Bayu P.O.V
Saat tiba di Rumah Sakit....
Boy. Kenapa bisa seperti ini. Lo kenapa. Lo sakit apa. Gue gak bisa maafin diri gue sendiri kalau lo kenapa-kenapa.
Di dalam UGD..
“Pasien mengalami henti jantung dan henti nafas. Siapkan alat kejut jantung.” kata dokter.
“Iya dok.”
“Lakukan.” kata dokter.
“Dok sudah 4 kali. Pasien tidak merespon.”
“Lakukan sekali lagi.” kata dokter lagi.
“Dok. Denyut jantungnya kembali akan tetapi sangat lemah. Pasien tidak bisa bernafas sendiri.” kata suster.
“Segera pindahkan ke ICU. Beri penanganan super intensif.” perintah dokter.
Boy sudah di ICU....
“Dok bukankah itu pasien yang baru saja menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung sekitar hampir setahun yang lalu?” tanya salah satu perawat kepada dokter.
“Iya benar sus. Ternyata alat pacunya mengalami kerusakan akibat benturan keras sedangkan belum waktunya rusak, dan kita belum menemukan donor yang sesuai. ” jelas dokter.
“Dok, jika begitu. Kemungkinan pasien sadar akan sangat minim dikarenakan pasien hanya bisa bergantung pada alat-alat tersebut.” simpul suster.
“Semoga saja keajaiban datang sus.” kata dokter.
.....
Bayu P.O.V
Boy, sebenarnya apa yang terjadi sama lo. Lo sebenarnya kenapa sih. Harusnya gue seret aja lo ke RS sebelum kejadian seperti ini. Gue nyesel.
“Bang, gimana keadaan Boy? Boy kenapa? Dia baik-baik aja kan?” tiba-tiba Gadis datang.
“Dia di ICU Dis, keadaannya kritis.” kataku.
Tiba-tiba dokter keluar diikuti oleh suster.
“Dengan keluarga Tuan Boy?” kata suster.
“Iya sus saya abangnya.”
“Mas diminta dokter Tomy untuk bicara di ruangannya.” kata suster.
“Baik sus.”
“Bang, aku ikut.” kata Gadis.
“Ya Dis.”
Aku dan Gadis menuju ke ruangan dokter Tomy.
“Dok bagaimana keadaan adik saya Boy?” tanyaku.
“Boy masih dalam masa kritis dan ia dinyatakan koma. Maaf sebelumnya apakah Boy akhir-akhir ini mendengar kabar menyedihkan atau membuat ia sangat terkejut?” tanya dokter.
“Iya dok. Beberapa waktu yang lalu adik saya dan pacarnya sempat salah paham dan itu menimbulkan kesedihan sangat mendalam di dirinya. Tapi masalah itu sudah selesai. Dan barusan dia mungkin mendengar kabar yang membuat dia dan saya sangat terkejut. Tiba-tiba ia jatuh pingsan . Badannya dingin sekali seperti es.” jelasku.
“Kesedihan yang mendalam dan syok berlebihan dan stress berkepanjangan dan akan membuat kerja jantungnya semakin berat dan untuk kasus penyakit Boy itu sangat fatal jika terjadi dan bisa terjadi collaps seperti sekarang. Saya sudah memperingatkan Boy untuk ke Rumah Sakit jika mengalami nyeri d**a yang sangat hebat dan sering frekuensi nyerinya karena bisa saja ada masalah di alat pacu jantungnya, akan tetapi Boy ternyata tidak acuh dengan perkataan saya. Ini sangat fatal. Alat pacunya saat ini sedang rusak karena benturan keras dan di picu juga oleh syok berlebihan. Boy hanya bisa mengandalkan alat-alat yang terpasang. Padahal belum saatnya alat pacu itu rusak. Anda sebagai orang terdekatnya bisa mengingatkan kepada Boy agar jangan terlalu sedih mendalam. Buat ia selalu menceritakan apa yang terjadi agar mengurangi beban pikirannya dan masalah syok seharusnya pasien tidak mendengar berita tesebut. Jikalau harus memberi tahunya, beri tahu ia pelan-pelan agar tidak terjadi syok berat.” jelas dokter.
