Setelah 2 bulan berlalu.
Aku ingin mengajak Gadis untuk jogging. Ya pemanasan sekalian mencoba jantungku yang sudah dipasangi alat itu kuat atau tidak kalau hanya sekedar jogging.
“Halo Dis?” aku meneleponnya.
“Jadi?”
“Iya Dis. Aku tunggu di lapangan ya.” kataku mengonfirmasi.
“Okey.”
Setelah sehabis jogging...
“Udah lama banget aku gak jogging.” kataku tiba-tiba.
“Lah memang sejak kapan?”
“Sejak setahun dulu. Waktu itu sering jogging bareng abang. Tapi sekarang mah abang sibuk. Waktu itu sempat ngajakin aku nge-gym tapi aku gak mood.”
“Hmmm udah lama banget ya. Setahun yang lalu juga terakhir aku jogging. Sendirian pula. Tapi sekarang gak lagi. Aku bisa melakukan hal-hal yang aku suka bareng kamu,orang yang aku cinta. Aku beruntung banget bisa kenal kamu.” katanya sambil menatapku.
“Aku juga udah lama menunggu kesempatan jogging sama banget. Akhirnya bisa terwujud juga. Aku beruntung bisa miliki kamu sayang.”
“Kamu ngomong gitu serasa udah pernah melihat aku jogging dan serasa udah lama kenal aku saja deh hehehe.” katanya dengan tertawa.
“Hehehehehe. Makan yuk. Aku pengen ajak kamu ke restoran favorit aku sama abang.” ajakku.
“Yukk..”
........
Setelah aku makan dengan Gadis , aku akhirnya mengantarnya pulang. Sehabis itu, aku kembali ke rumah dan seperti biasa langsung tepar.
.....
Sebulan kemudian.....
Setelah aku sebulan yang lalu jogging, aku ingin mencoba nge-gym.
“Bang nge-gym yok.” ajakku.
“Eh tumben. Yok mumpung gue gak ada kerjaan.”
Setelah sampai di tempat gym.
“Dek udah lama loh kita gak nge-gym.”
“Iya bang. Gue kangen sama otot-otot gue makanya pengen nge-gym.”
“Eh lo tumben cuma angkat barbel doang? 10 kg lagi paling enteng wkwk.”
“Ehh..... Hehehehe kan gue udah lama gak nge-gym, jadi gue takut otot gue tegang kalau misalnya langsung angkat berat-berat hehehe.” aku berusaha patuhi nasehat dokter.
Sorry bang gue bohong.
“Owalah iya juga yaa. Dek. Gue boleh minta sesuatu gak?” pintanya.
“Iya bang. Boleh.”
“Dek, lo kalau ada apa-apa bilang dong sama gue. Sampai pacar saja lo gak cerita sama gue.” pintanya ke aku sambil menatap aku dengan mata berkaca-kaca.
“Ih lo mah kalau gue punya pacar reseh, gue gak punya pacar diejekin terus. Yang katanya pesona gue gak lebih baik dari lo. Buktinya apaan. Gue kan yang punya pacar dan lo jomblo hahahahaha.” ejekku.
“Ehhhh dasarrrr. Ya sihhh bener. Tapi memang iya lah. Pesona gue lebih baik dari lo.” kata abangku dengan kepedeannya.
“Nyatanya aja yaa bang hahahahahah.”
“Ihhhh dasar. Tunggu pembalasan gue ya. Gue bisa kok jejerin cewek sebanyak yang gue mau.” kata abangku menantangku.
“Hahahaha bang, yang penting itu orang yang tulus mencintai kita. Bukan seberapa banyak cinta atau orangnya tapi seberapa banyaknya kedalaman cinta itu."
“Hahahaah iya juga sihhh. Tapi bodo amat lah hahaha.” kata abangku sambil tertawa.
“Hahahahaaha.”
Selesai nge-gym aku dan abang langsung kembali ke rumah dan istirahat.
Alhasil aku masih tetap sehat.
......
Sebulan kemudian...
Sudah lewat sebulan lagi. Tak terasa.
Tiba-tiba abang menghampiriku.
“Dek, kita disuruh Ayah buat ikut pelatihan di Bandung.”
“Haaaaa kita? Ngapa gak lo saja bang.” tolakku.
“Entah tuh Ayah nyuruh kita berdua geh.”
“Kapan?”
“Besok.”
“Haaaaaa gila. Dadakan amat. Gue loh belum ngasih tahu Gadis. Mana gue udah lama gak ketemu dia loh.” protesku.
“Ya sudah lo temuin aja dulu dia. Lo ajak saja main seharian. Soalnya lama kita pelatihannya.” saran abang.
