“Selamat pagi tuan putri. Sudah waktunya tuan putri untuk bangun” ujaran sapaan penuh hangat dan afeksi itu masuk ke indra pendengaran orang yang disebut sebut, membuatnya langsung memasuki alam sadar dengan mudah tanpa perlu si sumber suara tadi agar memanggilnya untuk yang kedua kali. Menggerakkan tubuhnya dengan malas, Irene menghela nafas lelah meskipun tidurnya dirasa sudah lebih dari cukup. Entahlah, dia sendiri merasa bahwa tubuhnya memang tidur, namun otaknya seperti terus menerus dibawa berpikir yang membuatnya tidak dapat mengistirahatkan diri dengan optimal. Terlalu banyak hal yang memang membuat kerutan di matanya mungkin bisa terbuat hanya dalam waktu yang singkat saja.
Membiarkan para pelayannya bekerja seperti biasanya –menyiapkan pakaiannya, menyiapkan bak mandinya, wewan