“Maaf dok. Sebenarnya maksud dokter apa ya? Penyakit Boy? Alat pacu?. Maksud dokter? Sebenarnya Boy sakit apa dok. Jawab saya??!!” kataku dengan nada meninggi.
“Maaf apa sebelumnya anda tidak tahu penyakit Boy? Boy menderita Cardiomiopaty yaitu otot jantungnya lemah untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Jadi, jika Boy mendengar sesuatu yang membuat kerja jantungnya berdetak lebih cepat ia bisa pingsan, koma bahkan meninggal. Boy menderita penyakit itu sudah 3 tahun yang lalu. Dan ia baru menjalani operasi pemasangan alat pacu sekitar setahun yang lalu.” jelas dokter.
“APAAA????? Adik saya terkena penyakit jantung? Kok bisa. Kok gue bisa gak tahuuuuuu???!!!!!!! Gue ini abang macam apaaaaa sihhhhhhh?!!!!!! Sampai adik gue sakit parah saja gue gak tahuuuuu. Dia harus nanggung beban ini sendirian selama 3 tahunnn. Gak gunaaa gueeeee....hiksssssss.” kataku menyalahkan diri sendiri.
“Banggg sudah bangggg. Dok apakah penyakit Boy bisa sembuh?” kata Gadis menenangkanku.
“Penyakitnya bisa sembuh jika dilakukan operasi cangkok jantung. Sampai saat ini donornya pun belum tersedia.” jelas dokter.
“Dokkkkk ambillll jantung saya aja dokkkkk. Saya siap memberi jantung saya buat adik sayaaaaaaa.” seruku.
“Tidak bisa mas. Kami tak bisa mengambil donor dari orang yang masih hidup.”
“Gak apa dokkkk. Saya rela untuk adik saya.”
“Baiklah jika begitu silahkan tanda tangani berkas persetujuan dan mari cek kecocokan jantung dulu.”
“Bang jangan. Dia sayang sama abang. Mending aku saja yang donorin jantung buat Boy. Aku gak mau lihat dia sedih jika dia tahu abang yang donorin jantung buat dia.” kata Gadis.
“Jangan Dis. Biar gue saja yang donorin. Gue bakal lebih gak mau lagi lihat dia kehilangan kehilangan lo.”
“Gini saja bang. Kita berdua periksa saja ya. Kita sama-sama berusaha buat Boy. Kita sama-sama sayang Boy dan disayang Boy.”
“Iya deh Dis.”
Hasilnya sudah keluar setelah 3 jam..
“Dari hasil pemeriksaan telah didapat bahwa jantung Boy Antama dengan jantung Bayu Antama tidak ada kecocokan dan jantung Boy Antama dengan jantung Gadis Rainingsih tidak ada kecocokan juga.” jelas suster.
“APAAAAAAA???!!!” jawabku dan Gadis secara bersamaan.
“Jantung ke 2 pendonor tidak cocok dengan penerima donor.”
“Hikkksssss jadi gimana bang. Jantung kita gak ada yang cocok sama Boy.”
“Kita hanya berharap ada keajaiban.” kataku.
Tiba-tiba....
“Saya bersedia memberikan jantung saya dok.”
“Ayah????” kataku dengan kaget.
Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata jantung Ayah Boy dan Boy cocok. Dan segera dilakukan operasi.
“Nak, jika Boy sudah sadar sampaikan maaf Ayah kepada dia ya. Ayah sudah salah paham. Ayah sudah nuduh ibu yang bukan-bukan. Ternyata Ayah tadi baru tahu lewat teman Ibu kamu kalau Ibu gak selingkuh. Ayah sungguh menyesal nak. Maafkan Ayah ya. Biarlah ini menjadi pengganti permintaan maaf Ayah ke Boy karena selama ini Ayah selalu jahat sama dia.” kata Ayah.