“Berapa lama?”
“2 bulan dek.”
“Apaaaa?? Lama banget.” jawabku dengan syok.
“Ya sudahh lo cepetan pergi sama Gadis.” abangku menyuruhku.
“Iya deh Bang.”
Aku pun langsung menelepon Gadis.
“Halo Dis. Kita lihat sunset yuk hari ini. Ada yang mau aku omongin.” kataku.
“Oke sayang.”
.....
Bayu P.O.V
Setelah Boy pergi, tiba-tiba Ayah datang menghampiriku.
“Boyyyyyyyy!!!!” teriak Ayah.
“Eh Ayah. Ada apa sih teriak-teriak?”
“Boy mana!!?”
“Boy lagi ngedate....ehhh...”
Aduh gak sengaja bilang jujur.
“Gak mungkin!!. Tadi Hana nelepon Ayah katanya mereka sudah putus gara-gara Boy selingkuh!!!. Kemana dia sekarang??!!!” Ayah pun marah.
Eh cewek saiko itu ngadu pula.
“Di....a ngeliat sun.....set sama..” jawabku terbata-bata.
“Pasti sama cewek kampungan itu kan!!!! Dasar gak tau diri!!!!”
“Yah cukup. Kenapa Ayah selalu mengekang dia. Biarlah dia bahagia Yah.”
“Sudah berapa lama mereka menjalin hubungan??!! Jawab !!!!!!” kata Ayah bertanya sambil membentakku.
“Sudah hampir setahun Yahhh.”
“Dasar anak gak tahu diuntung. Untung-untung saya besarkan.!!!!”
Sang Ayah pun pergi dan ternyata diam-diam Ayah mereka menyuruh orang untuk mencari Gadis.
......
Sementara di pantai...
“Sebenarnya kamu mau ngomong apa sayang?” tanya Gadis.
“Dis, aku mau ikut pelatihan sama abang di Bandung. 2 bulan. Berangkatnya besok.” jelas aku dengan lesu.
“Haaaaaa lama bangett. Iya hati-hati. Tapi ingat satu hal. Jangan lupa hubungin aku ya kalau sempat.” katanya mengingatkanku.
“Iya sayang. Eh aku jadi ingat pertama kali kita lihat sunset deh. Waktu itu aku pernah nanya mau gak lihat sunset bareng aku terus dan kamu belum jawab pertanyaan aku.”
“Gak ahhhhhhh. Aku gak mau wekkkk.” ejeknya sambil menjulurkan lidah.
“Lah kenapa?”
“Aku gak mau seumur hidup kamu dijadiin aku perbandingan sama sunset hahahahha.”katanya sambil tertawa.
“Hahahah pastinya masih menang sunset dong.” kata dia lagi.
“Kamu yakin?” kataku sambil mendekatkan wajahku ke Gadis.
Dia diam tak bergeming.
“Gak untuk hari ini.” kataku sekali lagi dan aku menciumnya.
“Uhhh dasar nakal. Tapi nyatanya aku memang lebih merah dibanding sunset. Apalagi dekat kamu.” katanya dengan lebih menggoda.
“Hahahahha aku sayang kamu deh.” kataku sambil memeluknya dengan sedih mengingat umurku udah tak lama lagi.
“Sayang kamu gak akan ninggalin aku kan?” katanya seperti berfirasat.
“Gak akan sayang. Sampai maut memisahkan kita.”
“Love you sayang. Baik-baik ya di sana.” katanya.
“Love you too sayang. Iya sayang. Yuk balik.” ajakku.
“Yukkk.”
.....
Baru saja aku sampai di rumah, abang tiba-tiba menghampiriku dan membawa kabar buruk.
“Dek. Tadi Ayah pulang.” kata abang.
“Haaaaa mana Ayah? Gue pengen ngobrol. Mana sekarang?” kataku dengan rindu.
“Udah pergi lagi. Dek maafin gue ya.” kata abang tiba-tiba meminta maaf.
“Lah kenapa Bang?”
“Dek. Hana saiko itu ngadu ke Ayah tentang apa yang terjadi antara lo sama dia dan Ayah maksa gue buat ngaku lo kemana tadi. Tapi sumpah gue gak bilang kalau itu Gadis. Maafin gue ya.” jelas abangku yang membuatku syok.
“Apaaaaaaaa?!! Bang, lo ini. Tapi ini bukan salah lo bang. Ini salah si Saiko itu. Gila dasar saikoooo. Runyam sudah masalahnya kalau sampai Ayah nemuin Gadis. Gue takut Gadis salah paham. Soalnya gue belum ngasih tahu apa-apa ke dia tentang Hana.” kataku sambil menepuk dahi.
