"sudah dek? kalau sudah ayo ke kamar istirahat biar susunya mas yang bawa ya" ucap mas indra, ya kalau sudah begini lebih baik aku diam saja
"semoga mba najwa tidak ada niat buruk datang kemari ya Allah, kasihan den indra dan istrinya" lirih bibi yang masih bisa aku dengar.
apa maksud perkataan bibi tadi ya, apa sebelumnya mas indra ada hubungan sama mba najwa sewaktu di ruang makan juga dari eksprei mas indra sewaktu mengetahu ada mba najwa beserta keluarga datang muka mas indra dan ayah mertua langsung dingin seperti tidak suka hanya mama saja yang biasa saja, apa karna mba najwa anak dari sepupu jauh mama makannya mama biasa saja ekspresi mukanya.
setiap ada kesempatan bertanya siapa itu mba najwa selalu tidak bisa, sebaiknya aku tanya saja sama mas indra nanti setelah di kamar.
"mas" panggilku ke mas indra
"iya sayang" jawab mas indra
"jadi di pijitin gak badannya kok malah duduk di sofa sambil baca buku ?" tanyaku sambil menghampiri mas indra setelah duduk di sebelahnya aku mendengar beberapa helaan nafas mas indra, ada apakah mas sampai seperti itu kamu menghela nafas apa yang kamu sembunyikan dariku setelah kedatang mereka mimik wajahmu dingin sekali meskipun saat berbicara padaku masih hangat.
"sebenarnya mas gak capek kok dek jadi gak usah di pijitin, mas cuman ingin kita berdua seperti ini kok" jawab mas indra
"tau gitu kita kebawah aja mas nemuin keluarga jauh kamu itu, kan gak enak mereka ke sini tapi kita gak nemuin mereka apalagi aku kan belum pernah bertemu dan berkenalan kan?" terangku ke mas indra tapi lagi lagi wajah dinginnya itu yang membuatku enggan bertanya siapa mba najwa lebih baik aku menunggu mas indra saja cerita.
"mas kenapa ? bukannya di jawab tapi mas diem aja. apa adek ada salah atau bagaimana daritadi adek denger mas menghela nafas terus loh" tanyaku lagi karna memang mas indra belum menjawab, bukannya menjawab pertanyaanku mas indra malah memeluku apa yang membuatmu resah seperti ini mas.
"kenapa mas ? apa yang membuatmu resah seperti ini ? tolong jangan buat aku bertanya tanya mas" tanyaku sambil melihat mata hitamnya karna daritadi setiap aku bertanya tidak ada satupun yang di jawabnya.
"ya sudah kalau mas gak mau cerita atau jawab pertanyaanku gak apa apa" ucapku sambil melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah nakas dekat ranjang mending aku minum s**u dan langsung tidur toh mas indra gak jadi minta pijat dari tadi juga aku tanyain malah diem aja mending tidur aja.
"cepat di minum susunya mas, punyaku sudah kuminum sekarang adek mau tidur aja ya, kalau perlu apa apa bangunin adek aja" ucapku lagi dan lagi tidak ada jawaban dari mas indra, bukannya aku gak mau memaksa mas indra untuk bercerita tapi rasanya memaksa bukan jalan yang baik untuk saat ini.
sebenarnya bisa saja aku langsung keluar dan ke ruang tamu untuk menemui tamu yang membuat mas indra berubah dingin itu, hanya saja aku gak mau bersikap bar bar sebelum mendengarkan penjelasan atau cerita dari mas indra, yahh lebih baik aku tidur karna kemaren malam gak bisa tidur nyenyak heheh tau sendiri lah ya pengantin baru bagaimana apalagi mas indra seperti tidak ada capeknya untuk meminta haha.
baru aja tarik selimut dan memejamkan mata mas indra menghampiriku ke atas ranjang dan memeluku dari belakang, rasanya malah makin nyaman di peluk begini apalagi suhu ruang di kamar ini dingin sekali, maklum saja aku kedinginnan karna di rumahku sendiri aku jarang pakek ac atau pakek kipas angin. ac aku pakek kalau udara benar benar panas saja begitu sudah dingin langsung aku matikan, berbeda kalau di rumah mas indra mungkin ac di sini full time hehehhe kasihan kamu ac kerja gak berhenti.
"dek" panggil mas indra
"hemmmm" aku cuman berdehem saja karna mata udah 5 watt saking nyamanya dipeluk jadi pengen cepat cepat tidur.
tapii zoooonkk gimana mau tidur kalau tangan mas indra gak mau diem tadi di anggurin sekarang di gangguin, selain tangan gak bisa diem sekarang mulai cium cium leher dan pundak belakang, masss kalau kayak gini aku takut suara kita kedengeran dari luar meskipun aku gak yakin karna kamar ini luas sekali.
"mas....." lirihkan karna perbuatan mas indra membuatku gelisah
"mas....." lirihku lagi bukannya berhenti sekarang mas indra membalikan badanku agar menghadap kearahnya.
"kenapa sayang suara kamu godain mas banget sihhh" ucap mas indra sambil menjawil hidungku, ngegodain katanya yang ngebuat aku kayak gini siapa masss astaga mas indra.
"ishhhh yang godain mas lagi orang adek mau tidur kok, yang datang meluk meluk adek dari belakang siapa ?? terus yang mulai cium cium sama tangannya gak bisa diem ini siapa?" jawabku sama mas indra dan lagi bukannya di jawab mas indra malah mulai deh.
"ciiuman mas indra sekarang kenapa berbeda kenapa lebih menuntut seperti orang mau melepaskan kegundahan hatinya apakah perilaku mas indra ada hubungannya sama tamu yang di bawah itu ?" tanyaku dalam hati.
"dek mas mau cerita tapi kamu jangan memotong cerita mas ya" ucap mas indra setelah cukup lama menciumku.
"iya mas" jawabku.
"sebenarnya najwa dulu.... " belum sepat mas indra menjelaskan pintu kamar kami di ketuk oleh bibi
"den indra mba aisyah di panggi bapak ke bawah" ucap bibi setelah mas indra membuka pintu.
"bilang saja kami mau istirahat bi" jawab mas indra
"jangan bi nanti kami turun, bilang sama papa kami turun setelah aku mijitin mas indra ya bi." jawabku cepat.
sebenarnya ada apa kenapa mas indra enggan menemuin mereka.
.
.
.
.