“Ayah kita bisa cari donor yang lain. Gak harus Ayah jugaa.”
“Gak Bay. Ayah sudah terlanjur merasa bersalah. Mungkin inilah cara satu-satunya untuk menebus kesalahan Ayah sama Boy. Ayah sayang kalian semua.”
Itu lah kata-kata terakhir Ayah.
“Aku juga sayang Ayahhhh hikssss.”
Operasi pun berjalan lancar. Akan tetapi Boy belum sadar juga.
“Dok apakah Boy sudah sadar?” tanyaku.
“Operasi berjalan dengan lancar. Kita tunggu dia sadar hingga 2 jam. Jika tidak sadar selama 2 jam maka pasien dinyatakan koma.” jelas dokter.
Setelah 2 jam....
“Pasien dinyatakan koma. Harap bersabar ya mas dan mbaknya.” kata suster.
“Ya dok. Boleh saya lihat adik saya?”
“Boleh. Tapi hanya 1 orang yang boleh masuk.” kata suster.
“Baik dok.”
“Dis, gue mau lihat Boy dulu ya.”
Aku masuk ke dalam dan melihat adikku terbaring lemah dengan alat-alat yang menopang ia hidup.
“Dekk, lo tega gak ngomong sama gue. Lo kenapa sih dek pengen menderita sendirian. Dekkk, lo itu gak sendirian. Lo itu ada gue, abang lo. Gue gak pernah bakal bosen dengar cerita dari lo. Karena lo itu adik gue satu-satunya. Gue sayang lo sampai kapan pun. Dekk cepat bangun. Andai gue bisa gantiin posisi lo saat inii. Andai gue gak terlalu sibuk. Hikssssss.”
Aku pun keluar dan digantikan oleh Gadis.
Gadis melihat Boy, pangeran jaketnya yang selalu tersenyum di depannya sedang terbaring lemah dengan alat-alat yang membuat ia tetap hidup. Gadis tak sanggup kalau ia sampai kehilangan orang yang dicintainya.
“Sayang maafin aku ya. Gara-gara aku gak percaya sama kamu, kamu jadi kayak gini. Sayang kenapa kamu tega gak bilang sama aku dari tentang penyakit kamu. Kamu gak harus menanggung semua ini sendirian. Ada aku Boy. Aku akan selalu siap mendengarkan cerita-cerita kamu. Sayang bangun dong. Hiksssss.”
......
2 bulan kemudian......
Gadis masih di dalam ICU sedang merenung sambil menatap Boy di balik kaca.
“Dekk bangun dong. Lo gak kangen sama gue sama Gadis. Dek, kalau lo bangun lo harus bahagia Boy. Gue bakal turutin semua mau lo dek. Lo harus nikmatin hidup lo mulai sekarang. Dek, lo kagak kasian sama Gadis. Hari ini kan kalian anniv 1 tahun. Bangun dong dekkk.”
Gadis pun masuk digantikan oleh Bayu.
Gadis memegang tangan Boy yang lemah.
“Sayang, bangun dong. Inget gak hari ini tepat anniv kita 1 tahun. Aku senang banget kalau kamu ngucapin anniv. Makanya bangun dong sayang. Aku kangen pengen ngobrol sama kamu. Aku kangen pas kamu meluk aku. Aku kangen pas kamu senyum sama aku. Aku kangen pas kita makan es krim abis kita nari di tengah hujan. Aku kangen pas kamu ejekin aku ngebandingin wajah merahku sama sunset. Ayo kita makan es krim,ke restoran favorit kamu, lihat sunset. Aku gak apa-apa Boy kalau harus dijadiin perbandingan sama sunset seumur hidup kita. Asal kamu bangun sayang. Hiksssssssss Boy.”
Tiba-tiba jari Boy bergerak menggengam lemah tangan Gadis dan Boy membuka matanya perlahan.
“Sayang kamuuuu....Dokterrrrrrrr..”
“Bang, Boy udah sadar.”