“Mending lo omongin sekarang Boy. Daripada terlanjur.” saran abang.
“Tapi kita udah mau berangkat. Lebih baik ngomong langsung sama dia. Nanti saja deh kalau udah selesai kerjaan.” kataku.
“Semoga gak ada kejadian apa-apa selama kita di Bandung.” kata abangku lagi.
“Semoga Bang.”
.....
Gadis pun menulis diary kembali..
Dear diary,
Boy ada dinas di Bandung. 2 bulan. Hmm aku pasti bakalan kangen banget sama dia. Lancar ya sayang di sana. Love you..
.....
Sementara itu, Pak Bima sudah mendapat alamat Gadis dari ajudannya.
“Gimana? Sudah dapat?” tanya Pak Bima.
“Sudah pak. Anak itu bernama Gadis dan ngekost di kostan Bapak.” jelas ajudan Pak Bima.
“Baik terima kasih.”
.....
Segera lah Pak Bima ke kostan Gadis.
“Tok tok.” ketok Pak Bima.
“Iya sebentar. Loh Pak Bima.” kata Gadis sambil membukakan pintu.
“Kedatangan saya kesini. Saya ingin memperingatkan Anda untuk menjauhi anak saya Boy karena Boy sudah saya jodohkan sejak 2 tahun yang lalu.”
Setelah bicara seperti itu Pak Bima langsung pergi tanpa menerima jawaban apapun dari Gadis.
Gadis pun syok dan menangis.
“Jadi selama ini Boy bohong sama aku? Kenapa kamu tega Boy ?” ucap Gadis sambil menangis.
.....
Sehari sebelum kepulangan Boy dan Bayu dari Bandung...
“Kenapa Gadis gak angkat-angkat telepon gue ya Bang?” tanyaku ke abang.
“Apa jangan-jangan dia udah tahu ya Boy.”
“Jangan-jangan nih bang. Gue jadi pengen cepat pulang.” ucapku khawatir.
“Iya sabar nunggu besok doang.”
......
Akhirnya aku pulang setelah sekian lama di Bandung.
Sesampai di rumah, aku langsung ke tempat Gadis. Akan tetapi di jalan aku bertemu Hana. Dia memberhentikan mobilku.
“Hana!! Gila, lo mau mati apa ya?!!!”
“Boy, maafin gue. Gue mau balikan lagi sama lo. Please??”
“Apa?!!! Gue gak salah denger? Setelah lo ngehina gue dan lo buat gue sakit parah sampai mau mampus gue!!!”
“Sakit parah? Maksud lo?”
Eh buset gue keceplosan.
“Maksud gue, sakit hati parah bener. Gak sudi gue balikan sama lo.”kataku sambil melihatnya dengan tampang kesal.
“Tapi Boy. Gue pengen perbaiki semuanya. Gue beneran khilaf kemarin.”
“Gak Han. Sorry gue gak bisa. Gue udah terlanjut sakit gara-gara lo. Bye.”
“Boy!!! Boy!!!”
Dia memanggilku akan tetapi aku tetap masuk ke dalam mobil dan melaju sama sekali tak menghiraukan dia.
Aku sampai di kostan Gadis. Dengan khawatir, aku mengetok kamar Gadis.
“Dis. Buka. Ini aku.” kataku sambil mengetok kamarnya.
“Ada apa lagi?” katanya sambil membuka pintu dengan tampang marah dan mata sembab.
“Ada apa? Memangnya ada apa?” tanyaku bingung.
“Kamu pura-pura gak tahu apa memang sengaja bohongin aku sih?” katanya dengan tiba-tiba.
Jangan-jangan Gadis sudah tahu.
“Aku gak tahu. Cerita apa yang terjadi.”
“Ayah kamu datang 2 bulan yang lalu. Terus beliau meminta aku buat jauhin kamu karena kamu udah dijodohkan sejak 2 tahun yang lalu. Jadi aku ini apa? Selingkuhan kamu? Tega kamu ya. Aku gak nyangka kamu sampai segininya sama aku. Aku gak mau ngomong lagi sama kamu. Pergii !!” ujarnya sambil membentakku.
“Tapi Dis. Kamu salah paham.” aku merasa sangat kaget sekali.
“Gak ada kata salah paham. Kalau kamu memang udah lama hubungan sama dia berarti kesimpulannya aku selingkuhan kamu. Aku gak mau jadi selingkuhan kamu!!!!!!” katanya membentak sambil menutup pintu dengan keras sekali.
