Ajeng mendekati Wicaksono dengan mantap. Ditangannya sudah ada Glock 22 yang Sudah terisi penuh. Kemarahan dan rasa benci serta dendamnya sangat terlihat di mata Ajeng. Sorot matanya tidak seperti biasa. tidak ada lagi sorot mata penuh kasih dan juga ceria.
Mata itu terlihat sangat suram dan kelam. Dari bias cahaya lampu mobil yang mengarah ke mereka, Reihan dapat melihat bagaimana kepahitan yang Ajeng rasakan saat melihat Wicaksono. sama seperti dirinya, Ajeng kehilagan seorang ayah yang sangat dia sayangi.
“Anda pikir saya tidak akan pernah berani menarik pelatuk ini?” Tanya Ajeng sambil mengacung-acungkan senjatanya. “Anda salah besar, Pak. Di saat rasa sakit yang Anda berikan terlalu besar, saya tidak perduli lagi apa yang saya hadapi saat ini.” Lanjut Ajeng.
Ajeng menempelkan ujung