.....
Segera dokter memeriksa keadaan Boy.
“Saat ini pasien telah melewati masa kritisnya dan komanya. Jantung di tubuh pasien memberikan respon positif berfungsi dengan baik. Pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat.Pasien masih perlu banyak istirahat.” kata dokter.
“Makasih Dok.”
.....
Setelah 5 jam di ruang rawat.
“Dekkkkkkkk. Gue kangen banget sama lo. Ehh lo ini lama amat sadarnya. Eh dek mau gue gorok yaa leher lo. Lo kenapa kagak ngasih tahu penyakit lo itu. Gila lo ini. Lo anggep gue ini apa haaah? Pajangan?” omel abang.
“Iya sorry. Sengaja sebenarnya. Gue gak mau kalian khawatir. Lagian gue udah operasi pemasangan alat pacu kan. Harusnya gue udah baik-baik saja. Tapi gak tahunya gue malah collaps parah. Hmmm Ayah mana ya? Ayah tahu kan gue sakit. Kan waktu pingsan, Ayah ada di rumah. Kok sekarang gak ada?. Hmmm.... Bang, gue kenapa ya kok ada bekas jahitan di d**a gue?” kataku bingung sendiri.
“Lo sehabis operasi dek. Sekarang lo bisa hidup dengan normal. Ehh cieee yang Anniv setahun wkwkw.”
“Siapa yang donorin jantungnya buat gue kak? Siapaaa?” tanyaku bingung.
“Ayah dek Ayah.”
“APA?? Ayah? Kok bisa? Hikssss.” kata aku syok.
“Ayah ngelakuin ini semua buat nembus kesalahannya buat lo dek.”
“Kesalahan apa? Gue ngerasa Ayah gak pernah salah sama gue. Gue sayang sama Ayah. Gue pengen Ayah hidup bareng kita semua. Tapi kenapa Ayah malah gini hiksss.”
“Udah dek gak usah sedih. Nanti Ayah malah nangis ngelihat lo sedih. Kita doain Ayah biar tenang ya di sana sama Ibu. Dan gue yakin Ibu di sana udah tenang, kebenaran udah terbongkar.”
“Kebenaran apa bang?” tanyaku.
“Kalau kita memang saudara kandung. Ayah udah salah paham.”
“Syukurlah Bang, gue senang. Kita doain Ayah supaya Ayah mendapat tempat yang layak di sisiNya. Eh sayanggg..” kataku.
“Kamu lama banget sadarnya sayang. Aku kangen tahu sama kamu.” katanya dengan manyun.
“Aku juga sayang. Oh iya sayang. Happy anniversary ya. Love you.” kataku.
“Iya sayang. Love you too.”
“Yok kita jalan bertiga.” kataku tiba-tiba.
“Haaaaaaaaaaaaaaa lo gila ya? Lo itu baru sadar 5 jam yang lalu dan sekarang lo ngajak kami jalan. Sakau loooo.” kata abang protes.
“Iya dan makanya dari itu gue tadi maksa dokter buat ngasih izin karena hari ini hari spesial gue. Dibolehin kok sama dokter. Asal jangan terlalu capek katanya. Besok-besok gue gak minta yang aneh-aneh kok . Tapi please sekali ini saja turutin permintaan gue ya. Please.” aku memohon.
“Iya dehhhhhhh..”
“Yes. Ayo sayanggg ayo bang. Kita on the way.”
.....
Akhirnya aku bisa keluar dari Rumah Sakit setelah sekian lama.
“Kita ke restoran favorit kita ya.” kataku.
“Iya dehhh.”
Setelah sampai di restoran.
“Bang, gue pesen makanan favorit gue tapi gue mau lo suapin gue ya.” pintaku dengan manja.
“Idihhh kayak anak kecil aja lo.” kata abang.
“Biarin. Gue kangen sama masa kecil gue. Dulu kan lo sering nyuapin gue.”
“Iya deh adikku yang manja.” kata abang sambil menyuapiku.