“Dissssss buka pintunyaaaa.” kataku memohon.
“Pergiiiii!!!!!!!!!” katanya tanpa membukakan pintu lagi.
“Oke aku akan pergi. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku gak pernah selingkuhin kamu dan kamu hanya salah paham. Aku cinta kamu.” kataku sebelum pergi.
Sambil berjalan, aku memikirkan kebodohanku. Aku tidak nyangka akan berakhir seperti ini. Ini semua salahku. Harusnya aku cerita dari awal kalau sebenarnya aku sudah putus dari Hana semenjak Hana ciuman di terminal itu.
Waktunya aku ingin menyebrang dan kembali ke mobilku yang terparkir di seberang jalan, aku sama sekali tidak fokus. Tiba-tiba saja ada motor yang menabrakku lalu menyenggol badanku.
Alhasil aku jatuh terjerembab sangat keras ke trotoar dan ujung trotoar mengenai badan bagian depanku.
“Cittttttt woyyy kalau jalan itu pakai mata dongggg. Kalau lo ketabrak mampus lo!!!!!!!!!!”
Gara-gara melamun, aku terjatuh sangat keras akan tetapi untung ujung trotoar tidak mengenai kepalaku tetapi tiba-tiba...
“Arrgggggg sakit.” kataku hampir tersimpuh sambil memegangi dadaku.
Aku langsung kembali ke mobil dengan tertatih dan cepat menelan obat.
Setelah beberapa menit akhirnya sakitnya hilang. Kenapa ya dadaku kembali sakit lagi.
Aku membuka bajuku melihat keadaaan badanku. Dadaku ternyata memar biru. Ahh pasti ini gara-gara terbentur tadi. Aku kira penyakit itu datang kembali. Akhirnya setelah beberapa menit, aku menghidupkan mobil dan kembali ke rumah dengan kecewa mendalam.
.....
Setelah sampai di rumah, tiba-tiba di depan pintu rasa sakit itu kembali lagi.
Sejenak aku bersandar di pintu sambil memegangi dadaku yang sakitnya makin lama makin sakit. Tiba-tiba ada yang membuka pintu. Aku harus terlihat baik-baik saja.
“Dek, gimana?” kata abang sambil membukakan pintu.
“Dia beneran udah tahu Bang dan dia beneran marah sama gue dan gak mau ketemu gue lagi.” kataku yang berusaha menutupi rasa sakitku.
“Ini salah gue Dekk. Maafin gue.” kata abangku dengan penyesalannya sambil menunduk bersimpuh di dekatku.
“Gak banggg. Ini bukan salah looo.” aku berusaha membuat abang tak merasa semakin bersalah.
“Oke besok gue harus ngomong sama dia. Gua jelasin sedetail-detailnya. Lo tenang saja dek. Gue yakin dia gak bakalan marah lama-lama sama lo. Lo harus yakin dek. Dekkkk, kok lo pucat banget ?!!!!” kata abangku dengan setengah berteriak setelah berdiri sambil menatapku.
“Iya bang. Gue.......” kataku yang sudah setengah sadar.
Tiba-tiba saja aku terjatuh lemas. Aku sudah tak sanggup lagi berdiri. Untung abang dengan sigap menangkapku yang hampir tak sadarkan diri.
“Dek, lo kenapa? Gila lo pucat banget. Lo demam tapi tangan lo dingin banget dek. Kita ke Rumah Sakit yaa dek. Ayo.” kata abang.
Gawat kalau abang sampai tahu. Aku berusaha untuk menguatkan diri. Aku tahan rasa sakitnya dan aku berusaha untuk berdiri.
Sendirian.
“Gak usah bang. Gue perlu istirahat saja bang. Nih lihat aku baik-baik saja kan.” kataku sambil berdiri dan sok tegar dan tidak lupa tersenyum.
“Ya udah ayo ke kamar. Gue bantu.”
Untung aku dibantu ke kamar. Kalau tidak, mungkin aku sudah benar-benar hilang kesadaran.
Sampai kamar, aku dibaringkan oleh abang aku di kasur. Akhirnya aku tiduran di kasur. Kenapa ya aku sakit lagi.
Jangan-jangan......
Ah sudahlah. Aku minum saja obat itu. Sakitnya juga pasti hilang nanti setelah aku minum obat. Aku minum obat itu lagi tapi tidak mungkin di depan abang.
“Eh dek gue ambil kompresan dulu ya.” katanya.
Nah pas sekali waktunya. Setelah abang keluar dari kamarku, aku langsung sigap meminum obat 3 butir sekaligus.
