” abangku nyuruh dia balik badan.
“Sekarang balik.” dan disaat itu lah aku muncul.
“Heyy sayang..” kataku sambil tersenyum.
“Boyyyyyyy, aku kangen banget sama kamu.” katanya sambil memelukku.
“Aku juga kangen banget sama kamu. Sayang makan es krim yok.” ajakku.
“Ayokkk.”
“Hmmm Bang..”
“Ehhh gue ada urusan di kantor. Next time aja ya.” tolak abang.
“Iya dehhhh.”
.....
Setelah di toko es krim.
“Gimana liburan kamu sayang?” tanyanya.
“Yaa kurang indah tanpa kamu sayang.” godaku.
“Hahahaha kamu iniii. Hmmm aku boleh tanya?” dia mulai bicara serius.
“Iya sayang. Tanya saja sayang.”
“Kenapa abang kamu sampai gak tahu kalau kamu punya pacar?” tanyanya.
“Abang kalau tahu aku udah punya pacar reseh banget. Soalnya aku kan belum pernah punya pacar. Jadi bakal mau tahu terus hahahaha.” jawabku.
“Owalah gara-gara itu. Abang kamu seru juga sih orangnya. Terus kayaknya bisa memperlakukan cewek dengan baik.”
“Hahahaha memang. Dia kan playboy cap kakap. Gampang lah dia ngambil hati cewek. Eh terus kok bisanya kamu kenal sama abang?”
“Oh itu gara-gara di toko buku. Gak tahu kenapa dia tiba-tiba tanya-tanyain aku gara-gara aku manggil dia nama kamu. Sebenarnya aku sempat mengira itu kamu soalnya mirip banget sih. Cuma dia beda sih dari kamu. Gaya nya styles banget.”
“Owalah gituuuu.”
“Hmm Boy. Aku boleh minta sesuatu dari kamu gak?” tanyanya.
“Bolehh.”
“Aku mau kamu selalu cerita kalau kamu ada masalah ke abang kamu. Abang kamu sedih banget loh kamu gak pernah cerita apa-apa ke dia. Janji?” katanya sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
“Oke deh kalau begitu. Yok balik.” aku pun menyambut jari kelingkingnya dan mengajaknya pulang.
Gue gak bisa janji Dis...
“Yukkkk.”
Sampai rumah aku langsung tepar seperti biasanya.
.....