“Dek, asal lo tahu. Gue senang lihat lo kayak gini. Gue gak bisa ngebayangin kalau sampai kehilangan lo. Tinggal lo satu-satunya keluarga gue. Kita udah jadi yatim piatu dek. Gue sayang sama lo dek.”
“Gue juga sayang sama lo kak. Always.”
“Dek, kalau ada kejadian kayak gini lo harus bilang ke kita. Jangan sampai telat bilang. Dek, gue gak mau kehilangan lo. Syukurlah lo udah operasi. Jadi gak bakalan terjadi apa-apa sama lo. Dek, lo kagak pernah ninggalin kita lagi kan?”
Aku menatap abangku sambil menahan tawa.
“Apaan sih lo Bang hahaha. Jadi mellow gitu. Gue udah sehat bugar sentosa. Tenang aja lah wkwkwk. Bang tambah lagi dong kecapnya. Kurang manis nihhhh. Ngelihat muka lu yang katanya pesonanya lebih baik dari gue tapi kenyataannya kusam malah buat bakso gue gak ada manis-manisnya.” candaku mencairkan suasana yang tiba-tiba mellow.
“Eh sialan lo ya. Ini muka kusam gara-gara gue gak tidur mikirin lo. Gue kasih garam saja deh biar asin hahahaha.”
“Hhahahha jangan bang. Ntar tambah asin wahahahah.” kataku sambil tertawa.
“Hahahhahaha siapa suruh lo ngelihat muka gue kagak manis wekkk.” kata abang.
“Hahahhaahahahahhaha. Manis deh manisss hahahaha.” rayuku.
“Alah gak ikhlas lo ngomongnya wekkkk hahahaha.”
Aku senang sekali bisa tertawa bersama abangku. Hal yang sudah lama tak aku lakukan bersama abang. Rasanya hidup aku lengkap. Aku sekarang udah bebas dan tenang.. Aku melihat Gadis. Dia sedang tersenyum menatap kami. Wanita itu lah alasan aku untuk bertahan selama ini dan aku akan selalu menyayanginya.
“Sayang, kamu juga makan dong.” tegurku.
“Ahha eh iya sayangg.”
Setelah sejam kami berbincang ria.
“Yok pulang. Inget. Lo gak boleh capek-capek. Kata dokter, lo harus istirahat full 2 minggu di Rumah Sakit dan 2 minggu full di rumah.”
“Ya ampun iya bang siap. Eh sayang, 2 minggu lagi kita rayain anniv kita ya.”
“Oke sayang...”jawab Gadis.
.......
Setelah 2 minggu terkurung di dalam rumah, akhirnya aku bisa keluar.
Hari ini aku sudah janjian bertemu Gadis untuk merayakan Anniv kami yang setahun.
Sore ini, aku sudah memesan bunga untuk Gadis yang hanya berjarak 200 meter di dari rumahku. Tinggal menunggu kiriman bunganya jam 5 sore ini.
Tapi di tengah perjalananku menuju rumah, aku di hadang oleh Hana dan banyak lelaki kekar dan salah satunya ada yang memegang besi baja.
“Boy!!!!!!!!!!”
“Hana?? Ngapain lo nemuin gue? Rame-rame pula? Mau ngantri sembako?”
“GUE MAU KASIH LO PELAJARAN!!!!”
“Buset... Biasa aja kali ngomongnya gak usah keras-keras. Gue belum budeg kali. Pelajaran apaan? Olahraga?”
“Lo gak usah pura-pura gak tau. Gue mau kasih lo pelajaran karena lo waktu itu udah nolak permintaan gue yang gue ngajak lo balikan itu. Ingat gak lo???!!!!”
“Permintaan......?? Oh iya gue ingat yang waktu itu lo begal gue kan. Ngapain sih ya ampun. Repot-repot amat.”
“Harus repot!! Eh iya. Gue denger lo sakit. Makanya gue nunggu lo sembuh dan sekarang gue pengen buat lo sakit lagi hahahaha.”