Selesai itu, aku tunggu rasa sakitnya masih tetap ada. Aku berusaha tidur sambil tetap memegangi dadaku dan aku berhasil tidur.
.....
Keesokan harinya, aku terbangun dengan perasaan lemas sekali. Tak pernah aku selemas ini seumur hidupku.
Aku mencoba untuk duduk bersandar bantal, tiba-tiba abang masuk menghampiriku.
“Dek lo udah agak mendingan?” katanya sambil memegangi dahiku.
“Lumayan bang.” kataku berbohong.
Padahal mah gue lemas banget bang. Lo gak tahu saja kayak mau mati rasanya gue.
“Tapi lo masih panas dek.” katanya.
“Iya bang. Gue juga masih ngerasa lemas dikit-dikit lah.”
“Ya sudah dek lo tiduran saja. Gue hari ini mau ngomong ke Gadis.” pamit abang.
“Ya bang.”
Seperginya abang dari rumah, aku ingin ke bawah mengambil makanan. Aku turun ke bawah dengan lemasnya.
Sesampai di dapur, aku memakan buah dan ketika aku mau kembali ke kamarku, baru aku naik anak tangga ketiga tiba-tiba dadaku nyeri hebat lagi. Aku terduduk di tangga sambil memegangi dadaku. Aku teringat obatku di atas dan aku harus ke atas.
Aku mencoba berdiri tapi aku merasa lemas sekali. Akhirnya aku merangkak untuk sampai ke atas.
Setibanya di atas, aku duduk di kasur dan langsung meminum obat 3 butir sekaligus dan aku mencoba untuk menenangkan diriku. Tapi yang aku ingat hanya kegelapan yang muncul.
.....
Bayu P.O.V
Aku datang ke tempat Gadis untuk menjelaskan semuanya. Sesampai di tempat Gadis.
“Dis buka pintunya. Ini gue Bayu.” kataku sambil mengetok pintu kamar Gadis.
“Ada apa abang kesini?” katanya sambil membukakan pintu.
“Dis gue mohon. Gue bisa jelasin sama lo apa yang sebenarnya terjadi.” pintaku.
“Jelasin apaan? Kalau aku memang selingkuhannya Boy?”
“Dis, please. Gue mohon. Ini demi adik gue.” pintaku memelas.
“Oke.”
Aku pun akhirnya menjelaskan ke Gadis apa yang terjadi.
“Jadi gini. Nama cewek itu Hana. Dia memang udah dijodohin sama Boy semenjak 2 tahun yang lalu. Boy sebenarnya udah lama mutusin Hana semenjak dia lihat Hana ciuman sama supir angkot dan kejadian itu udah setahun yang lalu. Tapi Hana gak terima. Dia masih menganggap Boy pacarnya. Sampai suatu saat mereka ketemu dan Hana marah besar dan akhirnya Hana menerima putusnya hubungan mereka. Tapi sialnya dia malah cerita ke Ayah soal itu dan Ayah marah besar sama Boy karena Ayah sama sekali gak tahu masalah ini. Makanya Ayah datengin lu buat jauhin Boy dan sekarang ini Ayah maksa Boy buat nikahin Hana secepatnya dan sekarang di rumah dijaga ketat supaya Boy gak keluar kemana-mana. Boy juga lagi sakit.”
“Haaaaaaa aku udah salah paham sama Boy. Aku bodoh banget gak dengar penjelasan dia. Boy sakit? Aku pengen ketemu diaaa bang. Tapi gimana cara nyaaaa...” katanya.
“Dia sayang banget sama lo Dis. Gue harap lo mau nelepon dia nanti malam.”
“Iya bang. Aku maafin dia. Aku kangen dengar suara dia. Aku telepon dia nanti malam bang.”
“Ya sudah Dis, gue balik dulu ya. ” pamitku.
“Iya Bang. Makasih ya.”
“Iya.”
Sesampai di rumah, aku langsung menemui adikku. Aku melihat dia sedang duduk terdiam tanpa bergeming sedikitpun.
“Dek.” sahutku yang mungkin mengagetkannya.
“Bang gimana?” tanyanya.
“Berhasil dek. Dia udah ngerti kok.”
“Makasih ya bang.” katanya sambil memelukku.
“Iyaa badan lo masih panas aja dek.” kataku sambil memegang dahinya.
“Uhuk uhuk hmmm ini gue mau istirahat lagi. Gue senang kalau dia gak marah lagi sama gue.”
“Batuk loh lo dek. Kita ke dokter aja yuk dekk.” ajakku memohon agar ia mau.
“Gak usah bang. Gue cuma mau tidur doang.”
