.
.
"den indra mba aisyah di panggi bapak ke bawah" ucap bibi setelah mas indra membuka pintu.
"bilang saja kami mau istirahat bi" jawab mas indra
"jangan bi nanti kami turun, bilang sama papa kami turun setelah aku mijitin mas indra ya bi." jawabku cepat.
sebenarnya ada apa kenapa mas indra gak mau menemui mereka, akhirnya aku tutup pintu kamar kami dan mulai berjalan ke arah ranjang di sana mas indra pura pura tidur di bawah selimut. ahhhh pura pura tidur teryata okee mas kali ini ku yang akan godain kamu,
"mas cepet banget tidurnya bukannya tadi lagi on ya ?" godaku sambil meraih tangannya agar aku bisa tidur dan berbicaraan tepat di ceruk lehernya.
"jadi cerita gak nih mas tandi katanya mau cerita tapi gak jadi soalnya keburu bibik ketuk pintu" godaku lagi sambil berkali kali bernafas dekat lehernya tidak lupa tanganku sambil memeluk mas indra. ya Allah bikin amat ya hahah
"ya udahlah kalau mas indra tidur aku juga mau ikut tidur daritadi kayak omong sama patung gak di jawab sama sekali." ucapku merajuk dan mulai membelakangi mas indra, padahal aslinya mah gak merajuk cuman mancing aja haha karna tadi di godain gak ada reaksinya hanya tower listriknya aja yang mulai menengang hahhaa,
gak sampai lima menit akhirnya mas indra meluk juga kan kan kan apa aku bilang kamu gak bakalan bisa diem aja kalau sama aku mas baru di pancing gitu aja langsung dan nyamber listriknya hahah
"dek, kok gak di lanjutin sih kan mas nungguin babak selanjutnya" ucap mas indra sambil meluk dari belakang, hahahha sok sokan jual mahal ujung ujungnya kepancing juga tapi kali ini aku bakalan diem aja kita lihat sejauh mana kamu mas, apa kamu akan jujur dan cerita sama aku atau kita malah tidur dan mencri aktifitas halal haha.
"dek malah diem aja, marah nih " ucap mas indra kembali dan ya gak cuman omong doang tapi tangannya udah bergriliya kemana mana, dengan sekuat tenaga aku benar benar menahan desahan biar gak keluar biar aja dia kira aku masih marah.
"udah gak usah di tahan gitu sayang, kalau mau mendesah tinggal di keluarin aja dari pada di tahan tahan tapi badan meremang haha" ucap mas indra sambil tertawa dan menciumin celuk leherku, dasar ya suami satu ini bener bener tau aja. tapi kali ini aku gak mau mengikuti apa maunya mas indra, akhirnya aku lepaskan pelukannya dan duduk mengahadap mas indra.
"aiiishhh paling bisa kamu ya mas bikin aku kayak gini, udah urusan ini nanti aja malem tunggu orang tua kamu tidur dan setelah tamu yang di luar pulang" ucapku pada mas indra tapi bukannya di dengerin dia malah tidur di pangkuanku.
"mas jadi cerita gak kalau gak jadi cerita adek mau turun kan tadi di panggil papa buat keluar" ucapku kembali dan akhirnya mas indra bangun dan duduk berhadapan denganku sambil memengang tanganku.
"dek, mas mau cerita apa aja yang di sampaikan diluar nanti kamu jangan percaya kamu harus dengarkan penjelasan mas dulu. oke" ucap mas indra yang malah membuatku penasaran. emang apa yang akan di bicarakan sih sama orang tua mas indra dan tamu itu.
"kenapa emangnya mas ? apa wanita itu calon istri ke dua mas ? apa mas mau poligami ? kita baru aja menikah dua hari loh mas dan kamu bener bener mau poligami, kalau emang bener adek gak mau mending adek minta piss......" belum selsai aku melanjutkan perkataanku mas indra membungkam mulutku dengan ciumannya, berusaha menghindar malah mas indra semakin kuat menciumku sambil memegang leherku dan memelukku.
"kamu mikirnya jangan kejauhan sayang, gak ada niatan mas buat menduakan kamu apalagi harus poligami, buat dapetin kamu aja susahnya minta ampun ehhh giliran sudah dapat kok malah mau di sakitin." jawab mas indra yang membuatku sedikit lega.
"kamu dengerin penjelasan mas ya dan jangan di potong potong, setelah itu nanti kita turun dan temuin tamu di depan yang kamu kepoin itu" terang mas inda kembali.
"sebenarnya dulu mas dan najwa pernah di jodohin sama mama dan adik sepupu mama itu, tapi papa gak setuju karna kata papa kalau di jodohin jatohnya kita terpaksa untuk menikah dan beda lagi kalau kita sendiri yang bawa pasangan kita dan menikah pasti di dalamnya sudah ada rasa mencintai dan menyayangi lebih pentingnya rasa tanggung jawab terhadap pernikahan itu sendiri." terang mas indra dan aku masih tetap menyimak karna aku merasa penjelasan dari mas indra kurang.
"tapi lain halnya sama mama, mama benar benar setengah memaksa untuk mas mendekati najwa sebelum pernikahan. tapi mas tetap tidak mau karna mas punya alasannya sendiri" terang mas indra kembali
kenapa mama ngotot sekali untuk menjodohkan mas indra dengan najwa ya, tadi juha hanya mama sendiri yang menyukai kedatangan meraka.
.
.