“Psikopat amat lo. Udahlah gak penting gue ngurus beginian.” aku pun pergi meninggalkan mereka.
“Tungguu!!!! Sebelum lo pergi lo harus cicip ini dulu!!!!! Hajar dia!!!”
Orang-orang suruhan Hana mengepung Boy dan menghajar Boy hingga Boy merasa kesakitan. Tak lama, warga berdatangan melerai mereka.
Salah satu orang suruhan Hana yang memegang besi baja sebelum pergi sempat memukul d**a Boy sangat keras sekali. Boy pun merasa nyeri hebat seketika dan hilang. Ia bangun dan tertatih menuju klinik dekat rumah.
Setelah diobati oleh perawat, Boy akhirnya pulang.
“Sialan!! Beraninya mereka ngeroyok gue. Buset dah pipi sampai memar.”ujarku sambil menatap cermin.
“Dek, lo kenapa!!?? Kok muka lo bengep gitu!!!”
“Gue abis dikeroyok sama orang-orang suruhan Hana. Dia dendem sama gue karena waktu itu gue nolak dia ngajak balikan gue.”
“Lo udah ke Rumah Sakit belum? Harus di obatin itu. Gue takut lo kenapa-kenapa dek.”
“Udah bang. Tadi gue sebelum balik, gue ke klinik dulu. Ini bengepnya udah di obatin.”
“Eh btw lo digebukin, d**a lo kena gak? Takut gue kayak waktu kemaren. Buka baju lo sekarang gue liat!!”
Akupun membuka baju.
“Eh dek. d**a lo memar parah. Sakit gak sekarang? Sesek gak lo?”
“Gak bang. Gue biasa aja. Tadi aja pas abis dipukul sakit cuma 2 detik doang sehabis itu gak sakit lagi.”
“Lo kan abis operasi dek. Bahaya kalau kena gebuk gitu. Pokoknya abis lo ngeliat sunset, kita langsung ke Rumah Sakit cek keadaan lo gimana. Gak ada alasan buat nolak!!”
“Iya bang iya.”
“Gue ikut saja deh ke pantai.”
“Haaaaa? Lo seriusan?”
“Iya, gue lebih takut sekarang lo kenapa-kenapa.”
“Ya ampun okelah kalau gitu bang. Bang, gue ke kamar bentar. Mau beres-beres.”
“Oke deh dek.”
Setelah 10 menit berlalu....
“PAKETTT!!!” seorang kurir bunga mengantar bunga untuk Gadis.
“Dek, paket lo udah dateng.”
“Oke bang. Gue turun. Siap-siap. Kita jemput Gadis sekarang.”
“Yok on the way.”
......
Kami ke pantai melihat sunset. Ya inilah yang ingin aku lakukan bersamanya, wanita yang sangat aku cintai. Aku pun duduk di sampingnya sambil menatap langit.
“Sayang, aku liatin muka kamu kok bengep gitu?”
“Udah aku obatin sayang. Tadi aku ke klinik sebelum ke sini.”
“Hmm yang. Terus abang kenapa ngikut ya hehehe aku cuma tanya aja.”
“Sayang. Abang khawatir aku kayak dulu itu. d**a aku sekarang memar tapi aku gak merasa sakit kok. Aku sehat-sehat aja. Tapi aku nurutin abang buat ke Rumah Sakit setelah ini.”
“Ya udah kerumah sakit sekarang aja yang. Liat sunset bisa besok sayang. Kesehatan kamu lebih penting.”
“Sayang. Sebentar aja kita liat sunset, abis itu aku janji kita langsung ke Rumah Sakit.”
“Oke kalau begitu. Janji ya.”
“Iya, eh sayang. Bunganya buat kamu. Happy Anniversary setahun sayang.”
“Happy Anniversary setahun juga sayang. Eh sayang, sunsetnya bagus ya. Lebih bagus dari yang kemarin.” katanya.
“Iya sayang. Lebih bagus dari kemarin dan lebih merah dari kemarin. Tapi masih merahan wajah kamu hahaha.” candaku.