“Oke deh. Eh ntar malam dia nelepon.” kataku mengingatkannya.
“Oke bang.”
....
Setelah malam, aku tiba-tiba merasa sesak nafas. Ya tidak seberapa sesak, hanya saja membuatku batuk.
Tiba-tiba handphone aku berdering.
Dari Gadis.
“Hallo Boy.” katanya dari seberang sana.
“Gadis. Senang bisa dengar suara kamu lagi uhuk uhuk.” omongan aku terhenti akibat batuk.
“Sayang, kamu parah banget sakitnya. Udah ke dokter?”
“Gak sayang. Dengar suara kamu saja udah buat aku sembuh. Kamu udah gak marah lagi kan sama aku?”
“Gak sayang. Maafin aku ya gak dengerin penjelasan dari kamu. Aku udah keburu emosi duluan dulu. Maaf yaa.”
“Gak apa sayang. Salah aku juga gak bilang sama Ayah. Tapi walaupun sekarang udah ketahuan aku tetap gak boleh keluar. Gimana dong. Aku padahal kangen banget sama kamu.” kataku dengan sedih.
“Aku juga sayang. Samaa. Gimana ya.”
“Sayang. Aku sayang banget sama kamu” kataku.
“Aku juga sayang. Kamu istirahat lagi aja sayang. Udah malam banget nih.” katanya mengakhiri pembicaraan.
“Ya sudah deh. Aku bakal cari cara supaya bisa ketemu kamu. Okey?” kataku.
“Oke sayang.”
“Love you.” kataku dengan mesra.
“Love you too.”
.....
Seminggu kemudian...
Aku harus memikirkan bagaimana caranya supaya bisa keluar. Tapi gimana ya. Apa aku harus lompat dari jendela saja ya. Tapi kan tinggi. Yang ada kepalaku yang pecah.
“Dek...dek, lo gak mau nemuin Gadis?” kata abangku tiba-tiba menghampiriku.
“Ya mau lah bang. Cuma gimana caranya gue keluar?”
“Ahhha gue tahu. Gue bakal ngalihin perhatian tuh penjaga biar lo bisa keluar.” kata abang dengan ide briliannya.
“Sip dah..”
“Lo siap-siap di balik pintu yaa.” kata abang.
“Oke dah.”
Sementara abang sedang mengelabuhi penjaga, aku menyelinap keluar dan berhasil. Langsung aku mencari taksi di depan. Akibat aku lari-larian, otomatis kambuh lagi sakitku.
“Mas gak apa-apa? Tujuan mau kemana ya.” tanya pak supir.
“Ke kost..an bela...kang kam..pus mas.” jawabku terengah-engah sambil memegangi dadaku.
Aku langsung meminum obat itu.
Setelah turun dari taksi dan aku menyebrang akhirnya sampai. Dengan langkah gontai, akhirnya aku bisa juga ketemu Gadis.
“Dis.” kataku sambil mengetok pintu kamarnya.
“Hey sayang aku kangen banget sama kamu. Sayang wajah kamu masih pucet banget!!!!” katanya sambil membuka pintu dan melihat ke arahku.
“Aku juga sayang. Aku udah agak mendingan kok sayang. Tenang.”
“Tapi..... ” katanya memaksaku.
“Sudah tenang sajaa. Aku ke sini mau ketemu kamu lohh sayang. Yok keluar.” ajakku.
“Yuk deh.”
Aku mengajak Gadis ke taman.
“Sayang. Kamu gak akan ninggalin aku kan?” tanyanya sambil menatapku.
“Kok kamu bilangnya gitu?”
“Iya soalnya aku punya firasat buruk. Gak tahu kenapa.” katanya dengan khawatir.
“Tenang. Aku gak bakalan ninggalin kamu kok. I always in your heart.” kataku sambil menatap matanya.
Kamu benar sayang. Aku ngerasa juga hidup aku sudah gak lama lagi.
“Ya kamu juga sayang. My beloved.” katanya sambil menatap aku juga.
“Sayang, aku takut banget kamu waktu kamu marah dan ninggalin aku waktu itu. Untung ada abang. Maaf ya aku gak bisa jelasin langsung sama kamu. Tiba-tiba saja sakit waktu itu.” kataku.
“Tenang sayang. Aku gak bakal marah kayak kemarin. Aku percaya sama kamu. Gak apa sayang kan kamu lagi sakit. Waktu abang jelasin itu ke aku awalnya aku nolak juga. Tapi abang mohon banget sama aku buat dengar penjelasannya. Dan setelah aku dengar dari abang yang sebenarnya terjadi rasanya aku merasa bersalah banget. Rasanya aku pengen meluk kamu yang erat-erat sayang. Aku merasa bersalah banget udah nuduh kamu yang bukan-bukan.” katanya.
Aku mendengarkannya sambil tersenyum. Dengan tiba-tiba, dadaku kembali nyeri hebat dan seperti biasa, aku berusaha menyembunyikannya.
“Ya sayang. Aku benar-benar gak bisa kalau sampai kehilangan orang yang aku..........” kataku tiba-tiba limbung ke depan.
Aku sudah setengah sadar.
“Boyyyyyyyy!!!!!!” katanya dengan sigap menangkapku yang hampir jatuh ke depan.
“Boyyyyyy bangunnn.” katanya sambil mengguncangkan badanku.
Aku terbangun.
“Heyyy sayang. Boleh kan aku sandaran di bahu kamu sebentar?” pintaku.
“Iya sayang. Aku rangkul kamu ya. Sayang badan kamu dingin banget. Ayo kita ke dokter.” ajaknya.
“Gak usah sayang. Aku mau di sini sama kamu.” pintaku yang sudah hampir hilang kesadaran.
“Tapi badan kamu dingin banget terus pucat banget lagi.” katanya sambil memegang badanku.
“Kalau gitu aku minta peluk erat-erat.” pintaku.
“Tapiiii....” katanya.
“Sssssttttttt. Aku lagi mencari ketenangan di siniii. Sakit banget sayang rasanya.”
“Dimana sakitnya sayang?” katanya.
“Semuanya sakit.” jawabku sebelum aku pingsan.
“Boyyy?”
Hening.
“Boyyyyyy.” kata Gadis.
“Boyyyyy...” sambil memeriksa nafasku dan nadiku.
“Sayangggggg bangun kamu kenapa gak jawab aku.” tanyanya sambil menangis.
Aku tiba-tiba punya kekuatan untuk bangun. Aku bisa mendengar isakan tangisnya. Dengan sekuat tenaga aku bicara.
“Apaan sih sayang. Berisik banget.” jawab aku dengan lemas.
“Ih kamu ini kenapa kamu gak jawab coba waktu aku panggil. Mana kamu tadi gak nafas terus nadi kamu berhenti. Aku pikir kamu tadi...” katanya dengan khawatir.
“Eh enak aja. Lah ini buktinya aku masih ngomong terus pelototin kamu.” aku langsung duduk tegak dan menjulurkan lidah ke arahnya.
Entah darimana aku mendapat tenaga karena sejak tadi aku lemas sekali.
“Ih sayang mahhhhhh.” katanya manyun.
Tiba-tiba telepon berdering.
“Hallo dek. Ayah 30 menit lagi mau ke rumah. Bakal bahaya kalau lu gak ada di rumah.” kata abang.
“Waduh gawat. Iya bang segera pulang.”
“Kenapa sayang?” katanya.
“Ayah mau balik sayang. Bahaya kalau aku gak ada di rumah.”
“Sayang aku balik dulu yaaa. Love you.” kataku pamit sambil mencium bibirnya.
“Love you too.”
Gadis pun sesampai di kostan menulis diary lagi.
Dear diary,
Hari ini 10 Maret 2016. Setelah tragedi yang terjadi aku dan Boy bertemu kembali. Tapi Boy ku pucat banget tadi. Tapi dia nolak ke dokter. Semoga dia gak apa-apa.
Boy- My Love.
.....
Setelah aku sampai di rumah.
“Bang Ayah mana?” kataku dengan khawatir.
“Belum balik dek. Untung saja. Lo gak ketemu sama penjaga di depan kan?”
“Ketemu. Tapi lagi pada tidur tuh. Kok bisa ya?” kataku bingung.
“Iya bisa dong. Orang kopinya udah gue kasih obat tidur. Biar tidur-tidur lah mereka sono hahaha.” katanya sambil tertawa.
“Gila bagus juga ide lo. Ya sudah deh bang gue ke kamar dulu.” aku pamit ke kamar.
“Dek, asli lo tambah pucat.” kata abang.
“Udah, gue gak apa-apa. Ke kamar dulu ya.”
Sakitnya mulai terasa lagi saat aku menaiki tangga. Dengan langkah pelan-pelan, aku menaiki tangga satu persatu menuju kamar.
.....
Sementara di kamar, aku duduk di kasur setelah menelan obat.
Sambil merenung, sepertinya penyakit itu datang lagi. Aku mengingat kata-kata dokter, jika aku sakit lagi, aku harus ke Rumah Sakit.
Ah sial.