“Hiksssss..”
“Sayang kok kamu malah nangis?” tanyaku bingung.
“Aku bahagia sayang. Aku senang banget kamu bisa ngomong itu lagi sama aku. Aku rela kamu jadiin aku perbandingan sama sunset seumur hidup kita.Tapi aku cuma minta 1 hal sama kamu, kamu jangan pernah ninggalin akuuuu please hikkssss. Aku takut...”
“Sayang, segala sesuatunya pasti punya batas waktu dan kita sebagai manusia gak bakal bisa menghentikan batas waktu itu. Sayang gak usah khawatir. Tadi dokter bilang kalau jantung Ayah udah klop sama aku. Jadi aku bisa hidup dengan normal lagi. Sayang, jika memang udah waktuku habis aku rela sayang. Aku bersyukur sekali bisa merasakan cinta yang begitu kuat dan aku sangat bersyukur sekali dihidup aku bisa disayangi oleh orang-orang yang kucintai. Dan aku sangat sangat bersyukur akhirnya bisa kenal kamu setelah sekian lama aku menunggu untuk duduk bersama walau hanya makan es krim, hujan-hujanan, jogging, dan lihat sunset. Semua tampak biasa dulu. Tapi semenjak ada kamu semua serasa seperti bermakna. Waktu 3 tahun lalu aku divonis dokter hidup aku cuma tinggal 1 tahun nyatanya itu gak terjadi. Terlebih lagi aku udah operasi. Jadi aku gak bakal ninggalin kamu. Sekarang kamu senyum oke. Aku suka lihat senyum kamu. Sekarang kan anniv 1 tahun kita. kita nikmatin sunset ini ya.” kata aku tersenyum sambil menghapus air matanya.
“Iya sayangg. Tapi kok kamu ngomong menunggu lama. Iya sih setahun cukup lama sayang. Sayang semua yang aku lakuin kayak makan es krim, jogging, lihat sunset selalu sendirian. Tapi semenjak ada kamu aku gak bakal sendirian lagi. Kita bisa lakuin itu semua beribu-ribu kaliiii kan.”
Aku pun mencium Gadis. Aku tiba-tiba punya firasat, mungkin ini adalah ciuman terakhirku dengan Gadis. Sambil menikmati angin senja dan sunset, aku masih menciumnya dengan mesra dan setelah itu memeluknya erat sekali.
“Sayang, aku boleh pinjam bahu kamu?” kataku menahan tangis.
“Hihihi biasanya mah cewek yang bilang gitu. Tapi gak apa deh untuk kamu apa sih yang gak.” katanya dengan manja.
“Sayang. Kamu lah cinta terakhirku. You always in my heart now and forever. I love you, Gadis Sunsetku.”
“Love you too sayang. Aku mencintaimu, Pangeran Jaketku.”
“Yok kita pulang sayang. Udah gelep banget.” ujarnya lagi.
“Yok.”
Aku berjalan mendahuluinya akan tetapi baru beberapa langkah, aku merasa pusing dan dadaku nyeri hebat sekali. Rongga dadaku sesak sekali. Sakitnya sampai tak bisa ku tahan lagi akhirnya aku terjatuh dan pingsan.
“Saaaakkkiittt arrgghhhhhh.”kata-kataku sebelum pingsan dan sejenak mendengar suara teriakan orang yang ku cintai lalu hilang di telan kegelapan.
“Sayang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“Sayang bangun!!!! Kamu kenapa?!!!! Ayo bangun!!!!!” kata Gadis sambil meraba nadi dan mengecek nafas Boy.
“Dekkk. Lo kenapa?!!!Jangan bercanda donggg..” ujar Bayu mengguncang tubuh Boy.
“Sayanggggggggg!!!!!”
“Bang Bayu. Boy gak nafas nadinya juga gak adaaa hiksssssss..” ujar Gadis sambil memberi tahu Bayu.
“Cepet kita bawa ke RS.”
.....