Aku memikirkan Gadis dan abang. Sorry Dis sorry bang. Aku bukannya tak ingin ke Rumah Sakit. Tapi aku tidak mau kalian tahu penyakit aku sudah semakin parah. Aku tak mau kalian sedih hanya karena aku.
Sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi menahan sakit ini. Sakit yang menyiksa aku selama 3 tahun ini tapi sekarang aku harus ke Rumah Sakit secara diam-diam.
“Uhukkkkk uhuuukk uhuukkkk...”
Aku benar-benar sudah tak bisa bernafas normal lagi. Dadaku nyeri hebat sekali. Kepalaku pusing sekali. Aku benar-benar tak tahan lagi.
Akhirnya aku dengan langkah gontai keluar kamar. Di luar ada suara Ayah sedang bicara dengan Abang. Apa yang mereka bicarakan ya.
Aku dengan tertatih berjalan menuruni tangga. Setelah aku sudah menuruni tangga, aku bersadar sebentar di tembok sekaligus mendengar apa saja yang dibicarakan abang.
.....
“Boy Boyyy...” kata Ayah memanggilku.
Aku sengaja tak memenuhi panggilan itu.
“Ayah sudah datang. Boy ada di kamarnya Yah. Lagi istirahat. Dia lagi sakit.” jelas abang.
“Oh anak itu bisa sakit juga. Tapi dia gak boleh sakit lama-lama. Ayah dan Ayahnya Hana sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka.” kata Ayah dengan tiba-tiba.
“Ayah, Ayah gak tahu apa kalau mereka sudah putus. Hana kok yang mutusin Boy. Kenapa mesti dilanjutkan lagi pernikahannya?” kata abangku protes.
“Halahhh. Ayah yang sudah membujuk Hana agar dia mau memaafkan Boy karena Boy berselingkuh dengan anak kampungan itu. Jadi jangan harap dia bisa dekat dengan anak itu.”
“Yang berselingkuh itu Hana,bukan Boy. Ayah sudah salah sangka.” jelas abangku lagi.
“Pokoknya Ayah gak mau tahu. Mereka harus menikahh!!” kata Ayah memaksa.
Aku mendengar pembicaraan Abang dengan Ayah. Hatiku sakit sekali ketika Ayah tak memihakku dan dia sampai memohon ke cewek saiko itu. Gila!!!
“Ayah kenapa tega menemui Gadis dan bilang sama dia untuk menjauh dari Boy. Gadis itu cinta sejatinya Boy dan Boy sangat menyayangi Gadis begitu pula sebaliknya. Mereka akan bahagia jika selalu bersama-sama. Apa Ayah tega merusak kebahagian mereka?. Apa Ayah gak bahagia melihat kebahagian anak Ayah sendiri?” protes abangku.
Aku terharu dengan abangku. Dia selalu membelaku.
“Cukupppp!!!!!!!!! Stop kamu bilang Boy anak Ayah. Boy itu bukan anak Ayah. Anak Ayah satu-satunya cuma kamu Bayu. Makanya Ayah gak pernah mau sekalipun kalau dia memimpin perusahaan Ayah apalagi sebagai penerus saham-saham Ayah yang lainnya. Ayah cuma mau memanfaatkan dia untuk menikahi Hana agar perusahaan mereka jatuh ke tangan Boy. Setelah jatuh ke tangan Boy,Ayah akan ambil semuanya. Boy itu hanya anak selingkuh ibu kamu. Ibu kamu selingkuh Bayu dan Boy bukan anak Ayah.”
Aku mendengar hal yang mengejutkan.
Aku bukan anak Ayah.
Tidak. Tidak mungkin!!!!!
Arggghhh sakit sekali dadaku. Alhasil aku terjatuh dan menjatuhkan patung di sampingku.
Brakkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!
Bayu yang sedang berdebat dengan Ayah tiba-tiba mendengar suara benda jatuh di belakang. Bayu menuju ke belakang dan menemukan Boy sedang kesakitan di lantai.
“Astaga. Boyyyy lo kenapa?!!!!!! Boyyyyyyyyyyyy gila badannya dingin banget. Boy bangun!!!!!!!!!!” kata Bayu.
“S....aa...k....i...t.... b...a....n....g....” kataku sebelum pingsan.
“Boy!!!!!! Bangun!!!!!!!. Ayah !!!!!!!!........” kata Bayu memanggil Ayah.
“Bawa saja anak sialan itu ke rumah sakit. Suruh dokter obatin dengan benar.” kata Ayah dengan teganya.
“Ayah tegaaaa. Boy sabar ya kita on the way RS.”
.....